Tag: Aliansi Musik

  • Aliansi Musik Edisi Januari 2016

    Aliansi Musik Edisi Januari 2016

    ALIANSI MUSIK JANUARI 2016

    Hola! Setelah menghilang begitu lama akhirnya kompilasi lintas kota ini kembali ke khayalak luas. Sekian lama kita tinggalkan bukan berarti kita tidak update dengan perkembangan musik arus pinggir di kota masing-masing. Melahan kita semakin banyak menemukan musisi-musisi berpotensial mengisi nama baru di jajaran musik lokal. Untuk sekarang kita baru mengkurasi sekitar pulau Jawa dengan perwakilan pilihan kita, tapi tidak menutup kemungkinan bagi kota/daerah manapun bergabung dengan Aliansi Musik ini. Jadi, nikmati saja daftar lagu berikut;
    Unduh di tautan ini.

    Kolibri – Blank Television (Surabaya)
    Mungkin untuk sekarang yang mampu menandingi musikalitas Megatrvh dari Malang adalah Kolibri. Entah benang merah apa yang melilit mereka, namun jika didengarkan secara seksama musik mereka memiliki kemiripan. Vokal yang lebih mengarah ke puisi tanpa terkekang pada nada gitar dan tempo drum, banyak unsur kejutan materi dalam tiap lagunya, ya macam begitulah. Memang masih raw sekali untuk rekamannya ini, tapi tetap bisa diharapkan untuk lirik-lirik yang lebih puitis serta lebih teratur ke depannya. – Abraham Herdyanto

    Intenna – White Shadow (Malang)
    Kuartet shoegaze dari Malang ini telah berkarir selama hampir 5 tahun. Telah merilis satu split album, terlibat dalam kompilasi shoegaze dunia, Demo dan baru baru ini LP bertajuk Helter Skelter yang berhasil mengukuhkan posisi Intenna di blantika musik malang bahkan Internasional. Obing, Anto, Puguh dan Hendra telah memberikan sumbangsih kelas internasional ke online radio airplay di Inggris dan Kanada sehingga tak hanya kawan kawan yang ada di Indonesia saja yang bisa menikmati tapi juga publik internasional juga mengapresiasi. White Shadow ini dipilih karena karakternya yang kuat, yang tidak hanya bermain efek namun juga memilihnya dengan tepat dan mengaransemennya dengan baik. Seperti menikmati perjalanan 2 jam yang mestinya singkat tapi terasa panjang karena memang nikmat. – Akhmad Alfan

    Ellipsis – Tigris (Bandung)
    Melodi-melodi emosional dikombinasikan dengan tempo yang kompleks merupakan fondasi utama aransemen musik Ellipsis. Tak heran jika terdapat pengaruh dari The Mars Volta dan toe dalam tiap lagu. Namun, Ellipsis membuatnya lebih variatif dengan pendekatan berbeda sesuai ciri khas mereka. Bisa dibayangkan ketika post-rock dan math-rock dileburkan ke dalam nuansa instrumental yang grandeur. Perpaduan yang menarik bukan? – Gagi Aria Lembana Fatkhurahman

    taRRkam – Mahameru Selfie Destroyer (Jakarta)
    taRRkam hanya sekumpulan bocah pemuja Dead Kennedys dan segala 70’s/80’s Hardcore Punk bands sebagai konsumsi wajib untuk telinga Ape (vokal), Epan (gitar), Haryo a.k.a Oyob (Bass),dan Bagas (Drum). Banyak mengangkat tema tentang fenomena apapun yang ada dekat di sekitar mereka, salah satunya “Mahameru Selfie Destroyer” – yang ada di EP pertama taRRkam yang berjudul “Transcend Massive culture”- bercerita tentang fenomena latah trend, dimana orang­orang mendadak menjadi seorang pendaki gunung, dan sedikit banyaknya kehilangan esensi utuh dari pendakian tersebut. Telinga kita pun meradang dibuatnya dengan gitar yang ngebut sambil mendengar seruan “Mahameru Selfie, Selfish, Selfie [Destroyer!]” . Seolah menampar semua oknum pencinta alam dadakan. – Robonggo

    The Scenesters – Bad but Rules (Solo)
    Seperti kehidupan anak muda akhir baliq yang bebas, kesana kemari sesukanya sendiri sampai mereka dicap nakal menurut mata orang lain, namun masih memegang teguh spirit mandiri, dan tidak suka mengganggu orang lain. Dari segi karakter suara, jika dibandingkan dengan single pertama dulu, single yang ke-2 ini lebih kental dibalut dengan kesan ombak dan fuzz yang lebih mendominasi. Di awal tahun 2016 kemarin. – Dimas Purnomo

  • Aliansi Musik Akhir Tahun 2014

    Aliansi Musik Akhir Tahun 2014

    Mohon maaf atas Aliansi Musik yang kami tiadakan di bulan November. Memang suatu kesengajaan mengingat di akhir tahun Deathrockstar ingin memberikan yang spesial kepada penikmat musik di Indonesia lewat kompilasi ini. Siapa tahu bisa menjadi teman menghitung mundur menuju tahun baru, bagi kalian yang menghabiskan waktu sambil surfing internet diluar keriaan yang ada.

