Mendengarkan CD Akibat Pergaulan Blues ini membuat saya teringat Iwan Fals, Harry Roesli dan Doel Sumbang dengan lirik yang lebih dekonstruktif, tak terduga dan dengan pandainya menceritakan keadaan dunia yang memang tidak jelas ini.
lewat album ini, Jason Ranti menunjukkan bakat penulisan lirik yang sangat kuat. Bakat ini tidak sering muncul di kancah musik berdikari.
Saya rasa kita harus bergembira, ada juga akhirnya seorang penulis lagu yang mendendangkan lirik yang sereflektif lagu “Pulang ke Rahim Ibunya”
“…pergi ke Tuhan, ia tak mengenal Tuhan. Ia buat rencana pulang ke rahim ibunya…”
Luangkan waktumu juga untuk mencerna bait-bait lirik lagu “Bahaya Komunis”, saya rasa kamu juga ingin mengirimkan lagu ini ke gerombolan ultra nasionalis semu yang sering menyerukan Bahaya Laten Komunis.
“…coba bayangkan sekarang Palu Arit diajarkan dalam bentuk ilmu aritmatika…”
Sebuah album yang sederhana karena hanya berisi suara gitar, vokal dan beberapa sample suara. Namun begitu jenius.
Crimson Eyes adalah album pertama dari Sigmun, berisi lagu-lagu yang dari orok sampai matang lebih sering dimainkan di jalanan. Tapi begini: saya tidak perlu menunggu album pertama Sigmun untuk mengenal apalagi menyukai musik Sigmun. eras? Iya Dentuman drum renyah? Tentu. Tapi keras hasil studio? Hmm…
Maka dari itu, Crimson Eyes adalah bukti lanjut, bukan awal. Tapi ini tergantung sih siapa yang mendengarnya, tapi reputasi Sigmun bukan amatir punya. Lagu lagu bernuansa stoner rock midtempo yang membakar secara perlahan-lahan barangkali sudah Anda dengar di variasi yang bermacam-macam, tapi beginilah rupanya jika lagu-lagu tersebut dirangkai.
Crimson Eyes merangkai lagu-lagu tersebut dengan apik. Saya berani berkata demikian karena saya bisa memetik pola dari rentetan 11 lagu tersebut: Panjang-pendek-panjang-pendek dan seterusnya. Panjang berarti lagu tersebut biasanya di atas 7 menit (“In the Horizon” “The Summoning” “Prayer of the Tempest”), sedangkan pendek biasanya terletak di antara 3 sampai 5 menit.
Saya tidak memungkiri songwriting dari Sigmun; pergerakan kunci yang mendadak lebih sering tepat sasaran dibanding meleset. Dengar saja “Halfglass Full of Poison,” “Vultures,” dan “Ozymandias”: interplay antara Andika dan Haikal tidak saling tumpang tindih. Belum lama saya kembali mendengar album-album Sleater-Kinney seperti Dig Me Out. Permainan gitar di Crimson Eyes yang sama sekali tidak tumpang tindih sangat enak didengar, sama seperti permainan Brownstein-Tucker.
Plesetan lebih sering terjadi di lagu-lagu yang panjang. Dari awal mendengarkan “In the Horizon” saya terus mengharapkan ada gubahan yang berbeda; pergerakan ekstrim dari lagu yang di menit ke 6 atau 7 (atau berapalah) tiba tiba meledak begitu saja. Tapi tidak, sayangnya. Saya tidak kecewa sehabis ditinju lagu-lagu setelahnya, tapi begitu sampai “The Summoning,” tidak ada yang mengejutkan saya.
Crimson Eyes bukan album yang sempurna, tapi keempat lagu terakhir bisa jadi berada di album yang sempurna: “Inner Sanctum” dengan pergerakan tempo yang sangat, sangat bernas di akhir-akhir, “Golden Tangerine,” lagu lambat yang dikendalikan oleh efek dan tiba-tiba terbangun dari tidur di menit keempat, dinamika dari “Aerial Chateau” dan terakhir “Ozymandias” yang telah dirilis sebagai single.
