Festival musik ini sudah selesai beberapa waktu lalu, tapi energinya terlalu kuat untuk berlalu begitu saja. 100 penampil dalam 3 hari dibagi menjadi 7 panggung musik rupa-rupa ukuran. Semuanya penampil adalah band dari penjuru Indonesia yang sukses menarik ribuan pengunjung dari berbagai latar belakang setiap harinya. Menyenangkan juga mengetahui ada festival musik yang membuat para pencinta musik merasa aman untuk berkunjung.
Tiga hari berturut menyerap musik-musik baik dari musisi gaek seperti God Bless atau Rhoma Irama, sampai ke band-band muda yang energinya masih penuh seperti Grrrl Gang dan Pelteras. Membuat saya mendapatkan asupan kesenian yang cukup besar untuk membuat saya antusias pada musik Indonesia kedepannya.
Semoga Indonesia selalu aman dan kondusif untuk musik dan kita bisa terus bersenang-senang.
Memang dengan adanya musik
Dunia ramai jadi berisik
Tapi kalau tak ada musik
Dunia sepi kurang asik.
Oktobeerfeast 2018 telah berkembang menjadi tradisi tahunan di Pizza e’Birra Gandaria City yang ditunggu karena kemeriahannya. Freeflow bir dan pilihan musik asoi, tentu meninggalkan kesan yang menyenangkan.
Seperti tahun ini yang puncak rangkaian acaranya diselenggarakan dua hari, dengan penampil seperti Naif, Ramengvrl, the Adams, Polka Wars dan lain-lain makin meriah dengan bir dingin.
Semoga tahun depan bisa ada lagi, dengan aktifitas yang semakin seru. Misalnya bisa mencoba bir dari manca negara sambil makan pizza.
Tidak terasa, lewat dua tahun sudah rangkaian Supersonik di IFI Jakarta berjalan. Kali ini bersanding dengan seri Tabik! besutan SRM Bands menampilkan Flower Girls, Barefood, Sharesprings dan Holly City Rollers.
Flower Girls adalah band yang dibentuk sebagai band tribute ke legenda rock n’ roll Indonesia; Dara Puspita. Tetapi sekarang mereka memutuskan untuk mulai membuat karya sendiri dan akan merilis album dalam waktu dekat.
Salah satu lagu yang akan dirilis nanti rencananya berjudul Gadis Bunga, dan mereka menyempatkan untuk membawakan lagu tersebut di auditorium IFI Jakarta kemarin sebagai perkenalan album mereka nanti.
Setelah Flower Girls, ada Barefood yang selain membawakan lagu-lagu dari rilisan-rilisan mereka, ada cover version dari A Praise Chorus milik Jimmy Eat World yang merupakan salah satu pahlawan mereka.
Setelah Barefood, tampillah Sharesprings, band dreampop/shoegaze/punk yang jarang muncul walau sering dibicarakan.
Acara sore itu kemudian ditutup oleh Holy City Rollers.
Hodge Podge Superfest 2018 adalah gelaran musik dengan genre yang campur-campur. Walau jelas yang paling ditunggu adalah The Libertines, namun penampil lainnya juga cukup mengambil hati pengunjung. Terlihat banyaknya yang berlari-lari menghampiri setnya Day Wave dan goyang-goyang sambil nyanyi saat Elephant Kind tampil.
Venue yang luas, membuat kegiatan menikmati festival menjadi lebih lega. Hanya saja mungkin akan lebih enak jika bawa tikar dan duduk-duduk piknik di rerumputan, tetapi festival sambil piknik tampaknya bukan budaya di Jakarta yang lapangan rumputnya masih banyakan tanah dibanding rumputnya.
Semoga tahun depan, Hodge Podge ini bisa diadakan lagi dengan line up yang lebih menarik. Serta akses yang dipermudah, misalnya penunjuk jalan yang jelas dan mungkin ada shuttle dari halte ke venue.
Phum Viphurit memperoleh popularitasnya di kalangan anak-anak muda awal 20-an dari rekomendasi video Youtube. Cukup banyak yang kemarin datang ke konser yang diselenggarakan oleh Lokatara Live ini karena menemukan lagu-lagu Phum Viphurit dari Youtube.
Sebagian besar yang datang kemarin memang belum mencapai akhir usia 20-an yang referensi musik mereka tertangkap dengan baik dengan EO-EO yang relatif lebih baru. Seperti Lokatara Live ini misalnya.
Penampil yang ditawarkan, bisa jadi tidak terdeteksi oleh fans musik di usia yang relatif lebih tua, walaupun secara kualitas juga tidak kalah dengan musik-musik yang sudah ada sebelumnya. Phum Viphurit sendiri saat ini cukup dikenal di Asia dan tampaknya juga di Barat, cukup menyenangkan juga mengetahui kalau semakin banyak musik menarik dari Asia Tenggara mulai bersaing di area yang lebih luas.
Dari Indonesia sendiri memang sudah cukup lama mengirimkan bakat-bakat musik untuk bersaing di luar negeri, walau belum banyak yang memiliki karir berkesinambungan di luar Indonesia karena berbagai alasan (visa/izin kerja), namun tampaknya tinggal menunggu waktu kita berhenti mengirim TKI untuk pekerjaan domestik dan mengirimkan musisi musisi handal untuk tur dunia sebagai pahlawan devisa.
Oh iya, Phum Viphurit ini dikenal karena lagu Long Gone dan Lover Boy. Ia terinspirasi Mac Demarco, Young the Giant, dan Bombay Bicycle Club. Selain itu, Ibunya yang sering memutar lagu-lagu klasik Motown juga turut membentuk karakter Phum Viphurit dalam menulis lagu.
Saat ini sudah merilis dua album, Man Child dan Lover Boy, yang single-singlenya dibawakan di konser yang tiketnya terjual habis kemarin di Hotel Grand Kemang.