Trio yang dimotori oleh Arswandaru ( bass/vocal), Faturrachman (guitar/vocal), dan Saptahadi (drum) ini sebenarnya sudah mulai terbentuk sekitar tahun 2010, dimana mereka bertemu saat menempuh pendidikan dalam disiplin ilmu dan lingkungan kampus yang sama (Filsafat UI). Memulai dengan ketertarikan yang sama atas musik grunge, kemudian mereka juga bereksperimentasi di wilayah psychedelic rock. Dari panggung kampus hingga skena di luar kampus pun beberapa kali pernah mereka jajaki. Namun produktifitas sebagai sebuah band cenderung pasang surut, karena masing-masing personil juga tergabung dalam band lain. Hingga pada akhirnya mereka memutuskan untuk membuat karya sendiri, memperbaharui materi, dan sedikit mengubah haluan dengan memasukan variabel lain tentang kegemaran mereka pada literatur, khususnya yang menyangkut tema horror atau okultisme seperti karya – karya dari H.P Lovecraft atau J.R.R Tolkien. Dipadukan dengan nuansa musik yang banyak terpengaruh mulai dari riff-riff Black Sabbath, The Beatles, Blue Cheer, psychedelic rock era 60 dan 70-an, hingga sloppy garage punk.
Single pertama mereka yang berjudul “Rites of Magick”, secara garis besar bercerita tentang ritual okultisme yang dijalani oleh seorang yang berkarakter drug crazed – paranoid. Sebuah perjalanan di suatu malam yang penuh dengan rasa gelisah, takut, imajinasi yang menyeramkan tentang pengorbanan, bercampur dengan suka cita dan adrenaline rush akibat dari asupan ‘barang substansial’, untuk menyambut datangnya sang bintang fajar (the morning star, the light bringer, Lucifer). Sebuah paranoia yang juga banyak terinspirasi dari sosok Charles Manson.
Single ini ditujukan sebagai sebuah jembatan bagi para pendengar sebelum merilis EP dalam selang waktu 2 bulan mendatang. Semacam cuplikan sekaligus introduksi tentang apa yang ditawarkan dari Witch Motor Inn.
Bulan ini Aliansi Musik Nasional bertambah jumlah lagu indie lokal yang enak didengar dan bisa diunduh, dan hampir semua pulau besar di Indonesia sudah terwakili di jaringan musik yang dijalankan oleh para arkivis musik Indonesia.
Kamu bisa mengunduh seluruh lagu yang ada di tautan ini. Kemudian bisa membaca cerita dari penjuru Indonesia lewat tulisan-tulisan di bawah. Selamat menikmati, mari berbagi.
Zat Kimia – Dalam Diam
Bali
Ditulis oleh Muhammad Indra Gunawan
Zat Kimia adalah sebuah candu baru ditengah gempuran riuhnya kancah lokal Denpasar. Tanpa tedeng aling-aling, mereka berjalan lebih tenang dalam setapak yang ramai. Dalam Diam mereka merayakan keheningan. Dalam diam mereka mendengarkan sekitar. Dan dalam diam pula, mereka berani memutuskan mana jalan yang akan mereka pilih.
Ian Stevenson (Vokal/Gitar), Edi (Bass/Keyboard), Onki (Gitar) dan Kiki (Drum) adalah unsur yang menjadikan Zat Kimia menjelma menjadi senyawa yang adiktif bagi para pendengarnya. Nama-nama tersebut bukan nama baru di skena lokal Denpasar. Mungkin jika pernah mendengarkan lagu berjudul “Pria Dijajah Wanita” di era (kalau tidak salah) 2000an awal, kini sang biduan tersebut akhirnya mengeluarkan karya lagi bersama Zat Kimia.
Dalam Diam, lagu yang dirilis satu hari sebelum hari raya Nyepi ini, mengajak saya kembali menelisik begitu luas kisah tentang lagu ini. Awalnya saya berpikir lagu ini adalah sebuah anthem perayaan penyepian, tapi ternyata ketika suatu waktu saya berbincang pada saat mereka sedang berkumpul di studio. Mereka menerangkan kalau lagu ini sebenarnya tentang bagaimana kita diam bukan berarti tidak berbuat apa-apa tapi untuk merasakan apa yang terjadi sekitar. Tentang apa yang akan kita lakukan selanjutnya. Kita berhenti sejenak untuk bersiap menjadi lebih baik lagi. Tentang dunia yang chaos, tentang cinta yang tak selalu hanya kepada lawan jenis.