    01. Raoul Dikka – Sepatu Biru (Malang)

    Raoul Dikka, seorang yang sangat misterius di jagat musik indiepop malang. Walaupun dengan minim jam terbang tapi materi rekaman selalu update dan unik diantara sejawatnya di kota ini. Mengambil influence dari neo psikedelia garage australia seperti tame impala, maupun Flaming Lips. Kali ini mengambil moniker Polisi Merah , raoul siap menginvasi telinga kita dengan Senjata, Sepatu biru dan Mobil Tua (koes-ploes cover). —Akhmad Alfan Rahadi Akhmad Alfan Rahadi (Malang, malangsubpop.wordpress.com)

    02. Jungkat-Jungkit – Kuku (Solo)

    Said dan Adis adalah sepasang kekasih yang memiliki ketertarikan dan selera yang
    tidak jauh berbeda terhadap musik Blues, meskipun perjalanan musik mereka cukup
    berbeda. Bertemu di komunitas Blues Kota Solo, keduanya saling kenal. Kemudian Agustus
    2013 mereka memilih untuk membentuk duo akustik bernuansa bluesy. Beberapa
    panggung terlewati oleh duo yang belum memiliki nama ini. Singkat cerita, mereka sepakat memilih Jungkat-Jungkit sebagai nama duo. Filosofi dan harapan tentang ‘keseimbangan’
    menjadi alasannya. Album pertama sedang digarap. Sambil terus berproses dan
    menggarap album, Jungkat-Jungkit merilis single ‘Kuku’ serta official merchandise berupa
    kaos, sebagai bukti keseriusan bermusik mereka. —Dimas Purnomo Fridbramantyo (deanstreetbillys.wordpress.com)

    03. Talking Coasty – Second Summer (Yogyakarta)

    Saat ini Yogyakarta sedang dilanda lesu nya band-band baru yang masih malu-malu untuk muncul, terutama di skena indies. Talking Coasty menjadi jawaban dari beberapa band baru yang sudah mulai kembali bermunculan di Yogyakarta saat ini. Meskipun pada awal band ini terbentuk sangat di indentikkan oleh banyak pihak sebagai versi lain dari Best Coast, band surf pop asal Los Angeles, California, mereka akhirnya dapat menemukan bentuk musik mereka sendiri dimana saat ini Talking Coasty sedang menjalani proses mixing untuk album barunya. —Komang Adhyatma (Yogyakarta www.kanaltigapuluh.info)

    04. KarnaTra – Heroine (Jakarta) 

    KarnaTra masih memegang beberapa elemen substansial dari era musik indie 90-an, mereka mencoba untuk menggambarkan dunia yang aneh dan sinis mereka, dalam cara yang lebih sejuk. Menurut saya, tiada yang lebih syahdu dari band alternatif menyanyikan lirik-lirik puitis. — Robby Wahyudi Onggo (Jakarta, www.deathrockstar.club

    05. Mooikite – Chaotic On The Spaceship (Surabaya)

    Setelah merilis single pertamanya “Eyering”, Mooikite band alternative grunge asal Surabaya merilis single kedua mereka dari album “Strange Invitation” yakni “Chaotic On The Spaceship”. Lagu ini bercerita tentang kekacauan waktu pesawatnya masuk ke gravitasi planet tidak dikenal. Atmofernya yang tebal dan mengandung banyak oksigen yang dapat membakar lapisan pesawat. Strange Invitation sendiri sebuah cerita yang berlatar kehidupan manusia sebelum meteor menabrak Bumi bertahun-tahun yang lalu. Menceritakan empat orang yang menerima undangan (strange invitation) untuk mengarungi luar angkasa. Petualangan ke planet yang asing pun berlangsung, halusinasi, hingga bertahan hidup bertarung dengan Raptor, meski akhirnya planet tersebut meledak dan serpihan terbesarnya bergerak menuju Bumi. —Emirul Fahmi Fanshuri (Surabaya, praotozine.wordpress.com)

