Tag: Compilation

  • Aliansi Musik Oktober 2014

    Aliansi Musik Oktober 2014

    Kali ini Aliansi Musik kembali dengan format yang berbeda. Jika berapa bulan kemarin kami membagikan lagu-lagu dari berbagai kota kepada kalian lewat kanal soundcloud, kini kami mencoba membagikannya menggunakan dropbox. Bisa diunduh secara gratis di link berikut >> DOWNLOAD. Usaha ini merupakan uji coba supaya para penikmat kompilasi Aliansi Musik semakin mudah mendapatkannya. Tanpa adanya streaming kita menjamin bahwa ketujuh lagu berikut, sangat berkualitas tersimpan rapih ke dalam playlist kalian.

    01. Animalism – Get Lost (Jakarta)

    Seperti yang pernah saya bahas sebelumnya bahwa filosofi nama Animalism adalah sisi liar dari manusia. Jadi kalian nggak usah bingung lagi apa arti dibalik nama yang berisikan duo produser independen Imam Buana dan Pandji Dharma. Mereka berdua sepakat membentuk sebuah projek Electronic Pop, kental dengan dentaman drum machine, serta sound berkiblat pada musik Psychedelic. Lagu ini terinspirasi dari masyarakat modern yang sudah terlalu tenggelam dengan duniawi, mereka (Animalism) mengajak kita untuk melepaskan keliaran mereka sejenak dengan cara “traveling” ke gunung atau ke pulau. Sangat direkomendasikan untuk kalian penggemar Jagwar Ma.—Robby Wahyudi Onggo (Jakarta, www.deathrockstar.club)

    02. Barokka – Barapantura (Yogyakarta)

    Anak muda kreatif dari Yogyakarta memang selalu membuat penasaran dengan karya-karya uniknya, dalam ranah musik independen Barokka hadir dengan membawakan jenis musik yang berbeda dibanding dengan musisi elektronik lainnya.  Heru, pentolan dari Shaggydog dan Dubyouth memutuskan bereksperimen dengan membentuk Barokka, grup musik elektronik yang membawakan genre dangdut koplo.  Seperti kita tahu selama ini musik dangdut masih dipandang sebelah mata oleh kebanyakan orang, dan dengan hadirnya Barokka diharapkan musik dangdut dapat lebih diterima di kemudian hari bahkan sampai dengan ke tingkat internasional.—Komang Adhyatma (Yogyakarta www.kanaltigapuluh.info)

    03. Hakash – Man Of Mountain (Surabaya)

    Hakash adalah band beraliran Progressive-Rock/Psychedelic yang berasal dari Surabaya, berpersonelkan Sinatrya Dharaka (Bass/Keys) dari Indonesian Rice, Dewandra Danishwara (Gitar/Vokal) dari Zorv, dan Prasetyo Imansyah (Drum) dari The Ska Banton. Mereka bertemu dan membentuk Hakash pada bulan Ramadhan 2014 kemarin. Mulai dari sesi jamming iseng hingga akhirnya menulis dan merekam 2 materi awal mereka yaitu “Mountain Man” dan “Shabaani Cave”. Single yang berjudul “Mountain Man” bercerita tentang 2 orang yang sedang dalam petualangannya bertemu dengan seorang “penjaga” gunung yang sedang mereka lintasi. Kabarnya November 2014 ini, Hakash akan merilis EP mereka dengan tambahan 3 lagu yang sudah disiapkan. Sembari menunggu EP mereka silahkan menikmati single “Mountain Man”.—Emirul Fahmi Fanshuri (Surabaya, praotozine.wordpress.com)