Aspek terakhir yang mendekati kesempurnaan: performa vokal Haikal yang melengking bisa membelah lagu seperti membelah kurban. Nantikan saja jika di tulisan-tulisan berikutnya ada yang membandingkan Haikal dengan Robert Plant. Ada lah satu-dua.
Tapi memang iya, Crimson Eyes bukanlah album yang sempurna (kritik terakhir: di mood tertentu, Crimson Eyes bisa jadi sangat melelahkan; saya harus memainkan album ini di dua keadaan berbeda). Dilihat dari sudut pandang tertentu, saya berpikir kalau Crimson Eyes itu lebih menyerupai album transisi dibanding magnum opus atau apalah yang Rolling Stone buat-buat. Sigmun terbentuk sudah lama dan ini adalah album pertama mereka. Saya tidak ragu satu inci pun kalau masih banyak yang mereka belum mau tunjukkan. Crimson Eyes pun saya yakin akan memuaskan banyak orang, baik mereka yang punya atau tidak punya kesabaran menunggu keluaran dari Sigmun.
Cover art for Sigmun’s debut full-length album, “Crimson Eyes”, done by Kendra Ahimsa and Reska Dwi Addry. Digital pre-order via iTunes for Crimson Eyes is now open! Hit the link below to commence with the digital pre-order. CDs will be released on 15th November for Jakarta and Bandung, other cities will follow shortly due to some unexpected delays.
Tracklist:
1. In the Horizon
2. Vultures
3. Devil in Disguise
4. Halfglass Full of Poison
5. The Summoning
6. The Gravestones
7. Prayer of Tempest
8. Inner Sanctum
9. Golden Tangerine
10. Aerial Chateau
11. Ozymandias
Setelah sukses menggelar Converse Rubber Tracks yang perdana, tahun ini mereka kembali menggelar di seluruh dunia dan berhasil memilih lagi band Indonesia sebagai salah satu pemenangnya. Sistem penjurian pun sedikit berbeda untuk tahun sekarang, tahun lalu Converse Rubber Tracks diadakan lewat situs Whiteboard Journal (www.whiteboardjournal.com) dan penjurian dipilih oleh juri dari Indonesia. Tahun ini, proses penjurian diadakan langsung oleh pihak Converse Amerika Serikat dan diumumkan pertengahan tahun Juli 2015.
Adalah Indische Party unit Rhythm & Blues asal Jakarta yang berhasil diberangkatkan untuk rekaman Ep di Converse Rubber Tracks Recording Session 2015. Indische Party sarat akan nuansa musik tahun 1960-an mengambil genre Rhythm & Blues, Rock dan Pop sebagai dasar musikalitas mereka. Bisa dibilang band ini semacam semi-supergroup dari band Institut Kesenian Jakarta (IKJ) yang dimana Japs Shadiq terlebih publik duluan ketahui dia juga gitaris dari band pop-psychedelicIt’s Different Class. Gayanya yang flamboyan dan sangat ‘men-dewa-kan’ Mick Jagger mengambil posisi di departemen vokal untuk band keduanya ini. Ditambah Kubil Idris yang lebih dikenal sebagai gitaris band new wave Jakarta, The Upstairs. Serta Jacobus Dimas atau Iyo sebagai bassist yang juga tergabung dalam Karon n Roll. Pada posisi drum di isi dengan Tika Pramesti, dengan pukulannya yang jazzy.
