Tag: frau

  • Mendengarkan Bersama mp3 Mini Album Frau ‘Tembus Pandang’.

    Mendengarkan Bersama mp3 Mini Album Frau ‘Tembus Pandang’.

    Tanggal 23 November 2017 ini, Frau akan melakukan peluncuran mini album ke-4 dengan judul Tembus Pandang di Ruang MES 56 Yogyakarta. Di acara ini, kita akan bersama-sama mendengarkan mp3 lagu-lagu dari album ini lalu berdiskusi bersama.

    Mini album ini adalah hasil kolaborasi antara Frau dengan Restu Ratnaningtyas, seorang seniman cat air. Dalam acara ini, audiens akan diajak mendengarkan rekaman lagu-lagu di mini album tersebut dan berdiskusi bersama mengenai karya kolaborasi ini.

    Frau memulai kolaborasinya dengan Restu Ratnaningtyas dalam rangka konser rutin kolaborasi musik-senirupa bertajuk Lelagu di Kedai Kebun Forum. Acara ini biasanya menampilkan kolaborasi-kolaborasi yang menitikberatkan respon visual perupa atas bebunyian musisi.

    Namun Frau dan Restu memutuskan untuk berbagi kewajiban tersebut: Restu merespon 3 lagu Frau, Frau merespon tiga gambar Restu. Proses kolaborasi alih-media selalu membutuhkan ‘lensa’; ‘lensa’ yang (konon katanya) selalu bersifat tembus pandang. Kolaborasi tersebut kemudian menghasilkan 4 lagu yang disajikan dalam mini album
    ini.

    Tiket dijual
    secara pre-order seharga Rp 25.000 dan keping CD seharga Rp 47.500.
    Terima kasih atas perhatian dan kerjasamanya.

    Narahubung
    Relasi media : 0812-3735-329 (Uul)
    Reservasi tiket : 0821-3724-3302 (Yes No Shop)

    Kerabat Kerja
    Seluruh lagu diciptakan oleh Leilani Hermiasih
    Keyboard dan vokal oleh Leilani Hermiasih
    Direkam di studio KUA ETNIKA oleh Anton Gendel
    Mixing dan mastering oleh Anton Gendel di Sangkar Emas Studio
    Ilustrasi dan desain sampul: Restu Ratnaningtyas (koleksi Stephen Shaul)
    Foto oleh Wimo Ambala Bayang
    Tata letak oleh Alfonsus Listanto
    Diproduksi dan didistribusikan oleh SBATU RECORDS

    Frau Management
    Adi Adriandi
    Komplek Sabo Centre no 9, Sopalan
    Maguwoharjo Sleman Yogyakarta 55282
    Hp : 081804270113
    E : leilanifrau@gmail.com
    W : jengfrau.id

    Download lagu Frau
    Frau “Tembus Pandang” listening party
    Frau "Tembus Pandang" download
    Frau “Tembus Pandang” listening party
  • Konser Tentang Rasa oleh Frau

    Konser Tentang Rasa oleh Frau

    Bulan Januari ini adalah bulan yang menarik, karena tidak sering terjadi dalam satu bulan ada berbagai konser musik dari kancah independent menggunakan auditorium. Tiga dari empat jadwal pertunjukkan telah terlaksana, dan dua yang pertama menghadirkan musik-musik brilian dan kolaborasi visual yang mencerahkan.

    Efek Rumah Kaca sukses membuka tahun ini dengan berbagai pujian akan permainan visual dan penggunaan ruang yang baik di Teater Besar. Kemudian di venue yang lebih kecil, Kimokal memanfaatkan tata suara dan permainan visual memanfaatkan ruang auditorium IFI Jakarta untuk memberi horison baru penikmat pertunjukan musik. Indera pendengaran, penglihatan dan rasa diransang dan dicerahkan.

