Tag: Aliansi Musik

  • Download Lagu-lagu Indie Lokal Terbaik, Aliansi Musik Juli 2016

    Download Lagu-lagu Indie Lokal Terbaik, Aliansi Musik Juli 2016

    Kami selalu percaya kalau kekayaan negeri ini, maka itu Aliansi Musik ini terbentuk. Menyenangkan sekali berburu musik-musik asoi dari penjuru Indonesia. Kali ini kamu bisa menambah khazanah bermusik dengan membaca dan mengunduh lagu-lagu indie lokal terbaru dari penjuru nusantara ini.

    Bulan Juni kelewat, karena ya begitulah. 🙂

    Silahkan mengunduh dengan click di judul lagu masing-masing.

    I’m Sorry I’m Lost – I Hate You And Your Drama

    Malang, Jawa Timur

    Sekumpulan pemuda perasa yang enggan berkata, Lewat nada menyampaikan asa, Menciptakan ketenangan dalam kegelisahan.
    Menelan kepahitan sambil berburu kesenangan, Menjadikan keresahan sebagai harapan. Seperti itulah yang saya dapat dari salah satu gitarisnya yaitu Rizki

    I’m Sorry I’m Lost ini adalah unit postrock Malang generasi baru. Mereka adalah harapan baru kota malang di ranah instrumental. ISIL mengusung twinkly sound layaknya Explosions in the Sky , Moonlite Sailor ,dan sedikit crescendo type ala Caspian dan Mono. Isil adalah Rizki ( guitar ) , Rizza (bass ) , Nanda ( guitar ) dan Leo ( drum ) .

    Mereka sudah merilis single I Hate Your And Your Drama untuk preambule album mereka.
    www.instagram.com/ImSorryImLost8

    Akhmad Alfan Rahadi
    http://malangsubpop.wordpress.com

    Cuacamendung – Laugh In The New Cry

    Samarinda

    Grup Post-Rock pertama dan satu-satunya yang masih aktif, ya walaupun lagi “dilarang manggung” sama manager untuk fokus ke materi-materi baru. Sekarang menyisakan 3 personil tetap mereka: Trida (gitar), Andro (drum) dan Bisma (gitar). Menggunakan metode “Quite and Loud”, Cuacamendung mampu menyuntikkan sedatif di setiap penampilannya. Laugh Is The New Cry adalah lagu pertama yang mereka perkenalkan dan sampai sekarang (bagi saya) selalu menjadi encore terbaik. Band ini harusnya sudah punya album atau apalah itu, sungguh disayangkan mereka terlalu selow soal ini.

    Happy Brillianto
    https://mahakamkolektif.wordpress.com/

     

    12:51 – I Wanna Dance

    Palangkaraya

    Tahun 2016 Palangkaraya di goncang dengan kehadiran band bernama 12.51.
    dengan Personil Rendy(Vox) Ade (Gitar) Ebink (Bass) Bayu (Drum)
    Menyenangkan sekali mendengarkan lagu dari mereka.
    campur aduk saya ingin mengatakan mereka ke arah mana soundnya.
    jadi, biarlah kita menilai sendiri hhe.
    walaupun, seorang Drummer mereka mengatakan genre kami rock sambil tertawa.

    Kabarnya ada tiga lagu lagi yang sedang dikerjakan dengan sound yang berbeda – beda. Dari mereka mengatakan terinspirasi dari The Brandals, teenage death star, morfem dan experience brothers.
    jadi, sila dengar tembang dari 12.51

    info
    0822 2036 9010 (Bayu)

    Theo Nugraha
    https://theonugraha.bandcamp.com/

     

    Kota & Ingatan – Alur

    Yogyakarta

    Band asal Yogyakarta yang memiliki nama cukup aneh “Kota & Ingatan” ini ternyata memiliki musikalitas dan penulisan lirik yang menarik.

    Kuintet yang lahir di Jogja yang saat ini kotanya kian menjelma urban ini dalam proses kreatifnya mengangkat isu apa saja yang terjadi di jalan-jalan; di tengah keramaian; di hiruk pikuk kota yang sesak dengan gedung tinggi dan rencana-rencana yang beterbangan. Kejadian-kejadian yang begitu pesta untuk ditulis; begitu banyak; begitu riuh. Hasil amatan tersebut kemudian dicatat dalam musik mereka.

    Single terbaru mereka yang berjudul Alur sendiri bercerita tentang kekerasan serta konflik horizontal yang belakangan marak terjadi di masyarakat.
    “Apa yang kami sebut sebagai kekerasan yang ditampilkan, hari ini masih saja terus berulang; hal yang pernah begitu rapi diterapkan oleh rezim Orde Baru. Kini tumbuh melalui ormas-ormas yang mengakuisisi ruang publik dengan dalih agama dan kepentingan warga. Kekerasan menjadi perangkat untuk membuat masyarakat takut dan patuh, pula alat untuk membenturkan masyarakat, seperti alur yang menuju pada kekuasaan atas teritori: alam dan manusia.” Ungkap Aditya Prasanda sang vokalis.

    Komang Adhyatma
    http://kanaltigapuluh.info

    Allison – Lunatic

    Medan

    Mendengarkan band indie pop yang catchy di bulan puasa cukup menyenangkan. Vokal yang renyah nan gloomy, lagu yang gampang diingat, serta melodi yang familiar membuat rasa kolak pisang menjadi lebih manis walaupun kencanmu baru saja membalas line tak jadi datang.
    https://m.soundcloud.com/allisonpop

    Rachmadi Perdana
    https://www.instagram.com/madwrapmedan/

    Harvest – Golden Age

    Semarang

    “Scene hardcore adalah salah satu scene paling solid di Semarang. Dengan panji Atlas City Hardcore, mereka tak jarang menghasilkan band hardcore baru yang patut disimak. Walaupun sudah berdiri sejak 2008, lima pemuda yang menamakan diri mereka Harvest ini baru saja merilis album penuh perdana bertajuk Happines And The Effort.

