Tag: efek rumah kaca

  • Pesta Pora | Ballroom Hotel Bumi Wiyata Depok | 19 Desember

    Pesta Pora | Ballroom Hotel Bumi Wiyata Depok | 19 Desember

    Pesta Pora adalah platform yang menyajikan pertunjukan musik
    dengan line-up berkualitas sebagai fondasi utama.
    Pesta Pora juga
    diciptakan untuk menjadi titik temu antar musisi dengan para fans/audiences, serta antar
    komunitas dengan seluruh ekosistem musik untuk dapat bersenang-senang dan bersukacita
    bersama.

    Melalui akun media sosialnya, Pesta Pora merilis empat line-up yang akan
    memeriahkan panggung perdana Pesta Pora pada hari Rabu, 19 Desember 2018, di Ballroom
    Hotel Bumi Wiyata, Depok.

    Line-up pertama yang akan mengguncang panggung Pesta Pora
    yaitu Barasuara, band alternative rock yang baru-baru ini merilis single yang bertajuk, “Guna
    Manusia”.

    Selain Barasuara, ada band yang juga memiliki lagu-lagu sarat makna dengan
    balutan musik rock yang akan memeriahkan Pesta Pora, yakni Feast.

    Kemudian ada Sisitipsi, mereka akan membuat kita berdansa oleh musik Dirty Jazz-nya serta kental dengan sound 50’s
    hingga 80’s yang menjadi ciri khas mereka.

    Line-up terakhir yang akan melengkapi Pesta Pora Rabu malam nanti adalah Efek Rumah Kaca, dengan membawa lagu-lagunya yang penuh kritik serta banyak menyentuh dan memotret keadaan sosial tanpa mengenal stratifikasi yang ada.

    Pesta Pora dapat diikuti oleh semua kalangan. Tiket normal Pesta Pora masih tersedia dengan harga Rp 50.000 (Lima puluh ribu rupiah).

    Ingin tahu info terbaru dari Pesta Pora? Pantau terus akun media sosial Instagram
    @_pestapora untuk mengikuti kelanjutannya!

  • Efek Rumah Kaca & WSATCC Memukau di Beer Garden SCBD

    Efek Rumah Kaca & WSATCC Memukau di Beer Garden SCBD

    Beer Garden Jakarta merayakan ulang tahunnya yang kedelapan dengan rangkaian acara, salah satunya adalah Thursday Kick pada tanggal 25 Juli 2018. Thursday Kick ini menampilkan Efek Rumah Kaca, White Shoes & the Couples Company, dan Agrikulture DJ Set.

    Lokasi strategis, waktu yang relatif bersahabat, dan band-band seasoi ini? sudah pasti jaminan ramai. Ditambah sedikit alkohol sudah tentu membuat Beer Garden menjadi meriah.

    Menu seperti nasi gila a’la Beer Garden Menteng, dan sloki-sloki whisky/vodka menjadi energi bagi pengunjung yang rela berkeringat dan dansa-dansa seru. Dansa-dansa dan nyanyi bareng bahkan sudah dimulai sejak WSATCC memulai lagu pertama “Super Reuni”.

    “Lama sudah kita tak jumpa… ” nyanyi Sari, dan berikutnya adalah set lagu-lagu yang membuat keringat semakin mengalir deras. Sarana untuk terhibur dan gerak badan yang cukup efektif dan efisien.

    Setelah sesi satu bergoyang dan bernyanyi bersama, tampaknya semua orang yang tidak ingin terlewatkan Efek Rumah Kaca sehingga wajah-wajah di barisan depan sebagian besar adalah wajah yang sama dengan saat WSATCC.

    Semua bersorak saat salah satu vokalis latar naik dengan kostum Sailor Moon dan membuka set dengan teriakan; Mari kita sambut Efek Rumah Kaca!.

    Berikutnya adalah joged dan nyanyi bersama lagi sepanjang set bersama Efek Rumah Kaca di Beer Garden SCBD. Saya sampai lupa mereka memainkan berapa lagu, mungkin lebih dari sepuluh dan hampir semuanya memiliki bagian yang bisa dinyanyikan bareng sambil jingkrak-jingkrak.

    Seperti “…Pasar bisa diciptakan! Pasar bisa diciptakan!…” yang dinyanyikan ramai-ramai oleh para pengunjung yang sebagian masih menggunakan baju kantor. Sempat muncul ide sekilas di kepala saya, tampaknya lagu ini cocok untuk sesi motivasi sales di departemen penjualan kantor-kantor.