    06. Marga O – Berlari Mengejar Mimpi ft Miss Pramz (Malang)

    Hendik Harianto lahir pada tanggal 15 februari, Dengan alias Marga o, mulai mencuri perhatian saya 2013 lalu dengan lirik – lirik rapnya yang bertemakan love, friendship dan semangat hidup. Hendik memulai awal karirnya di kota Malang bersama teman-teman pada tahun 2002 membentuk satu grup bernama RapStreet. Pada tahun 2003 beberapa anggota RapStreet bernama Blazta, Xwu, Dafu serta Marga O Sendiri membentuk grup baru yang di beri nama NBS (no block sistem). Tetapi grup NBS (no block sistem) dan Rap street ini hanya bertahan hingga akhir tahun 2008. Karena Marga O ingin tetap berkembang di dunia musik rap akhirnya Marga O mulai berani ber solo karir dibawah naungan poemsgate production Malang dengan lagu ter hitznya yang berjudul Danz With me dan Bobby. Pada tahun 2012 Marga O Mencoba mengeluarkan album pertamanya yaitu Favorite song dengan lagu terbaru paling hitz berjudul 548KM dan I am single dan tak lepas juga dari bantuan poemsgate production,TatzBeatz (Angga), papaStreet (Panca) serta beberapa produser musik lokal lainya dengan mengusung materi yang lebih ringan dan easy listening. Di tahun 2013 Marga O merefresh konsep dengan menggandeng beberapa personil baru yang mempunyai bakat lebih dalam musik yaitu Ocha pada Vocal, Angga pada Bass, Panca pada Gitar.

    07. Dinosaur Youth – Take Me Home (Yogyakarta)

    Musik indie rock ternyata masih diminati di Yogyakarta. Kali ini band pendatang baru, Dinosaur Youth mencuri banyak perhatian dari para penikmat musik indies di kota ini. Meskipun baru merilis satu single, dalam waktu dekat Dinosaur Youth akan menyelesaikan proses recording materi EP Album perdana mereka. —Komang Adhyatma (Yogyakarta www.kanaltigapuluh.info)

    08. Crayola Eyes – Baby May (Demo) (Jakarta)

    Pertamanya saya kira mereka band fiktif. Terbilang sulit untuk mencari informasi mereka kalau tidak berkomunikasi langsung ke para personilnya. Maklum Crayola Eyes memang lebih banyak tahu dikalangan tertentu saja. Unit psychedelic-rock ini baru  terlihat percaya diri mendengarkan demo di kanal soundcloud mereka. Tanpa panjang pikir langsung saya nobatkan sebagai perwakilan Jakarta di kompilasi edisi spesial ini. — Robby Wahyudi Onggo (Jakarta, www.deathrockstar.club)

    09. Timeless – Lonesome Street (Surabaya)

    Band asal Surabaya ini awalnya beranggotakan Bima, Fajri, Fery dan Cipto (alm). Pada Agustus kemarin baru saja merilis EP berjudul “We Believe For What We Do Is Timeless”, yang menurut mereka adalah kepercayaan, dan mungkin banyak band yang lain bahwa apa yang mereka lakukan sekarang, menikmati danmengerjakan musik adalah hal yang tak lekang oleh waktu. Berisi 4 track berirama paduan punk serta american rock Dinosaur Jr, yang singkat, padat serta garang cukup mendeskripsikan album ini.  —Emirul Fahmi Fanshuri (Surabaya, praotozine.wordpress.com)

     

    Aliansi Musik Akhir Tahun 2014 from Robonggo on 8tracks Radio.

  • Aliansi Musik Oktober 2014

    Aliansi Musik Oktober 2014

    Kali ini Aliansi Musik kembali dengan format yang berbeda. Jika berapa bulan kemarin kami membagikan lagu-lagu dari berbagai kota kepada kalian lewat kanal soundcloud, kini kami mencoba membagikannya menggunakan dropbox. Bisa diunduh secara gratis di link berikut >> DOWNLOAD. Usaha ini merupakan uji coba supaya para penikmat kompilasi Aliansi Musik semakin mudah mendapatkannya. Tanpa adanya streaming kita menjamin bahwa ketujuh lagu berikut, sangat berkualitas tersimpan rapih ke dalam playlist kalian.

