Author: eric

  • One Way To Heaven – Biscuit

    Biscuit
    One way to heaven
    stereopophead
    4.5

    terus terang gue saya sangat menghargai semangat band ini dalam berkarya membuat musik dan membuat album. Kerja keras nya dalam menjalankan kelangsungan hidup Biscuit ini.

    Tapi mungkin karena berbagai macam keterbatasan dan sebagainya album ini tidak menjadi sebuah stand out yang berarti diantara berbagai macam band sejenisnya.

    Kecuali.
    Album ini tidak dirilis pada tahun 2003 tetapi pada tahun awal 90 an sebelum Pure Saturday muncul. Jika saja itu yang terjadi maka Biscuit lah sang legenda hidup musik indie indonesia yang bisa membuat penuh gedung AACC oleh ribuan orang yang ingin menonton mereka.

    Tetapi tanpa perlu menyesali keterlambatan mereka lahir kedunia musik, dan tanpa perlu memaki jika ada orang yang tau tau nyeletuk ? njiss, ni band PS banget? alias dibilang sebagai second rate Pure Saturday.

    Ga usah sedih atau menjadi kesal. Karena itu semua hanyalah proses apresiasi orang orang yang mendengar Biscuit baik dari performance live nya atau kebetulan membeli album ini.

    Secara rekaman, album ini sedang sedang saja, bisa dibilang bagus walaupun belum sampai muncul ucapan ?two thumbs up? tapi juga ga sampai sejelek ? all thumbs down?.

    Secara musikal semua lagunya nyaman nyaman aja didengar tanpa ada komplain maupun pujian berarti. Walaupun ada usaha usaha variasi yang patut dipuji seperti adanya bunyi bunyian instrument tiup. Petikan guitar yang penuh dengan melodi juga mengalir biasa aja.

    Vokal nya,… hmmm … karakter nya mirip si Suar. Dalam betuk yang lebih naif, Hey… gue memakai perbandingan PS karena band tersebut adalah sebuah band yang dikenal luas juga di kalangan scene indie di Indonesia.. bukan berarti Biscuit adalah band yang seratus persen meniru PS secara musikal, karena beberapa orang dengan referensi yang lebih luas bisa akan bisa menemukan band band mana saja yang menjadi referensi musikal PS.,.

    Lagian gue juga belum nanya ke Ican dkk, referensi mereka itu apa aja.

    Secara keseluruhan album ini mungkin akan menjadi sebuah stand out bagi kamu yang baru memulai eksplorasi kamu terhadap album album indie.
    Album ini juga direkomendasikan untuk orang orang yang ingin mendokumentasikan musik musik indie pop di Indonesia. Apalagi dengan kerjakeras dan semangat bermusik anak anak Biscuit ini, bisa jadi kamu akan memiliki album pertama dari band besar dimasa mendatang.

    Juga sebuah warning buat Pure Saturday untuk terus mengembangkan musiknya sebelum kesusul oleh band yang secara musik mirip tapi terus berkembang.

    Eric W
    July 2005

  • Float – s/t

    Float
    s/t

    Self release
    6.9

    3 lagu perkenalan oleh Ronny Hotma Simamora- orang di belakang Float-

    lagu pertama akan langsung membawa kita suasana jaman perang revolusi, disebuah klab jazz underground, sebuah band dengan bas betot, topi pet, vest, bermain sebuah lagu berisikan semangat. Tipe tipe lagu yang bisa dibayangkan diputar dengan gramophon

    Setting berubah ke pedesaan di suatu sudut peta pulau Jawa, dengan latar sawah sawah, Jazz dengan Sentuhan lagu keroncong dan backing vokal perempuan. Lagu dengan karakter yang bagus, terutama jika kamu memang suka dengan sesuatu yang berbau etnik dan santai.

    Lagu ketiga salah satu bentuk paling dasar dari usaha pengindentifikasian Dave Matthews. Terutama di vokal nya, dari segi instrument cenderung lebih poppie daripada Dave. Soul dan groove dari lagu lagu Dave Matthews circa sebelum 2000 tidak berhasil muncul disini. Membuyarkan karakter Float yang terbangun di dua lagu pertama.

