Tag: indie pop

  • Iris Bevy merilis debut album Avesta

    Iris Bevy merilis debut album Avesta

    “Melalui Avesta, kami ingin menyampaikan pesan untuk lebih menghargai dan berfokus pada diri kita sendiri dengan menyadari hakikat tersebut,”

    Dimas – Iris Bevy

    Iris Bevy adalah kuartet indie pop asal Bandung yang memasukkan berbagai unsur seperti Post-punk, twee pop, disco, synth-pop yang menurut saya cukup sukses membangun karakter mereka sendiri.

    Iris Bevy berisikan Shau (vokal, synth), Kidz (vokal, gitar, synth), Jeremy (gitar) dan Dimas (bass). Terbentuk setelah inkarnasi awalnya sebagai Ping Pong Club berakhir di sekitar tahun 2020.

    Avesta adalah hasil dari proses berkarya yang cukup panjang bagi Iris Bevy. Dengan referensi musikal maupun literatur, menghasilkan Avesta yang diartikan sebagai sebuah kitab atau bacaan, di mana setiap diri manusia pada hakikatnya merupakan kitab yang menyimpan harapan dan memori bagi jiwa manusia di alam material ini.

    Album ini berisikan 9 lagu yang terdiri dari 7 materi baru dan 2 lagu remaster dari single yang telah dirilis sebelumnya. Direkam secara independen dan dirilis via Demajors lewat berbagai kanal streaming pada tanggal 23 Juni 2023.

    Sementara cakram padat akan dirilis di awal Juli 2023 dan bisa didapat lewat berbagai toko yang menjual rilisan DeMajors.

    Dengarkan album mereka di berbagai streaming service. Rekomendasi bagi penggemar Indie Pop pada umumnya.

  • Perjalanan Panjang yang Belum Berakhir; ETA Band 1995 – 2018

    Perjalanan Panjang yang Belum Berakhir; ETA Band 1995 – 2018

    Berawal dari sebuah tongkrongan dan pertemanan di era 90’an,

    (more…)

  • Olski menyambut Datang Bulan

    Olski menyambut Datang Bulan

    Telat datang bulan sekarang ada soundtracknya?

    Rupanya lagu ini bukan bercerita tentang datang bulan dalam konteks siklus menstruasi bulanan perempuan.

    “sebenernya inti dari lagu ini adalah menunggu (datangnya) bulan, Cuma karena pada saat menentukan judul kita sempet bingung akhirnya kita ambil aja judul datang bulan. Awalnya sempet pengen nanya, judul yang tepat untuk lagu ini apa, Cuma akhirnya kami urungkan dan kita ambil aja datang bulan” kata dea.

    Lagu Datang Bulan ini bercerita tentang sepasang kekasih yang sedang terpisahkan oleh jarak, berdua menikmati malam, seakan tak ingin malam cepat berlalu.

    Berbeda dengan lagu Tunggu, lagu datang bulan ini menggunakan lebih banyak instrumen tambahan seperti Kazoo, Ukulele dan juga dibantu oleh banyak musisi, yaitu Faizal Aditya pada Bass, Fairuz inas pada Flute, Stephanie Putri pada Cello dan Billy Dinata pada Piano.

    Olski sebelumnya sudah merilis beberapa single yaitu Titik Dua & Bintang pada 2014, Colors pada 2015, Tunggu pada 2017 dan saat ini sedang mempersiapkan untuk album pertamanya berjudul yang dirilis di akhir 2017.

    Unduh lagu “Datang Bulan” di tautan ini.

    Twitter : https://twitter.com/olski
    Facebook : https://www.facebook.com/olskiinthewood
    Instagram : https://www.instagram.com/olskitty/
    YouTube : Olski Inthewood
    Email : olski.inthewood@gmail.com
    Phone : 085643376918

  • Wondergel reuni 2017

    Wondergel reuni 2017

    Wondergel merupakan salah satu pionir kancah independen Jakarta. Terbentuk di era 90-an dan turut menularkan wabah musik britpop, new wave, punk di Indonesia. Pada awal karirnya Wondergel banyak mengcover lagu dari Elastica dan Suede, sampai kemudian mereka mulai menulis lagu sendiri dan menjadi salah satu band rekaman pertama dari scene indie saat itu dan sempat merilis 1 album penuh (self-titled) di bawah naungan M Music Production/ Musica dan 4 radio single

    Wondergel beranggotakan Meita (vokal), Vivie (vokal), Nanda (gitar), Lala (bass), Meta (keyboards), Astrid (drums).