    Lewat single “”Golden Age””, Harvest ingin merayakan kejayaan scene hardcore Semarang yang pernah berada di masa keemasan di pertengahan hingga penghujung dekade 2000an. Dengan raungan hardcore modern a la Have Heart dan Miles Away, Harvest selalu berhasil membuat hardcore kids berteriak bersama di pusaran mosh pit.

    https://www.instagram.com/harvest_achc/

    Godham Perdana

     

    Orestes – The Pledge

    Setelah tidak terdengar kabarnya (mungkin lima tahun yang lalu?) sejak album perdana mereka lepas ke peredaran, Orestes kini kembali dengan karakter sound lebih ‘mencabik’ telinga para pendengar. “The Pledge” sebuah lagu yang didedikasikan untuk diri Orestes sendiri dan bagi semua para pelaku kancah musik metal yang kerap terkekang akibat kelekatan suatu pengaruh bermusik ataupun subgenre metal tertentu pada dirinya yang justru bisa menjadi bumerang siap lempar! Sekarang mereka berformasikan Herdityo Wibowo (vokal), Fachri Bayu dan Florentino Ariza (Guitar), Johan Franklin (Bass), Gemuruh Adhityatama (Drum). Tapi untuk single ini sendiri, mereka dibantu Kusuma Widhiana dari Parau mengisi departemen Drum, dikarenakan faktor internal yang mengharuskan drummer inti tidak bisa berpartisipasi.

    Robonggo

  • Download Lagu-lagu Indie Lokal, Aliansi Musik Nasional Mei 2016

    Download Lagu-lagu Indie Lokal, Aliansi Musik Nasional Mei 2016

    Bulan ini Aliansi Musik Nasional bertambah jumlah lagu indie lokal yang enak didengar dan bisa diunduh, dan hampir semua pulau besar di Indonesia sudah terwakili di jaringan musik yang dijalankan oleh para arkivis musik Indonesia.
    Kamu bisa mengunduh seluruh lagu yang ada di tautan ini. Kemudian bisa membaca cerita dari penjuru Indonesia lewat tulisan-tulisan di bawah. Selamat menikmati, mari berbagi.

    Zat Kimia – Dalam Diam

    Bali

    Ditulis oleh Muhammad Indra Gunawan

    Zat Kimia adalah sebuah candu baru ditengah gempuran riuhnya kancah lokal Denpasar. Tanpa tedeng aling-aling, mereka berjalan lebih tenang dalam setapak yang ramai. Dalam Diam mereka merayakan keheningan. Dalam diam mereka mendengarkan sekitar. Dan dalam diam pula, mereka berani memutuskan mana jalan yang akan mereka pilih.

    Ian Stevenson (Vokal/Gitar), Edi (Bass/Keyboard), Onki (Gitar) dan Kiki (Drum) adalah unsur yang menjadikan Zat Kimia menjelma menjadi senyawa yang adiktif bagi para pendengarnya. Nama-nama tersebut bukan nama baru di skena lokal Denpasar. Mungkin jika pernah mendengarkan lagu berjudul “Pria Dijajah Wanita” di era (kalau tidak salah) 2000an awal, kini sang biduan tersebut akhirnya mengeluarkan karya lagi bersama Zat Kimia.

    Dalam Diam, lagu yang dirilis satu hari sebelum hari raya Nyepi ini, mengajak saya kembali menelisik begitu luas kisah tentang lagu ini. Awalnya saya berpikir lagu ini adalah sebuah anthem perayaan penyepian, tapi ternyata ketika suatu waktu saya berbincang pada saat mereka sedang berkumpul di studio. Mereka menerangkan kalau lagu ini sebenarnya tentang bagaimana kita diam bukan berarti tidak berbuat apa-apa tapi untuk merasakan apa yang terjadi sekitar. Tentang apa yang akan kita lakukan selanjutnya. Kita berhenti sejenak untuk bersiap menjadi lebih baik lagi. Tentang dunia yang chaos, tentang cinta yang tak selalu hanya kepada lawan jenis.
    Begitu beragam unsur musik yang dibawa dalam Zat Kimia. Ketukan drum dengan tempo pelan, bebunyian gitar yang sesekali memekakan telinga, suara-suara yang berasal dari gelap menuju terang terbungkus rapi di lagu ini.

    Soundcloud : zatkimia
    Instagram : zatkimia
    Facebook : Zat Kimia

    Weekend Roll – Salt Water Boy

    Bandung

    Ditulis oleh Gagi Aria

    Hip hip uyeeahhh! Karakter suara tipis serak nan lincah dari vokalis Weekend Roll membawa bola permainan musik seperti ayunan pemain basket posisi small forward. Dia “playmaker” dalam setiap ayunan instrumen suara sehingga terdengar cantik walaupun distorsi dan energi permainan telah membuatnya berkeringat. Mari kita simak!