    Setelah Efek Rumah Kaca, ruangan menjadi lebih lega dan disitulah Agrikulture DJ Set telah siap  dengan anthem-anthem dansa ‘indie’ untuk memuaskan dahaga pengunjung yang masih kurang banyak joged-jogednya tadi.

    Happy Anniversary Beer Garden Jakarta.

     

    Beer Garden SCBD
    Indra Ameng dan Cholil di Beer Garden SCBD
    Beer Garden SCBD, White Shoes & the Couples Company
    Nona Sari dari White Shoes & the Couples Company di Beer Garden SCBD

    white shoes and the couples company 2018, Beer Garden SCBD
    white shoes and the couples company
    white shoes and the couples company 2018, Beer Garden SCBD
    Uncle John, White Shoes & the Couples Company
    white shoes and the couples company 2018, Beer Garden SCBD
    Ricky & Saleh, white shoes and the couples company 2018
    white shoes and the couples company 2018, Beer Garden SCBD
    white shoes and the couples company, Beer Garden SCBD
    Efek Rumah Kaca, Beer Garden SCBD
    Backing Vokal Efek Rumah Kaca
    Efek Rumah Kaca, Beer Garden SCBD
    Efek Rumah Kaca
    Agrikulture Beer Garden SCBD
    Agrikulture DJ Set
  • Efek Rumah Kaca, White Shoes & the Couples Company, Agrikulture • Thursday Kick, 26 Juli • Beer Garden, SCBD

    Efek Rumah Kaca, White Shoes & the Couples Company, Agrikulture • Thursday Kick, 26 Juli • Beer Garden, SCBD

    EXPECT EFEK RUMAH KACA, VIDEOSTARR, PORK FIESTA, SLASHED SHOOTERS AND THE REST… YOU FIND OUT!

    THU & FRI & SAT
    26, 27 & 28 JULY 2018

    AT BEER GARDEN SCBD

    It’d be a shame to miss this one out.

    FDC 150 k
    Presale 100 k

    RSVP +62215153557

    Thursday kicks limited presale +6281285062481

    efek rumah kaca

  • Efek Rumah Kaca merilis Seperti Rahim Ibu

    Efek Rumah Kaca merilis Seperti Rahim Ibu

    Seperti Rahim Ibu adalah kolaborasi Efek Rumah Kaca dengan jurnalis Najwa Shihab telah resmi tersedia untuk diunduh atau didengarkan online di berbagai toko musik digital, antara lain sebagai berikut: http://smarturl.it/SepertiRahimIbuERK

    Download Efek Rumah Kaca Seperti Rahim Ibumu
    Seperti Rahim Ibumu

    Menurut vokalis Cholil Mahmud “Seperti
    Rahim ibu” menggambarkan rahim yang bisa menghadirkan
    gagasan-gagasan baru yang dapat melahirkan kontribusi untuk bangsa ini.”

    “Pertama kali kirim materi kasarnya hanya petikan gitar saja
    karena nggak punya alat rekam di sana untuk buat demo
    yang lebih menunjang. Respon Najwa saat itu merasa versi
    petikan gitar lebih mengena,” ujar Cholil yang membuat lagu ini di kota New York, tempat tinggalnya saat ini.

    SEPERTI RAHIM IBU
    Lagu oleh
    Cholil Mahmud
    Lirik oleh
    Najwa Shihab
    Aransemen musik oleh
    Efek Rumah Kaca

    Cholil Mahmud – Vokal, Gitar
    Akbar Bagus Sudibyo – Drum, Vokal Latar
    Poppie Airil – Bas, Vokal Latar
    Dito Buditrianto – Gitar
    Muhammad Asranur – Keyboard
    Agustinus Panji Mardika – Flute, Trumpet
    Nastasha Abigail – Vokal Latar
    Irma Hidayana – Vokal Latar
    Direkam di Studio Masak Suara
    Mixing oleh Firzi O di Studio Masak Suara
    Mastering oleh Erwin di Soundsixty Mastering

    Dengarlah,
    nyanyi sunyiku, bait risauku,
    rindu terpendamku
    Menyala dalam hayatku
    Duka padamu,
    luka padaku, saling lebur
    Menghalau awan mendung
    Kemanusiaan itu seperti terang pagi
    Merekahkan harapan
    Menepis kabut kelam
    Niatkan, tinju terkepal, pekik menebal,
    terjang aral,
    Pagi pasti terkejar
    Seandainya negeriku serupa rahim ibu
    Merawat kehidupan
    Menguatkan yang rapuh
    Merawat kehidupan
    Menguatkan yang rapuh
    Menjadi terang pagi
    Menjelma rahim ibu

