Tag: liga musik nasional

  • LIMUNAS feat Fourtwnty & Syarikat Idola Remaja

    LIMUNAS feat Fourtwnty & Syarikat Idola Remaja

    Fourtwnty dan Syarikat Idola Remaja menjadi headliner di pagelaran Liga Musik Nasional ke 14 di IFI Bandung. Venue acara ini penuh, karena tiket sudah terjual habis sebelum hari-H, sehingga malam tanggal 28 Juli 2019 kemarin di Bandung menjadi lebih meriah bagi mereka-mereka yang beruntung bernyanyi bersama Fourtwnty dan Syarikat Idola Remaja.
    .

    Fourtwnty
    Fourtwnty di acara Liga Musik Nasional
    Syarikat Idola Remaja
    Syarikat Idola Remaja
    Syarikat Idola Remaja & Fourtwnty
    Fourtwnty
    Fourtwnty
    fourtwnty dan kawan-kawan
    Fourtwnty
    Fourtwnty
    set list

    foto oleh Made Yana @madejerk

  • Konser Alam Raja: Navicula x Rajasinga

    Konser Alam Raja: Navicula x Rajasinga

    navicula-rajasinga-alamraja_konser

    Liga Musik Nasional VIII
    Konser Alam Raja
    Navicula x Rajasinga
    13 Desember 2015
    IFI Bandung
    Pesale Tix. IDR 50,000
    OTS. IDR 75,000

    *Tiket hanya tersedia sebanyak 300. Presale terbatas bisa didapatkan di @Omuniuum*

    Rilis
    Mempertemukan Rajasinga dan Navicula dalam satu panggung sebetulnya tidak direncanakan secara sengaja. Mereka adalah dua band dengan genre yang berbeda dan dengan masa yang berbeda pula. Satu-satunya kesamaan adalah punya nafas yang sama. Energi yang besar untuk bermain dan bersenang-senang di panggung.
    Rajasinga hadir belakangan ketika tercetus ide untuk mengundang Navicula main di Limunas VIII. Adalah Revan yang pertama kali mengusulkan agar Rajasinga tampil juga di acara Limunas ini. Gue ngefans berat sama mereka, begitu katanya sambil terkekeh.
    Diluar urusan menggemari Navicula, Rajasinga juga punya amunisi untuk tampil dalam Limunas kali ini. Rajasinga ingin merayakan 11 tahun usia mereka. Satu dekade lebih satu tahun untuk Rajasinga ibaratnya lebih dari komitmen dengan pacar sekalipun dan Limunas untuk Rajasinga ibarat teman lama yang sudah lama tidak berjumpa. Rajasinga adalah salah satu band yang tampil di gelaran Limunas pertama, tahun 2011.
    Sementara untuk Navicula, mereka selalu senang untuk bisa tampil diBandung. Terlalu sayang untuk dilewatkan, begitu katanya ketika bicara soal Bandung. Selain itu, Navicula juga mengakui selain banyak terpengaruh oleh tumbuh kembangnya skena musik di Bandung, mereka juga merasa kalau belum pernah punya kesempatan untuk tampil dalam set panjang.
    Soal nama konser, Alam Raja adalah Alam Raya. Tidak perlu dijelaskan panjang lebar tentang keterlibatan Navicula dalam lingkup aktivisme sosial soal lingkungan dan juga kata Raja yang tentu saja diambil dari Rajasinga. Ketika konsep ini dibuat, beberapa daerah di Indonesia sedang terdampak kabut asap yang bukan merupakan bencana alam tapi muncul akibat dari ulah manusia. Terdengar klise, tapi secara sederhana, alam raya diambil untuk mengingatkan kita bahwa kita ini berpijak di bumi, yang kalau tidak kita jaga, kekuatan alam akan berbalik menjadi bencana yang melebihi kekuatan manusia.
    Kali ini, Limunas mengajak Indra Wiryawan atau Morrg sebagai ilustrator untuk poster dan merchandise yang nanti akan disediakan di tempat acara.
    Selain itu di Konser Alam Raja, Limunas kali ketiga di tahun 2015 dan sebagai penutup tahun, Liga Musik Nasional ingin mengatakan bahwa berdikari dalam skena sangat dimungkinkan jika kita punya cara pandang yang sama dan berada pada titik kerja sama yang absolut. Bahwa keberlangsungan sebuah acara, bisa dijalankan dengan kekuatan yang penuh dari para pelaku dan penikmat musik. Menghargai penampil dengan membeli tiket, membeli merchandise yang disediakan, nafas bisa bertambah panjang dan hidup bisa jadi sangat menyenangkan. Sponsor utama kami selalu adalah uang saku dan energi yang disisihkan dari teman-teman semua.
    Nah, pengantar sudah dibuat, tanggal dan tempat sudah ditentukan, Mari kita bersenang bersama berpesta dengan Rajasinga dan Navicula di konser Alam Raja! Sampai jumpa di venue!
    Navicula
    Navicula didirikan tahun 1996 di Bali, Indonesia. Formasi Navicula terkini adalah: Robi (vokal, gitar), Dankie (gitar), Made (bass), Gembull (drum). Nama Navicula diambil dari nama sejenis ganggang emas bersel satu, berbentuk seperti kapal kecil (dalam bahasa Latin, Navicula berarti kapal kecil). Band ini mengusung rock sebagai warna dasar musik mereka, berpadu dengan beragam warna etnik, folk, psychedelic, punk, alternatif, funk, dan blues. Liriknya sarat dengan pesan aktivisme dan semangat tentang Damai, Cinta dan Kebebasan.
    Musik Navicula dipengaruhi kuat oleh alternatif rock 90-an, terutama grunge/seattle-sound dari band-band macam Soundgarden, Pearl Jam, Alice in Chains, dan Nirvana. mereka dikenal dengan sebutan “the Green Grunge Gentlemen” karena aktifnya mereka di dunia aktivisme sosial dan lingkungan. Album ke-7 Navicula “Love Bomb”, direkam di studio Record Plant yang legendaris di Hollywood. “Tatap Muka”, album terbaru mereka direkam langsung secara akustik dan dirilis dalam bentuk DVD.

