Satu Perjamuan Terakhir: Bisnis hitam anak haram ibukota ditelanjangi vodka Brang Breng Brong
pt.01

Ricky Virgiana, berkemeja cerah lengan pendek yang digulung mampir ke Gerah Anjing. Menopang dagunya di ujung boks ketika bersemangat – bahkan keringat panggungnya pun belum mengering – bercerita tentang Australia. White Shoes baru saja pulang dari tur seminggu di sana. Dari riangnya cerita Ricky tampaknya band itu begitu menikmati waktunya. Tarigan yang menggubrisnya.

Bagi mereka obrolan ini tentu saja menerbitkan banyak ingatan. Tarigan pernah menjabat gitaris pengganti Saleh Hussein ketika mereka menyeberangi Amerika tujuh tahun silam. Jelas tawa dua orang ini berseru-seru. Sayang, saya yang tiba di TKP dalam keadaan setengah akut tidak dapat menangkap lalu lintas pembicaraan mereka dengan cerah, terlalu lelah untuk menimbrung, apalagi memaksakan ingatan untuk menceritakannya lagi di sini sekarang. Hanya ada satu yang berhasil muncul, itupun samar dan penuh asas praduga tentang Ricky yang menemukan beberapa piringan hitam Indonesia ketika berpesta di rumah seorang warga lokal.

Sampai saat ini geliat bisnis sudah jauh mereda. Lapak-lapak sedang membereskan dirinya. Tapi dasar pemadat, mereka yang penasaran masih saja terus berjongkok mengurut puing album-album terakhir yang terhiraukan. Seperti tidak ingin berhenti merayakan festival tahunan kebutaan fisik ini.

Saat itu batang hidung Rendi tidak kelihatan. Saya sempat mengkhawatirkannya sudah tak kuasa diri, joprak, merunduk, seperti biasa menyembahi tempat pembuangan air besar di kamar mandi. Kenapa tidak, itu adalah tempat terakhir yang paling aman untuk bersembunyi dari keramaian, rakus alkohol dan limbung mencari perlindungan dinding porselen sambil mengutuki diri sendiri, meludahi genangan air dengan mual muntah kuning yang memelintir asam lambung menuju kepala.

Sejujurnya, saat ini saya yang sebenarnya memiliki tendensi ke arah sana. Lumayan pening karena pengaruh anggur mulai deras bergejolak. Nikotin yang biasanya cukup ampuh menahan kadar keseimbangan mulai tak berkutik. Tarikannya malah membuat semakin resah. Tidak pula ada air putih di meja ini. Tapi saya tahu muntah terlalu tolol jika dilakukan di sini.

Tahan, bajingan.

Saya mencoba menenangkan temperatur dengan iseng memasang satu plat Sublime Frequencies-nya Tarigan, dari Korea Utara, Radio Pyongyang: Commie Funk and Agit Pop from the Hermit Kingdom. Tapi makin tidak karuan karena ketukannya terlalu cepat, kosmik-baroque korean yang ketika vokalnya muncul membuat saya tiba-tiba langsung  mengangkat lagi jarum turntable dari piringnya. Ini kurang tepat. Memutuskan menggantinya dengan “White Rabbit”, Jefferson Airplane saja.

‘One pills makes you larger… and one pills make you small… And if you go chasing rabbit… And you know you’re going to fall. Go asked Alice, when she’s ten feet tall…’   

Sedikit teredam. Tidak lama kemudian Rendi muncul. Mukanya cerah. Lima album tergantung di genggamannya. Dari Monka Magic, lagi banting harga, katanya, sekarang seratus lima puluh ribuan. Sial. Saya putuskan menyerah, RSD sudah selesai buat saya, dan lebih memilih bergabung dengan Dr. Yes di belakang meja Trash Shop yang hampir selesai diringkasi.

“Di sini aja apa eksekusinya?”

Sang dokter tertawa, “Nggak sekalian di depan Mabes?”

Dia membuka Russian Standards. Ini sungguh penutupan yang sempurna. Bersama dua kawan lagi yang merapat, kami duduk melingkar, memutar vodka bening itu demi menetralisir racun jamu murahan seharian tadi. Operan sampai, sekokop tiga teguk langsung. Hangatnya merendam lambung. Membuat benak sejenak pergi dari perbincangan tengah, memikirkan hasil galian selama dua hari yang tersimpan di dalam tas ini.

…Judas Priest, Doors, Velvet Underground, United Smokers, Deep Purple (sial.), The Cramps, Sastro, Morfem, Sirati Dharma, (huh.) Gagak Rimang Stoned, Antah Berantah, Rolling Stones album pertama, first pressed…

Rasanya masih kurang puas. Tapi dengan lima ratus ribu, ya hanya segitu kemampuan dan keberuntungan terbanyak yang layak didapat. Dalam keadaan terpelintir seperti saat itu saya tidak mau memikirkan apa saja yang sudah terjual. Pun sudah terlalu malas untuk cari tahu seberapa besar keuntungannya. Nanti saja. Tapi pasti, saya seyakin itu, tidak akan sampai rugi modal. Jelas.