    04. Life Cicla – Rasa Sayange (Bogor)

    Life Cicla pada mulanya merupakan proyek solo dari Yos Bonar (Guitar/Vocal) yang sebelumnya tergabung di grup emo/post-hardcore asal Bogor, Kuas Cielo. Memainkan musik Folk Rock/Baroque pop yang dicampurkan dengan elemen musik etnik melalui bebunyian alat musik tradisional dan cara penyanyian ‘nembang’ a la sinden dari sang vokalis wanita, Life Cicla memberikan warna baru di skena musik Bogor yang belakangan terlalu membosankan. “Rasa Sayange” adalah re-interpretasi dari lagu daerah asal Maluku yang berhasil mereka terjemahkan menjadi sebuah track bercorak balada nan megah dengan balutan string section. Saat ini Life Cicla sedang dalam proses pengerjaan album pertama mereka yang akan dirilis oleh Paviliun Records akhir tahun nanti.—Gilang Nugraha (Bogor, hujanradio.com)

    05. Nectura – Crossing Coward (Bandung)

    Nectura berisikan personil yang sudah sangat lama bertempur di scene metal Bandung. Kalau teman-teman pernah melihat penampakan ini, memang beberapa personil Nectura pernah tergabung dalam grup musik Beside yang kita ketahui bersama pernah terluka. Suka duka perjalanan musik masing-masing personil yang membuahkan dewasanya setiap racikan musik Nectura. Kubur dalam luka lama dan mari kita simak musik segar Nectura.—Gagi Aria Alembana Fatkhurahman (Bandung)

    06. Something Suck – Don’t Look Back (Solo)

    Something Suck adalah band skate punk / hardcore yang beranggotakan Jaddah bakar (gitar vocal) Phondra aka bedoen (drum) arip aka weghe (bass backing vocal). Lagu Don’t Look Back merupakan singel di album pertama mereka Do It Your Skate yang menceritakan tentang pembelajaran masa lalu, masa lalu kadang jangan dilupakan dan lurus menatap kedepan.—Dimas Purnomo Fridbramantyo (deanstreetbillys.wordpress.com)

    07. Suggar Bitter – Circle of Life (Semarang)

    Virus musik dari ranah Britania Raya ternyata masih menjangkiti kota Semarang. kali ini tersembur lewat sekumpulan anak muda yang menamakan diri mereka Sugar Bitter. berdiri di tahun 2012 dengan anggota Lutfi (gitar, vokal), Jujuk (gitar, vokal) ,Reza (bass), dan Dennis (drum). Sugar Bitter mengklaim mengusung brit pop dengan pengaruh dari Arctic Monkeys, The Smiths, The Kooks, Oasis, dan Two Door Cinema Club. hanya berbekal dua single, mereka telah punya jam terbang yang cukup tinggi dalam beberapa waktu terakhir di kotanya. singkat kata, mereka masih muda dan potensial!—Andi Fitriono (Semarang, www.houtskools.com)

    08. Beeswax – Dissappear (Malang)

    Bagas Yudhiswa, mahasiswa angkatan 2012 sastra inggris Universitas Negeri Malang, Gitaris Megatruh dan Dracula Omnivora, Asli Sidoarjo, berdomisili di Malang. Tak seberapa nampak roots 90s emo dan pop-punk di Megatruh maupun Dracula Omnivora. Berbekal Laptop dan soundcard seadanya, sebuah karya yang tidak bisa diremehkan lahir dari sebuah kamar kost di sekitar jalan ngantang, kaliurang, kota malang. Mengambil sedikit influence dari Braid, Mock Orange dan Bluebeard, Bagas mengolah namanya menjadi Beeswax dan mengolah semua keterbatasan itu menjadi lagu berjudul Dissapear yang catchy namun juga eclectic. Kabarnya dekat ini Beeswax akan dirilis oleh Haum entertainment salah satu label yang gencar mempromosikan musik – musik 90s emo revival di Malang.—Akhmad Alfan Rahadi Akhmad Alfan Rahadi (Malang, malangsubpop.wordpress.com)