    01. Animalism – Get Lost (Jakarta)

    Seperti yang pernah saya bahas sebelumnya bahwa filosofi nama Animalism adalah sisi liar dari manusia. Jadi kalian nggak usah bingung lagi apa arti dibalik nama yang berisikan duo produser independen Imam Buana dan Pandji Dharma. Mereka berdua sepakat membentuk sebuah projek Electronic Pop, kental dengan dentaman drum machine, serta sound berkiblat pada musik Psychedelic. Lagu ini terinspirasi dari masyarakat modern yang sudah terlalu tenggelam dengan duniawi, mereka (Animalism) mengajak kita untuk melepaskan keliaran mereka sejenak dengan cara “traveling” ke gunung atau ke pulau. Sangat direkomendasikan untuk kalian penggemar Jagwar Ma.—Robby Wahyudi Onggo (Jakarta, www.deathrockstar.club)

    02. Barokka – Barapantura (Yogyakarta)

    Anak muda kreatif dari Yogyakarta memang selalu membuat penasaran dengan karya-karya uniknya, dalam ranah musik independen Barokka hadir dengan membawakan jenis musik yang berbeda dibanding dengan musisi elektronik lainnya.  Heru, pentolan dari Shaggydog dan Dubyouth memutuskan bereksperimen dengan membentuk Barokka, grup musik elektronik yang membawakan genre dangdut koplo.  Seperti kita tahu selama ini musik dangdut masih dipandang sebelah mata oleh kebanyakan orang, dan dengan hadirnya Barokka diharapkan musik dangdut dapat lebih diterima di kemudian hari bahkan sampai dengan ke tingkat internasional.—Komang Adhyatma (Yogyakarta www.kanaltigapuluh.info)

    03. Hakash – Man Of Mountain (Surabaya)

    Hakash adalah band beraliran Progressive-Rock/Psychedelic yang berasal dari Surabaya, berpersonelkan Sinatrya Dharaka (Bass/Keys) dari Indonesian Rice, Dewandra Danishwara (Gitar/Vokal) dari Zorv, dan Prasetyo Imansyah (Drum) dari The Ska Banton. Mereka bertemu dan membentuk Hakash pada bulan Ramadhan 2014 kemarin. Mulai dari sesi jamming iseng hingga akhirnya menulis dan merekam 2 materi awal mereka yaitu “Mountain Man” dan “Shabaani Cave”. Single yang berjudul “Mountain Man” bercerita tentang 2 orang yang sedang dalam petualangannya bertemu dengan seorang “penjaga” gunung yang sedang mereka lintasi. Kabarnya November 2014 ini, Hakash akan merilis EP mereka dengan tambahan 3 lagu yang sudah disiapkan. Sembari menunggu EP mereka silahkan menikmati single “Mountain Man”.—Emirul Fahmi Fanshuri (Surabaya, praotozine.wordpress.com)

    04. Life Cicla – Rasa Sayange (Bogor)

    Life Cicla pada mulanya merupakan proyek solo dari Yos Bonar (Guitar/Vocal) yang sebelumnya tergabung di grup emo/post-hardcore asal Bogor, Kuas Cielo. Memainkan musik Folk Rock/Baroque pop yang dicampurkan dengan elemen musik etnik melalui bebunyian alat musik tradisional dan cara penyanyian ‘nembang’ a la sinden dari sang vokalis wanita, Life Cicla memberikan warna baru di skena musik Bogor yang belakangan terlalu membosankan. “Rasa Sayange” adalah re-interpretasi dari lagu daerah asal Maluku yang berhasil mereka terjemahkan menjadi sebuah track bercorak balada nan megah dengan balutan string section. Saat ini Life Cicla sedang dalam proses pengerjaan album pertama mereka yang akan dirilis oleh Paviliun Records akhir tahun nanti.—Gilang Nugraha (Bogor, hujanradio.com)

    05. Nectura – Crossing Coward (Bandung)

    Nectura berisikan personil yang sudah sangat lama bertempur di scene metal Bandung. Kalau teman-teman pernah melihat penampakan ini, memang beberapa personil Nectura pernah tergabung dalam grup musik Beside yang kita ketahui bersama pernah terluka. Suka duka perjalanan musik masing-masing personil yang membuahkan dewasanya setiap racikan musik Nectura. Kubur dalam luka lama dan mari kita simak musik segar Nectura.—Gagi Aria Alembana Fatkhurahman (Bandung)

    06. Something Suck – Don’t Look Back (Solo)

    Something Suck adalah band skate punk / hardcore yang beranggotakan Jaddah bakar (gitar vocal) Phondra aka bedoen (drum) arip aka weghe (bass backing vocal). Lagu Don’t Look Back merupakan singel di album pertama mereka Do It Your Skate yang menceritakan tentang pembelajaran masa lalu, masa lalu kadang jangan dilupakan dan lurus menatap kedepan.—Dimas Purnomo Fridbramantyo (deanstreetbillys.wordpress.com)