    Wondergel akan menggelar konser reuni setelah total 17 tahun hiatus dari aktivitas bermusik. Band indie pop lawas asal Jakarta ini juga akan berkolaborasi beberapa musisi independen legendaris di konser yang akan diadakan pada Agustus mendatang di Jakarta.

    Untuk merayakan rencana reuni ini, Wondergel resmi merilis ulang single berjudul ‘Asa Dimana’ dalam format digital di bawah naungan platform distribusi musik Ripstore.Asia beralamat di https://www.ripstore.asia/wondergel. Single berusia 20 tahun ini ditulis oleh Meta Pramana, dinyanyikan oleh Vivie Coster dan Meita Kasim, serta merupakan track penutup dari self-titled album Wondergel (M Music Prod, 1997).

    Kini untuk untuk pertama kalinya dirilis dalam format legal mp3 dengan lisensi CC BY-NC-SA dan bebas untuk didownload, dicopy ke teman-teman terdekat dan didistribusikan ulang non-komersil di web/ blog, mixtape dan radio online.

    Sedangkan video lirik dari single berjudul ‘Jalan Yang Sama’ juga telah dipublikasikan di Facebook Page Wondergel Reunion https://www.facebook.com/wondergel.reunion serta menyusul full albumnya akan direissue dalam format kaset dan tersedia juga untuk diakses di kanal musik digital seperti itunes, spotify dan lain-lain.

    Wondergel reuni 2017
    Wondergel reuni 2017

    Wondergel reuni 2017
    Wondergel reuni 2017

  • Silverglaze – Essays EP

    Silverglaze – Essays EP

    Tidak lama setelah EP ini diumumkan untuk dirilis, saya segera mendownloadnya walaupun satu keping CD juga sedang meluncur ke alamat rumah saya. Single pertama yang dirilis Anoa Records beberapa waktu lalu sangat menjanjikan, membuat saya ingin segera mendengarkan rilisan ini.

    Sebuah EP yang dirilis dari rekaman yang sempat hilang satu dekade lalu. Hanya sempat meninggalkan jejak di Myspace dan hati beberapa insan pencinta musik yang mungkin sempat merasakan era Myspace. Sebuah rilisan yang akan menjadi klasik jika saja berhasil dirilis di awal 2000-an, saat lagu-lagu di rilisan ini direkam.

    EP ini buat saya adalah wahana mesin waktu, mengembalikan diri saya yang sekarang sibuk menyambung hidup dengan segala kesibukan ke waktu di mana musik indie pop dengan distorsi hangat seperti ini didengarkan sambil tidur-tiduran di kamar kos. Membaca lirik demi lirik dan membayangkan seperti apakah band ini akan manggung nanti.

    Lagu pertama mengingatkan saya pada majalah Trolley.
    Lagu kedua mengingatkan saya pada event-event di Bumi Sangkuriang.
    Lagu Ketiga mengingatkan saya pada kamar kos saya di salah satu lembah di Ciumbuleuit, dengan tape deck kontemporer.
    Lagu keempat mengingatkan saya pada perjalanan keliling Bandung untuk mencari sponsor acara.
    Lagu kelima mengingatkan saya pada perjalanan ke Lembang via Punclut sambil mendengarkan playlist dari Camera Obscura.
    Lagu keenam mengingatkan saya kalau saat ini adalah masa yang berbeda. Karena sekarang Bandung penuh FO, penuh taman tanpa tumbuhan asli. Mengingatkan juga kalau saya cukup beruntung pernah menikmati scene indie pop Bandung di masa Masih Hijau Dulu.