Proyek musik dari Lucas Andrés Conti seorang produser berumur 19 tahun dari Buenos Aires, Argentina. Proyek ini didasarkan konsep dari “Wanderlust”, yaitu keinginan dan hasrat untuk mengembara dan berpergian menjelajahi dunia.
Proyek musik dari Lucas Andrés Conti seorang produser berumur 19 tahun dari Buenos Aires, Argentina. Proyek ini didasarkan konsep dari “Wanderlust”, yaitu keinginan dan hasrat untuk mengembara dan berpergian menjelajahi dunia.
Sosok legendaris pasti menjadi impian bagi setiap orang. Salah satu sosok legendaris tersebut adalah James Bond. Karakter agen rahasia Inggris yang cekatan, sigap dan bisa menguasai situasi dimanapun ia berada. Nama James Bond pun telah mendunia dan banyak orang memuja keahliannya dalam berbagai hal. Pertanyaan pun muncul, bisakah para pria Indonesia menjelma seperti James Bond yang legendaris dan menjadi idola?
Mendapat inspirasi dari sosok legendaris seperti James Bond, Heineken menantang konsumen untuk menunjukkan bakat legendaris yang melampui batas mereka dan menjelma seperti sosok James Bond yang memukau melalui program “Heineken Take the Stage”.
Program “Heineken Take The Stage” dimulai Februari-Maret ini, mengajak pria Indonesia untuk menunjukkan bakat terpendam tidak biasa serta bisa membawa atmosfer baru yang menyenangkan, seperti menirukan suara burung, membuka botol Heineken menggunakan berbagai alat dan bakat legendaris lainnya.
Untuk pertanyaan lebih lanjut mengenai Program “Heineken Take The Stage”, dapat menghubungi Karina di 0816 4849 881.
Band Blues/Funk asal Jakarta, Play-Mates (Fara (vokal), Ragadipa (Bass), Balum (guitar), Lalitya (keyboard), dan Yudhistira (drum)) merilis hit single terbaru mereka, ‘Aksi Sekotak Nasi’ dari album perdananya yang bertajuk Wisata Amoral. Album Wisata Amoral ini mengusung konsep packaging albumnya dengan format USB Flash Disk Boxset.
Menurut mereka single ‘Aksi Sekotak Nasi’ mencoba menceritakan tentang aksi demonstrasi yang dilakukan oleh sekelompok massa hanya untuk mendapatkan sekotak nasi, bukan karena alasan aspirasi atau ide yang diperjuangkan.
Namun dari segi lyrical work, single ‘Aksi Sekotak Nasi’ masih perlu mengeksplorasi permainan rima di liriknya, karena beberapa bait terdapat rima yang sepertinya kurang ear-catching, sehingga agak terkesan maksa ketika dikombinasikan dengan arasamen musik mereka yang sudah cukup enerjik nan powerfull.
Lykke Li akan merilis album terbarunya, I Never Learn pada 5 May 2014 melalui LL/Atlantic. Dan pada hari ini dirinya telah merilis video klip untuk single pertamanya “Love Me Like I’m Not Made of Stone”. Melansir kabar dari Pitchfork, video klip yang disutradai oleh Tarik Saleh ini menceritakan sebuah portrait atas Lykke Li sendiri. Sementara menurut Lykke Li, bahwa seluruh lagu di album ketiga ini adalah sebuah balada kekuasaan.
“Every song on the album is a power ballad. Like one of those old radio stations. This is a slow dance; a slow burner. I wrote [“No Rest for the Wicked”] in Sweden when I was packing up my shit, and I’d just gotten out of a relationship and it was a horrible time. I just had the hurt, shame, sadness, guilt, longing. In the verse, I’m referring to myself pleading guilty but I’m referring to all of us.”Sebelumnya, Lykke Li melalui dua albumnya -Youth Novels (2008) dan Wounded Rhytm (2011)- telah membawanya meraih penghargaan bergengsi, baik di Swedia maupun Eropa. Penyanyi perempuan yang khas dengan suara soprannya juga pernah mengisi soundtrack dari film The Twilinght Saga: New Moon melalui single nya berjudul Possibility.
I Never Learn:
01 I Never Learn
02 No Rest for the Wicked
03 Just Like a Dream
04 Silverline
05 Gunshot
06 Love Me Like I’m Not Made of Stone
07 Never Gonna Love Again
08 Heart of Steel
09 Sleeping Alone

Band indie pop asal Yogyakarta yang terbentuk pada tahun 2012, Summer in Vienna pada hari Sabtu, 1 Maret 2013 telah resmi meluncurkan album EP perdana mereka “Shallow Lagoon Holidays” dan ditandai dengan release party yang bertempat di K.E.R.S Light Meal and Juice Bar, Yogyakarta.
Dalam konferensi persnya, Summer in Vienna menjelaskan makna dari “Shallow Lagoon Holidays” yang mereka pilih sebagai judul album EP adalah suasana liburan di pinggir laguna yang dangkal, berbaring di pasir seharian atau bermain air tanpa takut tenggelam. Suatu hal yang menceritakan tentang keceriaan di alam bebas yang membuat kamu bisa lepas dari penatnya dunia luar. Dengan membawakan musik yang ceria layaknya band-band indie pop pada umumnya album ini berisikan 5 buah lagu diantaranya Lemonade and Orange Juice, Have a Nice Day, Vienna, Falling Leaves dan Marsmallow Cheeks yang mereka pilih sebagai single dari album ini.
Showcase dimulai sekitar pukul 19.30 dan dibuka oleh penampilan dari Answer Sheet. Meskipun sempat mengalami beberapa kali masalah teknis pada ukulele yang dimainkan oleh Wafiq Giotama yang juga pernah menjadi additional bassist di Summer in Vienna ini mampu mencairkan suasana dengan pembawaannya yang atraktif. Venue menjadi semakin sesak dan panas saat Lampukota memainkan set nya. Meskipun sudah cukup lama tidak tampil di panggung, Lampukota dapat menampilkan performa terbaiknya. Dengan membawakan beberapa cover song dari Ride dan Simon n Garfunkel , band indie pop yang terbentuk pada tahun 2009 ini berhasil memaksa para penonton untuk mengambil alih posisi vokal yang diisi oleh Buddy Prassetyo. Single perdana mereka Jangan Mati menjadi encore dari penampilan Lampukota malam hari itu. Showcase ditutup dengan penampilan dari Summer in Vienna. Dengan membawakan semua lagu yang ada di dalam EP mereka dengan sebuah lagu penutup yang berjudul Malas .
Showcase ini dapat dibilang berjalan dengan sukses, terbukti dengan terjual habisnya sekitar 50 keping CD EP “Shallow Lagoon Holidays”, dan juga penonton yang datang tidak hanya dari skena musik indie pop saja, banyak musisi dan penikmat musik dari skena lain yang hadir antara lain dari Belkastrelka, Zoo bahkan cukup banyak seniman seni rupa yang juga hadir. Hal ini membuktikan adanya jenjang batas pada skena musik dan kesenian di Yogyakarta yang selama ini masih dibicarakan oleh banyak pihak hanyalah isapan jempol belaka karena semua penonton yang datang dapat cair menjadi satu dalam “suasana liburan di pinggir laguna yang dangkal”.