    Indigo Moire – How Far You Are

    Jabodetabek
    Ditulis oleh Robonggo

    Pertama kali melihat peformance mereka tampil di acara kolektifan yang bertempat di Reading Room, Kemang. Mereka terdengar seperti Title Fight sampai Turnover waktu itu. Band asal Bekasi ini terbentuk pada tahun Februari 2015. Awalnya Indigo Moire terdiri dari Sam (Bass/Vocal) dan Edwin (Lead). Mereka berdua teman seperumahan. Pada bulan Juni, Pandu bergabung mengisi rhythm, lalu tak lama dia keluar karena alasan tertentu. Pada bulan berikutnya, Leo (Drums), yang merupakan teman Sam dari kecil, ikut bergabung. Lalu Leo pergi ke Australia untuk kuliah, dan disanalah dia bertemu dengan Rey (Rhythm) dan mengajak ikut bergabung juga. Pada sampai saat ini, Indigo Moire masih “LDR-an”. Dan saya pun tegerak memilih single terbaru mereka “How Far You Are” untuk edisi bulan Mei. Selamat mendengarkan!

    Soundcloud: soundcloud.com/indigo-moire
    Facebook: facebook.com/indigo.moire

    Yossi Picasso – 90 Kilometer

    Malang
    Ditulis oleh Akhmad Alfan

    Yossi Picasso and Friends adalah grup hip-hop reggae yang terbentuk Februari tahun 2016, beranggotakan Darius aka Yossi Picasso, Pelle aka PAKUBUMI, Hari aka Big Dayers, dan Tony
    Gentong aka Fat-On-Nit. Yossi Picasso And Friends sendiri adalah sebuah merger dari Darius aka Yossi Picasso sendiri, Big Dayers dari Rap Street dan Colony Island yang terdiri dari PAKUBUMI dan Fat-On-It. Colony Island berkenalan dengan Yossi pada tahun 2015, dan setelah beberapa interaksi mereka memutuskan untuk merger. Yossi Picasso and Friends memulai debut mereka di bulan februari di gig Trap Of The Week #1 dan Keraskan Suara Vol.1 . Di saat mulai rekaman, Yossi Picasso and Friends belum mempunyai lagu sendiri sebagai grup merger, akhirnya sepakat membikin lagu baru dan menggabungkan 4 lagu Colony Island kedalam satu EP Yossi Picasso and Friends yang
    akan rilis tahun ini.

    Masterbation – Terekam

    Medan
    Ditulis oleh Rachmadi Perdana

    Beat drum purba, sound gitar mentah, serta vokal lantang barbaric memperkuat nuansa (proto) punk di band yang digawangi Irfan, Albar, Daniel dan Doli ini. Lagu Terekam sendiri menceritakan tentang kekesalan terhadap seseorang yang menjadi sumber masalah bagi orang lain.
    Seperti Ian Dury dan Iggy Pop yang sedang bermain lenong dengan alm. Benyamin S.

    Soundcloud : m.soundcloud.com/masterbation-music

    Herman – Melagukan Puisi

    Palangkaraya
    Ditulis oleh Theo Nugraha

    Salah satu penggalan lirik dari single solois Herman. baru saja merilis single dalam bentuk fisik saat RSD Palangkaraya 18 april 2016. Dan saat ini masih merapungkan beberapa lagu untuk mini album. Melagukan puisi yang bernuansa folk ini banyak terinspirasi dari sound pop Indonesia. Ujar Herman saat kami ngobrol bagaimana proses pembuatan Melagukan puisi.

    Herman dulu aktif sebagai vokalis Salenka (Punk Rock) sampai akhir 2014 dan sempat bersama Missing Rin (Pop) di tahun 2014 – 2015. Sampai akhirnya Herman mulai berencana solo dan terealisasi di tahun 2016. jadi sila dengar ego dari project solo Herman.

    soundcloud.com/hermanxherman
    twitter/hermanxherman
    nomor telpon : 0852 52 97 29 09 (WA)

    Wajak Abstrak – Di balik kabut

    Samarinda
    Ditulis oleh Happy M Brillianto

    Pertama kali tau band ini pas lagi garap RSD East Borneo 2015, tiba-tiba ada band baru submit untuk perform. Bener-bener baru, belum pernah perform, di akun Soundcloud baru ada satu lagu cover dan akhirnya terpaksa ditolak. Sampai akhirnya bisa nonton mereka live, terdengar nada-nada etnik dengan vokal dominan sendu. Folk modern, lirik sosial dan nada sendu bisa dibilang menjadi deskripsi Wajah Abstak. Gak lama setelah itu mereka menambahkan dua vokal latar perempuan yang membuat formasi mereka malah mirip band indie rock asal Jakarta yang baru kelar tour. Terlepas dari itu Wajah Abstrak cukup baik mengangkat tema sosial dalam lirik mereka, mengajak pendengarnya untuk merenung dan memahami.



    https://www.instagram.com/wajahabstrakproject/
    https://www.facebook.com/Wajah-Abstrak-200400770021776

    Figura Renata – Elegi

    Semarang
    Ditulis oleh Godham Perdana

    Figura Renata adalah duo muda-mudi yang memainkan pop berbalut akustik. Duo itu adalah Deviasita Putri dan Bima Sinatrya, yang mendirikan Figura Renata pada Oktober 2015. Single “Elegi” sendiri berwujud petikan gitar dan musik pop minimalis mengiringi suara manis dari sang vokalis. Saat ini “Elegi” telah mengudara di beberapa stasiun radio lokal maupun luar Semarang dan diperdengarkan di panggung-panggung Figura Renata yang mulai ramai ditanggap. Perjalanan mereka masih panjang, namun tampak cerah. – Godham Perdana



    https://www.instagram.com/figurarenata

    Teori – Sesari Selagu

    Solo
    Ditulis oleh Dimas Purnomo Fridbramantyo

    Single sesari selagu merupakan salah satu lagu di album perdana mereka yang bertajuk “Tantrum”. Lirik bercerita soal hidup seorang manusia yang sudah ter-atur dan harus berjalan seakalnya dan pasti berakhir sesuai dendangnya. Serta pengharapan akan terkabulnya permohonan penebusan akan segala kekurangan. Album “Tantrum” yang dirilis bebarengan dengan perjalanan Menahan Menahun Tour bersama Teori dan Soloensis. –

