Tag: g production

  • Review : Senyawa Konser Tanah Air

    Review : Senyawa Konser Tanah Air

    Dari siang grup-grup chat pertemanan musik saya tidak habis memunculkan notifikasinya. Mereka semua memiliki rasa penasaran yang sama, suguhan apa saja yang akan diberikan Senyawa di konser bertajuk “Tanah Air”? Belum lagi chat personal dari kerabat-kerabat terdekat tentang pemilihan tempat duduk. Ada yang takut kehabisan ataupun dapat namun takut tak sesuai keinginan. Berangkat dari timur Jakarta menggunakan Transjakarta di sore hari menuju Gedung Kesenian Jakarta (GKJ) bukanlah hal mudah yang bisa ditempuh. Baik jarak dan waktu harus melewati beberapa titik kemacetan sedangkan opening gate’nya saja jam 7 malam.

    Adalah Rully Shabara Herman dengan tehnik vokal murni yang beragam frekuensi melebur secara dinamis bersama instrumen-instrumen swadaya ciptaan Wukir Suryadi menjadi satu kesatuan bernama Senyawa. Hasilnya pelbagai musik eksperimental yang modern, intens, dan sangat primal! Ini bukan kali pertama saya menyaksikan mereka, pernah di ruang terbuka seperti pelataran luar Taman Ismail Marzuki. Pernah juga ruang kecil tertutup seperti di Tokove, Kemang (yang kini berganti menjadi Borneo Beerhouse). Sejak 2011, Senyawa banyak tampil di berbagai festival besar Internasional. Dan konser malam itu, tanggal 22 Desember 2016, merupakan pertunjukan kepulangan mereka. Yang kalau boleh mengutip perkataan Kristi Monfries selaku creative producer konser ini sebagai “persembahan dari Senyawa terhadap negara yang selalu menjadi panduan bagi perjalanan musik mereka dan sumber bagi segala yang telah mereka capai selama tujuh tahun terakhir ini”. Gong dipukul penanda pertunjukan akan dimulai. Acara yang terbilang tepat waktu memang sudah menjadi ciri khas Adi Adriandi (show director) di pertunjukan-pertunjukan manapun yang pernah ia buat. Dia pun juga sempat mewanti-wanti apabila bawa earplug sebaiknya digunakan. Tapi malam itu saya tidak membawanya. Dua kuping telanjang saya pun sudah dirasa cukup siap menikmati konser ini, sambil diiringi lagu anak-anak mengademkan sejenak sebelum digempur habis-habisan.

    Dibuka oleh Patrick Hartono yang duduk diatas meja dan perangkatnya mengkombinasikan visual art dengan bebunyian liar nan intens pendukung visual. Sehabis sesi Hartono selesai, Wok The Rock mengiringi kita untuk menyambut Senyawa. Bertengger layar besar sewaktu tirai utama terbuka. Seketika lampu menyorot dari belakang Rully dan Wukir membentuk siluet raksasa. Lampu dimainkan sesuai ritme suara Rully dan instrumen bambuwukir gubahan Sugeng Utomo. Kalau suasananya syahdu lampu memanjakan mata, namun apabila suasana murka penuh kegeraman lampu akan berwarna kontras. Layar sebesar itu tidak hanya disia-siakan untuk permainan lampu saja, kadang diselingi video-video tentang alam sekitar. Layaknya seperti video Vincent Moon ‘Calling New Gods’ di Yogyakarta, sewaktu “Kereta Tak Berhenti Lama” kembali Senyawa mengajak kita sama-sama seolah masuk ke dalam gerbong kereta api. Ditambahi gimmick beberapa tukang jajanan makanan/minuman instan melewati para penonton. Layar terangkat ke atas dan kita pun akhirnya melihat rupa mereka dibalut tarikan suara Rully memekakan telinga. Menyudahi sesi pertama tanpa cacat cela.