Perlu menunggu sekitar tiga minggu sejak pengumuman resmi untuk mengetahui studio mana yang akan Indische Party tuju. Di pertengahan Agustus 2015, Indische Party menerima informasi bahwa mereka akan bertolak ke studio legendaris Abbey Road Studios, London, Inggris, untuk melakukan sesi rekaman. Mengambil statement dari rilisan pers mereka bahwa “Seluruh personil Indische Party akan melakukan sesi rekaman selama dua hari pada 21-22 September 2015 di Abbey Road Studios bersama dengan additional keyboardist David Tarigan yang juga akan membantu proses rekaman selama di sana. Mengenai materi rekaman sendiri, Indische Party berencana untuk merekam materi-materi baru.” Nantinya mereka akan akan bekerjasama dengan sound engineer Alan O’connell atau biasa dikenal dengan nama “alalal”. Seorang music producer dan sound engineer asal Inggris yang telah bekerjasama dengan Mark Ronson, Paul Epworth Erol Alkan, Bruno Mars, The Vaccines, Placebo, Duran Duran, Metronomy, Klaxons, The Future Heads, The Rapture, The Big Pink dan nama-nama besar lainnya. Alan O’connell merupakan peraih “Recording Engineer of the Year” di tahun 2013 oleh UK Music Producers Guild dan juga nominator di ajang Grammy 2014. Kita tunggu saja hasil rekaman Indische Party dan cerita-cerita selama disana.
Tidak banyak band rasanya bisa mengambil ruh Janis Joplin kedalam musik mereka, itu lah yang membuat banyak musisi akhirnya memilih memasukkan ruh mereka sendiri kedalam musik-musik blues yang mereka tulis dan mainkan.
Dolphin Division sudah cukup bagus memasukkan karakter mereka sendiri, walau memang di beberapa bagian masih terjebak untuk mengeksploitasi tekanan vokal supaya jadi ‘blues’ padahal ngga. Janis Joplin aja kalau nyanyi ga semua bagian ditekan-tekan.
[press release]
Awalnya, sekawan mahasiswa Filsafat 2009, yakni, Rizky, Ocka, dan Rahman, menjadi lebih akrab karena mempunyai ketertarikan yang sama. Ketiganya punya latar bermusik yang telah mereka mulai sebelum masa kuliah. Pada awal perkuliahan, ketiganya mengisi peran di perhelatan kampus Sastra (FIB UI), namun masih dengan formasi terpisah, Rizky yang lebih dulu mapan dengan Filosofi Empat Negara, Ocka yang menjadi juara penyanyi solo FIB UI, dan Rahman yang sering menjadi additional band.
Tidak lama, muncul sosok di seberang bernama Raga, Sastra Perancis 2010 yang menampilkan talentanya dalam membetot bass. Berbekal referensi musik jazz dan pengalaman additional di beberapa band, Raga ikut memasukkan banyak warna yang mendukung eksplorasi band. Formasi band kemudian dilengkapi oleh Goldy, Sastra Inggris 2009, sebagai drummer. Peleburan dari masing-masing musikalitas mereka adalah blues yang sarat nuansa psychedelic rock. The Experience Club menjadi nama titik mula mereka, hingga selanjutnya, pada sebuah malam dengan kondisi mata setengah, The Experience Club mengubah alter ego-nya menjadi Dolphin Division. Kredit panggung yang telah tercatat adalah, Anniversary Expressions – Philo Art Space, Festival Budaya 2012, dan Unfinished Galeri Antara.
Janis Joplin, Pink Floyd, Led Zeppelin adalah nomor-nomor yang sering dibawakan Dolphin Division. Setelah dua tahun berdiri, akhirnya mereka berhasil mengeluarkan single pertama mereka dengan judul, White Circle. Permainan gitar clean dengan delay ditambah raungan fuzz yang brutal, perpaduan keduanya
Vocal: Noorca // Melody: Rizky // Rhythm: Rahman // Bass: Rasmana // Drum: Goldy
menghasilkan perasaan yang unik saat mendengar lagu ini.
Dolphin Division hadir dalam industri musik untuk mengekpresikan diri, dan juga sebagai sarana untuk membagi pandangan hidup mereka. Menjadi terkenal bukanlah tujuan mereka, namun untuk menjadi yang terbaik, adalah harga mati.