Tag: Future Collective

  • PLAY LOUD SESSION: Neon Indian Live in Jakarta

    PLAY LOUD SESSION: Neon Indian Live in Jakarta

    Alan Palomo adalah aktor utama di Neon Indian mulanya terbentuk sebagai proyek multimedia yang menggabungkan unsur audio dan visual ke dalam film pendek, teaser dan musik pop, album debut Neon Indian yang bertajuk Psychic Chasms mendapat tanggapan positif. Bahkan ketika diluncurkan pada tahun 2009 yang lalu, Pitchfork Media bahkan menobatkannya sebagai “Best New Music”. Nuansa nostalgia tahun 80an yang terbit dari efek elektronik, synth, looping dan ambient melodic sounds dalam rilisan ini menjadi pionir genre yang dikenal sebagai chillwave, glo-fi, hypnagogic pop atau downtempo pop.

    Disusul oleh suksesnya album kedua, Era Extraña, yang dilepas pada tahun 2011. Sempat vakum selama hampir 4 tahun, artis kelahiran Meksiko ini akan merilis album terbaru yang telah dinantikan oleh penggemarnya, VEGA INTL. Night School 16 Oktober mendatang. Neon Indian pernah menjadi pembuka untuk tur Massive Attack, Phoenix dan The Flaming Lips, Neon Indian juga pernah memeriahkan panggung festival musik ternama seperti South by Southwest dan Coachella. Selepas konser pertamanya di Indonesia, Meredith Music Festival di Australia menjadi tujuan berikutnya. Pada tanggal 24 November 2015, Neon Indian akan tampil lengkap dengan bandnya di Jakarta sebagai bintang tamu Play Loud Session yang akan diselenggarakan oleh Prasvana yang di Rolling Stone Café, Jalan Ampera Raya No. 16 Jakarta Selatan. Dimeriahkan oleh Future Collective. Duo indietronica asal Jakarta ini menggabungkan unsur-unsur synth jazz, space age, retro dan futuristik dalam karakter musiknya yang minimalis tapi tetap kompleks.

    Harga tiket masuk dimulai dari Rp. 200.000 (belum termasuk pajak) untuk early bird presale yang hanya tersedia dalam jumlah terbatas mulai dari tanggal 1 Oktober 2015. Tiket standard presale bisa didapatkan untuk Rp. 300.000 (belum termasuk pajak). Tiket tersedia melalui outlet-outlet dan situs KiOSTiX. Untuk informasi lebih lengkap kunjungi situs http://www.prasvana.com

    NeonIndian_JakartaPoster_Screen

  • Hasil Hunting Video

    Hasil Hunting Video

    Akhir minggu kemarin saya berkeliling mencoba merekam beberapa aksi panggung yang disaksikan menggunakan kamera Olympus dan Zoom h1. Ada yang cukup sukses, ada yang lumayan gagal tapi semoga tetap bermanfaat.

    Enjoy

  • BERMAIN SELULOID BERSAMA LAB LABA­LABA

    BERMAIN SELULOID BERSAMA LAB LABA­LABA

    Lab Laba Laba

    Lab Laba­Laba mengajak kawan­kawan semua untuk bermain dan berkenalan kembali dengan seluloid. PAMERAN LAB LABA­LABA akan berlangsung setiap akhir pekan, dari 4 sampai 26 April 2015, di Perum Produksi Film Negara (PFN). Akan ada pameran, workshop seluloid, diskusi, tur laboratorium, dan pentas musik.

    PAMERAN LAB LABA­LABA adalah wujud dari hasil berproses Lab Laba­Laba selama setahun lebih di PFN. Hampir setiap minggu, sekumpulan anak muda ini meberdayakan kembali laboratorium di gedung bersejarah itu: bereksperimen dengan perangkat analog film, merumuskan larutan kimia untuk memproses pita seluloid, mendata materi audiovisual koleksi PFN, membersihkannya satu per satu, dan pada akhirnya mengkaryakan pengalaman mereka bermain dengan seluloid selama setahun lebih. Tidak semua anggota Lab Laba­Laba pekerja atau pegiat film, tidak semua juga berlatarbelakang pendidikan teknik kimia.

    Akan ada sebelas karya dari dua belas seniman: Edwin, Tumpal Tampubolon, Anggun Priambodo, Dyantini Adeline, Yovista Ahtajida, Rizki Lazuardi, Fransiskus Adi Pramono, Ruddy Hatumena, Luftan Nur Rochman, Ari Dina Krestiawan, Anton Ismael, dan MG Pringgotono. Semuanya mengkaryakan seluloid dalam beragam bentuk—rekaman audiovisual, animasi, instalasi.

