Tag: Post-rock

  • Mari Menikmati Eulogi dari Semiotika

    Mari Menikmati Eulogi dari Semiotika

    Semiotika, trio post rock asal Kota Jambi, merilis album kedua pada tanggal 31 juli 2021 kemarin yang diluncurkan di Duniawi Coffee and Records Jambi.

    Proses pembuatan album ini memakan waktu 1 bulan, Riri – Bass, Gembol – Drum, dan Bibing – Gitaris menulis 9 lagu yang beberapa di antaranya berkolaborasi dengan beberapa teman.

    Tema album adalah kebebasan sebagai individu yang di hidup dengan esensi dan peran masing-masing.

    Tiap lagu di album Eulogi menggambarkan menjadi manusia dengan ikhtiar, tujuan dan rehat sejenak ketika lelah. Memanusiakan manusia juga jadi tema di dalam album ini melalui menyayangi serta mengapresiasi diri sendiri maupun orang lain.

    Menurut Semiotika, album ini merupakan bentuk terima kasih kepada semua yang mendukung baik secara moril maupun materiel.

    “Secara tidak sadar, kami lupa bahwa ada orang2 di luar sana yang menunggu Semiotika untuk terus hidup. Album inilah yang menjadi ungkapan terima kasih kami untuk mereka.” Ucap Bibing.

    Eulogi merupakan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan berkenaan dengan jalan hidup dan hubungan sosial yang diwakili dua aspek sebagai jawaban. Koeksistensi dan rasa syukur.

    Album ini dirilis dalam format compact disc (CD) melalui Duniawi Records dan distribusikan oleh demajors.

    Semiotika
  • Hecht Merilis So we Walk Alone at Umeda Sky Buildings

    Hecht Merilis So we Walk Alone at Umeda Sky Buildings

    Hecht band postrock asal Surabaya merilis video musik terbaru berjudul “So we Walk Alone at Umeda Sky Buildings”. Video ini direkam menggunakan kamera ponsel yang sengaja dibuat tidak fokus.

    Mengenai lagunya sendiri, mereka menjelaskan demikian

    “We yang plural dan alone yang singular sebenarnya mengartikan kita menjalani bersama dengan berkegiatan sendiri sendiri, sama tujuan, berbeda kebutuhan.sama halnya keinginan untuk meraih
    sesuatu namun nilai yang diraih bisa jadi berkesan, bisa juga biasa saja. Umeda Sky Buildings hanyalah arti kata yang dapat di tukar dengan berbagai tempat lainya, hanya saja perbedaan akan tempat dimana ketertarikan kami kepada gedung tertinggi ke 9 di kota Osaka Jepang.”

    Selanjutnya, video ini di bagi menjadi beberapa bagian serta penjelasan penjelasannya di setiap bagian menggunakan pembahasan menggunakan istilah pada unsur ilmiah di Kimia. Penjelasan tentang kontemplasi tentang “Keberadaan” yang Dibagi menurut ritme lagu dari verse 1-reff-Verse 2-reff-Chorus-Verse 3-reff.

    Pembagian Verse1 adalah Physical Substancening = Adalah lingkungan pendukung dan sekitar, Verse 2 adalah Quarks = Pembentukan pertikel, penggambaran di video adalah keterkaitan akan mahluk hidup serta alam sekitar serta perlakuan perlakuannya. Chorus adalah The Existences = Apa yang telah kita perbuat setelah adanya lingkungan pendukung serta keterkaitan kita akan hal hal tersebut?

    Mempertanyakan eksistensi kita, benarkah kita melakukan hal ini. dan mulai Chorus-Verse 3 hingga Reff akhir adalah sebuah jawaban dari 3 hal tersebut, ambyar, penarikan mundur tentang alam semesta dan renungan kontemplatif akan semua hal tersebut. Segala pembahasan Kontemplatif ini di kemas menjadi overlaying editorial layout graphics yang minimalis. Mengaku minimalis adalah sebuah asal kata dari keterbatasan kami. :’
    .