Tiga putaran Rusia kemudian…

“Eh, gondrong!” suara teriak menyentak dari arah Gerah Anjing, “lo mau nggak, nih? Coba sini dulu.”

Itu Tarigan. Kalau menyangkut dirinya ini pasti persoalan piringan hitam. Bukan narkotika. Atau wanita. Persentasi negatifnya, di usianya yang sekarang ini, sudah sangat, sangat minim, walaupun dia mengaku masih sesekali minum. Membuat saya yang tengah menurunkan tensi diri tidak perlu berpikir dua kali untuk lekas menghampirinya.

Meskipun tidak punya minat untuk beli plat lagi, tapi saya tahu itu pasti barang-barang menarik. Akan ada keajaiban di sana. Ternyata benar, itu kumpulan donat setelah saya tengok. Titipan Johny Buram, katanya. Ada sekitar 10-15 biji rapi dengan sampulnya masing-masing. Nama-namanya tidak terlalu banyak yang kenal, paling tidak oleh saya, tapi dari bentukannya, ini pasti pop-psyche 60an; pria-pria dengan warna liak-liuk menjalar di jaket mereka.

Saya mengambil Frijid Pink, ada gubah ulang “House of the Rising Sun” di sana, Tarigan menyarani The Move yang berisi “I Can Hear Grass Grow” dan “Wave the Flag and Stop the Train” di sisi sebelahnya. Satu, dua puluh lima ribu, saya sikat dua-duanya, dan sebuah donat lagi tanpa petunjuk: tidak ada nama perusahaan rekaman, judul atau nomor seri. Apalagi saya, bahkan Tarigan pun Rendi yang ikut mengerubung juga tidak pernah mendengar nama itu sekalipun.

Nitro Jade Pump, berbunyi begitu saja, ditulis dengan spidol terang di tengahnya. Keping sebaliknya bercetak dua huruf kapital NA. Platnya warna kuning, muncul di urutan paling buntut. Seperti kejutan kiriman krispi tahi kuda di tengah hari bulan puasa. Menimbulkan keraguan tapi pada akhirnya, ya tetap disikat. Apa jadinya nanti urusan belakangan.

“Feeling gue, sih ini DJ housemix dari Eropa. Nggak mungkin classic rock kalau lihat namanya.”

“Tai, lo. Tapi bisa jadi, sih. Atau industrial Jerman sejenis KMFDM atau Die Krupps.”

“Kayaknya, test press,” kata Rendi.

“Bangsat.”

Juga dihargai dua puluh lima ribu. Jelas saya sikat. Ketika dia diputar, bahkan sampai sekarang ketika sudah empat gelas kopi habis ditenggak untuk menerjemahkannya di cerita ini, saya masih tidak mengerti apa yang sedang mereka mainkan. Hening tapi berkeringat. Dingin tapi dentumnya mendesir. Ingin terus bergerak. Berderam dan menderam. Konstan Apel hijau, atau LV coklat. Degup jantung membuas aligator. Yang pasti ini akan membuat penggemar berat Phil Collins semaput kalau mereka mendengarkannya.

Perolehan terakhir yang baik. Musiknya tidak penting, tapi paling tidak ini mampu membuat kalian berpikir untuk tidak mempercayai semua yang dari kemarin saya ceritakan di sini – itupun jika kalian cukup sabar untuk membacanya hingga ke bagian ini.

Selesai sudah dengan piringan hitam hari ini. Tuntas. Kembali ke vodka dan telan segala tetek bengek zinah fisik ini masuk lambung; Record Store Day, kepanjangan, kemiskinan, kelancangan, keindahan, kebingungan, obat-obatan, oceh serabutan, tidak bertanggung jawab, dan semua yang kalian sebut itu melanggar kepatutan; untuk menyerahkannya kembali ke dalam cerita. Murni cerita. Hiburan bebas. Jangan terlalu serius. Tak perlu terlalu diambil kesah, serahkan saja dia dengan tugasnya.

Tak lama kemudian Berry bergabung setelah lapak dagangannya dirapikan. Dia duduk di salah satu kursi lipat dengan tato-tato yang tertutupi long sleeve putih. Putarannya tepat jatuh di gilirannya ketika dia datang. Dr. Yes menyodorinya botolnya. Sebenarnya saya mengacuhkan bagian ini, terus acuh, sampai mendengar Berry menolaknya dengan santai dan halus.

“Udah lewat gua buat yang beginian,” tangannya mengibar seperti bendera pada botolnya.

Saya yang berada di sebelahnya yang kejatuhan operan itu, dengan senang hati menerimanya. Meneguknya sekali saja kali ini lalu spontan menoleh ke arah Berry yang tiba-tiba bersuara, “Lo nggak lihat kaos gua?” ujarnya dengan senyum.

Oh, ya… dada telanjang Ray Cappo dalam kepalan mikrofon, Youth of Today – Break Down The Walls… Dia Straight Edge.

Ok, baiklah.

Bersambung.

Tulisan ini adalah rangkaian tulisan bersambung yang dirilis dalam rangka menyambut Record Store Day 2016. Ditulis dengan inspirasi akan pengalaman Dr.Marto di Record Store Day Jakarta tahun 2015 tahun kemarin.

Klik di tautan ini untuk membaca seluruh serinya.