  • Review : Soundrenaline 2016 “Louder Than Never”

    Review : Soundrenaline 2016 “Louder Than Never”

    Memasuki episode keempat belas, kini Soundrenaline 2016 semakin banyak menyuguhkan kejutan-kejutan dari berbagai ranah kreatif. Dari musik, seni rupa, fashion, hingga film. Sebut saja salah satunya band Efek Rumah Kaca (ERK) yang didatangkan dengan formasi lengkap. Ya, mereka mengembalikan Cholil Mahmud yang sedang mengemban ilmu di Amerika Serikat ke posisinya di departmen vokal. Bisa dibilang  tahun ini banyak nama-nama baru  diberikan ruang berkreasi di festival bertaraf internasional seperti Soundrenaline. Tahun sekarang Sampoerna A Mild pun masih mempercayakan KILAU Indonesia sebagai promotornya. Mengambil tempat di Garuda Wisnu Kencana (GWK), Bali.  Diselengarakan pada tanggal 3-4 September mengusung tema besar “Louder Than Ever”. Banyak pula mengajak band-band rock berkualitas dari tanah air. Dengan didukung tiga panggung gigantis, daya sound maha dashyat, serta permainan tata lampu memanjakan mata. Berikut catatan langsung pengalaman kami selama di Soundrenaline 2016.

    Hari Pertama: Gempuran Musisi-Musisi Gelombang Baru Indonesia

    Mungkin, hal pertama kali saya merasa tertantang meliput event ini adalah sewaktu melihat daftar para penampil. Dimana setelah dilihat, lebih banyak didominasi oleh musisi gelombang baru. Juga banyaknya local heroes dari Bali yang diberi wadah beraksi di sini. Ini merupakan kesempatan yang langka menjadi saksi atas penampilan mereka. Bukan perihal panggung kecil atau besar, gigs kecil atau besar. Tapi saya diberi kesempatan melihat kemampuan mereka di depan ratusan mata penonton. Ataupun tekanan mental yang mereka rasakan, begitu pula yang saya rasakan, meningkat dari sebelumnya. Sesampai  di GWK, waktu setempat menunjukan jam empat sore, yang dimana seluruh stage akan bermain serentak. Menjajal panggung satu ke panggung lain menjadi agenda utama. Hingar bingar pun terdengar di A Stage yang dimana Morganostic, unit metal core yang berdomisili di Surabaya, sedang membredel habis telinga penonton. Mungkin juga menggetarkan dinding-dinding GWK. Beralih ke sebelah, ada Mom Called Killer salah satu local act asal Denpasar ini tampil sangar saat membawakan ‘Noisia’ di Louder Than Ever (LTE) Stage. Terdengar dari panggung lainnya, di bawah ratusan anak tangga sana ada salah satu band kebanggaan Pekanbaru yaitu Jimjack di Go A Head Stage. Genderang drum bertalu memacu semangat untuk headbang sesaat.

    Terik sinar matahari yang kurang ajar menganjurkan untuk meringsek masuk dan duduk santai ke Amphitheater Stage. Dilihat dari kejauhan ternyata band instrumental rock Bandung, Ellipsis sedang mengkooptasi panggung tersebut dengan formasi bertiga. Menurut informasi dari Aulia Ramadhan (gitar) bahwa formasi Ellipsis sekarang adalah dadakan untuk Soundrenaline 2016, dikarenakan salah satu additional player mereka berhalangan hadir. Dilanjut Poison Nova (Cirebon) yang  kental musik atmosferik khas Norwegian Black Metal. Ditengah aksinya, Arian 13 (vokalis Seringai) diundang naik keatas dan bersama-sama membawakan ‘Meir’ milik Kvelertak. Mau beranjak ke tempat lain lagi, apa daya kursi sudah memanjakan badan. Lagipula kami penasaran Zat Kimia, band alternative rock asal Bali yang sedang banyak direkomendasikan. Ekspetasi saya pun dipatahkan begitu saja ketika tiga lagu sudah dibawakan. Nyatanya musik nuansa 2000’an awal menyelimuti mereka. Tidak heran ketika dikulik lebih dalam, vokalisnya (Ian Joshua Stevenson) merupakan dari band Kaimsasikun. Jika kalian pernah dengar single mereka berjudul “Pria Dijajah Wanita” dia salah satunya.”Candu Baru” lagu yang menyinggung tentang perkembangan dunia maya pun masih nyangkut di kepala sampai sekarang. Sialan memang! Ku jadi candu.