    Black Rawk Dog – Shine & Fun

    Sidoarjo

    Ditulis oleh Yudhistira Purwa

    Celtic Punk , rupa rupanya jenis musik yang satu ini sudah mulai menjamur dari beberapa tahun terakhir di nusantara ini . salah satu jagoan lokal yang memutuskan untuk berkarya dan mencipta di jalur ini adalah Black Rawk Dog , Band yang terbentuk di Sidoarjo pada akhir 2010 ini di gawangi oleh Edrea (Vocal & Accoustic Guitar) , Boliph (Fiddle & Harmonika) , Adam (Vocal,Whistle & Bagpipe ) , Wildan ( Banjo & Pianika ) , Irul ( Vocal & Electric Guitar) , Andi ( Vocal & Bass ) , Afri ( Drum ) mengusung nafas Irish Music dalam setiap karya mereka yang banyak dipengaruhi oleh Dropkick Murphy , Flogging Molly dsb. Awal tahun 2014 kemarin mereka ikut dalam kompilasi yang di organisir oleh WLRV Records bersama 14 band tanah air yang “sejalan” untuk update lebih lanjut dari mereka bisa langsung kunjungi di facebook page mereka , sukses buat Black Rawk Dog ! ciao!

    https://www.facebook.com/Black-Rawk-Dog-476894755759453/?fref=ts

    Rhnk – Badai Pasir

    Surabaya

    Ditulis oleh Abraham Herdyanto

    Tidak bisa dipungkiri bahwa Surabaya adalah kota industrial, namun bukan berarti di kota ini tidak ada senimannya. Rhnk (Baca: Rahang, red.) adalah hasil buah perpaduan anak-anak fakultas seni rupa sekaligus satra. Menggabungkan seni dengan musik rock, hasilnya adalah lagu berbau rakyat yang sarat akan kritik-kritik sosial. Tentu saja bahasa juga adalah salah satu isunya sehingga lirik-lirik dalam lagu mereka menggunakan istilah bahasa Jawa. Lihat saja lagunya yang berjudul Gemah Ripah Loh Jinawi atau Tong Edan. Namun, untuk yang dibagikan kali ini diambil adalah Badai Pasir, single yang paling mantap di telinga mereka yang suka sesuatu yang cadas.

    Akila – Let Me Go

    Yogyakarta
    Ditulis oleh (Komang Adhyatma/www.kanaltigapuluh.info)

    Louissa Akila atau lebih sering dipanggil Akila ini adalah seorang solois muda dari kota Jogja yang bisa dibilang namanya tidak terdeteksi di ranah dunia musik kota tersebut.

    Berdasarkan pengalaman pribadi dalam kehidupan sehari-harinya, Akila belum lama ini telah merilis sebuah mini album yang berjudul ‘Ares & Eirene’, dimana album yang berisikan 6 buah lagu ini secara tidak langsung merepresentasikan bakat yang terpendam dalam diri Akila terutama dalam bidang sound engineering, dimana Akila mengerjakan proses recording, mixing dan mastering album ini seorang diri. Hal ini tidak aneh juga, karena sebelumnya Akila telah mengenyam pendidikan formal di sebuah kampus Audio Engineer di Jakarta.

    Sebagai portofolio awal dari Akila dalam berkarya, mini album tersebut bisa dibilang menjadi jejak awal Akila dalam industri musik di Indonesia, selagi dirinya akan melanjutkan studinya di Jerman selama beberapa waktu kedepan.

    Download lagu Indonesia terbaru
    Aliansi Musik Nasional Mei 2016
  • Download Lagu-lagu Indie Lokal Terbaik, Aliansi Musik Indonesia April 2016

    Download Lagu-lagu Indie Lokal Terbaik, Aliansi Musik Indonesia April 2016

    Band indie Indonesia adalah yang terbaik, Karya musisi dari kancah musik berdikari rupanya belum juga surut semangat untuk membangun kebisingan di nusantara ini. Dimulai dari hanya 4 kota, lalu sekarang kita sudah mendapat kiriman mp3 gratis dari 12 kota!. Semua bisa didownload di tautan ini, sambil meluangkan waktu untuk membaca tentang band-band indie yang berpartisipasi di bawah ini.

    Jangar (Bali)

    Dengan lantang berteriak tentang tragedi kemanusiaan yang pernah terjadi di Indonesia. Begitu menggebu saat lagu Gestok ini dimainkan, saut-sautan berirama dan penuh amarah bak letupan gunung yang akan meledak dengan kekuatan dahsyat. Gus Ten (Vokal), Pasek (Drum), Dewa Adi (Gitar) dan Gus Rai (Bass) juga mengutip sebuah kalimat dari film The Act Of Killing kedalam lagu ini. Terbentuk dipertengahan tahun 2015, bisa terbilang cukup baru dalam kancah independent di Denpasar namun sebenarnya mereka adalah orang-orang lama yang aktif berkesenian di kota Denpasar. Jangar perlahan mulai menghimpun kekuatannya untuk ledakan-ledakan selanjutnya, terbukti dengan riuhnya setiap panggung yang mereka temui. Stage diving, teriakan yang meracau para penonton sampai berjingkar diatas panggung adalah pemandangan yang selalu saya saksikan ketika menonton mereka.
    (Muhammad Indra Gunawan)


    @jangar_official (Twitter)
    @jangar_official (Instagram)

    Texpack (Bogor)

    Texpack merupakan harapan baru dari scene musik Indie Rock Bogor setelah bubarnya Reid Voltus beberapa waktu lalu. Mereka memainkan musik Indie Rock revival bising yang banyak terpengaruhi oleh 90’s lo-fi alternative sound a la Guided By Voices, Superchunk, Sebadoh, dan Dinosaur Jr.