    Diskografi:
    Self Portrait (1999)
    K.U.T.A – Keep Unity Through Art (2002)
    Alkemis (2005)
    Beautiful Rebel (2007)
    Salto (2009)
    Kami No Mori (2012)
    Love Bomb (2013)
    Tatap Muka (2015)

    www.naviculamusic.com
    F: Navicula | T: @naviculamusic | IG: @naviculamusic
    M: +62 813 2938 8228 | S: m.larasati

    Rajasinga

    RajaSinga lahir di pertengahan 2004, dengan semangat untuk membuat band keras dan cepat, mereka sebenarnya tidak pernah punya niat serius atau bermimpi jadi musisi kondang. Setelah bergonta-ganti personil, akhirnya formasi mereka mentok di Morrg (vokal/bas), Biman (vokal/gitar), Revan (drum dan kadang-kadang bernyanyi).
    Tahun 2006, Rajasinga mengeluarkan rekaman live demo. Dari album CD-R bersampul fotokopian ini semuanya dimulai. Tahun 2007, mereka merilis album resmi pertama bertajuk Pandora di bawah label Strain Eyes Productions. Album ini disambut dengan Spreading the Plague Tour 2007 yang meliputi Singapura, Malaysia, dan Thailand). Kemudian dilanjutkan dengan Babat Tanah Leluhur Tour 2008 ke Jawa dan Bali). Pada 2009, Rajasinga kembali merilis album live bertajuk Nevergrind.
    Album ini didistribusikan sebanyak seratus kopi saat manggung dan melalui download dari internet sebagai album digital. Tahun 2011, Rajasinga membakar obor berikutnya untuk album kedua bertajuk Rajagnaruk. Di album ini Rajasinga lebih banyak melakukan eksperimen dari penyusunan materi, aransemen, sound, syair, dan packaging. Terdapat 14 lagu yang bermuatan musik cepat dengan syair yang tidak bersahabat. “Kami selalu menulis musik yang ideal, tanpa harus idealis”.
    Rajasinga; saat ini sedang dalam proses rekaman album “III:Rajasinga” 15 lagu yang rencananya akan rilis tahun 2016 (Negrijuana Prod.)

    Diskografi:
    Pandora (2007)
    Nevergrind (EP,2009)
    Rajagnaruk (2011)

    www.facebook.com/rajasinga420
    T: @rajasinga04 | IG: @rajasinga04 |M: +62 811 2400 399

    Liga Musik Nasional

    Liga Musik Nasional adalah segerombolan penikmat berat berbagai jenis musik yang ingin berbagi tontonan musik yang asik.

    Konsergrafi:
    Limunas I – Rajasinga, Kelelawar Malam, Vrosk (April 2011)
    Limunas II – TDS, Suri, Powerpunk (Juni 2011)
    Show Spesial – Pesta Rilis Rajasinga, Rajagnaruk (Juli 2011)
    Limunas III – Jeruji, Speedkill, Sigmun (April 2012)
    Limunas IV – Konser Menuju Semesta – Melancholic Bitch (Mei 2013)
    Limunas V – Konser Gemuruh Musik Pertiwi – Komunal (Oktober 2013)
    Limunas VI – Konser di Kota Kembang – WSATCC ( April 2015)
    Limunas VII – Konser Tentang Rasa – Frau (Mei 2015)
    Upcoming: Limunas VIII – Konser Alam Raja – Rajasinga x Navicula (Desember 2015)

    https://ligamusiknasional.wordpress.com
    ligamusiknasional@gmail.com
    f. LigaMusikNasional | t. @limunas | IG @limunas

  • Tiga Jam Bersama Deugalih,  Leilani dan Oskar

    Tiga Jam Bersama Deugalih, Leilani dan Oskar

    Laporan “Konser Tentang Rasa.”
    Tulisan oleh Stanley Widianto
    Foto oleh Arum Tresnaningtyas Dayuputri

    Ketika saya bilang kalau “Konser Tentang Rasa” yang diselenggarakan oleh Liga Musik Nasional adalah salah satu pementasan musik terbaik yang pernah saya saksikan, saya tidak memaksudkan ini sebagai sebuah penilaian. Saya tidak melibatkan tinta hitam/merah yang biasanya sarat di sebuah ulasan pertunjukan. Anggap saja skor 1-10 atau F-A. Bukannya ada yang salah dari sebuah ulasan; objektivitas (atau, lebih tepatnya, subjektivitas yang terukur) bukanlah sebuah tabu. Tapi alasan mengapa saya memulai tulisan ini dengan diskresi seperti ini adalah karena apa yang saya saksikan kemarin menuntut kekhusyukan yang dahsyat; kekhusyukan yang tidak mengenal cahaya dari kamera, bersin dari penonton, teriakan minta lagu, apalagi skor seperti itu.

    “Konser Tentang Rasa” merupakan konser solo dari Leilani Hermiasih atau yang biasa dikenal dengan nama panggungnya Frau.

    Berlokasi di ruangan audiovisual (dengan kapasitas 200 kursi) Institut Francais Indonesie, Bandung, “Konser Tentang Rasa” memang dari awal terasa sebagai sebuah pertunjukan yang intim dan hangat. Namun, apa yang saya tidak kira akan saya rasakan (dan terkejut ketika akhirnya sadar) saat memasuki lokasi adalah betapa tematiknya pertunjukan tersebut: Konser ini sengaja diperuntukan untuk menjamah panca indera manusia. Setidaknya itu yang saya simpulkan ketika tiba-tiba saya mencium bau bunga melati di tengah-tengah lagu, meminum teh tawar dari botol Tjap Piano, menuliskan kesan di secarik kertas (lengkap dengan pensil), dan tentu saja mendengar pertunjukan musik.

    Mengandalkan mata dan telinga untuk menikmati “Konser Tentang Rasa” merupakan hal yang dari awal…percuma. Percuma terlalu kuat mungkin, tapi memang Limunas, menurut saya, telah merencanakan tema ini beserta artefak pendukungnya dari awal secara apik. Jatuhnya jadi tidak ada yang terasa dipaksakan. Dan teh tawarnya enak.

    Tiga paragraf sudah saya buang tanpa menuliskan apa yang seharusnya menjadi atraksi utama: Musik. Konser dimulai dengan penampilan dari Deugalih—gitaris dan vokalis dari Deugalih & Folks—yang memulai set singkatnya dengan gubahan lagu Bob Dylan “The Times They Are a-Changin’.” Setelah Galih menghentikan lagunya tengah jalan karena alasan lupa lirik, barulah set benar-benar dimulai dengan membawakan lagu-lagu seperti “Anak Sungai,” “Ki Hadjar,” dan “No One Sings This Song.” Dari awal memang sulit untuk merasa gatal mengambil handphone untuk mengambil gambar. Gamblangnya: Ngapain? Galih membawakan lagu-lagunya dengan sangat emosional, dan itu sangat terpancar dari lengkingan vokalnya dan lirik yang ia tulis. Contoh ketika Galih membawakan lagu yang ia tulis dari puisi yang diberikan temannya dari Paniai, Papua. Puisi ini diberikan kepada Galih karena penulisnya—yang baru kehilangan ibunya—ingin supaya, kalau kata Galih, “orang Jawa pada tau.” Sangat senang ketika sekilas terlihat banyak mata yang sembab—mata-mata “orang Jawa.”

