Join us on a night of Janji Joni movie screening and nostalgic tunes.
.
Thursday Kicks: Janji Joni Edition
THURSDAY
15 NOVEMBER 2018
6 PM TILL LATE
.
Let nostalgia fills the air for the sake of the good ol’ times.
.
FDC 150 applies
(Presale 100)
.
RSVP AND PRESALE please whatsapp +628118490072
Nama The Knife Club sudah didengungkan oleh Marcel Thee bertahun-tahun. Saya bahkan lupa, apakah ia pernah merilis sesuatu menggunakan nama ini atau belum. Sebagai seniman dengan banyak nama, tidak heran jika sekarang ada lagi proyek kreatif berkesenian dari seorang Marcel Thee yang baru. Bisa saja menggunakan nama yang sudah pernah dipakai, atau nama baru, dalam hal ini ia menggunakan nama The Knife Club untuk membentuk ‘supergroup’.
The Knife Club saat ini adalah kolektif musik terbaru dari Jakarta yang diprakarsai oleh Marcel Thee dari Sajama Cut dan Baldi Calvianca yang berkolaborasi dengan Andi Hans Sabarudin (C’mon Lennon, Seaside, Pandai Besi), Haikal Azizi (Bin Idris, Sigmun), Billy Saleh (Polka Wars), Jodi Setiawan (Peonies), Asad Gibran (Kaveh Kanes), Hendy Yudhistira (Morsecode), Much Rifqi (Moiss), Theo Nugraha, Ricardo Taufano (Secret Meadow), Dylan Amario (Logic Lost) dan Ababil Ashari (Shorthand Phonetics).
Hasil kolaborasi tersebut dituangkan ke dalam album berjudul Affliction, yang berisi sembilan lagu yang sama sekali berbeda dengan jenis dan gaya bermusik band asal dari mereka yang terlibat. Keunikan dari album ini adalah bahwa musik baru yang tercipta justru ada karena sintesa dari elemen-elemen yang dibawa oleh masing-masing individu dari band yang berbeda.
“Pengaruh-pengaruhnya bisa dibilang musik-musik dari kolaborator ini.
Saya rasa, fans-fans musisi-musisi ini pasti bisa mendengar sentuhan-sentuhan mereka di setiap lagu, meskipun dibalutnya berbeda karena mereka bermusik dengan orang-orang yang beda dari band mereka biasanya,” kata Marcel tentang karakter musik di album Affliction.
Secara artistik, Affliction juga adalah adalah album yang sangat kaya. Terdapat begitu banyak warna dan motif yang bisa mengingatkan kita kepada apa yang dikerjakan oleh Phil Spector melalui teknik Wall of Sound, jika saja Phil bekerja dengan gitar dan bukan instrumen orkestra.
Untuk Affliction Marcel, Baldi dan rekan-rekan menciptakan berlapis-lapis bunyi gitar serta efek-efek synthesizer untuk menghasilkan kemegahan komposisi rock seperti yang dibangun oleh Sonic Youth dari era Confusion is Sex atau Broken Social Scene. Ide awalnya adalah soal bagaimana gitar tidak lagi terdengar seperti gitar. Begitu banyaknya individu yang terlibat juga menghasilkan jejak-jejak pengaruh yang berbeda mulai dari krautrock Can, Cluster atau keriuhan musik musik awal karir Butthole Surfers.
Album Affliction akan secara resmi rilis pada tanggal 12 Desember, 2017. Sementara menanti atau sambil berfikir akan mengorder atau tidak, silahkan diunduh single pertamanya.
Cakram padat album ini bisa di dapat di toko-toko musik independen di beberapa kota atau bisa juga didapatkan terlebih dahulu lewat pemesanan melalui elevation1977@gmail.com atau nomer WA 081908480616.
Salah satu teman yang paling sering saya pinjam bukunya adalah Marcel Thee.Perpustakaan kecil milik ayahnya adalah salah satu sudut favorit di rumahnya. Cukup banyak daftar buku yang berpengaruh dalam hidup saya itu adalah hasil meminjam kepada Marcel Thee.
Mungkin karena kebetulan, beberapa waktu lalu, seorang teman membagikan tautan mengenai lagu-lagu legendaris dunia yang terpengaruh oleh literatur, tentu saya teringat Marcel Thee yang pernah menyebutkan ia lebih terinspirasi oleh buku dibanding medium lainnya. Ingatan saya kembali ke masa sekolah menengah, saat waktu luang saya lebih banyak dihabiskan untuk membaca buku dan mendengarkan musik.
