‘Dan, aku bakal bikin novel berdasarkan album ini’
Saya utarakan niat it tidak lama setelah pertunjukkan berakhir.

Sebuah topik yang baru terpikir saat Danilla menceritakan cerita di balik single “Laguland”. Entah mengapa, cerita tersebut mengingatkan saya pada sebuah kejadian beberapa tahun yang lalu.

Saat itu saya bertemu seorang kerabat, ia berpakaian rapih dan memberi gestur akan berpamit untuk berlayar. Laut berwarna biru muda cerah sementara langit berwarna biru sedikit lebih pudar dan awan tidak terlihat, tampak beberapa burung albatros terbang. Saya tidak tahu apakah mereka berputar mencari makan atau sekedar berputar-putar saja.

Saya kemudian terbangun dan menyadari adegan tadi adalah mimpi. Saya masih mengingat mimpi tadi bertahun kemudian sebagian besar karena saya memiliki ketertarikan tersendiri dengan laut dan dermaga. Namun kemungkinan besar mengapa saya masih mengingatnya adalah karena kerabat saya kemudian meninggal tidak lama setelah mimpi itu.

Saya berdiri tidak jauh darinya dan menyaksikan badannya disetrum berkali-kali karena dokter mencoba membuat jantungnya berdetak. Dalam hati saya berfikir, apakah nyawanya meninggalkan tubuh saat jantung berhenti berdetak ataukah saat dikubur atau saat tubuhnya terurai?

Apa dia merasa sakit disetrum?

“Saya tidak takut mati, karena ga tau kapan itu akan terjadi. Tetapi saya takut kalau ternyata pas mati proses perpisahan jiwa dengan raga akan berlansung menyakitkan dan berlansung ribuan tahun”

Setelah mendengar ucapan tadi … lagu-lagu di album ini terasa kelewat personal bagi saya dan semua lagu yang awalnya terdengar kelam menjadi romantis dan menginspirasi.

Setelah set selesai, diluar saya sempat berbincang dengan Ario dari Anomalyst. Awalnya mendiskusikan album Anomalyst yang terasa menjadi lebih lengkap setelah disaksikan live dan mendengar cerita dibalik lagu-lagunya sampai membahas speaker-speaker murah yang saya rasa adalah penyebab mengapa band folks cenderung menjadi favorit anak-anak kost.

Karena kalau mendengarkan album yang rumit seperti Segara nya Anomalyst atau Lintasan Waktunya Danilla menggunakan speaker handphone, laptop, desktop yang biasa-biasa saja; apalagi kalau vokalnya dibuat seimbang dengan instrument; maka lagunya jadi ga terdengar dengan baik.

Lirik-lirik di album Lintasan Waktu ini juga dalam dan terbuka luas intrepretasinya. Akan lebih mudah untuk menikmatinya jika informasi mengenai proses penciptaan lagu dan inspirasinya, karena kita jadi memiliki awal untuk memulai petualangan seperti yang ditawarkan oleh Danilla untuk kita alami.

Kalau saya, jadi kepikiran bikin novel atau novelette.

Dalam sebuah kesempatan, ia juga berkata

“lagu lagu disini adalah lagu yang saya ingin kalian dengar, bukan lagu yang kalian mau dengar”

lalu dilanjutkan dengan kalimat kurang lebih begini

“Terdengar egois memang, namun saya yakin kalau saya menyebarkan aura positif maka hasilnya juga akan positif”

Ini adalah pernyataan mengenai ‘idealisme’ terbaik yang pernah saya dengar dan jauh dari kesan egois jika dibadingkan dengan proyek ‘idealisme’ seniman-seniman kebanyakan.

Oiya, lagu favorit saya adalah “Laguland”, “Meramu”, dan “Lintasan Waktu”. Akan saya ceritakan alasannya lain kali. Kamu beli aja dulu albumnya.

Download Lagu Baru Danilla

Danilla sebelum showcase

Anomalyst & Polka Wars

Ario “Anomalyst” & Billy “Polka Wars”

Download Lagu Baru Danilla

Kiki Aulia Ucup

Download Lagu Baru Danilla

Danilla on stage

Download Lagu Baru Danilla

Danilla & Warhol

Download Lagu Baru Danilla

Danilla & Gilang Gombloh

Download Lagu Baru Danilla

Lafa Green

Download Lagu Baru Danilla

Danilla

Download Danilla

Danilla setelah selesaimak