    Pengambilan semua footage ini dimulai pada 28 Agustus 2016, dan digenapkan 2 tahun persis menuju 28 Agustus 2018 semua dari kamera yang sama dan teknik yang sama.

    lagu indie terbaru Indonesia

    lagu indie terbaru Indonesia

  • Unit Post-Rock ‘Brilliant Company” Merilis Single Mengenai Kematian

    Unit Post-Rock ‘Brilliant Company” Merilis Single Mengenai Kematian

    “Hubungan dengan EP-nya sendiri adalah gue ingin menyampaikan bahwa kematian itu kita lihat atau dengar sehari-hari secara langsung atau tidak langsung lewat media. Kematian lumrah terjadi, tapi bukan berarti tiap-tiap kematian yang terjadi setiap harinya menjadi tidak penting, karena tiap-tiap yang mati juga dianggap penting dan diratapi oleh orang-orang terdekatnya.”

    – Rizki ‘Brilliant Company’.

    Unit post rock berbasis Jakarta-Bandung, Brilliant Company, kembali mengeluarkan single untuk memperkenalkan musik dari EP pertamanya.

    Sebagai band post rock, tentu saja single yang dirilis akan berupa aransemen instrumental. Single berjudul ’55 Million Part II’ adalah salah satu dari 4 lagu yang nantinya akan ada di EP yang diberi judul ‘Point of Few’.

    “Lima puluh lima juta adalah angka statistik jumlah kematian manusia tiap tahunnya.”, kata Rizki.

    Itulah mengapa EP diberi judul ‘Point of Few’, pandangan dari minoritas yang terdampak kematian itu.”, lanjutnya. Rizki menambahkan, “Tapi bukan berarti untuk disedihi berlarut-larut. Bisa untuk mengingatkan kalau kematian itu kepastian dari jalannya kehidupan dan terjadi juga kepada yang lain. Sebenarnya gak harus kematian, sih. Yang lain juga bisa. Diambil kematian karena terjadi secara luas dan umum. Lagipula ini kan, instrumental, tanpa lirik. Bebas-bebas saja mengasosiasikan ke ranah yang lain. Itu hanya alasan pribadi dalam pembuatan lagu ini. He-he.”

    Artwork untuk EP ‘Point of Few’ dikerjakan oleh Aprilea S. Ariadi, yang juga mengejawantahkan musik Brilliant Company secara visual di single ‘Callous Response’. Dan khusus ’55 Million Part II’ dibuatkan animasi sederhana untuk menambah pengalaman visual para pendengar.


    Official Audio

    Rilisan lengkap EP ‘Point of Few’ akan bisa di download via layanan streaming digital pada tanggal 14 Desember.

    Single ’55 Million Part II’ bisa didengarkan disini :
    Soundcloud – https://soundcloud.com/brilliant-company/55-million-part-ii

    post rock

  • Advertisies Showcase : Pesta Peluncuran EP Perdana Ellipsis

    Advertisies Showcase : Pesta Peluncuran EP Perdana Ellipsis

    Sebagai sebuah proyek band instrumental rock berbasis di Bandung yang sudah berkarir sejak tiga tahun silam yang baru saja merilis mini album berjudul Adversities EP akan menggelar showcase di Salian Art, Minggu, 20 September 2015 bersama Neat, Heals, dan KAITZR.

    “Melodi-melodi emosional dikombinasikan dengan tempo yang kompleks merupakan fondasi utama aransemen musik Ellipsis” sedikit penggalan dari rilisan pers yang kami terima menggambarkan musikalitas mereka. Terbentuk ketika masih menjadi anggota sebuah organisasi seni kampus, Elmar Shidqi Sulaiman (guitars), Feisarino Abitama (drums), Aulia Lazuardi (bass), Aulia Ramadhan (guitars) bertukar pikiran tentang musik yang ternyata memiliki visi-misi yang sama.

    Adapun Adversities EP berisikan lima lagu manis dirilis oleh label BERDIKARI, Orange Cliff Records. Jika kalian bosan dengan lirik dan hanya ingin mendengar instrumen yang emosional, mini album ini solusinya. Dan tentunya showcase minggu nanti adalah buktinya.

    11953439_725549717588537_2118438392426970542_o

     

  • Marche La Void – The Origin of Non​-​Entity

    Jika menilik dari awal terbentuknya tujuh tahun lalu hingga kini, apa yang dilalui marché la void dapat diibaratkan sebagai perjalanan penuh pasang-surut seperti air laut. Dari awal terbentuknya, mereka telah dilabeli oleh para penggemarnya sebagai salah satu band yang pertama kali mengusung genre Post Rock, walaupun marché la void sendiri tidak mau melabeli musik mereka. Setelah merilis EP “Cacophonia” di tahun 2007, mereka larut dalam proses kreatif untuk full album pertama mereka. (more…)