Trio yang dimotori oleh Arswandaru ( bass/vocal), Faturrachman (guitar/vocal), dan Saptahadi (drum) ini sebenarnya sudah mulai terbentuk sekitar tahun 2010, dimana mereka bertemu saat menempuh pendidikan dalam disiplin ilmu dan lingkungan kampus yang sama (Filsafat UI). Memulai dengan ketertarikan yang sama atas musik grunge, kemudian mereka juga bereksperimentasi di wilayah psychedelic rock. Dari panggung kampus hingga skena di luar kampus pun beberapa kali pernah mereka jajaki. Namun produktifitas sebagai sebuah band cenderung pasang surut, karena masing-masing personil juga tergabung dalam band lain. Hingga pada akhirnya mereka memutuskan untuk membuat karya sendiri, memperbaharui materi, dan sedikit mengubah haluan dengan memasukan variabel lain tentang kegemaran mereka pada literatur, khususnya yang menyangkut tema horror atau okultisme seperti karya – karya dari H.P Lovecraft atau J.R.R Tolkien. Dipadukan dengan nuansa musik yang banyak terpengaruh mulai dari riff-riff Black Sabbath, The Beatles, Blue Cheer, psychedelic rock era 60 dan 70-an, hingga sloppy garage punk.
Single pertama mereka yang berjudul “Rites of Magick”, secara garis besar bercerita tentang ritual okultisme yang dijalani oleh seorang yang berkarakter drug crazed – paranoid. Sebuah perjalanan di suatu malam yang penuh dengan rasa gelisah, takut, imajinasi yang menyeramkan tentang pengorbanan, bercampur dengan suka cita dan adrenaline rush akibat dari asupan ‘barang substansial’, untuk menyambut datangnya sang bintang fajar (the morning star, the light bringer, Lucifer). Sebuah paranoia yang juga banyak terinspirasi dari sosok Charles Manson.
Single ini ditujukan sebagai sebuah jembatan bagi para pendengar sebelum merilis EP dalam selang waktu 2 bulan mendatang. Semacam cuplikan sekaligus introduksi tentang apa yang ditawarkan dari Witch Motor Inn.
Walau akhir pekan banyak menggoda dengan pilihan acaranya di tanggal 30 April – 1 Mei 2016, tapi di kedua hari tersebut saya memantapkan langkah ke Mondo Cafe, Fatmawati. Acara yang digelar kolektifan Noise Whore mempunyai daya tarik lebih kuat. Baik dari pemilihan tanggal hingga mengkurasi band yang mengisi line-up. Mereka membangunkan tidur panjang AGGI dan The Porno di hari sabtu. Mengajak Ramayana Soul untuk membakarkan dupanya kembali di hari minggu.
Sebelum masuk, di depan parkiran melihat sekumpulan anak-anak dengan logat Jawa Timur salah satunya menegur saya. Dia Windrata Faizal vokalis dari unit post-punk/darwave Surabaya bernama Cotswolds. Mereka bermain di hari pertama bersama nama-nama baru Soft Blood, Peonies, dan Mutombo. Dan memberi tahu bahwa acara ‘ngaret’ karena sempat kena kendala teknis tempat. Tapi, sayangnya saya pun melewatkan aksi Soft Blood dan melihat Peonies sudah siap dengan kostum Doraemon. Diisi oleh salah satu pemuka indie pop lokal bernama Jodi Setiawan (yang dulunya memiliki band bernama Jodi In The Morning Glory Parade) memainkan dream-pop yang kental dalam struktur musiknya. Mengendapkan unsur Wild Nothing era Gemini. Dilanjuti gerombolan gelombang gelap asal kota Sambal Bu Rudy, Cotswolds, tampil kurang maksimal karena masalah teknis sound. Mereka juga membawakan materi baru seperti “Only In Shadow” dan “Marra”. The Porno melanjutkan tongkat estafet penampil. Berbalut seragam hitam-hitam memang sudah menjadi ciri khas mereka. Bisa dibilang inilah salah satu target yang berhasil ditembus Argia Adhidhanendra selaku founder Noisewhore untuk membawa mereka ke acara Noise Whore Vol-002.