    Kita pun sudah tahu bahwa Rully dan Wukir banyak diulas media luar negeri seperti The Quietus salah satunya. Mengisi berbagai festival international bergengsi yang diisi nama-nama besar seperti Bon Iver, Death Grips, hingga Swans. Tapi kalau boleh saya jujur, pengalaman malam itu di GKJ mungkin tidak bisa didapatkan dimanapun. Ditambah, akan membuat menyesal bagi siapapun yang melewatkannya.

    “Yuk masuk yuk. Nonton ben-benan lagi” ujar Adi Adriandi atau yang akrab dipanggil mas Gufi itu memberi arahan penonton untuk segera masuk karena sesi kedua akan dimulai. Pencahayaan sengaja dibuat gelap. Suara Rully memecah kesunyian sambil berjalan menuju panggung. Diatas panggung sudah terdapat instrumen berbentuk bajak modifikasi Wukir yang diberi nama ‘Garu’. Soal kualitas suara tidak usah diragukan lagi. ‘Garu’ menghasilkan suara yang unik seperti suara cello baik digunakan secara disayat, dipetik ataupun dipukul. Alat ini sebelumnya sudah ditampilkan di Lockstock #2 di Jogja. Tak ketinggalan ‘Suthil’ juga ikut dibawa. Instrumen dari spatula yang ditambahkan senar mempunyai karakter suara yang kering. Kalau boleh saya ibaratkan seperti sound gitar black metal era Burzum dan Mayhem awal. Merdunya duo ini saat menunjukan kebolehanya meng-cover salah satu tembang dari Semenanjung Balkan berlatarkan penggalan sinetron Indonesia ditumpuk footage video demo 4 November kemarin.  Klimaksnya pas ‘Tadulako’ dengan nada repetitif dimainkan oleh Wukir sampai jatuh dan kejang. Hingga di samping saya mengira dia kesurupan. Padahal hanya sekedar aksi panggung.

    Standing applause dari seluruh penonton dengan tampang puas bukti bahwa konser ini sukses digelar. Terima kasih juga ditujukan untuk G Production dan tim dibalik layar konser Tanah Air yang tak habis-habisnya memunculkan decap kagum penonton dari awal sampai akhir pertunjukan. Atas kinerja mereka, 2016 ditutup oleh konser fenomenal yang tidak bisa dilupakan bagi siapapun yang hadir malam itu.

  • Konser Parahita : Dialog Dini Hari & Endah n Rhesa

    Konser Parahita : Dialog Dini Hari & Endah n Rhesa

    Kolaborasi merupakan alternatif kegiatan yang seringkali menghasilkan gagasan baru. Lewat kolaborasi, terjalin interaksi-interaksi baru dalam merespon karya. Di musik, kolaborasi seringkali menjadi oase bagi pelaku dan penikmatnya.
     
    Bertajuk “Konser Parahita”, diambil dari bahasa sansekerta yang dimaknai sebagai upaya saling menyejahterakan, membahagiakan, dan memberi manfaat. Di Konser Parahita ini, penonton akan diajak untuk menikmati konsep kolaborasi dari dua band folk raksasa Indonesia.
     
    Adalah Dialog Dini Hari-trio folk blues-asal Bali dan Endah N Rhesa-duo folk ballad-asal Jakarta ini sepakat membentuk kongsi baru dan menamakan diri mereka sebagai DDHEAR. Proyek ini baru saja menelurkan mini album dengan tajuk yang sama seperti nama konser yang akan digelar, Parahita. 4 lagu yang terdapat didalamnya merupakan 2 lagu masing-masing band yang direspon dengan bertukar aransemen “Wish You Were Here” milik Endah N Rhesa dan “Temui Diri” milik Dialog Dini Hari, dan 2 lagu baru yang diciptakan hasil kolaborasi mereka berjudul “Jangan Engkau Berhenti Bernyanyi” dan “Terang Berpijar Harapan”.  Video dari lagu “Jangan Engkau Berhenti Bernyanyi” sudah bisa disaksikan di www.ddhear.com.
     