    07. Suggar Bitter – Circle of Life (Semarang)

    Virus musik dari ranah Britania Raya ternyata masih menjangkiti kota Semarang. kali ini tersembur lewat sekumpulan anak muda yang menamakan diri mereka Sugar Bitter. berdiri di tahun 2012 dengan anggota Lutfi (gitar, vokal), Jujuk (gitar, vokal) ,Reza (bass), dan Dennis (drum). Sugar Bitter mengklaim mengusung brit pop dengan pengaruh dari Arctic Monkeys, The Smiths, The Kooks, Oasis, dan Two Door Cinema Club. hanya berbekal dua single, mereka telah punya jam terbang yang cukup tinggi dalam beberapa waktu terakhir di kotanya. singkat kata, mereka masih muda dan potensial!—Andi Fitriono (Semarang, www.houtskools.com)

    08. Beeswax – Dissappear (Malang)

    Bagas Yudhiswa, mahasiswa angkatan 2012 sastra inggris Universitas Negeri Malang, Gitaris Megatruh dan Dracula Omnivora, Asli Sidoarjo, berdomisili di Malang. Tak seberapa nampak roots 90s emo dan pop-punk di Megatruh maupun Dracula Omnivora. Berbekal Laptop dan soundcard seadanya, sebuah karya yang tidak bisa diremehkan lahir dari sebuah kamar kost di sekitar jalan ngantang, kaliurang, kota malang. Mengambil sedikit influence dari Braid, Mock Orange dan Bluebeard, Bagas mengolah namanya menjadi Beeswax dan mengolah semua keterbatasan itu menjadi lagu berjudul Dissapear yang catchy namun juga eclectic. Kabarnya dekat ini Beeswax akan dirilis oleh Haum entertainment salah satu label yang gencar mempromosikan musik – musik 90s emo revival di Malang.—Akhmad Alfan Rahadi Akhmad Alfan Rahadi (Malang, malangsubpop.wordpress.com)

    Aliansi Musik Oktober 2014>>DOWNLOAD<<

    01. Animalism – Get Lost (Jakarta)

    02. Barokka – Barapantura (Yogyakarta)

    03. Hakash – Man Of Mountain (Surabaya)

    04. Life Cicla – Rasa Sayange (Bogor)

    05. Nectura – Crossing Coward (Bandung)

    06. Something Suck – Don’t Look Back (Solo)

    07. Suggar Bitter – Circle of Life (Semarang)

    08. Beeswax – Dissappear (Malang)

     

  • Aliansi Musik September 2014

    Aliansi Musik September 2014

    Aliansi Musik Sept

    01. Megatruh – Annelies (Malang)

    02. Cause – The Poacher (Bogor)

    03. Methiums – Methiums (Surabaya)

    04. Littlelute – Childhood Story (Bandung)

    05. Episode – Waktu Kita (Solo)

    06. Aljabar – Spellbound (Feat. Adi SW) (Semarang)

    07. bedchamber – Youth (Jakarta)

    08. Sisir Tanah – Lagu Wajib (Yogyakarta)

    Belakangan ini, semakin banyak penggiat musik baru bermunculan setiap minggunya. Seakan Indonesia selalu siap untuk tancap gas dalam jalur pasar musik universal bersama mesin yang meradang tanpa rasa khawatir kehabisan bahan bakar di tengah jalan. Seperti halnya Aliansi Musik September, deretan nama-nama baru menghiasi daftar kompilasi bergengsi ini. Semua lagu sudah diseleksi terlebih dahulu oleh tim penyeleksi kita di tiap-tiap kota. Jadi, semua lagu dalam kompilasi Aliansi Musik setiap bulan tentunya berkualitas untuk dikonsumsi telinga kalian. Silahkan dengarkan saja dan sebarkan berita sukacita ini.