    Kemudian baru saja kemarin Frau berhasil memberi pertunjukan yang meransang kelima indera dan mungkin saja membuka indera ke enam di Gedung Kesenian Jakarta.
    Indera pendengaran penonton dihibur dengan pencapaian musikal Leilani yang semakin solid.
    Indera penglihatan kita dihibur oleh tata lampu yang diusahakan sinkron sesuai mood lagu, dan latar panggung yang terdesain sedemikian rupa.
    Indera pengecap kita dihadiahi minuman penyegar.
    Indera penciuman kita diransang oleh wewangian yang didesain khusus untuk setiap lagu. Sempat rada heran, apakah bau indomie yang tiba-tiba menyeruak masuk adalah bagian dari setlist atau tidak.
    Untuk indera peraba saya rasa diransang oleh perjumpaan dengan teman-teman dan sebuah tos atau salaman bisa menjadi persetujuan kalau konser yang baru saja disaksikan adalah konser yang asoi.

    Konser yang mencerahkan dan salah satu pencapaian tinggi seorang seniman musik, yang semoga memberi inspirasi pelaku musik lain. Seperti halnya Leilani Hermiasih berhasil menerjemahkan inspirasi yang didapatkannya menjadi karya pertunjukan yang holistik.

    Selamat juga perlu diucapkan kepada G Production yang berani menyelenggarakan event ini. Selamat datang kembali di kancah musik.

    frau-jakarta
    foto oleh @guswib

    –

    OLYMPUS DIGITAL CAMERA
    Wajah-wajah familiar yang tersenyum lebar setelah menyaksikan konser.

    ini salah satu lagu ‘baru’ yang dibawakan kemarin. (bootleg direkam beberapa bulan lalu)

    bootleg.

  • FRAU – Konser Tentang Rasa (20 Jan, 15.30 & 19.30)

    FRAU – Konser Tentang Rasa (20 Jan, 15.30 & 19.30)

    FRAU menambah jadwal pertunjukan menjadi 2 kali di hari yang sama.

    Maka jadwal pertunjukan menjadi
    15.30 dan 19.30

    frau_konser tentang rasa_e-poster_square

    Informasi Tiket

    Tiket bisa didapatkan di Ruru Shop (Jakarta) & Omuniuum (Bandung) mulai Jumat 8 Januari 2016.

    Kategori I : Rp 175.000
    Kategori II : Rp 150.000
    Kategori III : Rp 125.000
    *harga tiket sudah termasuk pajak & admin fee

    Penjualan tiket mulai hari Jumat 8 Januari 2016

    Jakarta:
    Ruru Shop
    Jl. Tebet Timur Dalam Raya No.6
    081290362655
    rurushop6@gmail.com
    Instagram: @rurushop

    Kuota tiket yang tersedia di Ruru Shop untuk kursi dengan warna Merah:
    Tiket Kategori I untuk baris/row B – I bagian kanan
    Tiket Kategori II untuk baris/row L – S bagian kanan

    Bandung:
    Omuniuum
    Jl. Ciumbeleuit 151B, lt 2
    022-2038279 / 087821836088
    Omuniuum@gmail.com

    Kuota tiket yang tersedia di Omuniuum untuk kursi dengan warna Biru:
    Tiket Kategori I untuk baris/row B – I bagian kiri
    Tiket Kategori II untuk baris/row L – S bagian kiri
    Tiket Kategori III untuk baris/row AA & BB