    Tidak hanya sekedar bising, mereka juga memasukkan sensibilitas pop a la Teenage Fanclub dan The Lemonheads pada notasi lagu nan catchy dengan power chord yang tetap gagah, berisik, dan sleazy.

    Mendengarkan “Bored Song” layaknya mendengarkan celotehan anak kos berkaus kutang yang belum mandi tiga hari di suatu sore sembari menonton serial Baywatch yang diputar di televisi, gerah dan menggairahkan.
    (Gilang Nugraha)


    Sommerhaar
    (Jakarta)
    Pertama kali bertemu dan berkenalan dengan duo ini, saya dihadiahi kaset EP Farscape et Dives. Sebuah debut EP dari duo Sommerhaar yang beranggotakan Dimas A. Wibisono dan Fitrah U. Akbar (Uta). 4 lagu bernuansa pop dalam Farscape et Dives bercerita tentang fragmentasi kehidupan dan direkam secara home recording.
    (Emirul Fahmi Fanshuri)

    I (Malang)
    Dibentuk Oktober 2015, terdiri dari Drajat, Roub, Satria, Aan, Eka dan Teddy. I Menawarkan sound post rock yang diusung oleh band – band post rock seperti PG.Lost, Mono dan God Is An Astronaut. I adalah satu band post rock dari sekian biji band post-rock yang masih aktif di Malang. Tersusun dari sisa sisa band post rock juga bernama Sepatu Usang, I Post Rock melangkah pasti menatap masa depan. Langkah itu terwujud dengan rilisnya album split mereka bersama band jepang Plant Cell yang dibidani oleh Gerpfast Kolektif secara digital yang vouchernya bisa dibeli di page Gerpfast Kolektif dan fisiknya bisa didapatkan via The Paimo Distribution.
    (Alfan)


    https://www.facebook.com/ipostrock

    Shadowplay (Medan)

    Valdi Fahrizi (guitar, voc), Agung Tri Nugraha (bass), dan Ananda Firman (drums) adalah tiga pemuda lokal Medan yang dulunya aktif di skena hardcore punk berbasis tongkrongan, label rekaman dan juga penggiat gigs hardcore punk bernama Madafaka Records yang cukup dikenal di seantero Indonesia. Namun kali ini kita tidak akan membahas itu. Kecintaan para personilnya terhadap lagu indie pop Nusantara di dekade 2000an membuat mereka membentuk band indie pop ini yang bernama Shadowplay, dan kemudian Keke Alyssha (guitar, backing vocal) dan Michelle F (keyboard) bergabung dan mempermanis unit musikal ini.

    Cukup layak disimak dan cukup terdengar influens dari band pop ibukota yang pasti anda suka. Akan tetapi Shadowplay menawarkan irama yg kadang upbeat kadang mellow, menonjolkan permainan gitar dan harmonisasi vokal personilnya, tanpa tidak mengesampingkan peran personil lainnya.
    Di Medan ada Sate Padang yang terkenal enak. Dan disebelahnya ada Eskrim Soda buatan rumah yang cukup legendaris. Memakan keduanya bersamaan mungkin cukup menggambarkan perasaan ketika mendengar lagu Point Of View mereka.
    (Rachmadi Perdana)

    Soundcloud :

    Youtube :

    Instagram :
    @shadowplaymdn

    Vitra Prawira (Palangkaraya)

    Saat awal – awal tinggal di Palangkaraya saya berjumpa dengan Vitra Prawira. seseorang yang tentunya aktif dalam skena Palangkaraya. saya mulai mencari tau tentang aktivitasnya.
    dia juga orang di balik KEPO (Indie Pop), Penumbra (Post rock) dan Brutufuck (Metal) tapi ketika mendengarkan proyek egonya yang memakai nama sendiri saya jadi kembali era 2000an.
    vitra yang memulai proyek solois di tahun 2012 ini memang banyak terinfluence dari pop indonesia di tahun 2000an walau ada sentuhan postrock dan sound j- pop.
    jadi sila dengar dan nikmatin curahan hati vitra yang terkemas lewat lagu – lagunya.
    (Theo Nugraha)

    https://vitraprawira.bandcamp.com/

    Davy Jones (Samarinda)

    Euforia musik Rock n’ Roll di Samarinda sudah sempat padam sampai akhirnya disulut kembali oleh empat pemuda ini. Davy Jones sang juru selamat datang mengusung pesan “Sex, Dance, RocknRoll”. Musik ngajak joget, lirik nakal dan aksi panggung yang asoy (terutama si vokalis) sudah jadi ciri khas tersendiri sejak awal kemunculan mereka. Davy Jones adalah band yang aktif dan juga produktif, terbukti dalam setahun telah merilis 8 lagu di akun Soundcloud mereka. Kalau kamu lagi bosen menghadapi awal pekanmu dengan segala tumpukan pekerjaan, lagu-lagu Davy Jones bisa jadi moodbooster buat kamu. Long live Rock n’ Roll!!
    (Happy M Brillianto)


    https://www.instagram.com/davyjones_official/

    Rubber Heat (Semarang)