Begitu beragam unsur musik yang dibawa dalam Zat Kimia. Ketukan drum dengan tempo pelan, bebunyian gitar yang sesekali memekakan telinga, suara-suara yang berasal dari gelap menuju terang terbungkus rapi di lagu ini.
Soundcloud : zatkimia
Instagram : zatkimia
Facebook : Zat Kimia
Weekend Roll – Salt Water Boy
Bandung
Ditulis oleh Gagi Aria
Hip hip uyeeahhh! Karakter suara tipis serak nan lincah dari vokalis Weekend Roll membawa bola permainan musik seperti ayunan pemain basket posisi small forward. Dia “playmaker” dalam setiap ayunan instrumen suara sehingga terdengar cantik walaupun distorsi dan energi permainan telah membuatnya berkeringat. Mari kita simak!
Indigo Moire – How Far You Are
Jabodetabek
Ditulis oleh Robonggo
Pertama kali melihat peformance mereka tampil di acara kolektifan yang bertempat di Reading Room, Kemang. Mereka terdengar seperti Title Fight sampai Turnover waktu itu. Band asal Bekasi ini terbentuk pada tahun Februari 2015. Awalnya Indigo Moire terdiri dari Sam (Bass/Vocal) dan Edwin (Lead). Mereka berdua teman seperumahan. Pada bulan Juni, Pandu bergabung mengisi rhythm, lalu tak lama dia keluar karena alasan tertentu. Pada bulan berikutnya, Leo (Drums), yang merupakan teman Sam dari kecil, ikut bergabung. Lalu Leo pergi ke Australia untuk kuliah, dan disanalah dia bertemu dengan Rey (Rhythm) dan mengajak ikut bergabung juga. Pada sampai saat ini, Indigo Moire masih “LDR-an”. Dan saya pun tegerak memilih single terbaru mereka “How Far You Are” untuk edisi bulan Mei. Selamat mendengarkan!
Yossi Picasso and Friends adalah grup hip-hop reggae yang terbentuk Februari tahun 2016, beranggotakan Darius aka Yossi Picasso, Pelle aka PAKUBUMI, Hari aka Big Dayers, dan Tony
Gentong aka Fat-On-Nit. Yossi Picasso And Friends sendiri adalah sebuah merger dari Darius aka Yossi Picasso sendiri, Big Dayers dari Rap Street dan Colony Island yang terdiri dari PAKUBUMI dan Fat-On-It. Colony Island berkenalan dengan Yossi pada tahun 2015, dan setelah beberapa interaksi mereka memutuskan untuk merger. Yossi Picasso and Friends memulai debut mereka di bulan februari di gig Trap Of The Week #1 dan Keraskan Suara Vol.1 . Di saat mulai rekaman, Yossi Picasso and Friends belum mempunyai lagu sendiri sebagai grup merger, akhirnya sepakat membikin lagu baru dan menggabungkan 4 lagu Colony Island kedalam satu EP Yossi Picasso and Friends yang
akan rilis tahun ini.
Masterbation – Terekam
Medan
Ditulis oleh Rachmadi Perdana
Beat drum purba, sound gitar mentah, serta vokal lantang barbaric memperkuat nuansa (proto) punk di band yang digawangi Irfan, Albar, Daniel dan Doli ini. Lagu Terekam sendiri menceritakan tentang kekesalan terhadap seseorang yang menjadi sumber masalah bagi orang lain.
Seperti Ian Dury dan Iggy Pop yang sedang bermain lenong dengan alm. Benyamin S.
Soundcloud : m.soundcloud.com/masterbation-music
Herman – Melagukan Puisi
Palangkaraya
Ditulis oleh Theo Nugraha
Salah satu penggalan lirik dari single solois Herman. baru saja merilis single dalam bentuk fisik saat RSD Palangkaraya 18 april 2016. Dan saat ini masih merapungkan beberapa lagu untuk mini album. Melagukan puisi yang bernuansa folk ini banyak terinspirasi dari sound pop Indonesia. Ujar Herman saat kami ngobrol bagaimana proses pembuatan Melagukan puisi.
Herman dulu aktif sebagai vokalis Salenka (Punk Rock) sampai akhir 2014 dan sempat bersama Missing Rin (Pop) di tahun 2014 – 2015. Sampai akhirnya Herman mulai berencana solo dan terealisasi di tahun 2016. jadi sila dengar ego dari project solo Herman.