    Tata cara pembelian tiket:
    Datang langsung ke Ruru Shop atau Omuniuum
    Pembelian maksimal 4 tiket.
    Pesan online melalui email:
    Subject email: “Konser Tentang Rasa – GKJ” dan sertakan informasi di badan email dengan keterangan sbb:
    Nama, No telp, No KTP / tanda pengenal, Alamat Lengkap, Kategori tiket, dan Jumlah tiket.
    Tunggu balasan konfirmasi pesanan, Admin akan menjelaskan instruksi pembayaran dan wajib melakukan pembayaran maksimal 1×24 jam dengan menyertakan bukti pembayaran. Apabila dalam kurun waktu tersebut tidak melakukan pembayaran, pemesanan dianggap batal.
    Setelah pembayaran dikonfirmasi, Admin akan mengirimkan tanda terima dan kode reservasi yang berlaku sebagai kuitansi pembayaran. Biaya pengiriman kuitansi ditanggung pembeli.
    Simpan kuitansi pembayaran untuk ditukarkan dengan tiket asli pada hari konser dengan menunjukan KTP / tanda pengenal.
    Penukaran tiket bisa dilakukan mulai pukul 18.00 di lobby Gedung Kesenian Jakarta.
    Nomor kursi dapat dipilih saat menukarkan tiket.

    Rilis Pers

    Musik memiliki beragam dimensi yang dapat dicecap oleh berbagai indera, tidak hanya dimonopoli oleh telinga dan mata. Eksplorasi dalam menikmati musik inilah yang ditawarkan oleh Frau dalam konser terbarunya di Gedung Kesenian Jakarta pada 20 Januari 2016 mendatang.

    Bertajuk “Konser Tentang Rasa”, sajian musik dari Frau ini mencoba menghadirkan pengalaman baru yang lebih menyeluruh dalam menikmati musik. Kesan lintas indera itu membuat penonton dapat terlibat secara aktif untuk merangkai impresi rasanya sendiri, bisa berupa senang, sedih, bosan, hingga kantuk.

    Dalam konser ini penonton juga diajak untuk berbagi narasi, ilustrasi, ataupun keluh kesah atas rasa yang muncul ketika mendengarkan lagu-lagu yang dibawakan Leilani Hermiasih (Lani) dan pianonya, Oskar.

    Soal pengalaman “mengalami musik”, Lani mempunyai cerita sendiri. Pada suatu kesempatan, Ia menceritakan bagaimana dirinya bisa menangis tersedu-sedu tanpa alasan ketika mendengarkan lagu “La Même Histoire” dari singer-songwriter Kanada, Feist, berulang-ulang kali. Meski sama sekali tidak mengerti apa dinyanyikan, tapi air matanya tetap mengalir deras. Tubuh yang berbaring pada pegas-pegas springbed lawas di kamarnya itu pun sesenggukan. Pasrah begitu saja ketika satu dua tetes air mata asin mengalir ke mulutnya.

    “Saya tidak sedih, tapi mungkin terharu karena bisa menikmati mewahnya pengalaman musikal seperti itu,” Ucap Lani mengenang. Dalam konser ini, Frau akan membawakan 16 lagu dari album Starlit Carousel dan Happy Coda serta beberapa materi lagu baru. Materi baru tersebut akan menjadi rujukan untuk album berikutnya.

    Sebelum di Jakarta, konser dengan tema yang sama telah berlangsung di Bandung 22 Mei dan Yogyakarta 29 & 30 Oktober 2015 silam. Untuk di Jakarta, FRAU bekerja sama dengan G Production dalam mewujudkan Konser Tentang Rasa ini.

    G Production memilih Gedung Kesenian Jakarta untuk menyelenggarakan Konser Tentang Rasa ini. “Scene Yogya selalu punya tempat istimewa dalam peta musik Nasional, gagasan Lani di Frau sangat menarik sejak kemunculannya, karakter yang kuat, dan konsep bermusik yang hebat merupakan daya pikat terbesar dari Frau. Di Konser Tentang Rasa di Jakarta, Lani akan merespon Gedung Kesenian Jakarta, tempat yang sangat istimewa bagi sebagian warga Jakarta.” ujar Ferry Dermawan, Program Director G Production.

    Mengenai gagasan pertunjukan, Lani menjelaskan Konser Tentang Rasa disajikan bukan sebagai sebuah pernyataan, melainkan pertanyaan yang akan dijawab bersama di akhir pertunjukan nanti.