    Well done dua dari tiga lagu tidak cukup untuk menggambarkan sebuah band secara keseluruhan. Tetapi dua lagu tersebut dapat menjadi semacam langkah awal untuk ke arah mana Float beranjak. Apakah untuk mengeksplorasi sound untuk lebih ke Amerika? Atau mau menjelajahi cengkok musik etnik dengan sentuhan jazz? Asalkan tidak maksa, tidak perlu original tetapi soulful maka Float akan memiliki masa depan cerah.

    CP: Meng (0812 807 4047)

    Eric Wiryanata, May 2005

  • Breaking The Roots – Souljah

    Breaking The Roots
    Souljah

    The Offbeat Records
    7.0

    kerja keras mereka dan pengorbanan mereka tidaklah sia sia demi album ini. Setidaknya 80 % dari kalimat itu adalah benar bagi banyak orang.

    Album yang kaya dengan berbagai eksplorasi musik dengan Reggae sebagai dasarnya. Hmm tidak tidak. Ska adalah dasarnya.

    Mereka benar benar memperkaya musik mereka, dengan salah satu caranya adalah berkolaborasi dengan musisi lain, 50% isi albun ini adalah hasil kolaborasi dengan Happy Salma, artist can?t sing? Well semua orang bisa nyanyi, bahkan Sponge Bob pun bisa bernyanyi. Begitu pula Happy Salma bisa bernyanyi di Magenta.

    Ada Hendrix Rastafara. Dan ada sebuah stand out dari Sundari Soekotjo yang memberi nuansa kroncong yang ternyata cukup nyambung dengan musik Souljah.

    Rap rap yang berkarakter mirip Iwa K disumbangkan oleh Soulid.

    Eksplorasi ke arah lebih elektronika dance beat didapatkan di track 10&11. dimana track 10nya adalah kolaborasi dengan Bad Mono.

    Ditutup dengan lagu yang lebih santai hasil kolaborasi dengan Popok. Yang tampaknya nyaman sekali jika dibawakan secara akustik di suatu sore yang sejuk untuk melepas lelah sambil minum air kelapa.

    Secara garis besar album ini seperti disebutkan diatas tadi, memang benar benar kaya.
    Secara mudahnya (mungkin gue salah) seperti dapetin Sublime, 311, No Doubt, Asian Dub Foundation, Men At Work satu panggung dengan sesuatu yang lebih tradisional seperti Bob atau Sundari Seokotjo.

    Eric Wiryanata, May 2005

  • The Adams – s/t

    The Adams
    s/t

    Aksara Records
    6.0

    Weezer? atau Beachboys dengan suara distorsi modern? Atau keduanya digabungkan?

    Album ini tidak lebih keren daripada Weezer. Dan itu adalah sesuatu yang jelas. Sehingga ga fair jika mereka berdua dibanding bandingkan, diatas bumi ini juga tidak ada seniman yang senang dibanding bandingkan.

    Tapi mau bagaimana lagi, satu album terdengar seperti B-Sides nya Weezer. Walaupun ada part part dengan progresi ala metal (dream theater? Black Sabbath?) Mengapa? Karena sudah tercipta image bahwa mereka adalah secondrate nya Weezer. Sama seperti Ozma, dan belasan band band Weezer wannabe lainnya. Juga karena weezer memasukan unsur metal ke dua album terakhirnya dengan masif.

    Tapi hey hey. The Adams tidak berhenti sampai disitu.

    Suara vokal mereka tidak maksa. Harmonisasi gitarnya juga patut diacungi jempol. Permainan clean maupun distorted. Dan permainan hook hook melodi nya.

    Dan tidak tampak sebagai band yang memang berusaha keras menjadi weezer. Mereka cukup jujur sebagai sebuah band. Dan tidak akan salah sebagai sebuah band jika bersuara mirip dengan siapapun jika disertai dengan konsistensi dan kejujuran.