Tidak berapa lama setelah saya men-tag si Marcel dalam tautan mengenai literatur, ia mengirimkan daftar-daftar buku yang disebut mempengaruhi penulisan lagu di album terbaru Sajama Cut. Salah satu hal yang menarik dari daftar ini adalah, tidak ada komik Marvel di dalam daftar ini.
Swamp Thing
Alan Moore – Saga of the Swamp Thing
Seperti banyak orang, Watchmen mengubah pandangan gue tentang medium komik dengan drastis. Tapi gue bukan Alan Moore fanboy yang fanatik. Meskipun begitu, gue masih merasa ini adalah salah satu novel grafis terbaik dan paling menyentuh yang pernah ada (selain Maus). Gue banyak kembali ke buku ini selama beberapa tahun terakhir – dan bisa dibilang, pendalaman mengenai perasaan terasingkan di lingkungan sekitar kita sendiri adalah tema yang cukup besar hadir di album terbaru kita ini.
Stephen King – Night Shift
Stephen King – Night Shift
Koleksi era awal Stephen King yang gue beli tahun 1993 di Belanda. Masih menjadi salah satu karya favorit gue karena straighforwardness-nya. ‘Hobgoblin’ banyak membahas tentang rasa takut, meksipun dalam konteks non-horror, tapi kecemasan yang ada di cerita-cerita pendek novel ini – favorit gue ‘Quitter Inc’ dan ‘Night Surf’ (yang juga jadi judul lagu solo gue di With Strong Hounds Three) – menyediakan nuansa yang lebih dari sesuai untuk Hobgoblin.
William Butler Yeats – The Autobiography
Tentu saja Yeats adalah salah satu penulis favorit gue, dan biografi dia sangat mempengaruhi ambience dari Hobgoblin. Kenyamanan dalam ketidaknyaman, dan juga prosa-prosa dan plays dia yang bagi gue memeberikan pencerahan umur lanjut usia yang penuh misteri tanpa romantisme.
Yasunari Kawabata – The Master of Go
Andaikan gue bisa memainkan Go. Sayangnya, gue hanya dapat mengagumi nyawa di permainan khas Jepang ini. Kompleksitas dan penyerahan diri secara utuh permainan ini – yang dituangkan di buku ini dengan maut – sangat mempengaruhi pendekatan instrumentalia kita.
Thee Kian Wie Thee Kian Wie – Books
Ini agak “curang” dan gue jauh dari cukup cerdas untuk benar-benar memahami bidang yang dikuasai bokap. Tapi jika bukan buku-bukunya sendiri tapi pengaruh dia dalam konteks moralitas, values – sesuatu yang secara objektif dimiliki sangat sedikit bapak, apalagi di negara ini -, integritas sepenuhny, sifat berkultur, sisi humor, etika kerja, dan kindnessnya 100% adalah nyawa Hobgoblin.
Album terbaru Sajama Cut sudah bisa ditemukan di berbagai toko musik, atau bisa dipesan online melalui www.demajors.com
Proyek ambient dari Marcel Thee ini rupanya menarik sebuah label dari North Carolina, USA untuk merilisnya dalam bentuk kaset terbatas dalam jumlah lima puluh keping saja. Projek Strange Mountain ini menjadi lebih menarik karena dirilis oleh beberapa label kaset dari beberapa negara berbeda termasuk sebuah kaset rilisan Jepang dan tentu saja sebuah kaset rilisan Indonesia.
Album Ancient Eyes ini adalah album dengan komposisi bebunyian yang indah seperti menatap batas cakrawala dan merekam matahari terbenam dan terbit dalam bentuk suara.
Sebuah album yang menarik dan kontemplatif dari Marcel Thee.
Sebuah grup proyek yang menghasilkan komposisi bernuansa ambient-music / drone / visual-music bernama Roman Catholic Skulls (RCS) telah merilis Gospels dibawah naungan Wasted Rockers Recording. Adalah Marcel Thee (Sajama Cut, Strange Mountain) bersama dengan Danif Pradana (Kalimayat, Khuruksetra, Sabedarah, Brahman Corpse) mendirikan RCS pada tahun 2011 karena saling mengagumi skill masing-masing. (more…)