Tag: efek rumah kaca

  • Efek Rumah Kaca – Sinestesia

    Efek Rumah Kaca – Sinestesia

    Akhirnya saya berkesempatan mendengarkan album Sinestesia ini. Sebelum mendengarkan album ini, premis-premis yang ditulis beberapa ‘reviewer’ tampaknya album ini bakal ribet dan berbelit sama seperti tulisan review-review mereka yang panjang-panjang dan tak meninggalkan makna. Jadi ya saya ga buru-buru amat mendengarkan album ini.

    Beruntung kemudian pada akhirnya mendapatkannya, dan saya bahagia masih diberi kesempatan oleh Yang Maha Kuasa untuk dapat mendengarkan karya-karya indah di Sinestesia.

    Untuk saya, album ini adalam album yang rendah hati, pandai, penuh petualangan, indah sekaligus memiliki arti yang dalam. Durasi yang panjang malah menambah akrab, seperti suasana yang begitu bermakna dan kita tidak ingin menyudahinya begitu saja. Durasi-durasi yang panjang-panjang di album ini bukanlah suatu kelemahan, tetapi justru salah satu daya tarik album ini. Sampai saat ini, ‘Sinestesia’ adalah album mereka yang paling sering saya putar berulang.

    Ada enam track: Merah, Biru, Jingga, Hijau, Putih, dan Kuning. Jika kamu mengikuti karir mereka sejak awal termasuk era Pandai Besi, maka menurut saya album ini adalah pencapaian tertinggi Efek Rumah Kaca secara musikalitas.

    Memang rasanya tidak banyak lirik-lirik yang ‘catchy’ untuk dinyanyiin bareng-bareng. Yang membuat album ini begitu kuat adalah suasana secara keseluruhan.

    Tapi ya kalau memang mau dibilang ada bosen-bosennya, ya sama saja dengan album-album lain yang lagu-lagunya berdurasi cuma 1 menit juga kadang baru intro udah bosen. Solusinya mudah, ya putar saja lagu-lagu yang disukai. Lumayan, satu lagu sudah cukup untuk mengisi makna hidup kita dalam 12 menit.

    Seperti track favorit saya “Jingga”.

    Dibawah ini adalah sedikit persembahan untuk lagu ini.

    cholil Efek Rumah Kaca

  • Go Ahead Challenge Artwarding Night

    Go Ahead Challenge Artwarding Night

    GAC_gif_cobra_300x250

    Beberapa tahun belakangan ini kancah kreatif di Indonesia tampak bergairah, terasa dari ramainya kompetisi Go Ahead Challenge 2015 yang mendapatkan submisi sebesar 36,860 karya. Go Ahead Challenge ini adalah kompetisi kreatif di empat bidang seni yaitu; musik, fotografi, seni visual, dan style. Setelah melewati proses seleksi ketat dari keempat kurator, Arian13 (musik), Anton Ismael (fotografi), Ade Darmawan (seni visual) dan Auguste Soesastro (style), pemenang akan diumumkan pada 22 Agustus 2015, di acara “Go Ahead Challenge Artwarding Night”. Acara awarding night ini juga menjadi wadah kolaborasi bagi komunitas-komunitas seni yang ada di Indonesia.

    Hightlight acara ini adalah penampilan kolaborasi band-band indie terbaik: White Shoes and the Couples Company – Sentimental Moods antara Efek Rumah Kaca – Barasuara,
    White Shoes and The Couples Company akan berkolaborasi dengan Sentimental Moods, ini menarik karena Sari, vokalis WSATCC, pernah mengisi vokal di beberapa trak Sentimental Moods. Ditambah lagi personel WSATCC yang selalu atraktif dan tidak malu menunjukkan skill akan semakin berbahaya saat bertemu Sentimental Moods yang kemampuan bermusiknya mumpuni.

    Sementara Efek Rumah Kaca yang mulai aktif kembali sepulangnya Cholil dari Amerika, akan berkolaborasi dengan Barasuara. Barasuara adalah band paling ‘hangat’ saat ini, karena musik dan penampilannya yang atraktif. Jika dikolaborasikan dengan Efek Rumah Kaca yang punya aransemen progresif jenius, maka momen kolaborasi nanti tidak boleh dilewatkan.

