Gig Review: A Flava AYLI Bandung: ERK & Ipang

News

Written by:

“Lagu ini bercerita tentang penglihatan gua yang semakin berkurang. Tapi gua menerima kondisi itu, dan berusaha menikmatinya..” Kira-kira seperti itulah kalimat mengharukan yang keluar dari mulut bassist Adrian, sesaat sebelum Efek Rumah Kaca membawakan lagu ketiga mereka malam itu, ‘Sebelah Mata’. Kondisi kesehatan yang kurang baik membuat Adrian sempat absen dari formasi Efek Rumah Kaca selama beberapa waktu. Itulah yang membuat saya merasa sangat beruntung bisa menikmati formasi penuh dari Efek Rumah Kaca dalam sebuah konser yang terkonsep dengan baik, yang entah kapan bisa saya nikmati kembali.

Acara yang bertempat di Score! Cihampelas Walk, 16 April 2011 ini bertajuk ‘A Flava As You Like It’ dan mengambil jargon ‘two in one’ sebagai tema acara. Tema ini dipilih karena dianggap sesuai dengan image dari produk rokok yang di-presentasikan oleh pihak penyelenggara acara pada konferensi pers siang harinya. Konsep ‘two in one’ ini pula yang membuat panitia memutuskan untuk menyajikan konser ini dalam konsep kolaborasi dan memilih Irfan Fahri Lazuardy atau yang biasa kita kenal dengan Ipang BIP, sebagai tandem kolaborasi yang sepadan untuk bersanding bersama Efek Rumah Kaca.

Efek Rumah Kaca membuka konser ‘A Flava As You Like It’ dengan ‘Do You Realize??’, sebuah lagu agung gubahan dari The Flaming Lips. Berlanjut pada ‘Across the Universe’ dari The Beatles, yang di-bawakan secara menawan oleh Efek Rumah Kaca bersama dengan Ipang. Dua lagu pembuka ini menjadi semacam isyarat dari Efek Rumah Kaca, bahwa mereka tidak main-main dalam mempersiapkan konser malam itu.

Keseriusan Efek Rumah Kaca kembali dibuktikan dengan dibawakannya ‘Menjadi Indonesia’ sebagai lagu ke-enam. Sebuah lagu yang, menurut vokalis Cholil Mahmud, mustahil untuk dibawakan jika Adrian sedang absen dari formasi mereka. Dan benar saja, perkawinan antara bass-line yang menggulung serta gemuruh drum dari drummer Akbar adalah racun utama dari lagu ini, yang mungkin saja tidak akan tercipta jika Adrian tidak berada disana.

‘Di Udara’ dan sebuah lagu baru berjudul ‘Hilang’ tidak luput untuk dibawakan pada malam itu. Cholil kembali bercerita bahwa dua lagu ini merupakan lagu penghormatan bagi para korban penghilangan paksa oleh pihak-pihak tertentu, termasuk diantaranya almarhum Munir yang tewas diracun pada September 2004. Buat saya, lagu-lagu seperti inilah yang membuat Efek Rumah Kaca memiliki posisi yang berbeda dengan musisi kebanyakan. Bahwa mereka punya kesadaran sosial dan tidak ragu untuk menuangkannya dalam karya-karya mereka.

Malam semakin larut dan kolaborasi terus berlanjut. ‘Ada Yang Hilang’ dan ‘Sahabat Kecil’ menjadi dua lagu dari Ipang yang dilahap habis dalam kolaborasi-nya bersama Efek Rumah Kaca, sementara Efek Rumah Kaca ikut menyumbangkan ‘Cinta Melulu’ sebagai materi kolaborasi. Perbedaan latar belakang musikal di-antara kedunya adalah alasan mengapa saya menyebut kolaborasi ini sebagai suguhan yang menarik. Efek Rumah Kaca datang membawa alunan kelabu dari sisi dunia yang beku sementara Ipang justru menaburinya dengan lekukan suara sensual yang menghangatkan. Bayangkan sebuah ruangan gelap bertembok dingin, lalu tiba-tiba datang sesosok gadis penggoda berpakaian minim. Seperti itulah rasanya menyaksikan kolaborasi mereka.

Konser malam itu menuju akhir saat Efek Rumah Kaca dan Ipang saling bersenyawa membawakan ‘Merpati Putih’, sebuah lagu official soundtrack dari film ‘Badai Pasti Berlalu’ (1977) dan dinyanyikan oleh almarhum Chrisye. Berlatar petikan gitar Cholil yang dingin dan mengawang ke alam lain, Ipang berhasil membawa lagu ini pada level dimana setiap manusia normal pasti setuju bahwa lagu ini adalah salah satu yang terbaik yang pernah ada dalam sejarah perdaban bangsa Indonesia. Sebuah aksi penutup memukau sekaligus ode sempurna yang pasti akan membuat almarhum Chrisye tersenyum di alam sana.

Words by Risyad Tabattala
Photos By Anugrah Suseno & Claudia Dian

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *