Tag: Circarama

  • Phum Vipurit Live in Jakarta • Magzi Ballroom, Grand Kemang Hotel • 11 Agustus

    Phum Vipurit Live in Jakarta • Magzi Ballroom, Grand Kemang Hotel • 11 Agustus

    Phum Vipurit live in Jakarta.
    Magzi Ballroom, Grand Kemang Hotel
    11 Agustus 2018

    opening by
    Polka Wars
    Circarama

    tickets at www.movintix.com

    go get em.

    magzi ballroom grandkemang
    phum vipurit live in Jakarta
  • Circarama’s Plasticine Jewel Launching Concert

    Circarama’s Plasticine Jewel Launching Concert

    Circarama adalah band indie rock yang gaya musiknya seperti terpengaruh band-band britpop 90-an.

    Mungkin bisa dibilang terinspirasi Oasis, Kula Shaker atau the Beatles jaman-jamannya mereka bikin musik psikedelik. Atau bisa juga mereka tumbuh bersama piringan-piringan hitam musik rock Indonesia dari era orde lama yang memang sangat psikedelika.

    Bahkan foto band dan outfit mereka tampak seperti hasil memindai sampul piringan hitam tua.

    Intinya musik mereka adalah indie rock psikedelik dan saya menikmatinya. Maka saya tidak menunggu lama untuk lansung membeli tiket konser kecil peluncuran albumnya sejenak setelah posternya online.

    Konser di IFI Jakarta ini bisa dibilang gedung auditorium yang ideal bagi saya pribadi. Ruangan yang tidak terlalu besar dan tata suara berkualitas tinggi membuat suasana menyaksikan pertunjukan musik disini menjadi sangat intim.

    Hanya sayang saja, bagian tata lampu sering tidak diperhatikan oleh para penyelenggara Supersonik. Termasuk saat Sky Sucahyo tampil sebagai pembuka. Tata lampunya kurang diperhatikan sehingga membuat panggung terlalu silau.

    Selain tata lampu, kadangkala fotografer-fotografer amatir itu tidak sadar kalau kamera mereka bunyi saat menangkap gambar. Cekrak cekrek sepanjang pertunjukkan tentunya sangat tidak menambah syahdu penampilan akustik yang menawan dari Sky Sucahyo.

    Sky Sucahyo adalah singer-song writer yang sedang naik daun dan menjadi perbincangan fans musik folk membuka konser peluncuran Plasticine Jewel ini dengan suara vokal yang khas dan guitalele saja. Hanya di beberapa lagu saja ia dibantu dengan gitar akustik yang dimainkan oleh gitarisnya Lizzie yang bernama Tubagus Risqan.

    Di konser ini, ia memainkan beberapa lagu yang merupakan musikalisasi puisi karya Taufiq Ismail, Edgar Allan Poe dan mantan dosennya dulu; almarhum Dudih Amir Zuhud.

    Suara dan cengkok si Sky ini kalau lagi nyanyi mengingatkan saya pada Hope Sandoval nya Mazzy Star. Terutama di lagu-lagu yang lebih muram, seperti hasil musikalisasi puisi Dream Within a Dream karya Edgar Allan Poe.

    Setelah menyaksikan penampilan di IFI Jakarta ini, saya berharap Sky Sucahyo ini bisa segera merilis sesuatu.

    Setelah Sky Sucahyo, tentu sekarang adalah giliran Circarama mengambil alih panggung. Band ini memiliki potensi menjadi besar menurut saya. Dengan musik yang relatif solid dan pemain bass yang lincah maka yang mereka butuhkan adalah jam terbang.

    Menurut saya kalau mereka lebih rajin manggung maka seiring bertambahnya jam terbang akan membuat karisma mereka di panggung semakin solid dan pada akhirnya pasti membuat musik mereka juga semakin kuat.

    Beberapa hal yang menarik di konser mereka kemarin adalah kolaborasi mereka dengan Angga ‘Ramayana Soul’ di dua lagu dan aksi solo bass yang cukup menghibur.

