Setelah merilis single berjudul “Bombardir” tanggal 1 April 2016 beberapa waktu lalu, Petaka, unit hardcore punk yang beranggotakan mendiang Rully Annash (drum), unbound (vokal), Wawan (bass), dan Yoga (gitar) kembali hadir dengan video klip mereka yang diambil dari single tersebut.
Video yang diambil dari beberapa footage panggung Petaka yang direkam oleh Bramaditya dari PFvideoworks dan Revly ini dikemas jadi sebuah video klip utuh yang disusun oleh Revly selaku manager dari Petaka.
Seongok badan tiba-tiba terlempar melintas di depan kepala saya, tidak lama setelah memesan minuman di pintu masuk. Tidak lama kemudian ada lelaki berbadan tinggi, berwajah mirip juara dunia tinju asal Filipina tergeletak di lantai.
Rupanya ia baru saja terpeleset karena pogo sambil berteriak di mic mengurangi kewaspadaan akan lantai licin. Ia adalah Sida dari Dental Surf Combat yang sedang membangun badai kecil pogo di 365 Ecobar kemarin malam walau sambil kepleset-kepleset.
Tetapi wajah mirip dengan juara dunia tidak hanya sekedar mirip, karena ia selalu berhasil bangkit lagi dan lagi. luar biasa.
•
Tidak lama setelah itu, semakin banyak tubuh terlempar dan sound system terdorong. Wajah siaga terlihat jelas di raut Ucup, wakil dari deMajors dalam menyelenggarakan Pop Up Gigs. Manusia-manusia yang masih waras, dengan sigap memperbaiki posisi sound system dan mengamankan teman-temannya. Tentu tidak ada yang ingin membuat kasus dengan pemilik acara ini, karena urusannya panjang dan mempersulit kesempatan berpogo di tempat yang nyaman dan berpenyejuk ruangan.
•
Setelah Dental Surf Combat memutuskan untuk menutup setnya karena memang sudah waktunya berhenti, maka giliran Tarrkam. Band hardcore yang meneriakkan tema-tema keseharian dan kritik pada kejadian sehari-hari di kehidupan bermasyarakat sub-urban dengan bahasa yang mampu meremas testikel lelaki dewasa berpendidikan namun brengsek.
•
Di penghujung acara, Petaka mengambil alih panggung. Ini adalah kali pertama saya menyaksikan Petaka tanpa almarhum Rully. Terasa berbeda memang, namun beliau saat ini telah beristirahat dengan tenang dan mungkin sedang membahas musik bersama Lemmy Killmister, David Bowie atau Denny Sakrie di alam sana. Maka mari kita ber-hardcore akhir pekan (di hari Selasa) bersama Petaka formasi terbaru.
Band ini adalah titisan dari kaset-kaset Charles Bronson, Spazz atau Los Crudos yang singkat-singkat namun berbekas.
Set mereka cocok untuk pencinta hardcore yang mulai berumur, karena tetap cepat, keras, bertenaga namun enak juga dinikmatin sambil goyang-goyang santai tanpa moshing yang bisa menambah resiko keseleo untuk manusia-manusia moshing menjelang umur 40 tahun.
•
Kemudian tidak lama setelah Petaka menyelesaikan set, saya pulang.
Line Up Malam SelasaPetaka HardcoreTarrkamDental Surf Combat
Tiga band asoi; Dental Surf Combat, Piston dan Petaka. Malam itu semua penampil tidak ada yang berada di panggung lebih dari tiga puluh menit. Dua gelas bir dan satu gelas orange juice tepat habis setelah ketiganya selesai.
Malam belum terlalu larut untuk pulang sambil terkantuk-kantuk. Apalagi ketiga band tadi semuanya menyegarkan. Sebuah anthem baru muncul, setidaknya bagi saya; hardcore akhir pekan. Sebuah karya dari band bernama Petaka yang cocok banget untuk kegiatan saya beberapa tahun terakhir, walau tidak banyak yang benar-benar dihabiskan untuk menonton band hardcore. Tetapi cocoklah.
RullyBoy – Beat, Unboundkill – Voc, WawanFury – Bass, Yoga – Guitar adalah Petaka, unit no-fi-hardcore yang ingin mengulang masa puber mereka beberapa dua dekade lalu. Oom-oom hardcore yang masih mampu bergembira dan ugal-ugalan menemani main skate atau mengiringi moshpit bersama adik-adik belasan tahun.