    FRAU – Konser Tentang Rasa
    Gedung Kesenian Jakarta
    Rabu, 20 Januari 2016, 15.30 & 19.30 WIB
    Penampilan pembuka oleh AriReda

    www.bit.ly/tiketfraujkt
    Instagram & twitter: @by_gproduction

  • Frau : Konser Tentang Rasa

    Frau : Konser Tentang Rasa

    Mengulang keberhasilannya di Bandung waktu lalu, “Konser Tentang Rasa”, mencoba menyajikan kembali musik dari Frau yang menghadirkan pengalaman baru lebih menyeluruh dalam menikmati musik. Menurut rilisan pers yang kami terima “kesan lintas indera itu membuat penonton dapat terlibat secara aktif untuk merangkai impresi rasanya sendiri, bisa berupa senang, sedih, bosan, hingga kantuk” ditawarkan oleh Frau dalam konser terbarunya di Gedung Societet, Taman Budaya Yogyakarta, pada 29-30 Oktober 2015 mendatang.

    Dalam konser ini penonton juga diajak untuk berbagi narasi, ilustrasi, ataupun keluh kesah atas rasa yang muncul ketika mendengarkan lagu-lagu yang dibawakan Leilani Hermiasih (Lani) dan pianonya, Oskar. Dalam konser ini, Frau akan membawakan 16 lagu dari album Starlit Carousel dan Happy Coda serta beberapa materi lagu baru. Materi baru tersebut akan menjadi rujukan untuk album berikutnya.

    Soal pengalaman “mengalami musik”, Lani mempunyai cerita sendiri. Pada suatu kesempatan, Ia menceritakan bagaimana dirinya bisa menangis tersedu-sedu tanpa alasan ketika mendengarkan lagu “La Même Histoire” dari singer-songwriter Kanada, Feist, berulang-ulang kali. Meski  sama sekali tidak mengerti apa dinyanyikan, tapi air matanya tetap mengalir deras. Tubuh yang berbaring pada pegas-pegas springbed lawas di kamarnya itu pun sesenggukan. Pasrah begitu saja ketika satu dua tetes air mata asin mengalir ke mulutnya. “Saya tidak sedih, tapi mungkin terharu karena bisa menikmati mewahnya pengalaman musikal seperti itu,” Ucap Lani kenangnya.

    Konser Tentang Rasa ini terbuka untuk umum. Tiket untuk mahasiswa/pelajar dijual seharga Rp 35.000,00, dan untuk umum seharga Rp 50.000,00.

    terbatas hanya 300 tiket.

    Tiket mulai diual pada 19 Oktober 2015 di Gedung Societet Taman Budaya Yogyakarta jam 15.00 Wib. kami tidak menjual pembelian tiket melalui online.

    informasi perihal konser tentang rasa bisa menghubungi saudara Yudis +62 823 2348 5121 atau melalui email : konsertentangrasa@gmail.com

    salam sejahtera!

    Frau Management

    Adi Adriandi

    komplek sabo centre no 9 sopalan maguwoharjo

    sleman jogja 55282

    T : +62 804 270 113

    E : leilanifrau@gmail.com

    W : www.facebook.com/leilanifrau / www.soundcloud.com/leilanifrau

    Frau_KonserTentangRasa_e-Poster

  • Tiga Jam Bersama Deugalih,  Leilani dan Oskar

    Tiga Jam Bersama Deugalih, Leilani dan Oskar

    Laporan “Konser Tentang Rasa.”
    Tulisan oleh Stanley Widianto
    Foto oleh Arum Tresnaningtyas Dayuputri