    01. Megatruh – Annelies (Malang)

    “Tahun 2013 tahun yang serakah. Kidung terlalu sibuk dengan olah rasanya. Pertama dia harus mengundurkan diri dari lini bermusik FRANK!. Kedua gagalnya band PORAX PORANDA menyelesaikan EP karena war of mind -nya dia sendiri. Ketiga kebahagiannya berprofresi sebagai jurnalis direnggut oleh urusan akademis. Keempat si mbah meninggal. Kelima pacarnya memutuskan untuk meninggalkannya demi merajut cinta dengan wanita lain. Keenam dia tetap ingin band-band an. Mulai jengah dengan distorsi alam pikir dan mesin rasanya sendirian, beruntung lalu dia dikawinkan oleh multi-frasa MEGATRUH. Lebih dari sekedar kata kerja, lebih dari sekedar kata sifat. Sadar diri terlalu bodoh untuk berbagi sendirian, Kidung mendapatkan mahrob untuk mengajak gitaris DOWNTOWN TORPEDOES, Nanda Gupar. Disusul dengan Hilmo dan Bayu Gembur untuk mengisi titik-titik satir yang sesuai. Jadilah MEGATRUH sebagai grup musik yang mumpuni untuk menjadi super. Musik berisik ala Seattle dirasa pas untuk menjadi suaka penyampaian rasa yang ditumpahkan dalam karya seni dengar yang kontinyu. Bumbu-bumbu post-punk, pshycedelic, dan noise rock menjadi lokomotif yang dikendarai MEGATRUH. Saat Anda sedang memegang dan membaca lembaran ini, MEGATRUH telah berpisah dengan Hilmo dan Bayu Gembur. Demi memantapkan nuansa, MEGATRUH bertemu dengan Bagas Yudishwa, DRACULA OMNIVORA, dan segera saja untuk mengawininya. MEGATRUH tidak sulit dijumpai di dunia maya. Akun twitter @MGTRH dan akun @megatruhmegatruh bisa menjadi rujukan untuk mendapatkan informasi lebih lanjut.”— Akhmad Alfan Rahadi (Malang, malangsubpop.wordpress.com/).

    02. Cause – The Poacher (Bogor)

    Cause merupakan band pop asal Bogor berisikan para personil yang sudah cukup lama malang melintang di skena musik lokal Bogor. Band yang dimotori oleh Randy Asra Dahnial (Vokal/Gitar), Dito Buditrianto (Gitar), Ryan Rifkianda (Bass), Edu Christanto (Keyboard/Synthesizer), serta Dely Tambunan (Drum) ini telah merilis dua album penuh dan satu B-Sides sejak mereka terbentuk 6 tahun silam. “The Poacher” merupakan single ke-2 dari album penuh ke-2 mereka “The Man In Suit”, dan menjadi satu-satunya lagu yang menurut saya masih menyisakan jejak notasi pop a la album mereka sebelumnya. Hal yang membedakan adalah pengeksekusian pada lagu ini yang jelas terpengaruh oleh musik post-rock dengan formula ‘quite-loud, sentuhan harmoni vokal, instrumen minimalis, serta lirik lagu yang bercerita tentang tragedi seorang bocah berumur 10 tahun yang menjadi korban penembakan. Selamat mendengarkan tragedi dan risalah muram yang dinyanyikan.”— Gilang Nugraha (Bogor, hujanradio.com/)

    03. Methiums – Methiums (Surabaya)

    “Methiums, one man project dari Arya Akbara yang merupakan gitaris dari Headcrusher (SBY) dan Athenian (SBY). Masih memainkan musik metal yang dimainkan juga di dua band lainnya, serta ditambah dengan sedikit progresif. Debut EP dengan judul Methiums rilis Februari 2014 lalu dan ‘Bouyanci’ termasuk didalamnya.”—Emirul Fahmi Fanshuri (Surabaya, praotozine.wordpress.com)

    04. Littlelute – Childhood Story (Bandung)

    “Di era digital dan menjamurnya jenis sound effect beraneka warna, kelompok bermusik little lute yang saya temukan ini memilih untuk menggunakan ukulele sebagai akar dari musik mereka. Magisnya, ukulele yang indentik dengan nuansa pantai, mereka berhasil meramunya seolah-olah ini dari tanah sunda, dari Bandung Kota Kembang.”— Gagi Aria Alembana Fatkhurahman (Bandung)

    05. Episode – Waktu Kita (Solo)

    “Episode adalah proyek musik individual dari Yoza Prajatama. Dia seorang composer, song writer dan juga penggebug drum di band No Stereo Yellow. Lagu “waktu kita” lahir sebagai lagu pertama Episode yang berhasil direkam. Lagu ini menuturkan tentang kisah sebuah kisah pertemuan yang mengajak untuk dapat menghargai setiap momentum di dalamnya. ada nuansa bitter-sweet yang terasa. syair yang ringan dan kord sederhana ditata dalam aransemen pop-balada, dengan sedikit sentuhan orkestrasi. Episode sering juga ditemani adittional gitar, bass, terompet dan beberapa biduan wanita sebagai penyanyi latar. Jangan dengarkan bagi yang tidak siap dengan mood sendu.”—Dimas Purnomo Fridbramantyo

