Kedai Tjikini mengadakan seri “Obrolan Seru” dimana mereka mengundang figur-figur yang dianggap seru untuk diajak ngobrol. Mereka mengundang David Tarigan untuk ngobrol mengenai harta karun musik Indonesia di rangkaian pertama ini. Sebagai figur yang memang dikenal antusias akan musik Indonesia dan memiliki kepribadian yang senang bercerita, tentu akan menarik mendengarkan David Tarigan menceritakan kegiatannya berburu musik Indonesia untuk diarsipkan bersama Irama Nusantara.
Di antara cerita-cerita mengenai dirinya mendapatkan berbagai cerita mengenai kancah musik Indonesia di masa lampau, ada beberapa yang menarik saya secara personal.
Sekilas ceritanya mengenai Dick Tamimi pemilik label sekaligus pilot dan mengapa Dara Puspita menggunakan intro yang “meminjam” lagu ‘(I Can’t Get No) Satisfaction’ nya The Rolling Stones.
Rupanya tidak sekedar ‘meminjam’ karena lagu itu lagi terkenal, tetapi ada kaitannya dengan masa waktu mereka diwajibkan melapor ke yang berwenang dan diminta memainkan lagu yang dilarang dan tidak dilarang.
Coba kamu dengarkan sendiri David Tarigan menceritakan kejadian tersebut yang diceritakan sendiri oleh Titi Hamzah kepadanya.
Salah satu quote yang menarik dari David Tarigan mengenai harta karun musik ini adalah “…Mendengarkan musik-musik ini tujuannya bukan untuk nostalgia, tapi karena memang keren aja…” apalagi kebanyakan dari rekaman ini tidak dirilis massal, jadi ya tidak banyak yang bisa bernostalgia juga.
David dan puterinyaDavid dan pak DharmawanDavid Tarigan
Seorang ketua panitia memberikan kata sambutan, terlihat grogi, ia melemparkan beberapa kata makian berusaha melawan kegugupan. Tidak terlihat kalau kegugupan berhasil dihilangkan, namun kegugupan tersebut tidak juga berhasil mengalahkan seseorang yang berambisi besar menjadi pengusaha konser. Ia berhasil menyelesaikan kata sambutannya dengan baik, yang syukurnya tanpa perlu mengucap jargon a’la Orba.
Nama manusia dengan kata sambutan itu adalah Felix Dass, seseorang yang cita-cita mulianya saya sambut baik: menjadi pengusaha konser.
Konser ini adalah konser kedua yang diadakan Felix Dass di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki setelah dianggap sukses di pagelaran pertama lalu.
Ada benang merah yang sama diantara kedua penampilnya; keduanya berformat duo, dan keduanya tampil juga di kedai Tjikini17 tahun lalu. Seperti kebetulan? mungkin, tapi saya rasa ada peran alam semesta yang membuat Silampukau akhirnya kembali memukau pencinta musik di daerah Cikini.
•
Tahun lalu tidak ada tirai yang membuka diri perlahan untuk kemudian penonton bersorak dan bertepuk tangan berharap dihibur oleh Silampukau seperti tahun ini. Tahun ini mereka semua disambut dengan tepuk tangan dan teriakan sambutan berlogat medok begitu tirai terbuka sedikit.
Lampu dinyalakan, dan terlihatlah tata lampu yang efisien namun efektif menerangi panggung dan sedikit memantul dari kulit kepala yang berkilat di baris depan untuk menyilaukan mata saya sedikit. Saya bisa melihat pemetaan lampu-lampu berwarna merah dan hijau di permukaan kepala tersebut.
Hal ini menyebabkan saya perlu sedikit memiringkan badan untuk menonton dengan ruang pandang yang lebih lega.
•
Eki dan Kharis tidak menunggu lama, mereka lansung membuka konser dengan lagu pertama “Bola Raya”. Terasa aroma kegugupan yang mungkin disebabkan tata suara yang belum seimbang, atau karena gedung pertunjukkan yang dalam bertahun-tahun berdiri telah menghibur umat manusia dengan pertunjukkan kelas dunia.
Saya ada di teater itu saat ada pertunjukkan musik, teater, atau balet berkunjung ke Indonesia dalam rangka tur dunia. Sebuah gedung teater kecil namun berkarisma, tidak banyak lagi jumlahnya di seluruh dunia. Seorang veteran pertunjukkan kelas dunia saja pernah menyatakan kegugupannya, maka saya memahami jika Silampukau juga gugup.
Sebenarnya kegugupan tak pernah hilang dari wajah di sepanjang pertunjukkan, namun kadarnya semakin berkurang di lagu demi lagu dan tentu saja mereka tetap berhasil memukau yang hadir di malam pertama.
Masalah tata suara telah berhasil diatasi sebagian saat lagu “Bola Raya” diselesaikan, dan akhirnya mulai maksimal di “Sang Pelanggan” saat penonton bersemangat ikut bernyanyi lagu tentang gang Dolly di Surabaya.
Penonton bersorak dan tertawa keras saat oom Muke Kapur dari PMR muncul sekilas di lagu kesekian, untuk kemudian muncul kembali sebagai penambah keriaan berikutnya di lagu dangdut yang dinyanyikan oleh Ayu yang biasanya bermain ukulele.
Seorang perempuan disebelah saya yang rupanya fans kelas berat, tidak berhenti bergoyang dan bernyanyi. Kalau saja gedung ini tidak pakai tempat duduk, saya rasa dia sudah lompat ke barisan depan dan joged paling depan. Memang sebuah pertunjukkan sebaiknya dinikmati semaksimal mungkin.
•
Bagian yang juga menyenangkan adalah, setelah jeda istirahat 10 menit, semua yang dihadir dibagikan marakas kecil berlogo Silampukau. Untuk dimainkan bersama di beberapa lagu set kedua, yang menyebabkan banyak fans histeris dan memainkan dengan rupa-rupa improvisasi yang untungnya masih nyambung.
Di awal set kedua ini saya memohon kepada teman di sebelah untuk bertukar tempat duduk, karena mata saya silau terkena pantulan dari kulit kepala. Seseorang dengan jiwa yang baik, ia menukar tempat duduknya dengan saya. Tidak lama kemudian ia terlihat mencondongkan badannya ke sebelah kanan, tempat bahu istrinya berada. Obstacle yang berhasil dijadikan advantage oleh Arya ‘Substore’.
•
Dengan setlist dari album “Dosa, Kota, dan Kenangan“, lagu baru maka akhirnya konser ditutup dengan lagu “Doa 1”. Yang kemudian tentu saja dilanjutkan dengan sebuah ‘Encore’ dari lagu lama mereka.
•
Pertunjukkan akhirnya selesai, dilanjutkan dengan ramah tamah di lobby dan perbincangan dengan teman-teman yang biasanya hanya berjumpa di saat pertunjukkan musik berlansung.
Malam telah jatuh dengan memukau sekali lagi di Cikini.
•
Silampukau – Bianglala
SIlampukauMemukau di CikiniTahun silam memukau, tahun ini kembaliFelix Dass sedang diabadikan profil nya via ponsel Intan.Indra Ameng, Arman Dhani, Arya & Intan ‘Substore’SIlampukauEki Tresnowening dan buah hatinya.foto barengFoto bareng
Bermain di Cikini:
Silampukau dan Kawan-Kawan, 30 & 31 Maret 2016 mendatang di Teater Kecil 2016.
Ditunggu ordernya via seribermaindicikini@gmail.com atau 08119208475
Begitu malam jatuh di Tjikini 17, duo Kharis dan Eki pun memulai set mereka. Dibuka dengan kata sambutan singkat dari Dharmawan Handonowarih sebagai pemilik kedai, tepuk tangan pun bersahutan dari penonton yang padat memenuhi kedai.
Silampukau menjadi pembicaraan yang hangat setelah album “Dosa, Kota dan kenangan”. Saya sendiri juga terpukau dengan penulisan lirik yang satu frekuensi dengan kehidupan masyarakat urban kelas menengah bawah. Perkenalan pertama terjadi dengan single “Doa 1” yang membuat saya tertawa terbahak-bahak karena liriknya yang lugas, tentang anak band yang ingin sukses di jalur indie. Selanjutnya setelah mendapatkan album penuhnya, saya tersentuh dengan lagu “Balada Harian”, “Lagu Rantau (Sambat Omah)” dan “Malam Jatuh di Surabaya”. Lagu-lagu lainnya pun sangat menghibur dan terekam kuat di sanubari.
Beberapa minggu sebelum malam ini, seorang sahabat saya yang rupanya kesambet lebih dalam lagi oleh album ini. Namanya Felix Dass dan ia adalah pemersembah konser kecil ini dengan kongsi bersama Tjikini17.
Konser malam kemarin dibuka dengan “Balada Harian”, sama dengan albumnya. Selanjutnya satu demi satu lagu dari album “Dosa, Kota dan Kenangan” dibawakan, dengan urutan yang saya sudah lupa. Rupanya sebagian besar lirik sudah terekam di banyak pengunjung, mereka rata-rata sudah mempunyai lagu favorit. Menyenangkan juga ternyata banyak juga yang memiliki selera musik dan lirik yang sama.
Duo ini dibantu oleh seorang pemain bas, multi instrumentalis bernama Mayo yang juga drummer Vox, dan kadang-kadang Vega dari Vox bermain gitar tambahan.
Malam semakin larut, dan semua lagu dari album kesayangan pengunjung telah dimainkan semua. Tetapi rupanya penonton masih belum puas dan memaksa mereka kembali ke tempat duduk kehormatan. Sebuah lagu lama dimainkan, dan akhirnya hadirin bisa pulang dengan lega.
Sebuah malam Senin yang berharga dengan musik berkualitas, teman-teman berselera musik sama dan romantisme sisi lain Jakarta yang lebih menyenangkan.