    Konser Parahita yang terjadwal Kamis, 7 April 2016 ini merupakan kerjasama DDHEAR dengan G Production.
     
    G Production memilih Graha Bhakti Budaya (GBB), Taman Ismail Marzuki sebagai gedung konser untuk penyelenggaraan Konser Parahita ini. “Sudah sejak lama kita mendengar pertunjukan-pertunjukan hebat berhasil dipentaskan di GBB, kali ini dengan penuh hormat dan senang hati kami berkesempatan memberi kontribusi kecil sejarah kebudayaan lewat Konser Parahita – DDHEAR. Semoga menghibur dan memberi manfaat” ujar Ferry Dermawan – Program Director G Production.
     
    Bagi DDHEAR, lewat Konser Parahita ini mereka berharap dapat berbagi keriaan, kebahagiaan, dan rasa cinta akan persahabatan lewat musik yang mereka mainkan.
     
    Sampai jumpa di Cikini.
     
    ===
     
    DDHEAR – Konser Parahita
    Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki
    Kamis, 7 April 2016
    19.30 WIB
     
    www.gproduction.co.id/ddhear
    www.ddhear.com
     
    Instagram & twitter :
    @by_gproduction
    @dialogdinihari
    @endahnrhesa

    Dialog Dini Hari & Endah n Rhessa

  • Konser Tentang Rasa oleh Frau

    Konser Tentang Rasa oleh Frau

    Bulan Januari ini adalah bulan yang menarik, karena tidak sering terjadi dalam satu bulan ada berbagai konser musik dari kancah independent menggunakan auditorium. Tiga dari empat jadwal pertunjukkan telah terlaksana, dan dua yang pertama menghadirkan musik-musik brilian dan kolaborasi visual yang mencerahkan.

    Efek Rumah Kaca sukses membuka tahun ini dengan berbagai pujian akan permainan visual dan penggunaan ruang yang baik di Teater Besar. Kemudian di venue yang lebih kecil, Kimokal memanfaatkan tata suara dan permainan visual memanfaatkan ruang auditorium IFI Jakarta untuk memberi horison baru penikmat pertunjukan musik. Indera pendengaran, penglihatan dan rasa diransang dan dicerahkan.

    Kemudian baru saja kemarin Frau berhasil memberi pertunjukan yang meransang kelima indera dan mungkin saja membuka indera ke enam di Gedung Kesenian Jakarta.
    Indera pendengaran penonton dihibur dengan pencapaian musikal Leilani yang semakin solid.
    Indera penglihatan kita dihibur oleh tata lampu yang diusahakan sinkron sesuai mood lagu, dan latar panggung yang terdesain sedemikian rupa.
    Indera pengecap kita dihadiahi minuman penyegar.
    Indera penciuman kita diransang oleh wewangian yang didesain khusus untuk setiap lagu. Sempat rada heran, apakah bau indomie yang tiba-tiba menyeruak masuk adalah bagian dari setlist atau tidak.
    Untuk indera peraba saya rasa diransang oleh perjumpaan dengan teman-teman dan sebuah tos atau salaman bisa menjadi persetujuan kalau konser yang baru saja disaksikan adalah konser yang asoi.

    Konser yang mencerahkan dan salah satu pencapaian tinggi seorang seniman musik, yang semoga memberi inspirasi pelaku musik lain. Seperti halnya Leilani Hermiasih berhasil menerjemahkan inspirasi yang didapatkannya menjadi karya pertunjukan yang holistik.

    Selamat juga perlu diucapkan kepada G Production yang berani menyelenggarakan event ini. Selamat datang kembali di kancah musik.

    frau-jakarta
    foto oleh @guswib


    OLYMPUS DIGITAL CAMERA
    Wajah-wajah familiar yang tersenyum lebar setelah menyaksikan konser.

    ini salah satu lagu ‘baru’ yang dibawakan kemarin. (bootleg direkam beberapa bulan lalu)

    bootleg.