Karya musisi dari kancah musik berdikari rupanya belum juga surut semangat untuk membangun kebisingan di nusantara ini. Dimulai dari hanya 4 kota, lalu sekarang kita sudah mendapat kiriman mp3 gratis dari 12 kota!. Semua bisa didownload di tautan ini, sambil meluangkan waktu untuk membaca tentang band-band yang berpartisipasi di bawah ini.

Jangar (Bali)

Dengan lantang berteriak tentang tragedi kemanusiaan yang pernah terjadi di Indonesia. Begitu menggebu saat lagu Gestok ini dimainkan, saut-sautan berirama dan penuh amarah bak letupan gunung yang akan meledak dengan kekuatan dahsyat. Gus Ten (Vokal), Pasek (Drum), Dewa Adi (Gitar) dan Gus Rai (Bass) juga mengutip sebuah kalimat dari film The Act Of Killing kedalam lagu ini. Terbentuk dipertengahan tahun 2015, bisa terbilang cukup baru dalam kancah independent di Denpasar namun sebenarnya mereka adalah orang-orang lama yang aktif berkesenian di kota Denpasar. Jangar perlahan mulai menghimpun kekuatannya untuk ledakan-ledakan selanjutnya, terbukti dengan riuhnya setiap panggung yang mereka temui. Stage diving, teriakan yang meracau para penonton sampai berjingkar diatas panggung adalah pemandangan yang selalu saya saksikan ketika menonton mereka.
(Muhammad Indra Gunawan)

@jangar_official (Twitter)
@jangar_official (Instagram)

Texpack (Bogor)

Texpack merupakan harapan baru dari scene musik Indie Rock Bogor setelah bubarnya Reid Voltus beberapa waktu lalu. Mereka memainkan musik Indie Rock revival bising yang banyak terpengaruhi oleh 90’s lo-fi alternative sound a la Guided By Voices, Superchunk, Sebadoh, dan Dinosaur Jr.

Tidak hanya sekedar bising, mereka juga memasukkan sensibilitas pop a la Teenage Fanclub dan The Lemonheads pada notasi lagu nan catchy dengan power chord yang tetap gagah, berisik, dan sleazy.

Mendengarkan “Bored Song” layaknya mendengarkan celotehan anak kos berkaus kutang yang belum mandi tiga hari di suatu sore sembari menonton serial Baywatch yang diputar di televisi, gerah dan menggairahkan.
(Gilang Nugraha)


Sommerhaar
(Jakarta)
Pertama kali bertemu dan berkenalan dengan duo ini, saya dihadiahi kaset EP Farscape et Dives. Sebuah debut EP dari duo Sommerhaar yang beranggotakan Dimas A. Wibisono dan Fitrah U. Akbar (Uta). 4 lagu bernuansa pop dalam Farscape et Dives bercerita tentang fragmentasi kehidupan dan direkam secara home recording.
(Emirul Fahmi Fanshuri)

I (Malang)
Dibentuk Oktober 2015, terdiri dari Drajat, Roub, Satria, Aan, Eka dan Teddy. I Menawarkan sound post rock yang diusung oleh band – band post rock seperti PG.Lost, Mono dan God Is An Astronaut. I adalah satu band post rock dari sekian biji band post-rock yang masih aktif di Malang. Tersusun dari sisa sisa band post rock juga bernama Sepatu Usang, I Post Rock melangkah pasti menatap masa depan. Langkah itu terwujud dengan rilisnya album split mereka bersama band jepang Plant Cell yang dibidani oleh Gerpfast Kolektif secara digital yang vouchernya bisa dibeli di page Gerpfast Kolektif dan fisiknya bisa didapatkan via The Paimo Distribution.
(Alfan)

https://www.facebook.com/ipostrock

Shadowplay (Medan)

Valdi Fahrizi (guitar, voc), Agung Tri Nugraha (bass), dan Ananda Firman (drums) adalah tiga pemuda lokal Medan yang dulunya aktif di skena hardcore punk berbasis tongkrongan, label rekaman dan juga penggiat gigs hardcore punk bernama Madafaka Records yang cukup dikenal di seantero Indonesia. Namun kali ini kita tidak akan membahas itu. Kecintaan para personilnya terhadap lagu indie pop Nusantara di dekade 2000an membuat mereka membentuk band indie pop ini yang bernama Shadowplay, dan kemudian Keke Alyssha (guitar, backing vocal) dan Michelle F (keyboard) bergabung dan mempermanis unit musikal ini.