    Ketika senja datang saya berniat menengok ke LTE Stage sebentar. Dari kejauhan komplotan grunge Bali bernama Navicula sedang membawakan “Mafia Hukum”. Sontak semua penonton menyanyikan bait demi bait dengan membara! Melihat rundown acara, nama Kimokal sepertinya menarik.  Duo trip hop yang dibantu dua personil tambahan itu sedang menghipnotis penonton. Dilanjut unit post-rock Under The Big Bright Yellow Sun (UTBBYS) mengambil alih panggung. Deruan nada-nada depresif yang dimainkan secara instrumental menjadi bumbu utamanya. Ini bukan kali pertama saya melihat aksi mereka. Hanya melihat perubahan pada posisi drum  mereka yang memang jempolan bukan main. Tak heran jika lagu terakhir mereka, ‘Threshold’, diberikan standing applause satu Ampitheater Stage.

    Sesudah itu, derap langkah saya percepat. Memang terdengar terburu-buru karena mengejar penampilan Isyana Sarasvati. Alhasil saya hanya mendapatkan remah-remah  dara jelita tersebut membawakan lagu-lagu hits dari Queen yang dimainkan secara medley dengan aransemen dia sendiri. Dilanjut The Upstairs memberi suguhan baru. Tampil begitu enerjik. Mungkin panggung yang nyentrik dikerjakan langsung oleh teman-teman Grafis Huru-Hara merupakan faktor penyemangatnya. Dengan bucket hat merah, Jimi Multhazam cs membawa tembang-tembang yang membalikan memorabilia masa SMA saya. Salah duanya ‘Modern Bob’ dan ‘Dansa Akhir Pekan’. Tenaga maksimal diberi habis-habisan diatas panggung. Sambil menyelipkan sediki celotehan khas Jimi  perihal penampil sebelumnya. Sewaktu ‘Matraman’ dipilih sebagai lagu pamungkas, terlihat dua seniman (Farid Stevy dan Ican Harem) memecah kemonotonan baris depan dengan melakukan crowd surfing. Berikutnya ada Soundrenaline Project. Sebuah kolaborasi musik gubahan Nikita Dompas yang dipilih sebagai music director khusus proyek ini. Dimana Nikita banyak mengaransemen ulang lagu-lagu pilihannya dan dinyanyikan secara bergantian oleh Kikan Namara, Marcello Tihatoe, Andy /rif, Kallula (Kimokal), dan Ratih Suryahutamy (Neonomora). Seperti ‘Dahulu’ dari The Groove sampai ‘Sendu Melagu’ kepunyaan Barasuara. Berpindah ke Ampitheater Stage terlihat massa sudah mengerubungi di baris pertama saat Goodnight Electric bermain. Spesialnya panggung ini adalah tidak ada batasan antara penonton dan penampil. Ketika penonton sudah tidak terkontrol, banyak orang yang naik ke pelataran panggung. Penjaga pun sudah kewalahan menertibkan. Menggila! Tak heran jika banyak melihat pemandangan musisi lain, seperti Farri Icksan dari The SIGIT, ikut bersenang-senang bersama. “Kayak acara sendiri nih!” ujar Felix Dass diantara kerumunan orang. ‘Am I Robot’ pun menandakan perjumpaan itu berakhir.

    Walau banyak melewatkan aksi dari nama-nama besar seperti NTRL, J-Rocks, hingga Simple Plan. Tidak menyurutkan rasa penasaran  terhadap kejutan apalagi yang saya dapatkan besoknya.

    erk

     