    Secara materi musik, album Plasticine Jewel yang kemarin diluncurkan itu cukup menarik untuk dinikmati. Diproduksi dengan rapih dan saya tidak akan menahan diri untuk merekomendasikan album ini ke kalian semua.

    Enjoy Plasticine Jewel via your favorite streaming service atau ya beli cd nya

    Sky Sucahyo
    Sky Sucahyo
    Sky Sucahyo
    Sky Sucahyo
    Sky Sucahyo
    Sky Sucahyo dan Tubagus Risqan
    Circarama
    Circarama
    Circarama
    Putra Timur
    Circarama
    Circarama
    Circarama
    Circarama
    Circarama
    Circarama feat Angga ‘Ramayana Soul’
    Circarama
    Circarama
    Sky Sucahyo
    Sky Sucahyo
  • Sikaaaaat Mooo! Vol.04 feat Circarama, Goodnight Electric, & The Flowers

    Sikaaaaat Mooo! Vol.04 feat Circarama, Goodnight Electric, & The Flowers

    Circarama, Goodnight Electric dan The Flowers dalam satu acara? ini akan menarik. 3 band dari generasi berbeda dan genre berbeda akan bermain di venue yang tidak jauh dari tempat saya bekerja tentu susah ditolak. Apalagi hari ini hujan tidak turun, cuaca agak panas membuat saya memikirkan nikmatnya menengak segelas atau dua gelas bir dingin sambil menyaksikan musisi-musisi ibukota beraksi.

    Jam sembilan malam lewat dikit saya berjalan kaki melintasi jalan raya Cikini menuju gang kecil dimana Camden Bar Cikini berada. Suasana di lingkungan ini maupun dibagian dalam bar tidak banyak mengingatkan saya pada daerah Camden di London, mungkin mereka terinspirasi dari Camden di kota lain.

    Saat itu suasana bar ini sudah mulai padat dan dipenuhi asap rokok. Circarama baru saja memulai lagu pertama mereka. Saya mulai mencari lokasi yang nyaman untuk berdiri mengambil gambar, sambil menyaksikan band yang baru saja merilis album ini membawakan single-single seperti Porcelain Sky, Yellow Sun dan yang baru saja dirilis kemarin; Apple Quuen.

    Tidak jauh dari panggung tampak Ade Palloh sedang mengamati penampilan band hasil rilisan label miliknya; Helat Tubruk. Kenangan saya akan Kula Shaker, Oasis atau Primal Scream kembali muncul. Band ini sangat menarik, saya rasa albumnya akan menjadi salah satu yang terbaik tahun ini.

    Selepas Circarama, muncul Adit Insomnia yang berpasangan dengan Gilang Gombloh. Seperti yang sudah diduga dua orang ini mulai nyela-nyela apa saja yang kelihatan.

    Goodnight Electric pun tampil etelah lomba minum bir berhadiah sebotol vodka. Saya teringat beberapa belas tahun yang lalu saat Goodnight Electric masih cuma berdua dan manggungnya minus vokal. Saya terharu pernah menjadi saksi dari awal karir mereka saat melihat betapa kerennya mereka saat ini. Formasi paling solid yang pernah ada, didukung alat-alat bebunyian yang asoi dan tim kru yang cekatan.

    Mereka memainkan lagu-lagu yang sudah dikenal penggemar dan sebuah lagu yang belum pernah dimainkan; Stranded in the arms of love (kalau tidak salah).

    Selepas Goodnight Electric, fans-fans The Flowers mulai resah dan berusaha mengamankan posisi di depan panggung demi dapat berinteraksi dengan band rock n’ roll lawas ini. Namun demikian lomba minum bir babak kedua harus dilansungkan terlebih dahulu.

    Diantara orang-orang yang menyeruak kedepan, ada figur yang saya kenal; Felix Dass. Ia adalah seorang penulis dan aktifis skena independent. Mulai dari mengorganisir event sampai memanajeri band pernah ia lakukan. Seorang figur dengan banyak ide yang seringkali brilian dan kadangkala kurang masuk diakal, namun ia selalu berusaha mewujudkan ide-idenya tersebut. Seringkali berakhir dengan penuh makna dan manfaat.

    Ia berkata “gileee, ini hamba-hamba The Flowers dah pada ga sabar maju”. Saya berfikir apakah maksud “hamba” itu adalah sebutan untuk para penggemar The Flowers?. Mungkin saja, dan cukup keren karena memberikan kesan kebangsawanan untuk The Flowers.

    Sudah lama saya tidak menyaksikan The Flowers, sudah tentu kesempatan ini tidak baik untuk disia-siakan. Suara vokal N’jet yang khas itu tidak tergantikan.

    DJ Echo kemudian memutar lagu-lagu untuk menghibur setelah penampilan The Flowers

    Circarama
    Tampak bahagia
    Circarama
    Circarama
    Adit Insomnia & Gilang Gombloh
    Adit & Gilang
    Goodnight Electric download album
    Goodnight Electric
    Goodnight Electric
    Goodnight Electric
    Ade Palloh
    Ade
    lomba minum bir
    Lomba minum air
    The Flowers Rajawali Download
    The Flowers tampak belakang
  • Noise Whore Live Vol 002 : Membangkitkan Tidur Panjang The Porno & AGGI

    Noise Whore Live Vol 002 : Membangkitkan Tidur Panjang The Porno & AGGI

    Walau akhir pekan banyak menggoda dengan pilihan acaranya di tanggal 30 April – 1 Mei 2016, tapi di kedua hari tersebut saya memantapkan langkah ke Mondo Cafe, Fatmawati. Acara yang digelar kolektifan Noise Whore mempunyai daya tarik lebih kuat. Baik dari pemilihan tanggal hingga mengkurasi band yang mengisi line-up. Mereka membangunkan tidur panjang AGGI dan The Porno di hari sabtu. Mengajak Ramayana Soul untuk membakarkan dupanya kembali di hari minggu.

    Sebelum masuk, di depan parkiran melihat sekumpulan anak-anak dengan logat Jawa Timur salah satunya menegur saya. Dia Windrata Faizal vokalis dari unit post-punk/darwave Surabaya bernama Cotswolds. Mereka bermain di hari pertama bersama nama-nama baru Soft Blood, Peonies, dan Mutombo. Dan memberi tahu bahwa acara ‘ngaret’ karena sempat kena kendala teknis tempat. Tapi, sayangnya saya pun melewatkan aksi Soft Blood dan melihat Peonies sudah siap dengan kostum Doraemon. Diisi oleh salah satu pemuka indie pop lokal bernama Jodi Setiawan (yang dulunya memiliki band bernama Jodi In The Morning Glory Parade) memainkan dream-pop yang kental dalam struktur musiknya. Mengendapkan unsur Wild Nothing era Gemini. Dilanjuti gerombolan gelombang gelap asal kota Sambal Bu Rudy, Cotswolds, tampil kurang maksimal karena masalah teknis sound. Mereka juga membawakan materi baru seperti “Only In Shadow” dan “Marra”. The Porno melanjutkan tongkat estafet penampil. Berbalut seragam hitam-hitam memang sudah menjadi ciri khas mereka. Bisa dibilang inilah salah satu target yang berhasil ditembus Argia Adhidhanendra selaku founder Noisewhore untuk membawa mereka ke acara Noise Whore Vol-002.

    1462686663509

    Kolektif ini telah lama dibentuk dia bersama teman-teman sejawatnya. Bermula dari zine sekolah lalu berpindah ke media internet berupa tumblr. “Gue terpengaruh sama perkembangan zine era 2010’an, zaman Heyfolks masih di Mayestik dan kami lebih banyak membahas soal musik. Sempat mau bahas film tapi terlalu lepas dari pakemnya” ujar Arghi pria gondrong berkacamata sekelibat mengingatkan saya dengan Xandega, bassis Polka Wars. Noise Whore Live ini kali kedua yang mereka gelar. Sebelumnya pernah mengundang deretan nama seperti Bedchamber, Low Pink, hingga TaRRkam.

