Category: events

  • Sky Avenue 2011 (Photos and report)

    Halloween memang pada hakikatnya dirayakan pada akhir bulan Oktober. Tapi pada malam hari itu, 30 Juli 2011, panitia dari pentas seni Sky Avenue berhasil menyulap Tennis Indoor Senayan menjadi sebuah kota kecil yang angker bernama Halloween Town.

    Sebuah patung Grim The Reaper dengan senyuman yang menyeringai menyambut kedatangan saya dalam venue, seolah ingin berkata “Selamat Datang di Sky Avenue wahai kaum immortal”. Saya kemudian masuk ke dalam sebuah area yang ditutupi tenda besar bernama Trick or Treats Area yang menjual berbagai jenis food & beverages serta merchandise dari band-band yang tampil. Sekitar 6 buah speaker ditempatkan di area tersebut memutar lagu-lagu ala soundtrack filmnya Tim Burton. Suasana Halloween pun makin terbangun. Saat sedang berkeliling2, seorang panitia yang mengenakan papan “Now Performing” memperlihatkan bahwa White Shoes & The Couples Company sedang bermain. Segera saya masuk ke dalam.

    Ketika saya masuk ke dalam gedung Tennis Indoor, ternyata White Shoes baru saja turun dari panggung. Kecewa, karena mereka adalah salah satu band yang ingin saya tonton malam itu. Namun, rasa kecewa saya langusng terobati oleh performance yang tampil selanjutnya, yaitu modern dance. Para pelakon tari modern dari SMA Lab School Kebayoran yang mengatasnamakan diri mereka Dazzling ini sanggup membuat seluruh Tennis Indoor riuh seketika. Dibaluti dengan pakaian seksi ala gadis-gadis nakal dari jaman Eropa pertengahan, para dancer ini meliak-liuk dan berhasil memanaskan satu gedung seolah-olah itu adalah efek dari Global Warming. Penampilan mereka malam itu membuktikan bahwa AC yang disediakan memang tidak cukup jumlahnya.

    Penampilan selanjutnya adalah dari Gugun Blues Shelter. Gugun membuka aksi dengan bermain-main solo gitar yang nakal sebelum masuk ke lagu pertama. Saat masuk lagu kedua, “Give Your Love” permainan solo dari Gugun bertambah liar. Saya ingin berkata kepada Gugun jangan perkosa gitarmu seperti itu, tapi kelihatannya si gitar sangat menikmati permainan jari jemari gugun yang begitu seksi. Total ada sekitar 6 lagu yang dibawakan oleh Gugun Blues Shelter, termasuk nomor andalan “Spinin’ Around Me”. Sesaat sebelum lagu penutup dibawakan, Bowie sang drummer sempat bermain-main solo sementara Jono sang bassis menari-nari menggeliat di atas panggung. Pada moment itulah saya sadar bahwa mereka memang pantas bersanding dengan band kualitas dunia di acara Hard Rock Calling 2011 kemarin di London.

    Lalu giliran band baru Play-Mates yang unjuk kebolehan. Saya sempat berharap ada embel- embel Playboy di depan nama band mereka, tapi ternyata tidak. Walaupun belum begitu tenar, namun permainan rock & roll mereka yang enerjik sanggup membuat kepala saya headbanging dengan sendirinya tanpa disuruh. Sayang, penampilan mereka pada malam itu agak terganggu dengan penempatan drum set yang diletakkan persis di belakang sederetan amplifier, membuat suara gebukan drum yang dihasilkan kurang lepas.

    Setelah Play-Mates turun, MC mengumumkan bahwa penampilan selanjutnya adalah Lamuru, sebuah pertunjukkan musik perkusi berkoreografi dari SMA Lab Schol Kebayoran yang menggunakan alat-alat musik “sampah” (seperti konsep pertunjukkan STOMP). Namun sebelum Lamuru mempertunjukkan kebolehan mereka, sekali lagi grup modern dance Dazzling tampil kembali. Kali ini mereka mengenakan pakaian penyihir dengan kostum backless. Aih, ingin rasanya disihir sama mereka. Dazzling pun keluar dari panggung, dan masuklah Lamuru.

    Lampu spotlight menembak panggung. Sekelompok pemain sudah bersiap, freeze di atas panggung. Agak lama juga, saya kira ini pasti ada sesuatu yang salah. Kasihan yang sudah berdiri itu. Panggung kembali gelap. Sekelompok orang dengan senter masuk ke panggung.

    Lalu dimulailah pertunjukkan. Sebenarnya, pertunjukkan ini ada alur ceritanya. Namun, saya agak kurang paham alurnya. Yang jelas, ada yang menari-nari seperti zombie yang diimpor dari video klip “Thriller” nya Michael Jackson, ada yang menari-nari kecak, ada yang memakai topeng putih seperti Jason di film Friday The 13th, dll. Begitu… Surealis! Saat mereka selesai, satu venue langsung berteriak menggila.

    Lamuru turun, MC kembali naik ke panggung untuk memperkenalkan band selanjutnya, Sheila on 7. Penonton kembali berteriak kencang. Panggung kembali gelap. Laser hijau menembak2 penonton dari atas panggung. Alunan musik yang agak kental suasana club diputar. Wow, pembukaan yang menarik. Lampu spotlight kemudian disorot ke panggung. Sheila sudah di atas sana. Siap bertempur. Duta berbicara sedikit menyapa penonton, lalu langsung bernyanyi “Aaaa aaaa aaaa”. Seluruh Tennis Indoor langsung ikut nyanyi bersamanya. Sebuah choir massal. Epic. Lagu “Betapa” didapuk sebagai lagu pembuka.

    Duta terlihat begitu enerjik dan atraktif di atas panggung. Saya tidak percaya bahwa ini adalah band yang sudah berdiri sejak suara saya masih belum pecah. Masuk lagu kedua, “Sahabat Sejati”. Tanpa jeda. Sebagian penonton berjingkrak2 dengan begitu panas. Bahkan sekelompok gadis di tribun ikut berdiri dan teriak2 mengikuti alunan vokal Duta.

    Yang saya tidak sangka, gitaris Eross dan bassist Adam juga bertingkah liar di atas panggung. Berlari ke sana kemari seperti bocah2 berumur 18 tahun. Asam garam industri musik Indonesia memang sudah dicicipi oleh Sheila on 7. Hal ini terlihat dari aksi pangguggnya yang enerjik dan dinamis. Mereka bukan hanya sekedar musisi, tapi entertainer sejati yang mengerti betul bagaimana cara membuat gadis2 remaja orgasme on the spot dan berteriak- teriak gila. Dua belas lagu mereka mainkan malam itu.

    Sebuah pentas seni membutuhkan band pemuncak yang dapat membuat penonton menggeliat terbakar api rock & roll. Malam itu, The S.I.G.I.T. mendapat kehormatan tersebut. Tanpa basa-basi, Rekti sang vokalis/gitaris langsung menghajar telinga penonton dengan lagu “Up & Down” dari album terbaru mereka Hertz Dyslexia Pt. II. Lagu habis, Rekti berkomunikasi sepintas dengan penonton. Langsung intro lagu kedua dimainkan, “Horse”. Headbanging berjamaah pun tak dapat dihindari lagi. Persiapan untuk tarawih berjamaah nanti tampaknya.

    Adegan lucu terjadi ketika mereka membawakan lagu “Bhang”. Rekti menghentikan permainannya dan meminta penonton untuk ikut bersiul bersamanya. Ternyata, siulan yang dihasilkan penonton tidak sesuai ekspektasinya. Rekti pun bertanya pada mereka, “Kalian pada punya burung gak sih?”. Haha. Hilarious. Namun sayang, penampilan The S.I.G.I.T. malam itu berakhir dengan sedikit antiklimaks. Saat mereka sedang memainkan “Clove Doper”, lampu Tennis Indoor dinyalakan. Ruangan menjadi terang benderang. Lampu panggung dan lampu sorot pun dimatikan seketika. Saat lagu tersebut selesai dimainkan, seorang crew di pinggir panggung menunjukkan jari telunjukknya pada Rekti, memberi tanda bahwa The S.I.GI.T. hanya punya jatah satu lagu lagi untuk dimainkan.

    Menurut saya, ini sedikit kurang etis. Saya sendiri cukup yakin bahwa ini adalah tindakan sepihak dari pihak pengelola gedung yang seolah ingin memberikan isyarat bahwa waktu sewa gedung sudah habis, ayo pulang! Tapi tidak begitu seharusnya. Panitia dan pihak pengelola gedung harus lebih berkoordinasi lagi dengan lebih baik. Untung saja, The S.I.G.I.T. berhasil menumpaskan malam itu dengan “Money Making” yang endingnya begitu spektakuler.

    Yah, semoga saja Sky Avenue selanjutnya dapat lebih baik dari tahun ini dan sebelum- sebelumnya. Karena tanpa pensi seperti ini, di mana lagi kita bisa menikmati baik pengisi

    acara maupun penontonnya? Hihi.

    Penulis : Muhamad Shahriza
    Photo : Agra Suseno

  • Java Rockinland 2011 (photos)

    Dengan 10 panggung yang bertebaran diberbagai penjuru pantai Carnaval Ancol, membuat acara festival ini bisa dibilang cukup sukses jika dipandang dari sudut pandang jumlah penonton. Walaupun begitu menurut saya acaranya masih banyak pekerjaan rumah yang perlu dibereskan, terutama dalam hal alur kendaraan bermotor dan akses pengunjung. Tetapi overall acara yang berhasil membuat saya muntah-muntah karena serangan strobo masif, akan tetap dikenang karena berhasil nostalgia dengan penampilan Ed Kowalzcik dan the Cranberries.