    Satu lagi band indie rock potensial dari Semarang. Walau masih berbekal satu single, Rubber Heat yang baru berdiri pada September 2015 tersebut mulai mencuri perhatian. Meracik pengaruh dari masing-masing personel lantas menghasilkan pop rock a la Phoenix dan Catfish And The Bottlemen. Dibentuk oleh sang bassist Wahab yang kemudian mengajak dua gitaris Bima dan Gading, lalu Hanung sebagai drummer dan Aam sebagai vokalis. Tak sabar menanti rilisan perdana mereka yang kabarnya akan dilepas tahun ini.
    (Godham Perdana)

    https://www.instagram.com/rubberheat

    Drown (Sidoarjo)
    Dimulai di tahun 2015 dari kota Sidoarjo , band yang merupakan side-project dr beberapa band lokal sidoarjo ini cukup menarik perhatian , dimana rata rata band dari sidoarjo biasanya mengusung genre hardcore punk / old school hardcore , lalu Drown datang dengan membawa Emotive-Hardcore yg banyak terpengaruh dari Touche Amore , Piano Become The Teeth , Basement , Goodtimes Boys dan beberapa band lain yg serupa . band yang digawangi oleh Pandu (vocal) , Lukman (guitar) , Hasan (guitar) , Adhi (guitar) , Alif (bass) , Adimas (drummer) ini akan merilis sebuah EP yang bertajuk Worthless ini rencana dilepas ke publik sekitar bulan mei dan update terbaru dari mereka sekarang sedang dalam tahap penggandaan , semoga semogi !
    (Yudhistira Purwa)

    https://drwnofficial.bandcamp.com/releases

    Suabakar (Solo)
    Suabakar mungkin orang” mengira ini band baru, ternyata tidak suabakar merupakan proyek reinkarnasi dari THE JAILBREAK. Menurut mereka nama suabakar diambil dari kosa kata Bahasa Indonesia : Swabakar // Swa.ba.kar // n. Yang memiliki filosofi sebagai sebuah kemampuan untuk menghasilkan api sendiri. Band kota Bengawan dengan Unit Heavy Rock, Doom, Stoner Rock semacam Sleep, Weedeater, The Swords, Black Sabbath dan Down. Baru saja mengeluarkan EP Samsara disaat Record Store Day di Lokananta Solo, berisakan 3 lagu dan salah satunya Dimensi Imajinasi yang ada di kompilasi aliansi musik Indonesia bulan ini
    (Dimas Purnomo / Tambun Bergairah)


    Youtube Channel : Suabakar Music

    The Flatters (Surabaya)
    Akhirnya ada angin segar untuk dunia musik di Surabaya. The Flatters, band yang personilnya masih duduk di bangku SMA dan tahun pertama-kedua kuliah, memberikan penawaran berupa lagu rock alternatif macam The Sigit yang bercampur dengan rock lokal Surabaya. Sudah sangat langka untuk menemukan musik macam ini di kota Pahlawan, terlebih untuk kawan-kawan angkatan 2014-2016, tetapi The Flatters memberikan secercah harapan akan hal itu. Enam lagu dalam EP Super Gigantic Noise sudah mereka telurkan sejak 2015 lalu, namun rilisan fisiknya baru saja dirilis pada Record Store Day 2016 kemarin. Jadi, silakan mencari CD atau mengunjungi bandcamp mereka.
    (Abraham Herdyanto)

    http://theflattersid.bandcamp.com/album/super-gigantic-noise-ep

    Dirtylight
    (Yogyakarta)
    Terbentuk pada taun 2010, dan terbukti hingga saat ini musik postrock masih bertahan di Yogyakarta. Dirtylight tepat pada perayakan record store day kemarin merilis EP perdananya dan menjadi salah 1 best seller di perayaan tersebut.
    Band ini cukup unik karena para personelnya memiliki interest genre musik yang berbeda, sebuat saja mulai dari musik etnik, punk, screamo hingga industrial music.
    Lagu Nextsong ini mencoba mengingatkan manusia untuk lebih menghargai dan mensyukuri “proses” daripada hasil/nilai/strata/ apalah segalanya yang pada umumnya didapatkan tanpa dirinya sendiri menyadari.
Semuanya tidak akan sempurna.. Tetapi jika kita merasuk dalam setiap detail proses dalam diri manusia baik positif atau negatifnya tetapi Itulah harta/hasil/nilai yang tidak dapat ditukar dengan apapun, seperti itulah gambaran dari single terbaru Dirtylight yang satu ini.

    (Komang Adhyatma)

    Loner (Bandung)

    Teknologi membuat proses rekaman menjadi efektif dan tentu membuatnya semakin efisien. Tidak hanya itu, media sosial sebagai platform yang menjadi wadah para musisi berkarya pun banyak menawarkan peluang yang luar biyaza toh. Tentunya ini adalah asupan energi bagi generasi muda yang memiliki passion di musik untuk membentuk sebuah band. Saya pribadi tidak bisa membendung lagi munculnya band-band baru ataupun songwriter yang bermunculan di berbagai belahan dunia maupun di tanah pasundan, gemah ripah loh jinawi ini. Saya teringat kala dulu kalau ingin mencari musik band lokal baru harus main ke gigs lokal, atau mendengarkan radio yang memiliki program musik “indie”, atau ya pergi ke clothing line yang mendukung distribusi rilisan fisik dari band lokal. Sekarang, saya maupun anda bisa menemukannya hanya dengan membuka perangkat komunikasi dan online. Nah, band yang saya dapati untuk Aliansi Musik edisi ini adalah hasil rekomendasi seorang kawan via komunikasi online saja. Loner namanya, band yang belum lama terbentuk ini saya rasa memiliki potensi. Karakter vokal serak dan paduan distorsi rock jalanan, urakan nan mentah yang mereka usung bisa menjadi kekuatan. Seperti apa mereka? Monggo disimak saja.