    06. Aljabar – Spellbound (Feat. Adi SW) (Semarang)

    “Trio hip-hop/jazz bentukan tahun 2010 ini memang diisi dengan personel-personel yang sangat dikenal di kancah musik kota Semarang; Gatot Hendraputra (pentolan komunitas Jazz Ngisoringin) di vokal dan gitar, Mirza Firdaus di bass, dan Koko Soetadi (Jabalrootz, Wiwiek N Friends) di keyboard. ketika ketiga otak itu ditemukan, lantas jadilah brainchild fusi antara jazz dan pop dengan kemasan hip-hop. jadi salah satu band dengan jam terbang tertinggi di kotanya, Aljabar malah baru akhir-akhir ini merilis EP perdana dengan tajuk Holiday di bulan Agustus 2014. dan track yang terpilih jadi single adalah “Spellbound,” yang meminjam intro klasik “hey ho” lagu “Hip Hop Hooray” dari kelompok hip-hop 90an, Naughty By Nature. dengan vokal rap yang diisi oleh Adi Siswowidjono, seorang penyiar di salah satu radio swasta kota Semarang. mendengarkan rekamannya saja tak cukup, karena menonton mereka secara live lebih menyenangkan dengan aksi panggung yang mengingatkan akan The Roots. segera undang mereka tampil di kota anda! “—Andi Fitriono (Semarang, www.houtskools.com)

    07. bedchamber – Youth (Jakarta)

    “bedchamber merupakan sekelompok remaja yang memiliki rasa gelisah yang sama, yaitu masih ragu untuk melangkah ke fase ‘kedewasaan’. Hal ini menjadi cikal bakal debut single “Youth” tercipta. Dan mereka hadir seakan menjadi tambahan ‘angin segar’ dalam kancah musik arus pinggir di Jakarta.”—Robby Wahyudi Onggo (Jakarta, www.deathrockstar.club)

    08. Sisir Tanah – Lagu Wajib (Yogyakarta)

    “Menurut saya, Bagus Dwi Danto adalah seorang sosok yang sangat jenius dalam menulis lirik lagu. Bermodalkan gitar bolong dan harmonika, Danto selalu bisa menyihir para pendengar lagu dan penonton saat menyaksikan performa live nya, tidak ayal lagi karena kekuatan dari lirik puitisnya. Dengan memainkan musik balada, saya rasa sampai saat ini belum menemukan lirikus dengan kemampuan menyairkan lagu berbahasa Indonesia seperti Sisir Tanah ini di Yogyakarta.”—Komang Adhyatma (www.kanaltigapuluh.info/)

  • Aliansi Musik Agustus 2014

    Aliansi Musik Agustus 2014

    Tracklist :

    01. Pribumi – Rokokku (Yogyakarta)
    02. OK Karaoke – Departed (Semarang)
    03. Soloensis – Tak Lagi Sejati (Solo)
    04. Young Savage – Night Fall  (Malang)
    05. Heavy Monster – Maaf (Surabaya)
    06. Pancasuara – Kamu (Bandung)
    07. Elephant Kind – We All Lose (Holy Sh*t) (Jakarta)

    Secara material, musik adalah asupan wajib setiap harinya untuk terapi telinga kita. Daftar lagu pun kadang diatur ‘ngacak’ dalam ipod, Mp3 player, atau komputer sesuai mood kalian. Tapi, biasanya playlist akan terdengar membosankan kalau referensi musik terbatas. Apalagi kalau yang dibicarakan disini musik Indonesia yang variatif hingga ke pelosok kota. Itulah salah satu alasan Aliansi Musik dibentuk, kita pun memberi solusi rutin setiap bulannya. Daftar musisi yang disediakan mempunyai nafas-nafas kesegaran. Cukup ‘klik’ download dengan tanpa rasa takut berurusan masalah dosa atau nggak. Tenang! Semua lagu yang tersedia disini legal karena sudah dapat kesepakatan dari pihak terkait. Sebarkan! Dan selamat mendengarkan kompilasi Aliansi Musik bulan Agustus 2014.

    01. Pribumi – Rokokku (Yogyakarta)

    “Mungkin masih banyak yang asing dengan nama Handoyo Puwowijoyo. Sosok yang lebih banyak “dibalik layar” saat Seek Six Sick pentas karena (mungkin) lebih dikenalnya sosok seorang Bofag sebagai sang vokalis utama. Handoyo sebenarnya adalah seorang sosok vokalis yang cukup berpengaruh dalam perkembangan band-band eksperimental di Jogja pada awal era 2000-an.

