Laneway Festival Singapura kembali digelar, dan Deathrockstar hadir untuk meliputnya. Untuk pertama kalinya, band asal ibu pertiwi pun turut diundang untuk tampil pada pagelaran musik yang memang selalu dipenuhi dengan penonton-penonton asal Indonesia. Dua buah band – Bottlesmoker dan Stars and Rabbit – tampil memukau, meskipun keduanya harus rela menjadi band pembuka di panggung mereka masing-masing. Stars and Rabbit tampil di stage utama yang megah di hadapan crowd yang masih santai, namun cukup banyak dan apresiatif. Sedangkan duo elektronik Bottlesmoker tampil di panggung tertutup yang diberkahi pendingin ruangan dan sound system yang memenuhi akustik ruangan. Meskipun penonton siang hari belum begitu banyak, Angkuy dan Nobie tetap memainkan set mereka dengan enerjik, ditemani visual yang menarik dan menambahkan club music yang sesuai.
Tag: Laneway Festival
-

Review : Laneway Festival 2017
Band-band dan penampil lain yang memukau, termasuk band psych-rock asal Australia, King Gizzard & The Lizard Wizard, serta grup dansa Jagwar Ma. Set-set mereka yang penuh vibrasi berhasil membuat penonton terus berjoged ria meskipun hujan terus-menerus turun. Penampil stand out yang lain adalah grup indie rock veteran dari Singapura, Astreal. Grup yang berdiri tahun 1992 ini memainkan salah satu set terbaik di Laneway kali ini, mempresentasikan shoegaze rock yang terasa siap untuk panggung utama yang mereka singgahi.Teks: Marcel TheePhoto: Cliff Yeo, Lionel Boon, Nor Asyraf -
Laneway Festival Singapore 2011
Setelah perjalanan panjang melintasi lautan, dan perjuangan melelahkan untuk mendapatkan penerbangan dengan harga yang sesuai budget, akhirnya tiba juga di lokasi Laneway Festival yang pertama kali diadakan di Singapura ini.
Dengan mengantisipasi seluruh penampil hari itu (Warpaint, Ladyhawke, Beach House Deerhunter, !!!, Holy Fuck, Yeasayer, Foals dan Temper Trap) maka saya memutuskan untuk datang lebih awal supaya tidak tertinggal satu pun penampil.
Dan berturut-turut 9 band tersebut tampil, dan ribuan penonton terlihat menikmati dan tetap ceria walaupun hujan deras tidak ada berhentinya mengguyur arena dari awal sampai habis. Jadi sebagian besar penonton menggunakan poncho yang dibagikan gratis oleh panitia, sebagian lagi menggunakan payung dan sebagain lagi main lumpur.
Semua band yang tampil mencuri perhatian, walaupun secara personal saya memilih Warpaint, Beach House, Deerhunter, dan Yeasayer yang hari itu benar-benar membuat saya merasa beruntung karena bisa menyaksikan mereka tampil lansung.
Beberapa yang saya ingat dan menjadi catatan adalah.
– Rata rata band ternyata menggunakan tehnik harmonisasi vokal, noise-noise absurd eksperimental (terutama diakhir penampilan).
– Laen kali kali nonton festival lebih baik bawa tikar, payung, bangku kecil dan snack dan minuman slundupan.
– Pake sepatu yang nyaman.
– Bawa baju ganti yang dimasukan kedalam kantong kedap air.
– Bawa duit yang banyak buat belanja merchandise.
– DJ nya memainkan hits-hits anak indie, dan tampilan mereka sangat manusiawi. satu kurus satu gemuk.
Foto-foto oleh Ariel Williams




