Tag: Neat

  • Aliansi Musik Nasional, Maret 2016

    Aliansi Musik Nasional, Maret 2016

    Setelah berkompromi satu sama lain, saya dan Eric akhirnya memutuskan untuk merilis edisi ini di akhir bulan Maret iniawal April ini.

    Kita masih membuka untuk kota-kota manapun yang ingin turut bergabung dengan kompilasi Aliansi Musik. Namun sebelum itu terlaksana, nikmati dulu deretan band potensial berikut.

    Klik di sini untukdownload lagu-lagu terbaik dari berbagai kota di Indonesia.

    Selamat menikmati.

    NEAT

    Noisy, Eccentric And Twisted, kepanjangan dari Neat kuintet indie funk rock yang berbasis di Bandung. “I Wish You a Karma” sumpah serapah yang dicurhatkan menjadi sebuah melodi yang menggebu-gebu. Renungan santai dan nostalgia bagi yang punya pengalaman sama dengan mereka, lewat memperhatikan lirik yang ‘nyeleneh’ dari lagu tersebut. Riff gitar yang nge-blues dan nada yang groovy. Sebuah warna yang tidak terlalu baru namun memikat.
    – Intan Zariska Daniyanti (Bandung)

    My Secret Identity

    Terbentuk pada tahun 2004, My Secret Identity memang bukan band pertama yang memainkan musik Indie Pop di Bogor, mereka tidak pernah wara-wiri secara masif di setiap pagelaran musik, tetapi mereka adalah salah satu penanda keberadaan musik Indie Pop di Bogor, salah satu yang bertahan hingga saat ini walaupun bongkar pasang personil harus dilakukan dan hanya menyisakan Ricky Hendriansyah sang vokalis sebagai satu-satunya member orisinil. Mereka adalah salah satu yang paling siginifikan dan tepat untuk menggambarkan bagaimana seharusnya musik Indie Pop dimainkan; muram, hangat, bersahaja, dan naif, hal ini dapat anda dengar pada Every Summer, single pertama dari debut album mereka yang baru saja rilis setelah 12 tahun tertunda “Bittersweet and Those In Between”.
    – Gilang Nugraha (Bogor)

    MUTOMBO

    Nama mereka pertama kali saya dengar dari mulut kerabat saya. Waktu itu, kondisinya sedang saling meminta rekomendasi band yang ‘benar-benar’ baru di sebuah warkop dekat rumah saya. Mutombo, band yang sekilas mengingatkan saya dengan atlit basket 90’an. Mereka memang tidak bisa terlepas di era tersebut. Musik yang mereka usung pun tidak jauh dari unsur-unsur Pavement, Yo La Tengo, dan Guided By Voices. Adalah Joko Wiryawan (Gitar), Anto F. Rachman (Bass), Budi Triyadi (Drum), tiga pemuda yang memiliki etos bersama “win big or go home” (pulang juga tidak mengapa sebenarnya, rumah itu nyaman dan kami tukang tidur). Serta memilih “New Orleans” yang terinpirasi dengan film Easy Rider. Film tentang perjalanan Peter Fonda dan Dennis Hopper berkendara bebas tanpa kepastian dengan backdrop kota New Orleans. Mungkin itulah mengapa mereka mengklaim sebagai band senang-senang dan paling awut-awutan se-Jakarta.
    – Robonggo (Jakarta)

    JENAR

    Jenar adalah Lourdy Nico, Rangga, Saddam Mira dan Denny Yanuar tahun 2014 awal. Membawakan sound distortif sekaligus meruang, sedikit mengingatkan kita pada Placebo, The Veldt atau bahkan Elliott dan The Autumns, sebuah sound yang mungkin bisa ditrace dari band band malang seperti The Illusion, Crimson Diary maupun Fan. Kabut distorsi-delay yang tidak begitu pekat berpadu vokal yang cocok untuk grup rnb membuat Jenar mempunyai nilai akses lebih untuk entry level shoegaze listener. Mereka sudah menelurkan satu buah EP berjudul FASE yang dibidani oleh one and only Barongsai Records pertengahan tahun 2014.
    – Alfan (Malang)

