Diam-diam duet Stereomantic ini merambah negara tetangga dan diundang menjadi wakil Indonesia di festival musik terbesar di Thailand; Melody of Life.
Baca press release nya lansung disini ya. đ
Category: News
-
Stereomantic ke Bangkok
-
Jakarta Battle of the Bands Rock Supremacy : the big 12
Congratulation to the big 12.
Wish you guys all the best ya, sampai bertemu di London. -
Death Cab For Cuties new songs previewed
Ben Gibbard dalam sebuah penampilan live nya di event Noise Pop beberapa waktu lalu memainkan dua buah lagu baru, dan seseorang berhasil mengabadikannya kedalam kode-kode binari mp3, dan kalian para penggemar suara empuk Ben Gibbard bisa mendengarkan preview lagu baru DCFC yang akan masuk dialbum “Codes and Keys” nanti mereka nanti, dan sebuah lagu yang ditulis untuk film yang ada Russel Brand nya, berjudul Arthur.
Codes And Keys (Gibbard Solo, Live in SF) by TwentyFourBit.com
When The Sun Goes Down On Your Street (Gibbard Solo, Live in SF) by TwentyFourBit.com -
Mark Ronson DJ Set [18 Mar 2011] @ Blowfish, Jakarta
About MARK RONSON
Musician, DJ and infamous record producer, Mark Ronson, is a consummate musical professional whose talents simply know no bounds. Making his name as an A-list New York party DJ in the early 1990s, Ronson quickly moved on to music production and, well, the rest is history! As one of the planetâs hottest producers, his seemingly magical studio touch has helped shape best-selling albums for superstar artists the ilk of Lilly Allen, Christina Aguilera, Robbie Williams, Amy Winehouse, Kaiser Chiefs, Nas and, most recently, The Like and Duran Duran. Meanwhile, as a musician, heâs released no less than three artist albums since 2003 (âHere Comes The Fuzzâ, âVersionâ and, most recently, âRecord Collectionâ), has topped the worldâs charts with tunes like âOoh Weeâ, âStop Meâ, âValerieâ, “Somebody To Love Me” with Boy George and âBang Bang Bangâ, and is regularly called upon to play the planetâs biggest venues, festivals, stadiums and everything in between. His latest evolution sees him gigging under the alias of âMark Ronson and The Businessâ, an apt name which clearly sums things up: because there ainât not doubt that Mark Ronson is âthe businessâ.Website :: www.markronson.co.uk
Myspace ::Â www.myspace.com/markronsonMARK RONSON Official VideosMARK RONSON Music Links“Somebody To Love” feat Boy George“Bang Bang” feat Q-Tip“The Bike Song”“Animal (Mark Ronson Remix) – Miike Snow“Stop Me” feat Daniel Meriweather
Event InfoMARK RONSON (DJ Set) * BLOWFISH – Friday 18th March 2011
————————–
TICKETS: RP 150k ONLYTICKET BOX: BLOWFISH Kitchen & Bar, PIZZA E BIRRA Plaza Indonesia, SUSHIGROOVE Pondok Indah Mall 2RSVPÂ 0857 10 800001BB #227AB073Strict Age Limit: 21+ for Men. 19+ for Ladies. -
Liputan Konser Tunggal Koil
Menyanyikan Lagu Perang di Konser Perdana KOIL
Saat tanggal sudah ditetapkan dan para pangeran kegelapan telah bergegas turun dari singgasana, maka tibalah saatnya untuk menggelar ritual persembahan untuk menyambut kedatangan mereka. Pada Kamis 24 Februari 2010, venue Sabuga ramai dipenuhi oleh gerombolan fans berkostum hitam-hitam yang telah memadati venue jauh sejak matahari belum terbenam. Malam itu, Koil menggelar konser tunggal mereka untuk yang pertamakalinya. Sebuah konser dengan set yang bisa jadi adalah yang terpanjang sejak awal sejarah karir mereka.