Pertama kali tau band ini pas lagi garap RSD East Borneo 2015, tiba-tiba ada band baru submit untuk perform. Bener-bener baru, belum pernah perform, di akun Soundcloud baru ada satu lagu cover dan akhirnya terpaksa ditolak. Sampai akhirnya bisa nonton mereka live, terdengar nada-nada etnik dengan vokal dominan sendu. Folk modern, lirik sosial dan nada sendu bisa dibilang menjadi deskripsi Wajah Abstak. Gak lama setelah itu mereka menambahkan dua vokal latar perempuan yang membuat formasi mereka malah mirip band indie rock asal Jakarta yang baru kelar tour. Terlepas dari itu Wajah Abstrak cukup baik mengangkat tema sosial dalam lirik mereka, mengajak pendengarnya untuk merenung dan memahami.
Figura Renata adalah duo muda-mudi yang memainkan pop berbalut akustik. Duo itu adalah Deviasita Putri dan Bima Sinatrya, yang mendirikan Figura Renata pada Oktober 2015. Single “Elegi” sendiri berwujud petikan gitar dan musik pop minimalis mengiringi suara manis dari sang vokalis. Saat ini “Elegi” telah mengudara di beberapa stasiun radio lokal maupun luar Semarang dan diperdengarkan di panggung-panggung Figura Renata yang mulai ramai ditanggap. Perjalanan mereka masih panjang, namun tampak cerah. – Godham Perdana
https://www.instagram.com/figurarenata
Teori – Sesari Selagu
Solo
Ditulis oleh Dimas Purnomo Fridbramantyo
Single sesari selagu merupakan salah satu lagu di album perdana mereka yang bertajuk “Tantrum”. Lirik bercerita soal hidup seorang manusia yang sudah ter-atur dan harus berjalan seakalnya dan pasti berakhir sesuai dendangnya. Serta pengharapan akan terkabulnya permohonan penebusan akan segala kekurangan. Album “Tantrum” yang dirilis bebarengan dengan perjalanan Menahan Menahun Tour bersama Teori dan Soloensis. –
Black Rawk Dog – Shine & Fun
Sidoarjo
Ditulis oleh Yudhistira Purwa
Celtic Punk , rupa rupanya jenis musik yang satu ini sudah mulai menjamur dari beberapa tahun terakhir di nusantara ini . salah satu jagoan lokal yang memutuskan untuk berkarya dan mencipta di jalur ini adalah Black Rawk Dog , Band yang terbentuk di Sidoarjo pada akhir 2010 ini di gawangi oleh Edrea (Vocal & Accoustic Guitar) , Boliph (Fiddle & Harmonika) , Adam (Vocal,Whistle & Bagpipe ) , Wildan ( Banjo & Pianika ) , Irul ( Vocal & Electric Guitar) , Andi ( Vocal & Bass ) , Afri ( Drum ) mengusung nafas Irish Music dalam setiap karya mereka yang banyak dipengaruhi oleh Dropkick Murphy , Flogging Molly dsb. Awal tahun 2014 kemarin mereka ikut dalam kompilasi yang di organisir oleh WLRV Records bersama 14 band tanah air yang “sejalan” untuk update lebih lanjut dari mereka bisa langsung kunjungi di facebook page mereka , sukses buat Black Rawk Dog ! ciao!
Tidak bisa dipungkiri bahwa Surabaya adalah kota industrial, namun bukan berarti di kota ini tidak ada senimannya. Rhnk (Baca: Rahang, red.) adalah hasil buah perpaduan anak-anak fakultas seni rupa sekaligus satra. Menggabungkan seni dengan musik rock, hasilnya adalah lagu berbau rakyat yang sarat akan kritik-kritik sosial. Tentu saja bahasa juga adalah salah satu isunya sehingga lirik-lirik dalam lagu mereka menggunakan istilah bahasa Jawa. Lihat saja lagunya yang berjudul Gemah Ripah Loh Jinawi atau Tong Edan. Namun, untuk yang dibagikan kali ini diambil adalah Badai Pasir, single yang paling mantap di telinga mereka yang suka sesuatu yang cadas.
Akila – Let Me Go
Yogyakarta
Ditulis oleh (Komang Adhyatma/www.kanaltigapuluh.info)
Louissa Akila atau lebih sering dipanggil Akila ini adalah seorang solois muda dari kota Jogja yang bisa dibilang namanya tidak terdeteksi di ranah dunia musik kota tersebut.