Kolektif ini telah lama dibentuk dia bersama teman-teman sejawatnya. Bermula dari zine sekolah lalu berpindah ke media internet berupa tumblr. “Gue terpengaruh sama perkembangan zine era 2010’an, zaman Heyfolks masih di Mayestik dan kami lebih banyak membahas soal musik. Sempat mau bahas film tapi terlalu lepas dari pakemnya” ujar Arghi pria gondrong berkacamata sekelibat mengingatkan saya dengan Xandega, bassis Polka Wars. Noise Whore Live ini kali kedua yang mereka gelar. Sebelumnya pernah mengundang deretan nama seperti Bedchamber, Low Pink, hingga TaRRkam.
Seusai The Porno, melihat gitaris handal seperti Pandu Fuzztoni tidak berpindah tempat malahan meduduki kursi drum menjadi pertanyaan besar buat saya. Ditambah Peter Andrian Walandouw (Damascus) dan Alvi Ifthikhar turut gabung bersama beliau. “Ini Mutombo nih??? Yah, dia lagi… dia lagi….” sontak teriakan penonton sehabis lagu pertama dibawakan. Memang, Mutombo memperkenalkan ke publik dunia maya lewat bandcamp hanya menggunakan moniker seperti Budi, Anto, Joko, dan bikin penasaran siapa otak dibalik band ini? Dijawab sudah di malam itu. Anti-klimaks pun terjadi sewaktu membawakan lagu terakhir dan gitar milik Peter tidak nyala total, mengambil keputusan untuk menyudahi penampilannya. Setelah ulasan ini dikabarkan Mutombo menyatakan bubar dari jagat musik sampai waktu tidak ditentukan. Sehabis itu ada AGGI yang langsung mengkooptasi panggung. Terakhir melihat mereka di Mondo Cafe yang waktu itu masih berlokasi di Kemang. Masih tetap terdengar manis walau menjadi penampil terakhir.
Argia mengaku bahwa dalam proses mengkurasi band dia serahkan kepada teman-temannya juga. Sewaktu ditanya apa kalian merugi atau tidak? Dia tidak terlalu perduli akan situasi itu, nyatanya ini acara tanpa sponsor dan seratus persen dikerjakan berdasarkan passion dari mereka masing-masing.
Kalau hari pertama lebih sering disuguhkan nuansa dream-pop sampai indie rock 90’an, di hari kedua raungan distorsi hampir mendominasi penuh ke dinding telinga kalian. Dibuka oleh grup anyar bernama Bising Kota yang memiliki nuansa seperti Heinrich Manuver, dengan Erlangga Ishanders (atau akrab dipanggil Angga) dari Ramayana Soul sebagai penggebuk drum pengganti. Lalu ada Feast selalu tampil tidak mengecewakan tiap saya lihat penampilannya. Piston pun melanjutkan alur acara ini. Sangat senang melihat Yulio Abdul Syafik telah kembali mebetot bass semenjak masa penyembuhan patah lengannya. “Hakim Tak Berpalu” pun menyulut keriuhan kecil seketika. Seusai mereka, para personil r e k a h sudah terlihat mengambil posisi masing-masing. Ini merupakan Ritus ketiga milik mereka. Penampilan yang didramatisasi oleh sang vokalisnya menjadi nilai plus. Bagaimana tidak terlalu drama? Ketika melihat lirik-lirik dingin dimuntahkan bercampur aksi Faiz Alfaressi (vokal) beraksi menaiki tangga hingga keluar ke balkon. Seperti saya bilang diatas, Ramayana Soul kembali membakar dupanya petanda dibukanya pintu Dimensi Dejavu. Karena factor sound kurang memuaskan, tapi totalitas yang mereka kerahkan perlu diapresiasi. Noise Whore Vol 002 ditutup oleh seklompok muda menamakan diri mereka Circarama. Walau terbilang muda mereka menunjukan kesolidan antar personil.
“Gue sih pengen mengajak Pestolaer reunian” pungkas Argi ketika ditanya siapa yang ingin (atau cita-cita) diundang untuk Noise Whore Live. Konon kolektifan ini juga mempersiapkan sesuatu yang spesial untuk volume selanjutnya. Penasaran? Ditunggu saja Noise Whore Vol 003.