    Aliansi Musik Oktober 2014>>DOWNLOAD<<

    01. Animalism – Get Lost (Jakarta)

    02. Barokka – Barapantura (Yogyakarta)

    03. Hakash – Man Of Mountain (Surabaya)

    04. Life Cicla – Rasa Sayange (Bogor)

    05. Nectura – Crossing Coward (Bandung)

    06. Something Suck – Don’t Look Back (Solo)

    07. Suggar Bitter – Circle of Life (Semarang)

    08. Beeswax – Dissappear (Malang)

     

  • Aliansi Musik Juli 2014

    Aliansi Musik Juli 2014

    10521532_10152377654844221_787471769_n

    Tracklist :

    01. The Lamebrain – Overpower (Bandung)
    02. Vorbleed – Genesis (Semarang)
    03. Bin Idris – Calm Water (Jabodetabek)
    04. Indigo Moon – Puzzlement (Yogyakarta )
    05. Hecht – Kekkai (Surabaya)
    06. Mera Bercerita ft Cholil – Bunga Dan Tembok (Solo)
    07. Frank – Turn On My Heart (Malang)
    08. Mom Called Killer – Juggernaut (Bali)

    Pesta demokrasi telah usai dan pemimpin baru bangsa ini sudah terpilih. Pun beritanya sudah memanaskan ranah media sosial ataupun dunia nyata sewaktu bersitegang pada bulan-bulan kemarin, diantara dua kubu calon pilihannya. Tapi tenang, kita tidak akan membahas itu lebih jauh karena hal terpenting kompilasi Aliansi Musik bulan ini lebih menghangatkan suasana liburan kalian nantinya.

    Banyak nama-nama baru bermunculan di kompilasi ini—atau saya saja yang kurang update?—terpilih mewakili kotanya masing-masing oleh tim penyeleksi. Sebuah bukti nyata bahwa Aliansi Musik juga menaruh minat untuk mereka yang bertalenta terhadap musik walaupun hitungannya masih dini. Dan semuanya itu bisa kalian dengar dan download disini. Enjoy!

    01. The Lamebrain – Overpower (Bandung)

    “The Lamebrain lahir dari generasi baru di Kota Bandung, lumayan payah saya mencari talenta baru dari generasi baru di Kota Kembang yang serius dalam membuat musik. The Lamebrain cukup bisa mewakili Kota Bandung di scene rock and roll yang pernah berjaya dahulu. Petikan mengayun distorsi khas ala-ala rock and roll maskulin yang sedang naik pitam namun harmonis! Kira-kira begitu dan tak usah berlama lagi, mari kita dengar saja seperti apa bunyian dari band yang bervokaliskan Alan Davison ini.”—Gagi Aria Alembana Fatkhurahman

    02. Vorbleed – Genesis (Semarang)

    “Saat ini kancah musik metal kota Semarang sedang lesu, khususnya di koridor metalcore dan death metal. jarang sekali band metalcore dan death metal yang muncul ke permukaan dengan kualitas mumpuni. dan unit technical-metalcore bentukan 5 orang metal-geek, Vorbleed, datang kembali lewat mini album perdananya, Book Of Genesis. Vorbleed sendiri terbentuk di tahun 2010 dan sempat melepas single “Three Horned Face” di tahun 2011. dan lewat mini album Book Of Genesis, Vorbleed membuktikan kalau kancah metal kota Semarang masih punya amunisi yang segar dan siap menghantam indera pendengaran.”—Andi Fitriono (www.houtskools.com)

    03. Bin Idris – Calm Water (Jabodetabek)

    “Bin Idris adalah solo project dari Haikal Azizi (vokalis Sigmun) musisi surealis asal Depok yang sekarang sedang menjalani tugas sebagai dosen Seni Rupa salah satu universitas di Bandung. Dan nyatanya, ia telah memproduksi kaset EP perdananya bertajuk ‘Muqadimmah’ oleh Hasana Record pada tahun lalu. Memang berbeda jauh dari karakteristik Haikal di Sigmun, disini (Bin Idris), terdengar lebih tenang tapi ‘menghanyutkan’.”—Robby Wahyudi Onggo (www.deathrockstar.club)

