Tag: helat tubruk

  • Littlelute : Debut Album Dan Bergabungnya Bersama Helat Tubruk

    Littlelute : Debut Album Dan Bergabungnya Bersama Helat Tubruk

    Setelah 2015 ranah musik nasional banyak ‘dihujani’ karya musisi-musisi baru, tahun ini mungkin akan ‘dibanjiri’ dengan nama-nama segar. Seperti salah satunya Littlelute sekelompok septet asal kota Bandung yang banyak disambut positif karena memiliki karakter musik yang unik setiap penampilannya. Bayangkan nuansa dongeng Eropa sewaktu kita kecil ditumpahkan ke dalam lirik lalu dibawakan dengan suasana riang oleh  Dhea (vokal), Boiq (mandola), Faried (mandolin), Atse (ukulele sopran), Endang (ukulele tenor), Rengga (ukulele bass), dan Bob (perkusi).

    Rencananya, mereka segera merilis album debut yang bertajuk “Traces of Dollface and Plots” dibawah bendera Helat Tubruk. Adapun album ini diproduseri oleh musisi jazz terkenal, Tesla Manaf Effendi dan juga Ari ‘Aru’ Renaldi pada proses mastering ini akan dirilis secara digital maupun fisik. Merunut dari rilisan pers yang kami terima bahwa sistem pra-pesan edisi deluxe akan dibuka pada bulan Februari 2016 dengan jumlah terbatas. Informasi mengenai album dan pemesanan akan disampaikan melalui jejaring sosial milik Helat Tubruk dan Littlelute. Bagi yang sudah tidak bersabar, bisa cek terlebih dahulu video klip sekaligus single mereka berjudul “Berlibur ke Poznan”.

  • Polka Wars Bertolak Ke New York

    Polka Wars Bertolak Ke New York

    mokele-

    Setelah memenangkan kontes Converse Rubber Track beberapa waktu lalu, maka tanggal 1 Mei kemarin mereka terbang ke New York untuk rekaman di Converse Rubber Tracks Studio, Brooklyn, New York.

    Mereka akan merekam dua lagu berjudul “Obese Elves” dan “Rangkum” pada sesi rekaman di studio musik asuhan Converse tersebut, dari tanggal 4 hingga 7 Mei 2015. Saat kamu membaca berita ini, mungkin mereka sedang berdialog dengan Aaron Bastinelli; seorang teknisi brilian yang sebelumnya pernah bekerjasama dengan Bono, Marky Ramone, Grandmaster Flash, Matt and Kim, The Roots, Mark Foster danThe Hold Steady.

    Sebagai hadiah band yang beranggotakan vokalis sekaligus gitaris Karaeng Adjie, gitaris Billy Saleh, drummer Giovanni Rahmadeva dan bassist Xandega Tahajuansya, pada hari yang sama siap meluncurkan single pertama dari debut album mereka, berjudul “Mokelé”.

    Sebagai penulis lagu, Karaeng mengungkapkan bahwa “Mokelé” kurang lebih bercerita mengenai durabilitas jiwa suatu individu yang tak pernah berhenti mendambakan keteduhan hati yang hakiki, di mana hal tersebut terpaksa dijalani di tengah berbagai tuntutan serta kesibukan dalam bermasyarakat.

    Lagu ini akan muncul di debut album mereka nanti, dirilis oleh Helat Tubruk.

    polka-wars

  • Marsh Kids – The Many Failings of Bugsy Moonblood

    Marsh Kids – The Many Failings of Bugsy Moonblood

    marsh_kids-coverMarsh Kids
    The Many Failings of Bugsy Moonblood
    Helat Tubruk / Demajors

    Album ini telah saya antisipasi sejak single Inclination diperdengarkan. Di lagu ini sudah terasa kesolidan “super” group ini, dimana Marsh Kids tidak lagi terdengar sebagai Ade Palloh dan teman-teman indie rock nya tetapi sebagai entitas baru bernama Marsh Kids.