    (Gagi Aria Alembana Fatkhurahman)

     

    free download mp3 musik Indonesia
    Aliansi Musik April 2016
  • Aliansi Musik Nasional, Maret 2016

    Aliansi Musik Nasional, Maret 2016

    Setelah berkompromi satu sama lain, saya dan Eric akhirnya memutuskan untuk merilis edisi ini di akhir bulan Maret iniawal April ini.

    Kita masih membuka untuk kota-kota manapun yang ingin turut bergabung dengan kompilasi Aliansi Musik. Namun sebelum itu terlaksana, nikmati dulu deretan band potensial berikut.

    Klik di sini untukdownload lagu-lagu terbaik dari berbagai kota di Indonesia.

    Selamat menikmati.

    NEAT

    Noisy, Eccentric And Twisted, kepanjangan dari Neat kuintet indie funk rock yang berbasis di Bandung. “I Wish You a Karma” sumpah serapah yang dicurhatkan menjadi sebuah melodi yang menggebu-gebu. Renungan santai dan nostalgia bagi yang punya pengalaman sama dengan mereka, lewat memperhatikan lirik yang ‘nyeleneh’ dari lagu tersebut. Riff gitar yang nge-blues dan nada yang groovy. Sebuah warna yang tidak terlalu baru namun memikat.
    – Intan Zariska Daniyanti (Bandung)

    My Secret Identity

    Terbentuk pada tahun 2004, My Secret Identity memang bukan band pertama yang memainkan musik Indie Pop di Bogor, mereka tidak pernah wara-wiri secara masif di setiap pagelaran musik, tetapi mereka adalah salah satu penanda keberadaan musik Indie Pop di Bogor, salah satu yang bertahan hingga saat ini walaupun bongkar pasang personil harus dilakukan dan hanya menyisakan Ricky Hendriansyah sang vokalis sebagai satu-satunya member orisinil. Mereka adalah salah satu yang paling siginifikan dan tepat untuk menggambarkan bagaimana seharusnya musik Indie Pop dimainkan; muram, hangat, bersahaja, dan naif, hal ini dapat anda dengar pada Every Summer, single pertama dari debut album mereka yang baru saja rilis setelah 12 tahun tertunda “Bittersweet and Those In Between”.
    – Gilang Nugraha (Bogor)

    MUTOMBO

    Nama mereka pertama kali saya dengar dari mulut kerabat saya. Waktu itu, kondisinya sedang saling meminta rekomendasi band yang ‘benar-benar’ baru di sebuah warkop dekat rumah saya. Mutombo, band yang sekilas mengingatkan saya dengan atlit basket 90’an. Mereka memang tidak bisa terlepas di era tersebut. Musik yang mereka usung pun tidak jauh dari unsur-unsur Pavement, Yo La Tengo, dan Guided By Voices. Adalah Joko Wiryawan (Gitar), Anto F. Rachman (Bass), Budi Triyadi (Drum), tiga pemuda yang memiliki etos bersama “win big or go home” (pulang juga tidak mengapa sebenarnya, rumah itu nyaman dan kami tukang tidur). Serta memilih “New Orleans” yang terinpirasi dengan film Easy Rider. Film tentang perjalanan Peter Fonda dan Dennis Hopper berkendara bebas tanpa kepastian dengan backdrop kota New Orleans. Mungkin itulah mengapa mereka mengklaim sebagai band senang-senang dan paling awut-awutan se-Jakarta.
    – Robonggo (Jakarta)

    JENAR

    Jenar adalah Lourdy Nico, Rangga, Saddam Mira dan Denny Yanuar tahun 2014 awal. Membawakan sound distortif sekaligus meruang, sedikit mengingatkan kita pada Placebo, The Veldt atau bahkan Elliott dan The Autumns, sebuah sound yang mungkin bisa ditrace dari band band malang seperti The Illusion, Crimson Diary maupun Fan. Kabut distorsi-delay yang tidak begitu pekat berpadu vokal yang cocok untuk grup rnb membuat Jenar mempunyai nilai akses lebih untuk entry level shoegaze listener. Mereka sudah menelurkan satu buah EP berjudul FASE yang dibidani oleh one and only Barongsai Records pertengahan tahun 2014.
    – Alfan (Malang)

    KAVVAH

    Memasuki tahun 2016, semakin banyak band baru yang bermunculan di Yogyakarta dan mulai produktif dalam berkarya, salah satunya adalah KAVVAH.
    Dengan membawakan musik bernuansa surf pop, KAVVAH merilis single perdananya yang berjudul Happy Crab. Sebelumnya pada tahun 2015 lalu KAVVAH telah merilis EP yang direkam secara live dengan tajuk ‘Live at Applessed”.
    KAVVAH sendiri yang beranggotakan Amanda Ade (vocal) Riyo Mahendri (guitar) Aga Yoga (bass) Ron Baskoro (keyboard) Rinus Satrio (drum) ini sebenarnya bukan sepenuhnya oleh orang-orang baru, karena terdapat member dari band postrock ANGINA yang juga menjadi frontman dari band ini dan juga Rinus diposisi drum yang juga bermusik di band Tripping Junkie.
    – Komang Adhyathma (Jogjakarta)

  • Aliansi Musik Nasional; February 2016

    Aliansi Musik Nasional; February 2016

    Bulan ini ada enam lagu ter-gress yang bisa kamu unduh dari 6 kota di Indonesia. Mari diunduh dan disebarkan kecintaan kita pada musik-musik asoi dari pelosok Indonesia.

    Ke enam lagu tersebut bisa didapatkan dengan mengklik tautan ini. Selamat menikmati, dan mari disebarkan.

