Jagermusic
feat
Pelteras
Kief
Rajasinga
Seringai
NoName Bar Jakarta. Poins Square, Lebak Bulus.
08.00pm
Fdc Rp.50.000,-






Setelah sukses membawa band post-punk asal Detroit, Protomartyr di penghujung libur ramadhan, label rekaman asal Jakarta yg juga rutin menggelar acara alternatif menampilkan band-band international, Six Thirty Recordings kembali memboyong tak hanya 1 namun 2 band bergenre Doom Metal untuk tampil di Rossi Musik hari Kamis tanggal 12 July 2018 mendatang.
Marijannah adalah band asal Singapore yang baru merilis album pertama mereka yg berjudul Till Marijannah pada bulan February lalu lewat Pink Tank Records, label rekaman asal Jerman. Album “Till Marijannah” menuai berbagai pujian dari penggemar musik Doom Metal di dunia, salah satunya berasal dari Metalsucks menyebut “Till Marijannah adalah album yang berdiri solid dengan kedua kaki nya”.
Meskipun umur Marijannah masih tergolong ‘muda’ namun orang-orang di dalam Marijannah sudah sangat tidak asing lagi di kancah musik lokal Singapore maupun International.
Marijannah terbentuk hasil dari inisiasi Nicholas Wong (Drum/Vocal) dari band Caulfield Cult dan Rasyid Juraimi (Guitar) yang dikenal juga sebagai salah satu personel Wormrot.
Potion adalah trio Stoner/Doom Metal dari Sydney, Australia. Musik mereka sangat kaya dengan referensi dari berbagai sub-genre metal lainnya. Mereka telah merilis 2 single dalam bentuk kaset yg berjudul Seven Sorcerers dan Gravemaker. Meskipun hanya 2 lagu, namun kedua nya mempunyai durasi jika digabungkan selama 17 menit!
Di akhir bulan Juni ini mereka juga baru merilis 2 single baru yg juga dalam bentuk kaset berjudul Dead Mountain dan Women of the Wand. Album ini masuk list 6 lagu yg harus di perdengarkan versi Revolver Magazine, dan juga salah satu The Best Metal di situs Bandcamp periode Juni 2018.
Tiket untuk menyaksikan Marijannah & Potion sudah bisa di dapatkan di kanal www.frekuensiantara.com/event/marijannahpotion dan juga melalui aplikasi http://eventevent.com/event/1741?_branch_match_id=540777166399748625.
Penampilan kedua band ini juga akan di dukung oleh 3 lokal band, Avhath dan Kief dari Jakarta, serta Fuzzy, I dari Bandung.
Selain menyambangi ibukota, Potion dan Marijannah juga di jadwalkan untuk bertandang ke Solo, Bandung, Malaysia, dan Singapore.
Tour mereka terselenggara atas kerja sama Six Thirty Recordings bersama ACPHC, musik promotor asal Singapura.




(25/10/2014) Salah satu legenda rock kembali bangun dari tidur panjangnya. Di Fuzz Wave Festival Benny Soebardja terlihat bersemangat sekali menjajaki panggung Basement Cafe. Bersama massa yang mayoritas generasi ketiga rock, bernyanyi lagu-lagu ciptaan beliau semasa karirnya menjalani profesi sebagai rocker lawas. Malam itu Kief mengawali dengan stoner rock kelas berat dari timur Jakarta. Selanjutnya, ada trio eksperimental bernama Gaung melibas keras dengan nada-nada progresif. Sehabis itu Matiasu membawa suasana kegelapan lewat materi album ‘Doom Dance’. Mereka pun mengcover ‘Rajagnaruk’ milik trio jahanam asal Bandung, Rajasinga.
Shark move mengambil alih panggung dan menjadikan Benny Soebardja sebagai ‘imam’ untuk empat puluh lima menit kedepan. Band yang terbentuk di tahun 1970, mengkombinasikan music rock dengan harmoni musik tradisional. Tak bisa dielakan kalau Sharkmove dinobatkan sebagai pionir band progresif-rock Indonesia. Tapi, spesial untuk Fuzz Wave Festival mereka pun membawakan tembang dari Benny Soebardja and the Lizard juga Giant Step. Tampil enerjik layaknya semangat umur 21, bung Benny beraksi bersama gitar kesayanganya. Pun dibuat bingung, karena anak-anak muda sekarang hafal lagu-lagu yang dimainkan seperti Air Pollution, My Life sampai lagu ‘menyentil’ sistem pemerintahan orde baru Evil War. “Kami sengaja buat lagu liriknya bahasa Inggris, biar pemerintah pada zaman itu nggak pada ngerti” Benny Soebardja menceritakan sedikit proses pembuatan lagu ‘Evil War’. Sampai dipenghujung penampilan dia pun foto bersama fansnya di pinggir panggung. Seakan mundur beberapa puluh tahun ke belakang di masa-masa kejayaan beliau.
Juga tak kalah bagus penampilan liar dari trio Grunge asal Bandung, Thunder Sanchez. Sayangnya mereka kurang terlalu solid. Stamina pun sudah mau habis rasanya mendengarkan mereka. Kuintet psychedelic-rock, Sigmun ditempatkan sebagai band terakhir. Memperdengarkan materi album yang segera rilis secepatnya. Seakan mencoba lepas dari zona nyaman mereka, materi terbaru lebih variatif dibandingkan sebelumnya. Tak heran jika Benny Soebardja nge-fans sama mereka. Seperti biasa’The Long Haul’ versi penuh menjadi lagu andalan sekaligus penutup. Fuzz Wave Festival mampu membuktikan kemampuannya bukan hanya menjadi festival musik lintas generasi, tapi mampu juga mengenalkan sejarah musik kepada generasi sekarang. Mungkin saja malam itu ada yang tidak mengenal Sharkmove dan acara ini mencoba mengenalkan (kembali) band legenda tersebut.

25, Oktober 2014
at BASEMENT Cafe (Arion-Swissbel Hotel)
Jl. Kemang Raya No.7 South Jakarta
START : 17.00 – 00.00
With :
– SHARKMOVE
– SIGMUN
– MATIASU
– GAUNG
– KIEF
– THUNDER SANCHEZ