    04. Indigo Moon – Puzzlement (Yogyakarta)

    “Suatu bentuk transformasi luar biasa secara musikalitas sukses dilakukan oleh Kusuma Prasetyo Putro dalam proyek bermusiknya di Indigo Moon. Sebelumnya Putro lebih banyak dikenal sebagai frontman dari band punk rock kenamaan asal Yogyakarta, The Frankenstone, tetapi dirinya berhasil melepas image ‘punk’ nya di Indigo Moon yang membawakan musik akustik dengan berduet bersama Gogor Seta Dewa.”—Komang Adhyatma (www.kanaltigapuluh.info)

    05. Hecht – Kekkai (Surabaya)

    “‘Kekkai’ dirilis keroyokan bersama lima band Surabaya lainnya pada bulan Juni kemarin, merupakan single pertama yang dirilis oleh Hecht sejak band ini terbentuk. Lewat single ini Hecht ingin bercerita tentang suasana keindahan sebuah sacred things didalam suatu dimensi yang purikatif.

    Hecht adalah band bergenre postrock, genre yang sangat jarang dimainkan di Surabaya. Beranggotakan Dimar, Yudhistira, Ryan, Eka serta Kurnia, mereka memainkan music instrumental yang banyak berlatar ambience, twingkling, reverb, low beat , white noise. Tanpa harus panjang lebar, silahkan menikmati.”—Emirul Fahmi Fanshuri (www.praotozine.wordpress.com)

    06. Merah Bercerita feat Cholil – Bunga dan Tembok (Solo)

    “Tidak ada aling-aling maksud apapun atau membuat sebuah kebetulan di Aliansi musik Juli 2014. Merah Bercerita, salah satu band asal Solo yang kini sedang cukup naik daun, memang pantas untuk dimasukan ke dalam daftar metereng lagu-lagu di bulan ini. Dilihat dari judulnya, sebagian orang yang mengagumi kesusastraan mungkin akan langsung terhenyak dengan judul Bunga dan Tembok. Gubahan puisi salah satu putra terbaik Indonesia, Wiji Thukul, dilantunkan dengan musikalitas yang lirih dan menyayat hati. Petikan gitar dan raungan suara yang terjerat memperkuat penyampaian pesan tentang sebenarnya kita yang saat ini masih ditindas. Mungkin ada saatnya kita mencoba merenung sembari mendengarkan lagu Bunga dan tembok, kita ini bunga ataukah tembok tirani?”—Ekawan Raharja

    07. Frank – Turn On My Head (Malang)

    “Frank band pendatang baru dari kota Malang beraliran inderock yang beranggotakan Pio Threeding (Vocalist), Ken Baruna (Lead Guitar), Muhammad Rofif (Bassist), Raveizal Ario Sayoga (Drummer). Berdiri sejak 2013 akhir, sergap, siaga dan berondong adalah suasana yang akan dirasakan ketika melihat mereka, begitu energik, menyergap perhatian dan membuat matamu siaga. Sebuah anthem perjalanan pulang-pergi kuliah maupun kerja yang cocok untuk setiap hari terutama hari senin yang sibuk. Beat rapat layaknya deru sepeda motor, dan moodbooster tepat untuk segala suasana sendu.”—Akhmad Alfan Rahadi (www.malangsubpop.wordpress.com)

    08. Mom Called Killer – Juggernaut (Bali)

    “Juggernaut, Lagu ini mencerita tentang raksasa penjaga keseimbangan bumi yang bangkit dan murka siap mengambil setiap jiwa manusia yang angkuh dan sombong!!
    Ketika gue dengerin dengan volume max, gue semakin ngerasain setiap dentuman drum yang kencang, distorsi gitar dan suara bass mengantarkan suara vokal yang terkadang terdengar berat namun beberapa saat berteriak dengan penuh emosi, gue suka lagu ini karna mampu membuat gue berimajinasi/merasakan gimana seramnya ketika bumi ini hancur, terasa banget dipertengahan lagu ketika suara gemuruh menghajar telinga gue! Mom Called Killer band metal asal kota denpasar ini terbentuk tahun 2007. Nama Mom Called Killer tercetus ketika hangatnya berita pembunuhan anak yang dilakukan oleh ibunya sendiri.”—Teddy Drew