    Ketika saya bilang kalau “Konser Tentang Rasa” yang diselenggarakan oleh Liga Musik Nasional adalah salah satu pementasan musik terbaik yang pernah saya saksikan, saya tidak memaksudkan ini sebagai sebuah penilaian. Saya tidak melibatkan tinta hitam/merah yang biasanya sarat di sebuah ulasan pertunjukan. Anggap saja skor 1-10 atau F-A. Bukannya ada yang salah dari sebuah ulasan; objektivitas (atau, lebih tepatnya, subjektivitas yang terukur) bukanlah sebuah tabu. Tapi alasan mengapa saya memulai tulisan ini dengan diskresi seperti ini adalah karena apa yang saya saksikan kemarin menuntut kekhusyukan yang dahsyat; kekhusyukan yang tidak mengenal cahaya dari kamera, bersin dari penonton, teriakan minta lagu, apalagi skor seperti itu.

    “Konser Tentang Rasa” merupakan konser solo dari Leilani Hermiasih atau yang biasa dikenal dengan nama panggungnya Frau.

    Berlokasi di ruangan audiovisual (dengan kapasitas 200 kursi) Institut Francais Indonesie, Bandung, “Konser Tentang Rasa” memang dari awal terasa sebagai sebuah pertunjukan yang intim dan hangat. Namun, apa yang saya tidak kira akan saya rasakan (dan terkejut ketika akhirnya sadar) saat memasuki lokasi adalah betapa tematiknya pertunjukan tersebut: Konser ini sengaja diperuntukan untuk menjamah panca indera manusia. Setidaknya itu yang saya simpulkan ketika tiba-tiba saya mencium bau bunga melati di tengah-tengah lagu, meminum teh tawar dari botol Tjap Piano, menuliskan kesan di secarik kertas (lengkap dengan pensil), dan tentu saja mendengar pertunjukan musik.

    Mengandalkan mata dan telinga untuk menikmati “Konser Tentang Rasa” merupakan hal yang dari awal…percuma. Percuma terlalu kuat mungkin, tapi memang Limunas, menurut saya, telah merencanakan tema ini beserta artefak pendukungnya dari awal secara apik. Jatuhnya jadi tidak ada yang terasa dipaksakan. Dan teh tawarnya enak.

    Tiga paragraf sudah saya buang tanpa menuliskan apa yang seharusnya menjadi atraksi utama: Musik. Konser dimulai dengan penampilan dari Deugalih—gitaris dan vokalis dari Deugalih & Folks—yang memulai set singkatnya dengan gubahan lagu Bob Dylan “The Times They Are a-Changin’.” Setelah Galih menghentikan lagunya tengah jalan karena alasan lupa lirik, barulah set benar-benar dimulai dengan membawakan lagu-lagu seperti “Anak Sungai,” “Ki Hadjar,” dan “No One Sings This Song.” Dari awal memang sulit untuk merasa gatal mengambil handphone untuk mengambil gambar. Gamblangnya: Ngapain? Galih membawakan lagu-lagunya dengan sangat emosional, dan itu sangat terpancar dari lengkingan vokalnya dan lirik yang ia tulis. Contoh ketika Galih membawakan lagu yang ia tulis dari puisi yang diberikan temannya dari Paniai, Papua. Puisi ini diberikan kepada Galih karena penulisnya—yang baru kehilangan ibunya—ingin supaya, kalau kata Galih, “orang Jawa pada tau.” Sangat senang ketika sekilas terlihat banyak mata yang sembab—mata-mata “orang Jawa.”

    Barulah kemudian lampu digelapkan secara teatrikal untuk menyambut Leilani dan Oskar—duo manusia dan piano yang dikenal Frau. Penampilan yang dibuka oleh lagu baru berjudul “Sembunyi” sangatlah—saya kesulitan mencari bahasa Indonesianya—commanding. Ada sebuah kehangatan yang terpancar dari penampilan serta kisah-kisah Lani yang biasanya mengawali lagu. Dari sini saya, jujur saja, terpukau menyaksikan “Konser Tentang Rasa.” Berulang kali saya fokus melihat gerak-gerik Lani saat memainkan piano dan bernyanyi secara jernih; telinga saya sudah siap grak. “The Butcher/Tukang Jagal,” “Berita Perjalanan,” (gubahan dari puisi milik Sitor Situmorang) “Arah,” “Tarian Sari,” dimainkan secara apik dengan pergantian kord yang mendadak—seperti yang terpatri di kedua album Frau. Terlintas kesan di benak saya kalau mungkin ada kalanya Lani merubah alur lagu dadakan (karena mau saja), tapi mungkin itu tidak benar. Lagu-lagu Frau memiliki kualitas seperti itu—seakan-akan direkam on the spot tapi dengan struktur yang sangat rapi.