    KAVVAH

    Memasuki tahun 2016, semakin banyak band baru yang bermunculan di Yogyakarta dan mulai produktif dalam berkarya, salah satunya adalah KAVVAH.
    Dengan membawakan musik bernuansa surf pop, KAVVAH merilis single perdananya yang berjudul Happy Crab. Sebelumnya pada tahun 2015 lalu KAVVAH telah merilis EP yang direkam secara live dengan tajuk ‘Live at Applessed”.
    KAVVAH sendiri yang beranggotakan Amanda Ade (vocal) Riyo Mahendri (guitar) Aga Yoga (bass) Ron Baskoro (keyboard) Rinus Satrio (drum) ini sebenarnya bukan sepenuhnya oleh orang-orang baru, karena terdapat member dari band postrock ANGINA yang juga menjadi frontman dari band ini dan juga Rinus diposisi drum yang juga bermusik di band Tripping Junkie.
    – Komang Adhyathma (Jogjakarta)

  • Ulasan Malam Instrumental Rock Dari Ellipsis

    Ulasan Malam Instrumental Rock Dari Ellipsis

    Kuartet instrumental rock basis Bandung, Elipsis yang baru saja merilis debut mini album mereka yang bertajuk “Adversities” akhirnya menggelar showcase di Salian Art (Minggu, 20/09/2015).

    Showcase ini dimulai sejak sore menjelang malam dengan penampilan pertama dari Neat, band dengan genre funk rock asal Bandung itu mencoba memperkenalkan tiga lagu mereka dan tingkah sang vokalis kadang melakukan gesture menyihir saat solo-gitar mengalun. Ditutup dengan lagu fenomenal dari Dewa 19 yaitu “Cukup Siti Nurbaya”. Suasana semakin ramai dipadati orang-orang ketika band bergenre psychedelic-rock / stoner rock asal Bandung, Kaitzr mulai naik ke panggung dan membawakan dua lagu dari EP mereka yang bertajuk “Myth and Deceit” yang masing-masing lagunya memiliki durasi lumayan panjang. Mengatur emosi kita sesuai irama yang dihasilkannya. “Fire In The Sun” single terbaru mereka yang belum rilis, ikut dimainkan juga malam itu. Semacam tidak direncanakan, semua pengisi band malam itu berkostum rapih layaknya mau ke prom nite, seperti Heals, band asli Bandung yang menghibur para penikmat musik malam itu dengan single perdana mereka “Void”. Mereka salah satu band yang paling banyak dibicarakan saat ini. Mengembalikan memorabilia untuk kalian penikmat alternative-rock/Nu Gaze. Maka tak heran kalau malam itu Heals menutup penampilannya dengan lagu milik My Bloody Valentine yang serentak membuat beberapa orang ikut juga bersenandung.

    IMG_3020 copy

    Akhirnya malam itu ditutup dengan penampilan yang ciamik dan menghipnotis oleh Elipsis yang bermain dengan permainan yang harmonis ritmis dan sedikit mengingatkan pendengar malam itu pada musik-musik yang diusung oleh band seperti Toe, Lite, dan the Mars Volta. Melodi-melodi emosional dikombinasikan dengan tempo yang kompleks merupakan fondasi utama aransemen musik Ellipsis. Sayangnya salah satu gitaris mereka, Elmar tidak dapat hadir karena sedang mengemban ilmu di Australia. Hampir semua nomor di Adversities dibawakan hasil rilisan label independen, Orange Cliff Records. “Tigris” menjadi lagu terakhir yang ampuh hingga memberikan standing applause oleh seluruh penonton dibumbui aksi turun panggung satu-satu hanya menyisakan Aulia Ramahan bersama gitarnya. Setidaknya showcase dari band yang terbentuk ketika masih menjadi anggota sebuah organisasi seni kampus ini dapat menciptakan sebuah reuni kecil-kecilan di akhir acara.

    Photo : Glory Mardika

    Teks : Raufina Zahra