ALIANSI MUSIK JANUARI 2016

Hola! Setelah menghilang begitu lama akhirnya kompilasi lintas kota ini kembali ke khayalak luas. Sekian lama kita tinggalkan bukan berarti kita tidak update dengan perkembangan musik arus pinggir di kota masing-masing. Melahan kita semakin banyak menemukan musisi-musisi berpotensial mengisi nama baru di jajaran musik lokal. Untuk sekarang kita baru mengkurasi sekitar pulau Jawa dengan perwakilan pilihan kita, tapi tidak menutup kemungkinan bagi kota/daerah manapun bergabung dengan Aliansi Musik ini. Jadi, nikmati saja daftar lagu berikut;
Unduh di tautan ini.

Kolibri – Blank Television (Surabaya)
Mungkin untuk sekarang yang mampu menandingi musikalitas Megatrvh dari Malang adalah Kolibri. Entah benang merah apa yang melilit mereka, namun jika didengarkan secara seksama musik mereka memiliki kemiripan. Vokal yang lebih mengarah ke puisi tanpa terkekang pada nada gitar dan tempo drum, banyak unsur kejutan materi dalam tiap lagunya, ya macam begitulah. Memang masih raw sekali untuk rekamannya ini, tapi tetap bisa diharapkan untuk lirik-lirik yang lebih puitis serta lebih teratur ke depannya. – Abraham Herdyanto

Intenna – White Shadow (Malang)
Kuartet shoegaze dari Malang ini telah berkarir selama hampir 5 tahun. Telah merilis satu split album, terlibat dalam kompilasi shoegaze dunia, Demo dan baru baru ini LP bertajuk Helter Skelter yang berhasil mengukuhkan posisi Intenna di blantika musik malang bahkan Internasional. Obing, Anto, Puguh dan Hendra telah memberikan sumbangsih kelas internasional ke online radio airplay di Inggris dan Kanada sehingga tak hanya kawan kawan yang ada di Indonesia saja yang bisa menikmati tapi juga publik internasional juga mengapresiasi. White Shadow ini dipilih karena karakternya yang kuat, yang tidak hanya bermain efek namun juga memilihnya dengan tepat dan mengaransemennya dengan baik. Seperti menikmati perjalanan 2 jam yang mestinya singkat tapi terasa panjang karena memang nikmat. – Akhmad Alfan

Ellipsis – Tigris (Bandung)
Melodi-melodi emosional dikombinasikan dengan tempo yang kompleks merupakan fondasi utama aransemen musik Ellipsis. Tak heran jika terdapat pengaruh dari The Mars Volta dan toe dalam tiap lagu. Namun, Ellipsis membuatnya lebih variatif dengan pendekatan berbeda sesuai ciri khas mereka. Bisa dibayangkan ketika post-rock dan math-rock dileburkan ke dalam nuansa instrumental yang grandeur. Perpaduan yang menarik bukan? – Gagi Aria Lembana Fatkhurahman

taRRkam – Mahameru Selfie Destroyer (Jakarta)
taRRkam hanya sekumpulan bocah pemuja Dead Kennedys dan segala 70’s/80’s Hardcore Punk bands sebagai konsumsi wajib untuk telinga Ape (vokal), Epan (gitar), Haryo a.k.a Oyob (Bass),dan Bagas (Drum). Banyak mengangkat tema tentang fenomena apapun yang ada dekat di sekitar mereka, salah satunya “Mahameru Selfie Destroyer” – yang ada di EP pertama taRRkam yang berjudul “Transcend Massive culture”- bercerita tentang fenomena latah trend, dimana orang­orang mendadak menjadi seorang pendaki gunung, dan sedikit banyaknya kehilangan esensi utuh dari pendakian tersebut. Telinga kita pun meradang dibuatnya dengan gitar yang ngebut sambil mendengar seruan “Mahameru Selfie, Selfish, Selfie [Destroyer!]” . Seolah menampar semua oknum pencinta alam dadakan. – Robonggo

The Scenesters – Bad but Rules (Solo)
Seperti kehidupan anak muda akhir baliq yang bebas, kesana kemari sesukanya sendiri sampai mereka dicap nakal menurut mata orang lain, namun masih memegang teguh spirit mandiri, dan tidak suka mengganggu orang lain. Dari segi karakter suara, jika dibandingkan dengan single pertama dulu, single yang ke-2 ini lebih kental dibalut dengan kesan ombak dan fuzz yang lebih mendominasi. Di awal tahun 2016 kemarin. – Dimas Purnomo