    Selain menampilkan beberapa lagu dari katalog Frau sendirian, Lani mengundang Rara Sekar, salah satu dari duo Banda Neira, untuk duet dalam lagu milik grup band asal Bandung tersebut berjudul “Rindu.” Menurut pengakuan Rara, ia dan Lani adalah sang duo awkward—memicu tawa dari penonton—sebelum melantunkan balada indah tersebut. Sebelumnya, untuk “Mr. Wolf” dan “I’m a Sir,” Frau mengundang Erson, pemain trumpet yang menambah keceriaan dari lagu-lagu tersebut. Lani sempat berkata kalau mungkin di panggung cuma piano saja mungkin membosankan, makanya ada yang bermain trumpet.

    Handphone masih duduk tenang dalam kantong celana. Bersin masih ditahan.
    Penampilan Frau dibagi dalam dua bagian, dan menjelang bagian kedua setelah jeda selama 5 menit, penonton dibagikan minuman yang bervariasi; ada wedang jahe, susu, jeruk dan teh tawar. Merasa lega, saya langsung tenggak minuman saya tanpa mengetahui kalau ada maksud filosofis dari botol custom-made tersebut. Lanjut dengan lagu-lagu seperti “Mesin Penenun Hujan,” “Arah,” dan rendisi dari lagu band Radiohead “Fake Plastic Trees.” Di sela-sela lagu, Lani bercerita tentang inspirasinya dari sebuah lukisan yang ia tuang ke dalam lagu “The Butcher,” lagu-lagu yang membekas (“Tarian Sari,” lagu favorit saya sepanjang set, tapi ini sulit untuk disimpulkan) dan semacamnya. Mungkin terlalu jauh, tapi ada perbedaan yang mencolok ketika lampu dinyalakan dan dimatikan; antara Frau dan Leilani Hermiasih.

    Set ditutup dengan gubahan lagu Melancholic Bitch yaitu “Sepasang Kekasih Yang Pertama Bercinta di Luar Angkasa”—memicu nyanyian dari penonton. Secara alamiah, ada teriakan ‘lagi, lagi’ untuk menyambut kembali Frau yang kemudian memainkan lagu yang “sudah siap”: Loco Mosquito oleh Iggy Pop. Dengan itu usai rangkaian acara “Konser Tentang Rasa.” Mungkin acara di IFI kemarin sudah selesai di hari itu juga, tapi saya berharap kalau konser tematis seperti itu tidak berhenti sampai di situ saja.

    Apa yang berhasil dilaksanakan oleh Limunas, Frau, dan Deugalih adalah mengingatkan kalau ada yang lebih dalam sebuah pertunjukan musik dari sekedar komoditas semata. Mudah untuk sinis dalam menyikapi konser tematik seperti ini; “palingan gimmick.”. Limunas, Frau dan Deugalih berhasil bukan karena ini adalah hal yang baru; mereka berhasil karena mampu mengingatkan siapapun yang lupa akan apresiasi musik di era sekarang.
    Hanya butuh tiga jam kok. Tidak lebih, tidak kurang.

    Konser Tentang Rasa

    Konser Tentang Rasa

    Konser Tentang Rasa

    Konser Tentang Rasa

    Konser Tentang Rasa

    Konser Tentang Rasa

    Konser Tentang Rasa