  • Kompilasi Celtic Punk/Irish Folk Punk Indonesia : “Wind from The Foreign Land”

    Kompilasi Celtic Punk/Irish Folk Punk Indonesia : “Wind from The Foreign Land”

    Bertepatan menjelang bulan puasa, skena musik Celtic Punk/ Irish Folk Punk dari seluruh Indonesia merilis sebuah album kompilasi “Wind from The Foreign Land” yang direkam WLRV Recs dan dibantu Spade Kustom dalam penggandaanya. Album kompilasi ini adalah yang pertama di skena Celtic Punk dan melibatkan 14 band dari 7 kota di Indonesia. Awalnya album ini berasal dari sebuah obrolan ringan beberapa personil Dirty Glass dan The Cloves and The Tobacco untuk mempererat skena Celtic Punk di seluruh Indonesia, hingga akhirnya semua dilakukan dan menghasilkan Wind from The Foreign Land.

    Keren adalah kata yang akan disematkan kepada album kompilasi ini. Banyak hal yang membuat album ini menjadi keren dan layak untuk dikoleksi. Menilik dari artwork cover Wind from The Foreign Land, terpampang peta Indonesia dengan warna hijau sebagai dominan warna cover. Jikalau dilihat sekilas, desain yang simple nan cukup mencuri perhatian ini dapat menjelaskan identitas isi dari album Wind from The Foreign Land. Berlanjut dibagian dalam terdapat slave sheet berisikan data-data band yang bergabung di kompilasi Wind from The Foreign Land, lengkap dengan lirik-lirik disetiap lagu mereka. Bagian lyric sheet ini jelas sangat membantu bagi mereka yang ini bersenandung di dalam kondisi apapun. Melengkapi artwork dan isi Wind from The Foreign Land, VWLV Records membungkus album ini dengan jewel box sehingga lebih kokoh dan tahan lama untuk dikoleksi.

    Jikalau membeli sebuah rilisan musik, mayoritas yang dicari adalah materi  di yang terkandung dalam rilisan tsb. Seluruh materi di album kompilasi Wind from The Foreign Land merupakan materi baru yang benar-benar disiapkan oleh setiap band. Jangka waktu enam bulan dalam persiapan album ini tampaknya dimanfaatkan oleh setiap unit Celtic Punk dengan baik dalam penggarapan album ini. Hasilnya bisa dilihat dengan materi yang mereka hasilkan memiliki warna masing-masing meski mereka dibawah atap Celtic Punk. Materi yang baik tentu tidak akan lengkap tanpa recording yang baik pula, dan ini diperhatikan betul dengan baik dalam membungkus materi yang akan disuguhkan. Tema yang terangkum dalam kompilasi ini pun beranekaragam, jika ditarik benang merah maka yang terasa adalah kondisi sosial masyarakat disekitar kita seperti; Penghianatan, kebanggaan, kebersamaan, ataupun cita-cita. Semua diungkapkan dengan lugas layaknya musik punk yang sederhana.

    Pada akhirnya, album kompilasi Wind from The Foreign Land menjadi sebuah rilisan yang lebih dari sekedar alat pemersatu. Wind from The Foreign Land menjadi semacam perkenalan dan pembuktian eksistensi skena Celtic Punk/Irish Folk Punk di Indonesia. Wind from The Foreign Land didistribusikan secara DIY oleh para band yang berpartisipasi dan mendapat sambutan hangat oleh masyarakat. Album ini menjadi fundamental dan mungkin kelak akan menjadi sejarah penting di skena Celtic Punk di Indonesia.

    Penulis : Ekawan Raharja

    Wind from The Foreign Land