Cukup layak disimak dan cukup terdengar influens dari band pop ibukota yang pasti anda suka. Akan tetapi Shadowplay menawarkan irama yg kadang upbeat kadang mellow, menonjolkan permainan gitar dan harmonisasi vokal personilnya, tanpa tidak mengesampingkan peran personil lainnya.
Di Medan ada Sate Padang yang terkenal enak. Dan disebelahnya ada Eskrim Soda buatan rumah yang cukup legendaris. Memakan keduanya bersamaan mungkin cukup menggambarkan perasaan ketika mendengar lagu Point Of View mereka.
(Rachmadi Perdana)

Soundcloud :

Youtube :

Instagram :
@shadowplaymdn

Vitra Prawira (Palangkaraya)

Saat awal – awal tinggal di Palangkaraya saya berjumpa dengan Vitra Prawira. seseorang yang tentunya aktif dalam skena Palangkaraya. saya mulai mencari tau tentang aktivitasnya.
dia juga orang di balik KEPO (Indie Pop), Penumbra (Post rock) dan Brutufuck (Metal) tapi ketika mendengarkan proyek egonya yang memakai nama sendiri saya jadi kembali era 2000an.
vitra yang memulai proyek solois di tahun 2012 ini memang banyak terinfluence dari pop indonesia di tahun 2000an walau ada sentuhan postrock dan sound j- pop.
jadi sila dengar dan nikmatin curahan hati vitra yang terkemas lewat lagu – lagunya.
(Theo Nugraha)

https://vitraprawira.bandcamp.com/

Davy Jones (Samarinda)

Euforia musik Rock n’ Roll di Samarinda sudah sempat padam sampai akhirnya disulut kembali oleh empat pemuda ini. Davy Jones sang juru selamat datang mengusung pesan “Sex, Dance, RocknRoll”. Musik ngajak joget, lirik nakal dan aksi panggung yang asoy (terutama si vokalis) sudah jadi ciri khas tersendiri sejak awal kemunculan mereka. Davy Jones adalah band yang aktif dan juga produktif, terbukti dalam setahun telah merilis 8 lagu di akun Soundcloud mereka. Kalau kamu lagi bosen menghadapi awal pekanmu dengan segala tumpukan pekerjaan, lagu-lagu Davy Jones bisa jadi moodbooster buat kamu. Long live Rock n’ Roll!!
(Happy M Brillianto)

https://www.instagram.com/davyjones_official/

Rubber Heat (Semarang)

Satu lagi band indie rock potensial dari Semarang. Walau masih berbekal satu single, Rubber Heat yang baru berdiri pada September 2015 tersebut mulai mencuri perhatian. Meracik pengaruh dari masing-masing personel lantas menghasilkan pop rock a la Phoenix dan Catfish And The Bottlemen. Dibentuk oleh sang bassist Wahab yang kemudian mengajak dua gitaris Bima dan Gading, lalu Hanung sebagai drummer dan Aam sebagai vokalis. Tak sabar menanti rilisan perdana mereka yang kabarnya akan dilepas tahun ini.
(Godham Perdana)

https://www.instagram.com/rubberheat

Drown (Sidoarjo)
Dimulai di tahun 2015 dari kota Sidoarjo , band yang merupakan side-project dr beberapa band lokal sidoarjo ini cukup menarik perhatian , dimana rata rata band dari sidoarjo biasanya mengusung genre hardcore punk / old school hardcore , lalu Drown datang dengan membawa Emotive-Hardcore yg banyak terpengaruh dari Touche Amore , Piano Become The Teeth , Basement , Goodtimes Boys dan beberapa band lain yg serupa . band yang digawangi oleh Pandu (vocal) , Lukman (guitar) , Hasan (guitar) , Adhi (guitar) , Alif (bass) , Adimas (drummer) ini akan merilis sebuah EP yang bertajuk Worthless ini rencana dilepas ke publik sekitar bulan mei dan update terbaru dari mereka sekarang sedang dalam tahap penggandaan , semoga semogi !
(Yudhistira Purwa)