    By the way, big thanks to Jack Daniel’s Indonesia yang sudah menjamu dengan ramah.

    Photos by Claudia Dian.

  • Fajar Yanuarsyah di Rockvolution 2011

    Berikut ini adalah foto-foto dari Fajar Yanuarsyah sewaktu mengurus acara Rockvolution, dan tampaknya seru juga.

  • Gugun Blues Shelter @ Hard Rock Calling 2011

    Sebagai pemenang utama kompetisi Battle of the Bands yang diselenggarakan oleh jaringan Hard Rock Cafe seluruh dunia untuk mencari band-band berbakat dari seluruh dunia yang akan meramaikan festival tahunan bergengsi di Hyde Park London; maka Gugun Blues Shelter berhak menjadi pembuka panggung utama di hari ketiga festival tersebut. Dan sebagai kehormatan mereka diperkenalkan ke publik oleh Rita, pegawai Hard Rock Cafe yang sudah bekerja sejak 40 tahun yang lalu; dari awal jaringan cafe berjiwa rock and roll ini berdiri.

    Saat itu sekitar 30 ribu orang sudah mengisi taman terbesar dikota London, dan begitu lengkingan gitar dari trio ini berbunyi, para penonton dideretan depan pun lansung berdiri dan menunjukkan wajah penasaran mengenai siapa pemiliki jari-jemari yang bisa membuat gitar nya berteriak.

    Tidak banyak basa-basi, GBS berhasil menaklukan banyak fans baru hari itu dan ribuan orang ikut bertepuk tangan dan bergoyang dengan lagu Whisky Women, On the Run dan Funk No 1. Yang lalu membuat saya merinding yaitu saat sebagian dari penonton di baris depan berteriak “we want more”… sebegitu kagumnya mereka dengan band blues asal Indonesia ini. Namun karena ketatnya jadwal dan peraturan, permintaan mereka terpaksa tidak dapat dikabulkan.

    Btw, saat GBS menyelesaikan set nya, jumlah penonton sudah berlipat ganda. Dan malam nya saat Rod Stewart tampil sudah mencapai 90ribu. Dan ini adalah kehormatan bagi band asal Indonesia untuk dapat bermain dipanggung sebesar itu bersama legenda Stevie Nicks dan Rod Stewart.

    click
    http://www.hardrockcalling.co.uk/2011/
    untuk melihat foto-foto lainnya.

    Terimakasih banyak juga untuk Jack Daniel’s Indonesia yang telah mendukung perjalanan ini, dan tentu saja Hard Rock Cafe Jakarta yang telah mempercayai saya.

  • #BBLive & Rockin : Suede

    Setelah melewatkan penampilan mereka delapan tahun lalu, karena saya harus merantau sebagai mahasiswa miskin ke kota lain, maka saya tidak berani melewatkan mereka kali ini walaupun harus membeli seperangkat alat komunikasi baru. And ternyata Ismaya Live memang baik selalu mengingat kita untuk diberi undangan liputan plus 3 bonus tiket untuk kuis.

    Setelah terpaksa melewatkan penampilan musisi-musisi sebelumnya karena terjebak hujan dan lain sebagainya, akhirnya saya berada di spot yang cukup pas malam itu untuk melihat band ini, bersama teman-teman dan berjumpa para pemenang kuis yang malam itu matanya berkaca-kaca sejak lagu pertama sampai pertengahan acara, didalam hati saya berkata “untung saya melakukan background check setelah mengundi, jadi tiketnya jatuh ke tangan yang benar”.

    Dibuka dengan memutar lagu Sex Pistol – Bodies kemudian tanpa banyak basa-basi mereka masuk dan membawakan setlist berikut
    This Hollywood Life
    She
    Trash
    Filmstar
    Animal Nitrate
    We Are The Pigs
    By The Sea
    Electricity
    The Drowners
    Killing Of A Flashboy
    Can’t Get Enough
    Everything Will Flow (disini lah saya melihat mata beberapa teman saya berkaca-kaca)
    So Young
    Metal Mickey (dilagu ini saya mau nyelengkat orang yang joged nya berlebihan, maju mundur kiri kanan rusuh bener)
    The Wild Ones
    New Generation
    Beautiful Ones
    # Encore:
    Lazy
    Saturday Night (dilagu ini yang menitikkan air mata lebih banyak lagi)

    great show. can’t thank the organizer enough.

    just one note, please enforce the no smoking inside the building rules.

    *photos by Anzarra