    Karena Weezer pun pernah diawal karirnya membawakan lagu The Beatles. Kamu coba aja dengar The Hollies.
    Ray Charles juga pernah dituduh meniru sound Nat King Cole, Kurt Cobain yang tergila gila dengan Melvins.
    Tapi jelas mereka tidak berhenti di satu artis yang dikuduskan. Mereka tidak bermain untuk menjadi personifikasi idola mereka.

    The Adams juga dengan kekonsistenan tentu juga akan berhasil, coba aja dengarkan permainan melodi yang panjang di lagu ?just? atau lagu ?Glorious Time? yang melodius.

    Dan tentu saja lagu ?mosque of love? hidden track mereka.

    Top notch

    Membeli album mereka bukan keputusan yang buruk, kecuali keadaan uang kamu pas pas-an dan sedang bersiap menabung untuk membeli album Weezer yang akan segera rilis.

    CP:0812 812 5992 / 0815 936 5494

    Eric Wiryanata, May 2005

  • Love and Turbo Action (Yellow & Silver) – Goodnight Electric

    Goodnight Electric
    Love And Turbo Action (yellow)
    8.2
    Love And Turbo Action (silver)
    8.9

    HMF Records

    bukan sesuatu yang baru namun tetap menyegarkan. Bukan hal yang standar namun menyenangkan.

    Kekurangan utama di album ini bisa menjadi kekuatan utama album ini, adalah kekakuan semua pattern pattern lagunya karena kemungkinan ?ditulis? menggunakan program midi.

    Di satu sisi membuat pendengarnya berada dalam kostum robot kardus dan tidak mudah bergerak karena pattern lagu dan beat nya kaku.. Di sisi lain hal tersebut justru yang membuat album ini unik.

    Kekakuan tersebut dicairkan dengan dua vokalis yang bernyanyi lembut, dan lafal yang cenderung nyaman didengar.

    Perpaduan antara program kaku mesin robot dengan sisi manusiawi. Seperti film film sci-fi awal 80-an yang bertemakan robot yang menginginkan memiliki perasaan manusia.

    Semua lagu mulai dari track pertama ASTUROBOT sampai dengan We?re going to the star bertemakan Science Fiction. Mungkin jika ada sutradara yang berminat dan cukup kreatif dalam menerjemahkan album ini. Maka akan da sebuah film sci-fi kelas B yang trendy di kalangan anak anak muda jaman sekarang.

    Secara keseluruhan album ini menyenangkan untuk didengarkan. Dan bisa dijadikan sebuah milestone penanda suatu masa dimana di masa itu sempat ada wabah new-wave kembali dan segerombolan orang berambut mullet trendy dan menyukai (baik secara sadar maupun ikut ikutan ) musik semacam The Cure, Depeche Mode, Devo atau Postal Service

    Dan ditengah tengah masa itu ada laki laki dengan gaya robot robotan dan perempuan bersense fashion yang baik membuat sebuah karya musikal elektro pop manis yang mudah diterima.

    Kemudian akan ada sekumpulan anak anak muda yang mengklaim menyukai Goodnight Electric.

    Jika kamu belum sempat membeli album yang berwarna kuning. Maka ngga salah kamu membeli yang berwarna perak, karena 4 lagu remix tambahannya tidak seperti sebuah remix ?tempelan? semata. Tapi dapat dikatakan memperkaya musik Goodnight Electric menjadi variasi yang menyenangkan. Kecuali kamu kolektor maka memiliki keduanya adalah tidak masalah.

    Seperti remix dari The Adams yang seperti mengawinkan tipikal musik The Adams yang dinamis dan berisikan layer layer backing vokal dengan GE.

    Begitu juga dengan Ape On The Roof dan Oreo.

    Dan bayangkan juga sekumpulan orang berbaju warna warni pastel, wristband dan headband, berdansa menggunakan sepatu roda. Bersama Foundation Mix.

    Eric Wiryanata, May 2005