    Seusai The Porno, melihat gitaris handal seperti Pandu Fuzztoni tidak berpindah tempat malahan meduduki kursi drum menjadi pertanyaan besar buat saya. Ditambah Peter Andrian Walandouw (Damascus) dan Alvi Ifthikhar turut gabung bersama beliau. “Ini Mutombo nih??? Yah, dia lagi… dia lagi….” sontak teriakan penonton sehabis lagu pertama dibawakan. Memang, Mutombo memperkenalkan ke publik dunia maya lewat bandcamp hanya menggunakan moniker seperti Budi, Anto, Joko, dan bikin penasaran siapa otak dibalik band ini? Dijawab sudah di malam itu. Anti-klimaks pun terjadi sewaktu membawakan lagu terakhir dan gitar milik Peter tidak nyala total, mengambil keputusan untuk menyudahi penampilannya. Setelah ulasan ini dikabarkan Mutombo menyatakan bubar dari jagat musik sampai waktu tidak ditentukan. Sehabis itu ada AGGI yang langsung mengkooptasi panggung. Terakhir melihat mereka di Mondo Cafe yang waktu itu masih berlokasi di Kemang. Masih tetap terdengar manis walau menjadi penampil terakhir.

    1462686607865

    Argia mengaku bahwa dalam proses mengkurasi band dia serahkan kepada teman-temannya juga. Sewaktu ditanya apa kalian merugi atau tidak? Dia tidak terlalu perduli akan situasi itu, nyatanya ini acara tanpa sponsor dan seratus persen dikerjakan berdasarkan passion dari mereka masing-masing.

    Kalau hari pertama lebih sering disuguhkan nuansa dream-pop sampai indie rock 90’an, di hari kedua raungan distorsi hampir mendominasi penuh ke dinding telinga kalian. Dibuka oleh grup anyar bernama Bising Kota yang memiliki nuansa seperti Heinrich Manuver, dengan Erlangga Ishanders (atau akrab dipanggil Angga) dari Ramayana Soul sebagai penggebuk drum pengganti. Lalu ada Feast selalu tampil tidak mengecewakan tiap saya lihat penampilannya. Piston pun melanjutkan alur acara ini. Sangat senang melihat Yulio Abdul Syafik telah kembali mebetot bass semenjak masa penyembuhan patah lengannya. “Hakim Tak Berpalu” pun menyulut keriuhan kecil seketika. Seusai mereka, para personil r e k a h sudah terlihat mengambil posisi masing-masing. Ini merupakan Ritus ketiga milik mereka. Penampilan yang didramatisasi oleh sang vokalisnya menjadi nilai plus. Bagaimana tidak terlalu drama? Ketika melihat lirik-lirik dingin dimuntahkan bercampur aksi Faiz Alfaressi (vokal) beraksi menaiki tangga hingga keluar ke balkon. Seperti saya bilang diatas, Ramayana Soul kembali membakar dupanya petanda dibukanya pintu Dimensi Dejavu. Karena factor sound kurang memuaskan, tapi totalitas yang mereka kerahkan perlu diapresiasi. Noise Whore Vol 002 ditutup oleh seklompok muda menamakan diri mereka Circarama. Walau terbilang muda mereka menunjukan kesolidan antar personil.

    “Gue sih pengen mengajak Pestolaer reunian” pungkas Argi ketika ditanya siapa yang ingin (atau cita-cita) diundang untuk Noise Whore Live. Konon kolektifan ini juga mempersiapkan sesuatu yang spesial untuk volume selanjutnya. Penasaran? Ditunggu saja Noise Whore Vol 003.

    Photos: Damar Anjar