Berdasarkan pengalaman pribadi dalam kehidupan sehari-harinya, Akila belum lama ini telah merilis sebuah mini album yang berjudul ‘Ares & Eirene’, dimana album yang berisikan 6 buah lagu ini secara tidak langsung merepresentasikan bakat yang terpendam dalam diri Akila terutama dalam bidang sound engineering, dimana Akila mengerjakan proses recording, mixing dan mastering album ini seorang diri. Hal ini tidak aneh juga, karena sebelumnya Akila telah mengenyam pendidikan formal di sebuah kampus Audio Engineer di Jakarta.
Sebagai portofolio awal dari Akila dalam berkarya, mini album tersebut bisa dibilang menjadi jejak awal Akila dalam industri musik di Indonesia, selagi dirinya akan melanjutkan studinya di Jerman selama beberapa waktu kedepan.
Setelah sukses menggelar konser Tame Impala bulan April lalu, kiosPlay kembali hadir. Pada kesempatan keduanya, kiosPlay menghadirkan M83, proyek musik yang digawangi Anthony Gonzalez.
Penantian penggemar M83 terbayar lunas, untuk pertama kali nya proyek music elektronik yang digawangi Anthony Gonzalez menginjakkan kaki nya di Jakarta. Kondisi Lapangan D Senayan yang becek dan berlumpur akibat hujan yang mendera Jakarta Sabtu (21/5) kemarin, tidak menyurutkan antusiasme penggemar.
kiosPlay sebagai promotor konser ini mempercayakan duo elektronik asal Bandung, Bottlesmoker membuka pagelaran malam itu. Sekitar pukul 7 malam Bottlesmoker dengan mengenakan kostum indian dan astronot, mulai memainkan tembang-tembang andalan mereka. Total 10 lagu mereka mainkan malam itu.
Setelah jeda sesaat, para personel M83 muncul satu persatu diatas panggung. Tanpa basa-basi mereka langsung menggeber “Reunion” hits dari album keenam “Hurry Up, We’re Dreaming”.
“Selamat malam Jakarta, ini pertama kali kami datang ke sini dan kami sangat tertarik. Terima kasih sudah datang walau tadi hujan,” Anthony Gonzalez memulai interaksi dengan para penonton.
“Do it, Try It”, “Steve Mc Queen”, “We Own The Sky”, “Go”, hingga “Midnight City”, merupakan track-track selanjutnya yang tak menyurutkan antusiasme penonton untuk sing along dan bergoyang. Ditambah tata suara dan lampu cukup pas memberikan ambiens musik yang dimainkan Anthony Gonzalez, Jordan Lawlor, Loic Maurin, Joe Berry, dan Kaela Sinclair.
Setelah encore, konser ditutup dengan tiga amunisi terakhir yang disiapkan M83 yakni “Solitude, “Couleurs” dan “Lower Your Eyelids to Die With The Sun” yang merupakan soundtrack film Divergent.
Bottle SmokerBottle SmokerM83Anthony Gonzales in JakartaM83 Jakarta
Berikut setlist M83 yang dimainkan:
Reunion
Do It, Try It
Steve Mc Queen
We Own The Sky
Intro
Walkway Blues
Ok Pal
Bibi The Dog
Road Blaster
Wait
Oblivion
Go
Midnight City
Echoes
Outro
—————————- Encore
Solitude
Couleurs
Lower
Walau akhir pekan banyak menggoda dengan pilihan acaranya di tanggal 30 April – 1 Mei 2016, tapi di kedua hari tersebut saya memantapkan langkah ke Mondo Cafe, Fatmawati. Acara yang digelar kolektifan Noise Whore mempunyai daya tarik lebih kuat. Baik dari pemilihan tanggal hingga mengkurasi band yang mengisi line-up. Mereka membangunkan tidur panjang AGGI dan The Porno di hari sabtu. Mengajak Ramayana Soul untuk membakarkan dupanya kembali di hari minggu.