    Selain penampilan kolaborasi diatas, The Secret Agents sebagai duo penyelenggara rangkaian gigs Superbad juga mengkurasi 4 band untuk tampil. Mereka adalah Sigmun, Stars and Rabbit, Indische Party dan Ramayana Soul. Ke empatnya telah menjadi bahan pembicaraan beberapa tahun belakangan ini.
    Sigmun adalah band stoner rock, dengan distorsi berat dan lengkingan yang akan membuat Ozzy Osborne berteriak “i am your father”. Stars and Rabbit adalah duo pop asal Jogjakarta, yang baru saja merilis album yang dimastering di London. Lalu Indische Party adalah band rock and roll yang membangkitkan kembali era keemasan rock n’roll circa 70-an, dan Ramayana Soul adalah jawaban dari pencarian spiritual manusia-manusia yang mencari siraman rohani psikedelika.

    Pemenang Go Ahead Challenge 2015 dari Sampoerna A akan diberangkatkan ke Melbourne untuk sebuah pengalaman seni kolaborasi internasional sebagai hadiah utama. Melbourne merupakan kota yang terkenal dengan street art yang menarik dan memiliki berbagai komunitas seni yang beragam. Para pemenang akan memamerkan karya kolaborasi pada Melbourne Fringe Festival 2015, sebuah festival seni bergengsi di kota tersebut.

    Tahun lalu, Sylvester Bass (fashion designer) dan Raditya Bramantya (fotografer), terpilih sebagai pemenang dari Go Ahead Challenge 2014 dan mendapat pengalaman collaborative creative project di Paris Fashion Week 2014 bersama desainer kondang Tex Saverio.

  • \Grassroot Showcase #1, Tribute to Efek Rumah Kaca//

    \Grassroot Showcase #1, Tribute to Efek Rumah Kaca//

    Teraskota, 5 Juni 2011, 16:00 wib, bertepatan dengan hari minggu, akan menjadi akhir bagian dari rangkain panjang acara Grassroot Showcase #1, Tribute to Efek Rumah Kaca yang telah kami jalankan selama empat minggu di bulan Mei dan Juni ini.

    Grassroot Showcase sebuah pergerakan memajukan band – band baru dan muda yang belum mendapat kesempatan yang lebih. Berisik radio mencoba konsisten untuk mengangkat kreatifitas pelajar / pemuda di bidang musik. Dan kami juga mencoba memberikan nilai lebih sebagai bentuk apresiasi kami kepada mereka-mereka yang telah menginspirasi.

    Dan pada edisi yang pertama ini, kami memilih untuk mengapresiasikan Efek Rumah Kaca. Ada banyak hal yang bisa terlontar atas pilihan ini. Tapi kami yakin, karena kami mengangkat Efek Rumah Kaca atas apa yang telah mereka lakukan dan mereka perbuat dan atas sumbangsih yang telah mereka berikan terhadap perubahan dan perkembangan musik dalam dekade 2000-an. Jadi tanpa ada sedikit keraguan kami sepakat untuk mengapresiasikan mereka pada Grassroot Showcase #1.

    Selain EFEK RUMAH KACA, ada empat band-band Grassroot yang akan ikut meramaikan dan
    menghangatkan acara ini, mereka adalah :
    • The Simple Sample (Brit Pop / Vintage Pop)
    • BLHB (8bit / Experimental / DB disco)
    • Distorsi Alam Timur (Alternative / Garage / Ambient)
    • Project Cyrios (Space / Visual)
    Sekedar informasi, band-band Grassroot tersebut nantinya akan kami tantang untuk membawakan lagu Efek Rumah Kaca sesuai dengan gaya dan genre masing-masing band. Dan juga akan ada penampilan special dari LEONARDO RINGO.

    Event ini akan di moderatorkan oleh Gilang & Adjis doaibu. Nantikan juga rilisan terbaru dari Primitif Zine dan juga edisi digital Di Udara Zini vol 1 – 4 yang akan terbit di tengah – tengah Grassroot Showcase #1 pada tanggal 5 juni nanti.

    So, sampai jumpa di Teraskota!

  • “GRASS ROOT SHOWCASE #1”

    5 Juni 2011
    Teraskota, Serpong-Tangerang Selatan.
    Efek Rumah Kaca, L’alphalpha dan Leonardo

    more details soon

  • Gig Review: A Flava AYLI Bandung: ERK & Ipang

    “Lagu ini bercerita tentang penglihatan gua yang semakin berkurang. Tapi gua menerima kondisi itu, dan berusaha menikmatinya..” Kira-kira seperti itulah kalimat mengharukan yang keluar dari mulut bassist Adrian, sesaat sebelum Efek Rumah Kaca membawakan lagu ketiga mereka malam itu, ‘Sebelah Mata’. Kondisi kesehatan yang kurang baik membuat Adrian sempat absen dari formasi Efek Rumah Kaca selama beberapa waktu. Itulah yang membuat saya merasa sangat beruntung bisa menikmati formasi penuh dari Efek Rumah Kaca dalam sebuah konser yang terkonsep dengan baik, yang entah kapan bisa saya nikmati kembali.

    Acara yang bertempat di Score! Cihampelas Walk, 16 April 2011 ini bertajuk ‘A Flava As You Like It’ dan mengambil jargon ‘two in one’ sebagai tema acara. Tema ini dipilih karena dianggap sesuai dengan image dari produk rokok yang di-presentasikan oleh pihak penyelenggara acara pada konferensi pers siang harinya. Konsep ‘two in one’ ini pula yang membuat panitia memutuskan untuk menyajikan konser ini dalam konsep kolaborasi dan memilih Irfan Fahri Lazuardy atau yang biasa kita kenal dengan Ipang BIP, sebagai tandem kolaborasi yang sepadan untuk bersanding bersama Efek Rumah Kaca.

    Efek Rumah Kaca membuka konser ‘A Flava As You Like It’ dengan ‘Do You Realize??’, sebuah lagu agung gubahan dari The Flaming Lips. Berlanjut pada ‘Across the Universe’ dari The Beatles, yang di-bawakan secara menawan oleh Efek Rumah Kaca bersama dengan Ipang. Dua lagu pembuka ini menjadi semacam isyarat dari Efek Rumah Kaca, bahwa mereka tidak main-main dalam mempersiapkan konser malam itu.

    Keseriusan Efek Rumah Kaca kembali dibuktikan dengan dibawakannya ‘Menjadi Indonesia’ sebagai lagu ke-enam. Sebuah lagu yang, menurut vokalis Cholil Mahmud, mustahil untuk dibawakan jika Adrian sedang absen dari formasi mereka. Dan benar saja, perkawinan antara bass-line yang menggulung serta gemuruh drum dari drummer Akbar adalah racun utama dari lagu ini, yang mungkin saja tidak akan tercipta jika Adrian tidak berada disana.

    ‘Di Udara’ dan sebuah lagu baru berjudul ‘Hilang’ tidak luput untuk dibawakan pada malam itu. Cholil kembali bercerita bahwa dua lagu ini merupakan lagu penghormatan bagi para korban penghilangan paksa oleh pihak-pihak tertentu, termasuk diantaranya almarhum Munir yang tewas diracun pada September 2004. Buat saya, lagu-lagu seperti inilah yang membuat Efek Rumah Kaca memiliki posisi yang berbeda dengan musisi kebanyakan. Bahwa mereka punya kesadaran sosial dan tidak ragu untuk menuangkannya dalam karya-karya mereka.

    Malam semakin larut dan kolaborasi terus berlanjut. ‘Ada Yang Hilang’ dan ‘Sahabat Kecil’ menjadi dua lagu dari Ipang yang dilahap habis dalam kolaborasi-nya bersama Efek Rumah Kaca, sementara Efek Rumah Kaca ikut menyumbangkan ‘Cinta Melulu’ sebagai materi kolaborasi. Perbedaan latar belakang musikal di-antara kedunya adalah alasan mengapa saya menyebut kolaborasi ini sebagai suguhan yang menarik. Efek Rumah Kaca datang membawa alunan kelabu dari sisi dunia yang beku sementara Ipang justru menaburinya dengan lekukan suara sensual yang menghangatkan. Bayangkan sebuah ruangan gelap bertembok dingin, lalu tiba-tiba datang sesosok gadis penggoda berpakaian minim. Seperti itulah rasanya menyaksikan kolaborasi mereka.

    Konser malam itu menuju akhir saat Efek Rumah Kaca dan Ipang saling bersenyawa membawakan ‘Merpati Putih’, sebuah lagu official soundtrack dari film ‘Badai Pasti Berlalu’ (1977) dan dinyanyikan oleh almarhum Chrisye. Berlatar petikan gitar Cholil yang dingin dan mengawang ke alam lain, Ipang berhasil membawa lagu ini pada level dimana setiap manusia normal pasti setuju bahwa lagu ini adalah salah satu yang terbaik yang pernah ada dalam sejarah perdaban bangsa Indonesia. Sebuah aksi penutup memukau sekaligus ode sempurna yang pasti akan membuat almarhum Chrisye tersenyum di alam sana.

    Words by Risyad Tabattala
    Photos By Anugrah Suseno & Claudia Dian