Saya sampai di venue tepat setelah matahari terbenam. Sempat berputar-putar menikmati dekorasi di gerbang pembuka, saya mulai merangsek kedepan panggung saat Anto Arief menyelesaikan tugasnya sebagai opening act pada malam itu. Mendekati pukul delapan malam, pencahayaan dipadamkan dan venue indoor Sabuga mendadak berselimut gelap. Gitaris Donnijantoro, bassis Adam Vladvamp, serta drummer Leon Ray Legoh menyelinap di balik kegelapan dan membuka panggung dengan kompisisi yang meraung panjang, disambut oleh riuh penonton yang membanjir di bibir panggung. Terlebih saat di akhir komposisi pembuka tersebut, sosok Otong sang vokalis muncul dari balik panggung dan menyapa penonton. Lengkap sudah. Para pangeran kegelapan telah datang, saatnya ritual dimulai.
âNyanyikan Lagu Perangâ menjadi menu pembuka malam itu, disusul berturut-turut âSistem Kepemilikanâ serta âAku Lupa Aku Lukaâ yang otomatis disambut dengan koor massal oleh penonton. Sempat disela dengan semprotan orasi Otong pada tiap jeda lagu, sesi awal berlanjut dengan âRasa Takut Adalah Seniâ, âAjaran Moral Sesaatâ, dan beberapa nomor lain sebelum akhirnya ditutup dengan âHanya Tinggal Kita Berduaâ.
Meninggalkan distorsi, Koil membuka sesi berikutnya dengan set akustik. âKesepian Ini Abadiâ, âLagu Hujanâ, dan âMurkaâ menjadi suguhan mereka pada sesi ini. Potongan glitter yang bertebaran dari langit-langit venue semakin menambah daya pikat sesi akustik malam itu. âKu akan pergi saat hujan reda…walaupun lama pasti reda juga..â, terdengar sepasang kekasih ikut bernyanyi bersama dalam pelukan tepat disamping tempat saya berdiri.
âHanya Tinggal Kita Berduaâ kembali menggiring penonton dalam racun distorsi industrial selepas berakhirnya sesi akustik. Dilanjutkan dengan âKita Dapat Diselamatkanâ yang menenggelamkan penonton pada era keemasan album Megaloblast satu dekade silam. Klimaks konser mendekati puncak saat âSemoga Kau Sembuh Pt. IIâ dimainkan dengan begitu bengis. âMendekati Surgaâ dan âKenyataan Dalam Dunia Fantasiâ menjadi lagu pamungkas malam itu. Tidak ada encore. Koil hanya melakukan salute panjang serta sesi foto membelakangi penonton sebelum akhirnya menghilang di balik panggung.
Penting untuk menyoroti sesi bagi-bagi doorprize di pertengahan konser yang terlalu lama sehingga buat saya merusak flow acara yang telah susah payah dibangun sejak awal konser dimulai. Beruntung performa tata suara bekerja prima malam itu meski sempat kurang maksimal di awal konser. Keputusan Koil menggandeng seorang kibordis dan dua orang penyanyi latar, salah satunya adalah Risa Saraswati, juga terbukti ampuh. Mereka berhasil memberi kontribusi signifikan, terutama pada âSemoga Kau Sembuh Pt. IIâ yang saya nobatkan sebagai puncak performa mereka malam itu. Bahkan mungkin salah satu performa terbaik yang pernah saya saksikan sejak pertamakali menonton live mereka bertahun-tahun yang lalu. Dengan segala keterbatasan yang ada, konser tunggal ini telah memantapkan posisi Koil sebagai salah satu dari segelintir musisi bermartabat di Indonesia. Untuk sementara mari sejenak lupakan Rammstein dan Nine Inch Nails, karena di Indonesia, kita punya Koil.
Words by Risyad Tabattala, Photos by Anugerah Suseno

