Category: News

  • Nevermore – Live in Indonesia – 25 June 2011 @ Jakarta (Canceled)

    25 June 2011

    More info soon

    Nevermore is an American heavy metal band from Seattle, Washington. Formed in 1991, they are known to incorporate elements from styles such as thrash, power, progressive, and neo-classical metal into their songs, and also makes use of acoustic guitars and a wide range of vocal styles.

  • [Canceled] Good Charlotte – Live in Bali 22 April 2011

    The JD Set Rock Out in Bali with
    Good Charlotte
    April 22nd 2011

    *Leave the Show to the Band. Please Enjoy Responsibility™

    Ticket Price
    IDR200K
    for ticket info
    (0361) 360-3980

    Venue: Boshe VVIP Club Bali

    Deathrockstar would hand 4 event invitations to 2 lucky winners courtesy of Jack Daniel’s Indonesia.
    Watch this space for futher info!

    Schedule of Events
    07:00pm Door Opens
    08:00pm Tomo16 – Thailand
    08.45pm Scribe – India
    09.30pm Urbandub – Phillipines
    10.30pm Andra & The Backbone – Indonesia
    12.00pm Good Charlotte
    01.00pm DJ Winky

  • Gig Report: MGMT & The Whitest Boy Alive in Jakarta 2011

    Bukan tanpa alasan jika pada 26 Maret 2011 Bengkel Night Park, Jakarta telah dipenuhi oleh hipster ibu kota jauh sejak sore hari. Pada malam itu MGMT dijadwalkan tampil untuk kali perdana di Indonesia dengan unit pop dosis tinggi asal Jerman, The Whitest Boy Alive, serta pahlawan scene lokal, Sajama Cut, sebagai aksi pembuka. Rupanya komposisi tiga band berdaya ledak tinggi inilah yang menjadi alasan atas ramainya Bengkel Night Park sore itu.

    Panjangnya antrean yang tidak terkoordinasi rapi oleh panitia berhasil membuat saya melewatkan mayoritas dari penampilan Sajama Cut yang didaulat sebagai band pembuka malam itu. Meski begitu, saya masih sempat melihat ekspresi seorang ekspatriat bule disamping saya tampak tersenyum puas begitu Sajama Cut tiba pada akhir set mereka. Dan dari pengamatan singkat saya, mereka tampil cukup prima dengan dukungan tata suara dan cahaya yang cukup baik untuk ukuran sebuah band pembuka. Jam terbang yang tinggi rupanya tidak membuat sepinya penonton menjadi halangan bagi mereka untuk tampil maksimal. Salah satu personel Sajama Cut bahkan dengan percaya diri berdiri menjulang di atas salah satu properti panggung dan membuat closing mereka tampak sedap dipandang mata.

    Jeda setengah jam, konser berlanjut dengan The Whitest Boy Alive. Diluar dugaan, ternyata mereka tidak membawa set panjang untuk malam itu. Cukup beberapa lagu lama saja ditambah dua lagu baru yang dibawakan dalam iringan koor panjang oleh penonton. Erlend Oye masih menjadi senjata utama band ini untuk menaklukkan atensi penonton. Penonton yang awalnya pasif menjadi tertompa begitu Erlend menari absurd meliukkan badan pada stand mic. Juga untuk gimmick pemancing tawa saat Erlend melakukan aksi bisu ‘Earth Minute’ mendadak sebagai reaksi dari program ‘Earth Hour’ yang dilakukan pada saat bersamaan diseluruh dunia. Penonton meneriakkan ‘we want more’ begitu The Whitest Boy Alive menyelesaikan lagu terakhir lalu menghilang di balik panggung. Sayangnya permohonon penonton mentah dan The Whitest Boy Alive tidak kembali lagi.

    Set-up panggung pasca penampilan The Whitest Boy Alive berlangsung cukup lama. Lebih dari empat puluh menit berlalu sebelum akhirnya terdengar teriakan histeris wanita-wanita di barisan terdepan yang sekaligus menandai munculnya vokalis Andrew VanWyngarden dan kawan-kawan dari balik panggung. ‘It’s Working’ dan ‘Weekend Wars’ menjadi lagu pembuka MGMT malam itu. Sayangnya performa sound yang belum tertata dengan baik pada dua lagu tersebut cukup mengganggu dan membuat Ben Goldwasser gagal menampilkan performa impresif di balik tumpukan perangkat keyboarnya. Kondisi tersebut terus berlanjut hingga saat ‘Electric Feel’ dimainkan sebagai lagu keempat. Untungnya beat lagu yang sangat dance-able berhasil membuat penonton menggeliat dan membuat mereka lupa pada sistem tata suara yang sebenarnya masih belum maksimal.

    Penonton semakin terbawa arus saat single album kedua, ‘Flesh Derilium’ dibawakan sebagai lagu kelima. Selang beberapa lagu, penonton semakin menggelinjang saat intro dari giga-hits ‘Time to Pretend’ mengudara. Bersama potongan lirik “this is our decision..to live fast and die young..”, Bengkel Night Park didera gempa lokal edisi pertama yang siap mengubur hidup-hidup ribuan penonton yang ada di dalamnya.

    Aroma psychedelic pekat langsung merebak saat epic berdurasi dua belas menit, ‘Siberian Breaks’ dimainkan. Tata suara yang akhirnya mampu bekerja ekstra-prima berhasil membuat saya serasa tenggelam dalam genangan senyawa kimia bersama lagu tersebut. Komposisi panjang ‘Siberian Breaks’ berakhir pada raungan feedback memekakkan telinga yang secara tidak terduga langsung disambut oleh intro ‘Kids’ yang legendaris. Maka jadilah gempa lokal edisi kedua mendera Bengkel Night Park. Seorang wanita bule disamping kiri saya bahkan tampak gembira tak terkendali diatas gendongan teman laki-lakinya sembari mengibaskan tangannya ke segala arah. It was the concert’s best momment.

    Pada akhirnya bebunyian atmospheric, pesan perdamaian, semangat nihilisme, hingga nikmatnya sensasi senyawa kimia sukses disuguhkan oleh MGMT pada malam itu. Salute untuk penata visual-effect yang membuat penampilan mereka menjadi begitu dramatis dan penuh dengan siluet-siluet heroik sepanjang acara. Layaknya seorang nabi, penampilan MGMT malam itu seolah membawa kabar gembira yang mampu meringankan dosa dan beban hidup bagi siapapun yang menyaksikannya. Bersama mereka dunia terasa bagai sebuah taman bermain, dan yang harus kita lakukan hanyalah bersenang-senang sebelum mati bersama dalam kedamaian.

    Risyad Tabattala
    Photos by Agra Suseno

  • Please vote us as Best Blog Indonesian

    Deathrockstar nominated as 2011’s Best Blog Indonesian by the Bobs Deutsche Welle Bog Award, and they open up a vote competition and again as an ambitious person i have to win this for sure.

    Here are the ‘how to vote’ because the page are a bit tricky. (more…)