https://drwnofficial.bandcamp.com/releases

Suabakar (Solo)
Suabakar mungkin orang” mengira ini band baru, ternyata tidak suabakar merupakan proyek reinkarnasi dari THE JAILBREAK. Menurut mereka nama suabakar diambil dari kosa kata Bahasa Indonesia : Swabakar // Swa.ba.kar // n. Yang memiliki filosofi sebagai sebuah kemampuan untuk menghasilkan api sendiri. Band kota Bengawan dengan Unit Heavy Rock, Doom, Stoner Rock semacam Sleep, Weedeater, The Swords, Black Sabbath dan Down. Baru saja mengeluarkan EP Samsara disaat Record Store Day di Lokananta Solo, berisakan 3 lagu dan salah satunya Dimensi Imajinasi yang ada di kompilasi aliansi musik Indonesia bulan ini
(Dimas Purnomo / Tambun Bergairah)

Youtube Channel : Suabakar Music

The Flatters (Surabaya)
Akhirnya ada angin segar untuk dunia musik di Surabaya. The Flatters, band yang personilnya masih duduk di bangku SMA dan tahun pertama-kedua kuliah, memberikan penawaran berupa lagu rock alternatif macam The Sigit yang bercampur dengan rock lokal Surabaya. Sudah sangat langka untuk menemukan musik macam ini di kota Pahlawan, terlebih untuk kawan-kawan angkatan 2014-2016, tetapi The Flatters memberikan secercah harapan akan hal itu. Enam lagu dalam EP Super Gigantic Noise sudah mereka telurkan sejak 2015 lalu, namun rilisan fisiknya baru saja dirilis pada Record Store Day 2016 kemarin. Jadi, silakan mencari CD atau mengunjungi bandcamp mereka.
(Abraham Herdyanto)

http://theflattersid.bandcamp.com/album/super-gigantic-noise-ep

Dirtylight
(Yogyakarta)
Terbentuk pada taun 2010, dan terbukti hingga saat ini musik postrock masih bertahan di Yogyakarta. Dirtylight tepat pada perayakan record store day kemarin merilis EP perdananya dan menjadi salah 1 best seller di perayaan tersebut.
Band ini cukup unik karena para personelnya memiliki interest genre musik yang berbeda, sebuat saja mulai dari musik etnik, punk, screamo hingga industrial music.
Lagu Nextsong ini mencoba mengingatkan manusia untuk lebih menghargai dan mensyukuri “proses” daripada hasil/nilai/strata/ apalah segalanya yang pada umumnya didapatkan tanpa dirinya sendiri menyadari.
Semuanya tidak akan sempurna.. Tetapi jika kita merasuk dalam setiap detail proses dalam diri manusia baik positif atau negatifnya tetapi Itulah harta/hasil/nilai yang tidak dapat ditukar dengan apapun, seperti itulah gambaran dari single terbaru Dirtylight yang satu ini.

(Komang Adhyatma)

Loner (Bandung)

Teknologi membuat proses rekaman menjadi efektif dan tentu membuatnya semakin efisien. Tidak hanya itu, media sosial sebagai platform yang menjadi wadah para musisi berkarya pun banyak menawarkan peluang yang luar biyaza toh. Tentunya ini adalah asupan energi bagi generasi muda yang memiliki passion di musik untuk membentuk sebuah band. Saya pribadi tidak bisa membendung lagi munculnya band-band baru ataupun songwriter yang bermunculan di berbagai belahan dunia maupun di tanah pasundan, gemah ripah loh jinawi ini. Saya teringat kala dulu kalau ingin mencari musik band lokal baru harus main ke gigs lokal, atau mendengarkan radio yang memiliki program musik “indie”, atau ya pergi ke clothing line yang mendukung distribusi rilisan fisik dari band lokal. Sekarang, saya maupun anda bisa menemukannya hanya dengan membuka perangkat komunikasi dan online. Nah, band yang saya dapati untuk Aliansi Musik edisi ini adalah hasil rekomendasi seorang kawan via komunikasi online saja. Loner namanya, band yang belum lama terbentuk ini saya rasa memiliki potensi. Karakter vokal serak dan paduan distorsi rock jalanan, urakan nan mentah yang mereka usung bisa menjadi kekuatan. Seperti apa mereka? Monggo disimak saja.

(Gagi Aria Alembana Fatkhurahman)

 

free download mp3 musik Indonesia

Aliansi Musik April 2016