    Pengalaman berbeda saya dapatkan saat menyaksikan live mereka beberapa waktu lalu saat band ini sudah lebih solid, di situlah saya meletakkan ekspektasi besar pada album ini. Album penuh eksperimen, dimulai dari pencitraan dan penulisan sejarah band sampai aransemen musik dengan campur-campur elemen jazz, baroque, pop sampai folks.

    Namun rupanya sebagian besar lagu dialbum ini ternyata belum solid, karena ranah yang baru dan gaya yang baru ini rasa-rasanya belum se-autentik itu saat direkam. Cara bernyanyi nya belum sesolid saat Ade bernyanyi untuk Sore; sementara instrumen lain juga terdengar masih ragu, mungkin belum terbiasa menjadi flamboyan.

    Kebetulan disaat menulis review ini saya membaca sebuah artikel mengenai Bob Dylan dan misteri “Basement Tape”. Bukan mengenai “hilangnya” rekaman tersebut, tetapi mengenai proses rekamannya. Bob Dylan dan ‘band’nya menghabiskan waktu berminggu-minggu mencari ‘suara’ yang tepat untuk proyek ini sambil meng-cover berbagai lagu folk dan country. Sampai akhirnya mereka nyaman satu sama lain dan materi lagu mereka, untuk kemudian merekamnya.

    Proses menemukan chemistry dan ‘suara’ yang tepat adalah sesuatu yang sangat mewah di negeri ini, saat investasi uang dan waktu yang perlu diluangkan bisa dibilang belum ditemukan titik cerah untuk mencapai break even dalam setahun atau dua tahun. Maka saat mendengarkan sebuah album bermateri sejenius ini namun kekurangan reaksi kimia antar personel seperti album ini, saya tidak banyak mengeluh.

    Bukan artinya tidak ada lagu yang bisa menjawab ekspektasi tinggi tersebut , karena masih ada lagu Inclination, El Camino, Bentang Bintang dan Bugsy Moonblood. Keempat lagu itu adalah favorit saya, dan empat lagu ini adalah alasan saya mau menulis review album ini. Progresi lagu yang tidak tertebak, satu saat melodius satu saat bisa chaos, satu saat penuh harmoni satu saat tidak nyambung. Namanya juga eksperimen bisa berhasil bisa gagal, dan menurut saya empat lagu itu kebetulan yang paling berhasil. Yang lainnya hanya butuh proses untuk menjadi solid.

    Download Marsh Kids – The Many Failings of Bugsy Moonblood
    di iTunes
    Beli Marsh Kids – The Many Failings of Bugsy Moonblood
    di demajors online store.

  • Lagu Baru: Marsh Kids – Inclination

    Lagu Baru: Marsh Kids – Inclination

    dengar lagu baru marsh-kids-inclination
    Dengar lagu baru Marsh Kids – Inclination

    “Dari dunia di mana pria merokok cerutu dan bernyanyi secara flamboyan, datang enam bandit dengan penampilan yang berbeda. Dengan gitar di tangan dan bekas luka di dalam hatinya, mereka muncul bersenjatakan lagu-lagu yang berbicara tentang kerinduan, penyair yang terlupakan dan penebusan.”

    Itu adalah kalimat sambutan dari band dengan enam anggota dari latar belakang berbeda;

    Adalah S. Pramudita, Drs. F. Achmar, B. Saleh, G. Rahmadeva, M. Fahri dan B. Tobing, enam pria yang datang dari pengalaman musikal yang beragam.

    S. Pramudita dengan Tigapagi, B.Saleh, G. Rahmadeva dengan Polka Wars, B. Tobing dengan San Teletone, Drs. F. Achmar dengan Sore dan M.Fahri di Duckdive,

    Mereka berenam melahirkan sebuah proyek musik yang akhirnya solid untuk dirilis dalam rupa fisik lewat label Helat Tubruk dan distribusi via DeMajors. Single pertama “Inclination” memberikan saya optimisme pada rilisan ini. Keenam orang dari latar belakang berbeda tersebut telah terdengar melebur menjadi sebuah karakter yang solid.