    The Classhat – Tante Janny (Surabaya)
    Rock n roll selalu menjadi virus yang efektif, mudah menyebar dan gampang merajalela dalam dunia gigs Surabaya, mengingat banyaknya band yang mengusung genre tersebut di kota Pahlawan. Dari sekian banyaknya band-band tersebut, The Classhat adalah salah satu yang termuda dan mampu meriliskan karyanya baru-baru ini melalui EP Demolition. Sebagai penggambarannya musiknya, oldies but fun mungkin adalah kata yang paling cocok untuk mendeskripsikan image band-nya. Coba dengarkan saja single yang ini, nanti kamu tahu sendiri maksudnya.

    Hello Benji and The Cobra – Terbawa Emosi
    (Medan)

    Mahasiswa IKJ dan vokalis It’s Different Class, Prima Sakti Iskandar aka Benji, pulang kampung ke Medan dan terbentuklah Hello Benji and The Cobra. Hampir satu dekade HB&TC telah terbentuk dan gonta-ganti personil, namun tak satupun rekaman yang tercipta, begitupun juga unggahan video di youtube. Hanya ada selentingan bahwa stage performance Benji itu gila. Di tahun 2015 lalu, Benji mengajak Arief (guitar), Tama (bass), dan Taufik (drum) untuk memperkuat unit indo-psikedelika-rock nya dan akhirnya merekam beberapa lagu. Beda dengan karakter IDC yang lebih “rapi”, HB&TC lebih keruh dan deras, seakan-akan hanyut terbawa aliran Sungai Deli. Ini bukan lagi kelas yang berbeda, ini Hello Benji and The Cobra yang berbisa. – Rachmadi Perdana @sihebatman/@madwrapmedan

    The Pronks – Lullaby for Insomnian (Malang)
    Adalah band yang dibentuk Rendra( bass + vocal), Erlanda (gitar) dan Gigin (drum) pada tahun 2011 di kota Malang. Ketika itu para personil The Pronks datang ke kota Malang untuk mengenyam pendidikan tinggi di salah satu fakultas sastra di Universitas Brawijaya. Selama pencarian sound mereka, The Pronks menghabiskan waktu jamming di studio untuk menentukan tatanan efek dan sound yang akan mereka mainkan. Akhirnya tahun 2012 mereka memutuskan memakai nama The Pronks dan membawakan lagu – lagu bernafaskan heavy metal dan stoner kental dari Black Sabbath, Led Zeppelin bahkan Pentagram. Di tahun 2012 mereka memulai debut live performance dengan membawakan lagu mereka sendiri yaitu Do It, Cough dan Anger. The Pronks sendiri sudah merilis EP Lullabies For Insomnian berisikan 4 lagu yaitu Do It, Cough, Sound Like Holiday dan Lullaby For Insomnian yang bisa diakses di Itunes maupun 5beat via Barongsai Records.

    Chick and Soup – Jadi Siapa Hari Ini (Jogjakarta)
    Sebagai pendatang baru, trio akustik Chick and Soup ternyata dapat membawa warna baru di skena musik sidestream Yogyakakarta. Disela bermunculannya band-band yang membawakan musik folk, Chick and Soup hadir dengan membawakan musik pop akustik ceria nan sederhana.
    Lagu Jadi siapa hari ini yang dibawakan oleh Nikolas Nino, Margareta Dana dan Gusti Arirang yang juga putri dari seniman Djaduk Ferianto ini bercerita tentang pencapaian hidup seseorang setiap harinya setelah membuka mata di pagi hari dalam menjalani hari.

    rekah – Untuk Seorang Gadis yang Selalu Memakai Malam (Jakarta)
    https://rekah.bandcamp.com/

    Pernah mendengar sebuah kejadian didongengkan dan dilebur menjadi berbunyian raungan, desis, pekik, rapalan, tangis, gerung, lolongan, denging, racauan, lengking, atau bebisingan sekalipun? Mungkin debut single dari Rekah bisa menjawabnya. “Untuk Seorang Gadis yang Selalu Memakai Malam” memadukan agresifnya kegelisahan dengan melankoli. “Kami percaya bahwa hanya dengan memeluk kegelisahan erat-erat kami dapat melahirkan bintang-bintang yang menari” jelas Rekah dalam rilisan pers yang kami terima. Memang seperti itu adanya, emosi kalian dikoyak-koyak kegelisahan dalam musik yang mereka ciptakan. Adapun mereka adalah Faiz Alfaresi (vokal), Marvin Viryananda Saliechan (gitar), Tomo Hartono (vokal, gitar), Junior Johan (drum), Yohan F. Christian (bass) yang lagunya bisa kalian dengarkan di Aliansi Musik Februari. – Robonggo

    Heaven In – Hidup Dalam Stigma (Bogor)

    Jika ada sebuah scene yang terus aktif bergerak dan melakukan regenerasi secara organik di Bogor, maka scene hardcore/punk lah jawabannya. Salah satu hasil dari proses regenerasi tersebut kemudian memunculkan nama Heaven In. Sebuah band muda yang memainkan style chaotic-hardcore/sludge yang dipengaruhi oleh Code Orange, Everytime I Die, Birds In Row, dan Rise And Fall. Heaven In telah merilis 1 buah EP dan 1 buah album berjudul “Norns” yang baru saja dirilis pada awal tahun lalu dan “Hidup Dalam Stigma” merupakan single pertama mereka. Sebuah track sludge/hardcore berdurasi singkat yang cukup menjanjikan dan segar walapun secara kualitas sound rekaman masih terasa mentah dan kurang lebar. – Gilang Nugraha

    Download mp3 gratis
    Download mp3 gratis band indie Indonesia terbaru