    Hari Kedua: Kembali ke Zona 2000an

    Matahari masih terlihat menyombongkan sinarnya di hari kedua Soundrenaline 2016. Masih dengan jam dan tempat yang sama di Garuda Wisnu Kencana. Tapi semua itu tidak membuat unit psychedelic-rock asal Bali ini menurunkan tensinya. Malah sebaliknya, Rollfast membakar semangat para penonton yang sudah sedari tadi menunggu penampilannya. Pria-pria gondrong ini didaulat menjadi pembuka di A Stage. Bagaimana tidak ‘membakar’ melihatnya? Keliaran Arya Triandana sang pembetot bass, gebukan drum menggebu-gebu Ayrton Maurits Willem, hingga aksi banting gitar dari Bayu Krisna tidak luput dari pandangan saya. Di sisi kanan Gungwah Brahmantia terlihat kalem seperti biasanya, dengan komando di tangan Agha Praditya. Meluncur ke bawah, Go A Head Stage, ternyata komplotan rock-ngebut asal ibukota bernama Piston ini sudah siap menggilas telinga pendengar. Nomor-nomor seperti “Hakim Tak Berpalu”, “Kembali Ke Titik Nol” tidak lewat mereka bawakan. Balik ke atas, Kelompok Penerbang Roket mengambil posisi masing-masing. Sontak baris depan dibuat tumpah ruah tak beraturan dengan mini-circle pit. Setelah kuping digerus habis-habisan dengan musik keras, beralih ke Amphitheater Stage melihat reunian singkat dari Base Jam. Banyak tembang-tembang 90an yang mereka bawakan. Tak heran banyak yang berkaraoke ria di sana. Sehabis itu The Adams tampil membalikan memori saya kembali ke masa kejayaan Aksara Records. Dibantu oleh Pandu Fuzztoni (Morfem, The Porno) dan Tercitra Winitya (L’alphalpha).

    Keharuan tercipta saat Adrian Yunan membuka panggung Efek Rumah Kaca dengan “Sebelah Mata” berlatarkan warna haru biru. Memecah pertanyaan keberadaanya di panggung, Cholil Mahmud pun masuk di lagu berikutnya diikuti sang istri tercinta Irma Hidayana. Paduan suara massal pun terjadi ketika “Pasar Bisa Diciptakan” berkumandang. Ketika banyak yang request “Di Udara”,  Cholil pun bercanda “Jangan lagu itulah, itu lagu politik nanti kalian terprovokasi. Mendingan kita menyanyikan lagu tentang alam. Semoga alamnya Bali semakin bagus. Semakin cantik. Oke, inilah ‘Di Udara’”. Memang sedikit menyerempet isu Reklamasi Teluk Benoa yang sedang banyak diperbincangkan tapi dengan cara ‘mulus’. Elephant Kind menjadi nama menarik untuk dilihat selanjutnya. Dengan formasi terkininya, melantunkan “Oh Well” yang membuat satu area Amphitheater Stage berdansa mengikuti beat drum. Di LTE Stage, terdapat /rif berkostumkan a la musisi-musisi glam rock. Tentu masih dengan lagu-lagu andalannya. Menjadi nilai plus adalah penampilan selanjutnya, terdapat Lolot, grup rock cita rasa Pulau Dewata. Lirik-lirik mereka menggunakan asli Bali. Mungkin banyak yang kurang paham, tapi mereka berempat memang sudah menjadi bintang rock ditempatnya. Barasuara mengambil tongkat estafet panggung itu. Aksi mereka memang selalu ditunggu-tunggu khalayak luas. Begitu pun malam itu, mereka menumpahkan totalitas tanpa batas di tiap-tiap lagunya. Serigala Militia pun mempersiapkan taringnya sehabis Iga Massardi cs menyudahkan penampilan. Walau tidak semasif seperti panggung-panggung sebelumnya, circle pit pun tetap terlaksana saat Seringai membawakan “Akselerasi Maksimum”. Di tengah-tengah daftar lagunya, “Program Party Seringai” menampilkan visual dari seniman video ternama, Fluxcup. Seruan “Individu, Individu Merdeka!” dari penonton mengawali raungan gitar “Mengadili Persepsi”. Ditutup dengan kepalan meninju ke udara saat “Dilarang Di Bandung” dibawakan.

    Melewatkan The Temper Trap bukan perkara besar untuk disayangkan. Bloc Party merupakan salah satu nama yang sengaja didatangkan ke Soundrenaline 2016 berdasarkan masifnya permintaan di goaheadpeople.com. Paska hiatus dua tahun, ditambah ditinggal Matt Tong bersama Gordon Moakes, tidak membuat Kele Okereke putus asa. Bersama formasi baru, salah satu band indie-rock kebanggaan Inggris ini banyak mempromosikan materi-materi dari album kelima mereka, Hymns. “Banquet”, “Octopus”, “Helicopter” sampai “Ratchet” memuaskan saya untuk bernyanyi bersama. Diselingi pemandangan gebyar kembang api dari panggung sebelah. “This Modern Love” dipilih menjadi penutup penampilannya. Keriuhan itu pun selesai di hari kedua. Dan sekali lagi Soundrenaline 2016 berhasil membuktikan dirinya sebagai festival musik terbesar di Indonesia. Bukan hanya sekedar menyelenggarakan festival musik yang layak, tapi juga membuka ruang untuk musisi-musisi baru yang perlu banyak disorot ataupun diwadahi bagi penikmat musik luas.