    Barulah kemudian lampu digelapkan secara teatrikal untuk menyambut Leilani dan Oskar—duo manusia dan piano yang dikenal Frau. Penampilan yang dibuka oleh lagu baru berjudul “Sembunyi” sangatlah—saya kesulitan mencari bahasa Indonesianya—commanding. Ada sebuah kehangatan yang terpancar dari penampilan serta kisah-kisah Lani yang biasanya mengawali lagu. Dari sini saya, jujur saja, terpukau menyaksikan “Konser Tentang Rasa.” Berulang kali saya fokus melihat gerak-gerik Lani saat memainkan piano dan bernyanyi secara jernih; telinga saya sudah siap grak. “The Butcher/Tukang Jagal,” “Berita Perjalanan,” (gubahan dari puisi milik Sitor Situmorang) “Arah,” “Tarian Sari,” dimainkan secara apik dengan pergantian kord yang mendadak—seperti yang terpatri di kedua album Frau. Terlintas kesan di benak saya kalau mungkin ada kalanya Lani merubah alur lagu dadakan (karena mau saja), tapi mungkin itu tidak benar. Lagu-lagu Frau memiliki kualitas seperti itu—seakan-akan direkam on the spot tapi dengan struktur yang sangat rapi.

    Selain menampilkan beberapa lagu dari katalog Frau sendirian, Lani mengundang Rara Sekar, salah satu dari duo Banda Neira, untuk duet dalam lagu milik grup band asal Bandung tersebut berjudul “Rindu.” Menurut pengakuan Rara, ia dan Lani adalah sang duo awkward—memicu tawa dari penonton—sebelum melantunkan balada indah tersebut. Sebelumnya, untuk “Mr. Wolf” dan “I’m a Sir,” Frau mengundang Erson, pemain trumpet yang menambah keceriaan dari lagu-lagu tersebut. Lani sempat berkata kalau mungkin di panggung cuma piano saja mungkin membosankan, makanya ada yang bermain trumpet.

    Handphone masih duduk tenang dalam kantong celana. Bersin masih ditahan.
    Penampilan Frau dibagi dalam dua bagian, dan menjelang bagian kedua setelah jeda selama 5 menit, penonton dibagikan minuman yang bervariasi; ada wedang jahe, susu, jeruk dan teh tawar. Merasa lega, saya langsung tenggak minuman saya tanpa mengetahui kalau ada maksud filosofis dari botol custom-made tersebut. Lanjut dengan lagu-lagu seperti “Mesin Penenun Hujan,” “Arah,” dan rendisi dari lagu band Radiohead “Fake Plastic Trees.” Di sela-sela lagu, Lani bercerita tentang inspirasinya dari sebuah lukisan yang ia tuang ke dalam lagu “The Butcher,” lagu-lagu yang membekas (“Tarian Sari,” lagu favorit saya sepanjang set, tapi ini sulit untuk disimpulkan) dan semacamnya. Mungkin terlalu jauh, tapi ada perbedaan yang mencolok ketika lampu dinyalakan dan dimatikan; antara Frau dan Leilani Hermiasih.

    Set ditutup dengan gubahan lagu Melancholic Bitch yaitu “Sepasang Kekasih Yang Pertama Bercinta di Luar Angkasa”—memicu nyanyian dari penonton. Secara alamiah, ada teriakan ‘lagi, lagi’ untuk menyambut kembali Frau yang kemudian memainkan lagu yang “sudah siap”: Loco Mosquito oleh Iggy Pop. Dengan itu usai rangkaian acara “Konser Tentang Rasa.” Mungkin acara di IFI kemarin sudah selesai di hari itu juga, tapi saya berharap kalau konser tematis seperti itu tidak berhenti sampai di situ saja.

    Apa yang berhasil dilaksanakan oleh Limunas, Frau, dan Deugalih adalah mengingatkan kalau ada yang lebih dalam sebuah pertunjukan musik dari sekedar komoditas semata. Mudah untuk sinis dalam menyikapi konser tematik seperti ini; “palingan gimmick.”. Limunas, Frau dan Deugalih berhasil bukan karena ini adalah hal yang baru; mereka berhasil karena mampu mengingatkan siapapun yang lupa akan apresiasi musik di era sekarang.
    Hanya butuh tiga jam kok. Tidak lebih, tidak kurang.

    Konser Tentang Rasa

    Konser Tentang Rasa

    Konser Tentang Rasa

    Konser Tentang Rasa

    Konser Tentang Rasa

    Konser Tentang Rasa

    Konser Tentang Rasa

  • White Shoes and the Couples Company Konser di Kota Kembang

    White Shoes and the Couples Company Konser di Kota Kembang

    image

    @limunas: #konserkotakembang @wsatcc di @IFI_BANDUNG – 24/4/2015 // presale tix IDR 50,000 available @omuniuum