Sebelum masuk, di depan parkiran melihat sekumpulan anak-anak dengan logat Jawa Timur salah satunya menegur saya. Dia Windrata Faizal vokalis dari unit post-punk/darwave Surabaya bernama Cotswolds. Mereka bermain di hari pertama bersama nama-nama baru Soft Blood, Peonies, dan Mutombo. Dan memberi tahu bahwa acara ‘ngaret’ karena sempat kena kendala teknis tempat. Tapi, sayangnya saya pun melewatkan aksi Soft Blood dan melihat Peonies sudah siap dengan kostum Doraemon. Diisi oleh salah satu pemuka indie pop lokal bernama Jodi Setiawan (yang dulunya memiliki band bernama Jodi In The Morning Glory Parade) memainkan dream-pop yang kental dalam struktur musiknya. Mengendapkan unsur Wild Nothing era Gemini. Dilanjuti gerombolan gelombang gelap asal kota Sambal Bu Rudy, Cotswolds, tampil kurang maksimal karena masalah teknis sound. Mereka juga membawakan materi baru seperti “Only In Shadow” dan “Marra”. The Porno melanjutkan tongkat estafet penampil. Berbalut seragam hitam-hitam memang sudah menjadi ciri khas mereka. Bisa dibilang inilah salah satu target yang berhasil ditembus Argia Adhidhanendra selaku founder Noisewhore untuk membawa mereka ke acara Noise Whore Vol-002.
Kolektif ini telah lama dibentuk dia bersama teman-teman sejawatnya. Bermula dari zine sekolah lalu berpindah ke media internet berupa tumblr. “Gue terpengaruh sama perkembangan zine era 2010’an, zaman Heyfolks masih di Mayestik dan kami lebih banyak membahas soal musik. Sempat mau bahas film tapi terlalu lepas dari pakemnya” ujar Arghi pria gondrong berkacamata sekelibat mengingatkan saya dengan Xandega, bassis Polka Wars. Noise Whore Live ini kali kedua yang mereka gelar. Sebelumnya pernah mengundang deretan nama seperti Bedchamber, Low Pink, hingga TaRRkam.
Seusai The Porno, melihat gitaris handal seperti Pandu Fuzztoni tidak berpindah tempat malahan meduduki kursi drum menjadi pertanyaan besar buat saya. Ditambah Peter Andrian Walandouw (Damascus) dan Alvi Ifthikhar turut gabung bersama beliau. “Ini Mutombo nih??? Yah, dia lagi… dia lagi….” sontak teriakan penonton sehabis lagu pertama dibawakan. Memang, Mutombo memperkenalkan ke publik dunia maya lewat bandcamp hanya menggunakan moniker seperti Budi, Anto, Joko, dan bikin penasaran siapa otak dibalik band ini? Dijawab sudah di malam itu. Anti-klimaks pun terjadi sewaktu membawakan lagu terakhir dan gitar milik Peter tidak nyala total, mengambil keputusan untuk menyudahi penampilannya. Setelah ulasan ini dikabarkan Mutombo menyatakan bubar dari jagat musik sampai waktu tidak ditentukan. Sehabis itu ada AGGI yang langsung mengkooptasi panggung. Terakhir melihat mereka di Mondo Cafe yang waktu itu masih berlokasi di Kemang. Masih tetap terdengar manis walau menjadi penampil terakhir.
Argia mengaku bahwa dalam proses mengkurasi band dia serahkan kepada teman-temannya juga. Sewaktu ditanya apa kalian merugi atau tidak? Dia tidak terlalu perduli akan situasi itu, nyatanya ini acara tanpa sponsor dan seratus persen dikerjakan berdasarkan passion dari mereka masing-masing.
Kalau hari pertama lebih sering disuguhkan nuansa dream-pop sampai indie rock 90’an, di hari kedua raungan distorsi hampir mendominasi penuh ke dinding telinga kalian. Dibuka oleh grup anyar bernama Bising Kota yang memiliki nuansa seperti Heinrich Manuver, dengan Erlangga Ishanders (atau akrab dipanggil Angga) dari Ramayana Soul sebagai penggebuk drum pengganti. Lalu ada Feast selalu tampil tidak mengecewakan tiap saya lihat penampilannya. Piston pun melanjutkan alur acara ini. Sangat senang melihat Yulio Abdul Syafik telah kembali mebetot bass semenjak masa penyembuhan patah lengannya. “Hakim Tak Berpalu” pun menyulut keriuhan kecil seketika. Seusai mereka, para personil r e k a h sudah terlihat mengambil posisi masing-masing. Ini merupakan Ritus ketiga milik mereka. Penampilan yang didramatisasi oleh sang vokalisnya menjadi nilai plus. Bagaimana tidak terlalu drama? Ketika melihat lirik-lirik dingin dimuntahkan bercampur aksi Faiz Alfaressi (vokal) beraksi menaiki tangga hingga keluar ke balkon. Seperti saya bilang diatas, Ramayana Soul kembali membakar dupanya petanda dibukanya pintu Dimensi Dejavu. Karena factor sound kurang memuaskan, tapi totalitas yang mereka kerahkan perlu diapresiasi. Noise Whore Vol 002 ditutup oleh seklompok muda menamakan diri mereka Circarama. Walau terbilang muda mereka menunjukan kesolidan antar personil.