Apa yang terlintas ketika melihat kondisi Jakarta di hari Jumat sore? Pasti umpatan-umpatan negatif orang ketika melihat situasi kondisi tatanan jalan yang begitu ramai dengan kendaraan. Tapi apalah gunanya umpatan tersebut, hal seperti ini sudah dilumrahkan bagi mereka pencari rezeki di ibukota. Titik protokol seperti Senayan contohnya, dari depan pintu masuk kita langsung disuguhkan pemandangan mobil mengantri ke Parkir Selatan Senayan. Ya, malam itu 29 April 2016, mereka semua berbondong-bondong ingin menjadi saksi konser Tame Impala. Acara ini sendiri digarap sukses oleh KiosTix. Konser ini merupakan kali kedua band neo-psychedelia asal Perth, Australia ini menyambangi Jakarta. Tapi menurut kabar beredar aksi perdana mereka kurang memuaskan dari segi sound. Dan malam itu mereka (Tame Impala) membayar lunas kekecewaan 2011 dengan penampilan ciamiknya. Dibuka oleh Barasuara, yang selalu dapat nilai plus setiap aksi panggungnya. Seperti biasa kita bisa melihat aksi enerjik masing-masing personil, apalagi sang bassist Gerald Situmorang yang terlihat atraktif di sisi satu ke sisi lainnya. Serta memilih ‘Bahas Bahasa’ menjadi lagu kuncian di terakhir penampilan. Tampil menggerumul diatas panggung, crew mereka yang memakai kostum dokter itu memastikan instrumen semuanya aman. Titik hijau yang ditembakan dari proyektor ke layar gigantis itu menjadi tanda akan dimulainya konser seraya para personil masuk ke posisinya masing-masing. Pria gondrong yang sepertinya terlihat humble menyapa seluruh penonton. Dia Kevin Parker. Mendaulat “Let It Happen” sebagai lagu pertamanya. Karena konser ini juga masuk ke dalam rangkaian promo tur album terbaru mereka, Currents. Walau Nick Allbrock menyatakan bahwa dia resmi mengundurkan diri dari band ini beberapa tahun lalu, dengan formasi terkininya mereka tetap terlihat solid. Lanjut dengan “Mind Mischief” yang terdapat dalam album Elephant. Bisa dibilang porsi dari masing-masing album rata dimasukan kedalam setlist. “Hey guys, make some noise, give a big cheer just want to say thank you, sorry if I say this wrong, but Barasuari? Barasuara? That’s it. Almost there! It’s always hard going on after a band that’s that good.” Bentuk impresi Kevin saat menonton aksi panggung Barasuara. Singkronisasi antara audio dan visual juga berkerjasama apik, ditambah tampilan visual penuh warna membuka wahana psikedelia dalam otak. Pas “The Less I Know the Better” dibawakan, sontak tampil sinaran lampu disko menyoroti satu Lapangan D. Ada momen mencengangkan didepan saya sewaktu “Apocalypse Dream” dimainkan, dua orang pria pingsan bersamaan. Ada pun encore “Feels Like We Only Go Backwards” sehabis itu “New Person, Same Old Mistake” dipilih dalam dua peluru akhir menyudahi penampilan. Sedari pulang kemarin hingga sekarang saya masih memikirkan dua pria yang pingsan bersamaan diatas, mungkin sangat terbuai dengan visualnya? Sedang dibawah substansi lain? Atau keduanya? Saya pun kurang paham, tapi yang saya ingat celotehan teman saya saat mengangkat kedua lelaki ini “Yeelah, gue sadar aja hampir mabok gini liat visualnya. Apalagi yang mabok?”.
Melanjutkan aktivitas sibuk dalam tahun 2015 dari Sajama Cut, band indie rock asal Jakarta ini akan mengunjungi timur Indonesia, di kota Makassar, Sulawesi Selatan. Acara yang akan berlokasi di Mall Ratu Indah, Jl. Dr. Ratulangi No. 35 masuk kedalam rangkaian acara HUT mall tersebut akan berlangsung pada tanggal 21 November 2015.
Ini merupakan bentuk suguhan setelah sebelumnya Sajama Cut merilis album keempatnya yang bertajuk Hobglobin. Menurut rilisan pers yang kami terima, selain karena konser ini adalah kali pertama Sajama Cut bertandang ke Makassar, ada alasan mengapa Sajama Cut memilih untuk berangkat: “semangat Makassar yang belakangan ini sering mengundang musisi-musisi yang berdomisili di luar Sulawesi.”
Sajama Cut kembali aktif bermain di panggung-panggung sejak September silam, memutuskan istirahat selama kurang lebih 5 tahun. Di bawah label The Bronze Medal dan Elevation Records, rencananya mereka juga dalam pengerjaan album ke lima yang kira-kira akan dirilis pada tahun 2016.
