Gerald Situmorang sudah 10 tahun berkarya terhitung sejak album ‘Childhood’s Dream’ dari Sketsa rilis. Sketsa adalah duo yang terdiri dari Gerald Situmorang dan Dimas Wibisana, penampilan mereka di Beer Garden SCBD tanggal 1 Februari 2020 kemarin adalah bagian dari rangkaian acara yang menampilkan proyek-proyek musik dari Gerald Situmorang.
Karena satu dan lain hal, saya hanya bisa menonton Sketsa di Beer Garden SCBD dan melewatkan lainnya. Kemudian di hari-H juga saya datang terlambat dan terpaksa melewatkan penampilan Asteriska, padahal sudah diincar dari jauh-jauh hari.
Acara malam itu menarik, interaksi antar Gerald dan Dimas dan antar pemain musik itu menarik untuk diperhatikan. Karena tema acara ini adalah peringatan 10 tahun karir bermusik dari Gerald Situmorang maka ada saja selipan-selipan cerita pengalaman mereka. Membuat pertunjukkan mereka semakin hidup.
Sebuah rekap acara reunian dari kompilasi terbaik, JKT:SKRG yang dilaksanakan di Beer Garden SCBD. Jalanan terbilang kejam macetnya malam itu, sampai-sampai harus kelewatan The Brandals. Tapi untungnya masih ketemu The Upstairs
Jimi “The Upstairs” tampak prima dengan formasi terkini bandnya. Penjagaan baris depan diperketat jikalau penonton sudah kelewatan batas naik-naik ke atas panggung. Tapi itu tidak berlaku sewaktu Teenage Death Star tampil. Semua meringsek masuk ke atas stage, menggila. Tingkah bagi-bagi duit oleh Acong sampai lengan Alvin yang berdarah menjadi kejadian yang tidak bisa dilupakan dan ditangkap langsung dari kamera Muthiarys.
Join us on a night of Janji Joni movie screening and nostalgic tunes.
.
Thursday Kicks: Janji Joni Edition
THURSDAY
15 NOVEMBER 2018
6 PM TILL LATE
.
Let nostalgia fills the air for the sake of the good ol’ times.
.
FDC 150 applies
(Presale 100)
.
RSVP AND PRESALE please whatsapp +628118490072
Kamis malam kemarin ada Thursday Kick di Beergarden dengan penampil Seringai, Burgerkill dan Media Distorsi (DJ Set) alias Indra 7. Jarang kejadian dua band ini berada di panggung yang sama, dengan audiens di bawah 500 orang. Setidaknya jarang terjadi di kota saya berada, dan di waktu yang tepat.
Di venue, beberapa wajah familiar menyapa dan karena semua sudah dewasa dan memiliki preferensi masing-masing untuk menikmati kedua band ini, kita tidak harus berada di titik yang sama. Baru kemudian setelah masing-masing puas menikmati acara, akan saling menyapa kembali dan membahas bareng-bareng biasanya sambil ketawa-ketawa.
Berhubung kedua band bisa dibilang sudah mapan, rajin manggung dan sebagian besar pertunjukkannya menyenangkan maka saya yakin sudah terlalu banyak pujian diterima. Hanya saja, malam kemarin sedikit banyak mengingatkan saya pada show-show mereka di Bandung lewat satu dekade yang lalu. Panggung kecil, penuh keringat, wajah-wajah familiar. Penonton yang moshing masih dibilang ‘anak scene’ belum jadi Serigala Militia atau Begundal, bahkan belum jadi ‘anak skena’.
Tapi waktu terus bergulir, band-band ini semakin maju dan semakin besar, tidak hanya di Indonesia tapi juga di luar sana. Disinilah lirik lagu Seringai terbaru menjadi relevan :
Dimulai dari bersenang
Bertahan puluh tahun kemudian
Banyak yang akan kami kenang
Kerja keras di segala medan
Mungkin moral positif kami
Bukan dari yang sok suci
Tapi lirik bijak musisi
Ajarkan hidup mandiri
Beer Garden Jakarta merayakan ulang tahunnya yang kedelapan dengan rangkaian acara, salah satunya adalah Thursday Kick pada tanggal 25 Juli 2018. Thursday Kick ini menampilkan Efek Rumah Kaca, White Shoes & the Couples Company, dan Agrikulture DJ Set.
Lokasi strategis, waktu yang relatif bersahabat, dan band-band seasoi ini? sudah pasti jaminan ramai. Ditambah sedikit alkohol sudah tentu membuat Beer Garden menjadi meriah.
Menu seperti nasi gila a’la Beer Garden Menteng, dan sloki-sloki whisky/vodka menjadi energi bagi pengunjung yang rela berkeringat dan dansa-dansa seru. Dansa-dansa dan nyanyi bareng bahkan sudah dimulai sejak WSATCC memulai lagu pertama “Super Reuni”.
“Lama sudah kita tak jumpa… ” nyanyi Sari, dan berikutnya adalah set lagu-lagu yang membuat keringat semakin mengalir deras. Sarana untuk terhibur dan gerak badan yang cukup efektif dan efisien.
Setelah sesi satu bergoyang dan bernyanyi bersama, tampaknya semua orang yang tidak ingin terlewatkan Efek Rumah Kaca sehingga wajah-wajah di barisan depan sebagian besar adalah wajah yang sama dengan saat WSATCC.
Semua bersorak saat salah satu vokalis latar naik dengan kostum Sailor Moon dan membuka set dengan teriakan; Mari kita sambut Efek Rumah Kaca!.
Berikutnya adalah joged dan nyanyi bersama lagi sepanjang set bersama Efek Rumah Kaca di Beer Garden SCBD. Saya sampai lupa mereka memainkan berapa lagu, mungkin lebih dari sepuluh dan hampir semuanya memiliki bagian yang bisa dinyanyikan bareng sambil jingkrak-jingkrak.
Seperti “…Pasar bisa diciptakan! Pasar bisa diciptakan!…” yang dinyanyikan ramai-ramai oleh para pengunjung yang sebagian masih menggunakan baju kantor. Sempat muncul ide sekilas di kepala saya, tampaknya lagu ini cocok untuk sesi motivasi sales di departemen penjualan kantor-kantor.
Setelah Efek Rumah Kaca, ruangan menjadi lebih lega dan disitulah Agrikulture DJ Set telah siap dengan anthem-anthem dansa ‘indie’ untuk memuaskan dahaga pengunjung yang masih kurang banyak joged-jogednya tadi.
Happy Anniversary Beer Garden Jakarta.
Indra Ameng dan Cholil di Beer Garden SCBD
Nona Sari dari White Shoes & the Couples Company di Beer Garden SCBD
white shoes and the couples company
Uncle John, White Shoes & the Couples Company
Ricky & Saleh, white shoes and the couples company 2018
white shoes and the couples company, Beer Garden SCBD