“Gue sih pengen mengajak Pestolaer reunian” pungkas Argi ketika ditanya siapa yang ingin (atau cita-cita) diundang untuk Noise Whore Live. Konon kolektifan ini juga mempersiapkan sesuatu yang spesial untuk volume selanjutnya. Penasaran? Ditunggu saja Noise Whore Vol 003.
Apa yang terlintas ketika melihat kondisi Jakarta di hari Jumat sore? Pasti umpatan-umpatan negatif orang ketika melihat situasi kondisi tatanan jalan yang begitu ramai dengan kendaraan. Tapi apalah gunanya umpatan tersebut, hal seperti ini sudah dilumrahkan bagi mereka pencari rezeki di ibukota. Titik protokol seperti Senayan contohnya, dari depan pintu masuk kita langsung disuguhkan pemandangan mobil mengantri ke Parkir Selatan Senayan. Ya, malam itu 29 April 2016, mereka semua berbondong-bondong ingin menjadi saksi konser Tame Impala. Acara ini sendiri digarap sukses oleh KiosTix. Konser ini merupakan kali kedua band neo-psychedelia asal Perth, Australia ini menyambangi Jakarta. Tapi menurut kabar beredar aksi perdana mereka kurang memuaskan dari segi sound. Dan malam itu mereka (Tame Impala) membayar lunas kekecewaan 2011 dengan penampilan ciamiknya. Dibuka oleh Barasuara, yang selalu dapat nilai plus setiap aksi panggungnya. Seperti biasa kita bisa melihat aksi enerjik masing-masing personil, apalagi sang bassist Gerald Situmorang yang terlihat atraktif di sisi satu ke sisi lainnya. Serta memilih ‘Bahas Bahasa’ menjadi lagu kuncian di terakhir penampilan. Tampil menggerumul diatas panggung, crew mereka yang memakai kostum dokter itu memastikan instrumen semuanya aman. Titik hijau yang ditembakan dari proyektor ke layar gigantis itu menjadi tanda akan dimulainya konser seraya para personil masuk ke posisinya masing-masing. Pria gondrong yang sepertinya terlihat humble menyapa seluruh penonton. Dia Kevin Parker. Mendaulat “Let It Happen” sebagai lagu pertamanya. Karena konser ini juga masuk ke dalam rangkaian promo tur album terbaru mereka, Currents. Walau Nick Allbrock menyatakan bahwa dia resmi mengundurkan diri dari band ini beberapa tahun lalu, dengan formasi terkininya mereka tetap terlihat solid. Lanjut dengan “Mind Mischief” yang terdapat dalam album Elephant. Bisa dibilang porsi dari masing-masing album rata dimasukan kedalam setlist. “Hey guys, make some noise, give a big cheer just want to say thank you, sorry if I say this wrong, but Barasuari? Barasuara? That’s it. Almost there! It’s always hard going on after a band that’s that good.” Bentuk impresi Kevin saat menonton aksi panggung Barasuara. Singkronisasi antara audio dan visual juga berkerjasama apik, ditambah tampilan visual penuh warna membuka wahana psikedelia dalam otak. Pas “The Less I Know the Better” dibawakan, sontak tampil sinaran lampu disko menyoroti satu Lapangan D. Ada momen mencengangkan didepan saya sewaktu “Apocalypse Dream” dimainkan, dua orang pria pingsan bersamaan. Ada pun encore “Feels Like We Only Go Backwards” sehabis itu “New Person, Same Old Mistake” dipilih dalam dua peluru akhir menyudahi penampilan. Sedari pulang kemarin hingga sekarang saya masih memikirkan dua pria yang pingsan bersamaan diatas, mungkin sangat terbuai dengan visualnya? Sedang dibawah substansi lain? Atau keduanya? Saya pun kurang paham, tapi yang saya ingat celotehan teman saya saat mengangkat kedua lelaki ini “Yeelah, gue sadar aja hampir mabok gini liat visualnya. Apalagi yang mabok?”.