Crimson Eyes adalah album pertama dari Sigmun, berisi lagu-lagu yang dari orok sampai matang lebih sering dimainkan di jalanan. Tapi begini: saya tidak perlu menunggu album pertama Sigmun untuk mengenal apalagi menyukai musik Sigmun. eras? Iya Dentuman drum renyah? Tentu. Tapi keras hasil studio? Hmm…
Maka dari itu, Crimson Eyes adalah bukti lanjut, bukan awal. Tapi ini tergantung sih siapa yang mendengarnya, tapi reputasi Sigmun bukan amatir punya. Lagu lagu bernuansa stoner rock midtempo yang membakar secara perlahan-lahan barangkali sudah Anda dengar di variasi yang bermacam-macam, tapi beginilah rupanya jika lagu-lagu tersebut dirangkai.
Crimson Eyes merangkai lagu-lagu tersebut dengan apik. Saya berani berkata demikian karena saya bisa memetik pola dari rentetan 11 lagu tersebut: Panjang-pendek-panjang-pendek dan seterusnya. Panjang berarti lagu tersebut biasanya di atas 7 menit (“In the Horizon” “The Summoning” “Prayer of the Tempest”), sedangkan pendek biasanya terletak di antara 3 sampai 5 menit.
Saya tidak memungkiri songwriting dari Sigmun; pergerakan kunci yang mendadak lebih sering tepat sasaran dibanding meleset. Dengar saja “Halfglass Full of Poison,” “Vultures,” dan “Ozymandias”: interplay antara Andika dan Haikal tidak saling tumpang tindih. Belum lama saya kembali mendengar album-album Sleater-Kinney seperti Dig Me Out. Permainan gitar di Crimson Eyes yang sama sekali tidak tumpang tindih sangat enak didengar, sama seperti permainan Brownstein-Tucker.
Plesetan lebih sering terjadi di lagu-lagu yang panjang. Dari awal mendengarkan “In the Horizon” saya terus mengharapkan ada gubahan yang berbeda; pergerakan ekstrim dari lagu yang di menit ke 6 atau 7 (atau berapalah) tiba tiba meledak begitu saja. Tapi tidak, sayangnya. Saya tidak kecewa sehabis ditinju lagu-lagu setelahnya, tapi begitu sampai “The Summoning,” tidak ada yang mengejutkan saya.
Crimson Eyes bukan album yang sempurna, tapi keempat lagu terakhir bisa jadi berada di album yang sempurna: “Inner Sanctum” dengan pergerakan tempo yang sangat, sangat bernas di akhir-akhir, “Golden Tangerine,” lagu lambat yang dikendalikan oleh efek dan tiba-tiba terbangun dari tidur di menit keempat, dinamika dari “Aerial Chateau” dan terakhir “Ozymandias” yang telah dirilis sebagai single.
Aspek terakhir yang mendekati kesempurnaan: performa vokal Haikal yang melengking bisa membelah lagu seperti membelah kurban. Nantikan saja jika di tulisan-tulisan berikutnya ada yang membandingkan Haikal dengan Robert Plant. Ada lah satu-dua.
Tapi memang iya, Crimson Eyes bukanlah album yang sempurna (kritik terakhir: di mood tertentu, Crimson Eyes bisa jadi sangat melelahkan; saya harus memainkan album ini di dua keadaan berbeda). Dilihat dari sudut pandang tertentu, saya berpikir kalau Crimson Eyes itu lebih menyerupai album transisi dibanding magnum opus atau apalah yang Rolling Stone buat-buat. Sigmun terbentuk sudah lama dan ini adalah album pertama mereka. Saya tidak ragu satu inci pun kalau masih banyak yang mereka belum mau tunjukkan. Crimson Eyes pun saya yakin akan memuaskan banyak orang, baik mereka yang punya atau tidak punya kesabaran menunggu keluaran dari Sigmun.
Cover art for Sigmun’s debut full-length album, “Crimson Eyes”, done by Kendra Ahimsa and Reska Dwi Addry. Digital pre-order via iTunes for Crimson Eyes is now open! Hit the link below to commence with the digital pre-order. CDs will be released on 15th November for Jakarta and Bandung, other cities will follow shortly due to some unexpected delays.
Tracklist:
1. In the Horizon
2. Vultures
3. Devil in Disguise
4. Halfglass Full of Poison
5. The Summoning
6. The Gravestones
7. Prayer of Tempest
8. Inner Sanctum
9. Golden Tangerine
10. Aerial Chateau
11. Ozymandias