    Melengkapi semua itu ada sajian kuliner dari Warung Pa’e serta sajian musik hasil kurasi Pepaya Records yaitu: Mondo Gascaro, Adrian Adioetomo, Glovvess, Crayola Eyes, Neowax, Napolleon, Alahad Lbn, Radioage, Kracoon, Animalism, MMS, Future Collective, dan Bin Idris.

    PAMERAN LAB LABA­LABA merupakan bagian dari program Mengalami Kemanusiaan, yang dibuka dengan acara FILM MUSIK MAKAN pada 21 Maret lalu di GoetheHaus Jakarta. Selama bulan April juga, bersamaan dengan pameran ini, ada program pemutaran #KOLEKTIFJAKARTA di Kineforum DKJ, Taman Ismail Marzuki. Diputar tiga film pendek terbaru babibutafilm hasil kolaborasi dengan Hivos Institute: The Fox Exploits the Tiger’s Might karya Lucky Kuswandi, Kisah Cinta yang Asu karya Yosep Anggi Noen, dan Sendiri Diana Sendiri karya Kamila Andini. Ada juga film­film Indonesia kontemporer macam Siti karya Eddie Cahyono dan Tabula Rasa karya Adriyanto Dewo, serta film klasik macam Istana Kecantikan karya Wahyu Sihombing dan Suci Sang Primadona karya Arifin C Noer.

  • Review Gigs : Studiorama Live #5

    Review Gigs : Studiorama Live #5

    STUDIORAMA sebuah kolektif yang berisikan anak-anak muda kreatif didasari oleh minat mereka kepada dunia seni—khususnya musik—kembali menggelar STUDIORAMA kelima. Seperti setahun sebelumnya mereka biasanya memberikan beberapa tahapan, seperti meluncurkan materi promosi STUDIORAMA Sessions lalu STUDIORAMA Returnal sebagai jembatan sebelum kita melangkah ke STUDIORAMA Live #5.

    Pun nama-nama band yang akan tampil pada STUDIORAMA LIVE #5 adalah Ramayana Soul, Voyagers of Icarie dan Future Collective. Menurut sumber yang kami terima tiga band tersebut dipilih setelah proses diskusi alot antara para pengelola STUDIORAMA, serta juga karena keragaman musikal yang masing-masing band tersebut usung; semakin menekankan bahwa pertunjukan yang digelar di Rossi Musik tak mengenal sekat berupa aliran musik. Terbukti saat tim Deathrockstar datang ke venue sekitar Fatmawati sudah ramai hardcore kids. Suatu kejadian yang sempat membingungkan, pasalnya semua band yang diundang STUDIORAMA tidak ada unsur hardcore-nya sama sekali. Menampilkan tiga penampil utama, Ramayana Soul, Future Collective, Voyagers of Icarie serta deretan DJ yang memanaskan lantai dansa balkon Rossi Musik.

    Ramayana Soul membuka wahana psikedelia. Dengan tata panggung menyerupai altar yang dibataskan oleh lilin-lilin kecil. Mereka memainkan psychedelic rock dengan nuansa Timur. Mencampurkan keyboard, sitar, tabla, dan gitar menjadikan penampilan mereka tidak membosankan. Ditambah kolaborasi ciamik dengan duo penari Aras Ratri Kara dan Aya Adhani. Tak kalah bagus selanjutnya Future Collective sebuah grup elektronik yang menghasilkan musik jenius, seraya Duto Hardono mengintepretasikan lagu mereka. Suasana kelam menyelimuti saat Voyagers of Icarie saat menjadi penampil terakhir, mereka juga berkolaborasi sengan seniman visual Isha Hening dan Endira F. Julianda.

    Menurut salah satu panitia bahwa STUDIORAMA merupakan tempat mereka tampil nyaman dan tertata. Ragam sensasi audio dan visual hadir bergantian. Jadi silakan menikmati berkas memori yang terekam dalam imaji-imaji.

    IMG_0719

    IMG_0762

  • Aliansi Musik Mei 2014

    Aliansi Musik Mei 2014

    COVER-MAY-2014
    Tracklist

    01. Dopest Dope – The Luck Song (Surabaya)
    02. Christabel Annora – If These Walls Could Talk (Malang)
    03. Rabu – Semayam (Yogyakarta)
    04. Black Coffee Monologue – Two Years (Semarang)
    05. Future Collective – A Distant Beach (Jakarta)
    06. Parau – Darah Menoreh Sejarah (Bali)
    07. The Working Class Symphony – Broken Heart (Solo)

    Pertama-tama, kami ucapkan terimakasih atas besarnya apresiasi terhadap rilisan kompilasi perdana Aliansi Musik yang bisa diterima khalayak luas diluar sana. Semaksimal mungkin kami tetap menyajikan band/musisi yang sering kalian dengar ataupun sebaliknya per tiap bulan. Segala unsur yang mendukung melalui sarana internet—dari mencari talent berbakat di berbagai platform musik—sudah menjadi senjata utama. (more…)