    Pribumi adalah proyek bermusik dari Handoyo Puwowijoyo, Soni Irawan pada gitar dan Aan pada drum. Cukup menarik karena dapat dibilang ini adalah proyek bermusik dari personel Seek Six Sick, meskipun Handoyo terlihat lebih dominan daripada Soni Irawan yang biasanya mengokupasi performa panggung dengan karakter sound noisenya. Lirik-lirik puitis dari Handoyo sukses membentuk karakter tersendiri dari band ini terlepas dari band asal mereka.”—Komang Adhyatma (www.kanaltigapuluh.info/)

    02. OK Karaoke – Departed (Semarang)

    “Lagu yang sebelumnya pernah masuk di album kompilasi Atlas City Movement di tahun 2012 ini ternyata disertakan ke dalam album penuh perdana veteran indie pop kota Semarang, OK Karaoke, bertajuk Sinusoid, bersama dengan 8 track lainnya. Sinusoid sendiri telah dirilis akhir bulan Juli 2014 kemarin, dan banyak yang cemas apakah Sinusoid akan menjadi album penuh pertama sekaligus “perpisahan” dari OK Karaoke, dikarenakan kesibukan masing-masing personel sehingga nama mereka hampir tak pernah terlibat di poster-poster gig lokal. Kami harap tidak, karena lagu ini adalah salah satu alasannya.”—Andi Fitriono (www.houtskools.com/)

    03. Soloensis – Tak Lagi Sejati (Solo)

    “Gairah muda yang dinamis dan meledak-ledak membuat musik rock tidak hanya sekedar musik keras yang memanaskan amplifier. Bertalenta, panas, ganas, dan liar membuat Soloensis patut untuk diperdengarkan. Semoga album mereka segera rilis.”—Ekawan Raharja

    04. Young Savage – Night Fall  (Malang)

    “Young Savages, sebuah generasi baru band indierock yang terbentuk di bulan November tahun 2013. Asal nama Young Savages berasal dari kebiasaan mereka yang sering menghadiri pesta di sebuah beerhouse Houtenhand di Kota Malang, tanpa memikirkan apakah hari esok akan datang lagi. Banyak di antara lirik lagu mereka bertemakan bagaimana melangsungkan hidup dengan semangat anak muda dan pertemanan yang sangat berpengaruh juga dalam kehidupan mereka sehari – harinya. Young Savages di awal terbentuknya beranggotakan Bintang (gitar), Adin (vokal), Raditya(drum), Rendy(bass) dan Eric(gitar), selang beberapa waktu Eric di gantikan oleh Rian asu. Untuk para pecinta sound british indie rock, seperti Tribes, The Twangs dan All the Young, this is Young Savages from malang.” Akhmad Alfan (malangsubpop.wordpress.com/)

    05. Heavy Monster – Maaf (Surabaya)

    “Setelah album repackaged “One Message One Love” pada 2009 silam, Heavy Monster belum sekalipun merilis album lagi. Pasca lebaran kemarin menjadi momen Heavy Monster untuk merilis single terbaru bertajuk ‘Maaf’, yang bercerita tentang seorang laki-laki tidak lagi nyaman dengan kekasihnya, dia ingin bebas dan lepas dari aturan-aturan percintaan yang terlalu memberatkan dirinya– bukankah cinta itu tanpa syarat– akhirnya hubungan cintah harus diakhiri dengan merdeka. Setiap pertemuan pasti ada perpisahan, karena akhir dari sebuah cinta tidak harus berujung pada tangisan. Single ‘Maaf’ ini merupakan bagian dari album terbaru Heavy Monster yang bakalan dirilis dalam waktu dekat.”—Emirul “Otis” Fahmi Fanshuri (www.praotozine.wordpress.com)

    06. Pancasuara – Kamu (Bandung)

    “Kali ini saya temukan Band Bandung yang menawarkan warna-warna musik etnis dipadu dengan musik modern. Mereka masih muda dan ingin membawa musik etnis untuk bisa didengar oleh segala kalangan. Mari kita simak!”—Gagi Aria Alembana

    07. Elephant Kind – We All Lose (Holy Sh*t) (Jakarta)

    “Pertama-tama saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Ucup (Demajors) telah menyelenggarakan acara musik rutin seminggu sekali yang bernama Pop Up. Dengan adanya gig tersebut saya berhasil dipertemukan dengan Elephant Kind. Kwartet indie-rock yang memberi nuansa baru dalam scene musik lokal. Atau kata paling tepatnya “refreshing”. Terdiri dari Bam Mastro (Songwriter / Vocal / Guitar), John Paul Patton ( Bass / Synth Bass / Vocal ), Dewa Pratama ( Synths / Multi-Instrumentalist ) dan Bayu Adisapoetra ( Drums & Percussion ).

    Adapun single kedua dari mereka yang diberi judul “We All Lose (Holy Sh*t)” paling berbeda. Disini sedikit diracik irama RnB kekinian. Tak heran kalau musik yang mereka suguhkan itu berkualitas export. Dengarkan sendiri kalau tidak percaya.”—Robby “Robonggo” Wahyudi Onggo (Jakarta,www.deathrocktar.club)