Pada gig yang ke sembilan ini, Six Thirty Recordings; label rekaman asal Jakarta yang juga bergerak di bidang music promotor mendatangkan band asal Singapura ber genre math-
rock/instrumental bernama Hauste.
Diadakan pada tanggal 23 Desember 2018 di Guitar Freaks Fatmawati.
Band instumental/math-rock asal singapura Hauste merilis debut album nya yang berjudul “Leavings”. Aransemen instrumental dalam album ini telah disusun agar dapat memacu suasana hati, dimana makna dalam hal yang telah hilang nilainya dapat ditemukan kembali; sesederhana seperti mainan yang pernah menjadi kesukaan, atau bahkan memori yang pernah menjadi sangat berarti. Leavings diharapkan dapat mengajak para pendengar untuk hanyut dalam narasinya, sebagai sebuah upaya dalam sepenuhnya mengalami album perdana ini.
Selain menampilkan Hauste, acara ini juga turut di ramaikan oleh Murphy Radio, band asal Samarinda yg sedang naik daun setelah merilis album penuh dengan judul yang sama dengan nama band mereka.
Selain itu, eleventwelfth yang baru pulang dari tour Jepang nya dan band yg sudah lama tidak
terdengar namanya For the Flames Beneath Your Bridge akan turut serta mendukung acara ini.
Tiket untuk menonton Hauste, Murphy Radio, eleventwelfth, dan For the Flames Beneath Your
Bridge di bandrol dengan harga Rp70.000 dan bisa di dapatkan di tautan
https://www.eventevent.com/event/5bebde864c3ce atau pada hari h acara berlangsung jika kuota
masih tersedia.









Setelah Malaysia, destinasi Protomartyr selanjutnya adalah Jakarta yang sengaja dipilih sebagai penutup tur di Rossi Music Fatmawati. Sebagian banyak penonton berpakaian kemeja masuk ke dalam, bukan karena seolah-olah ini malam ‘post punk’ tapi memang hari dan jam yang ditentukan merupakan hari Kamis (21/6) dan waktu pulang kantor. Crayola Eyes didaulat sebagai pembuka pertama. Hey, apa kabar mereka? (1) setelah merilis split 7” bersama Bin Idris mereka makin mempertajam formasinya dengan Bayu dari band Napolleon di formasi gitar yang terdengar cukup intens di tatanan musik Crayola. Perubahan itu bisa didengar dari lagu terakhir “Baby May” yang terdengar lebih bagus ketimbang penampilan-penampilan sebelumnya. Reno Nismara selaku vokalis terlihat lebih dingin dari biasanya. Tidak banyak cakap, langsung pada tujuan, dan menghabiskan set malam itu dengan klimaks. Walau sering beberapa kali kerabat melempar sahutan canda “Sawiii sawiii” untuk Sawi Lieu di posisi keyboard.


