Tag: Ramayana Soul

  • Ramayana Soul Merilis Video Musik Untuk Lagu Baru Berjudul Taj Mahal

    Ramayana Soul Merilis Video Musik Untuk Lagu Baru Berjudul Taj Mahal

    Lagu baru berjudul Taj Mahal telah dirilis oleh Ramayana Soul, grup raga rock asal Jakarta. Sebuah video klip juga dirilis untuk mempromosikan lagu yang diambil dari split album Ramayana Soul dan Talun Awan. Album ini telah dirilis bersamaan dengan perhelatan Record Store Day Tangerang 2018, 28 April 2018 silam.

    “Lagu ini bercerita tentang kekhawatiran gue akan Taj Mahal, yang konon katanya miring
    dan terancam runtuh,” ujar Erlangga Ishanders, vokalis dan pemain sitar Ramayana Soul.
    Komposisi Taj Mahal sendiri terinspirasi dari seniman sitar yang kami juluki Pak Kumis, Indra Bhanarjit. “Karena dia memang mengajarkan sitar dan musik bahajan yang semudah- mudahnya,” lanjut Erlangga.

    Video klip lagu ini adalah karya animasi dari seniman video asal Tangerang, biliksambat. “Pertama dengar lagunya, langsung muncul kata “hangat” ujar biliksambat.

    Konsep video ini terinspirasi dari pertemuan biliksambat dengan Erlangga. “Waktu itu dia bilang kepikiran mau bikin kelas Yoga,” kisahnya. “Sambil bicara, dia kasih makan kucing melulu.” Momen tersebut lah yang menjadi ide di balik konsep video Taj Mahal.
    Saat ini, Ramayana Soul sedang menggarap album kedua mereka. Album pertama mereka,
    Sabdatanmantra, dirilis pada tahun 2015 melalui Wasted Rockers (Indonesia) dan GuruGuru Brain Records (Jepang). Sementara, pada Record Store Day 2017, mereka merilis EP berjudul Elegi Prematur.

    Video klip “TAJ MAHAL” dapat ditonton melalui tautan berikut

    Ramayana Soul adalah
    Erlangga Ishanders (vokal/sitar/keyboard)
    Irfan Tirtamurti (bass)
    Adhe Kurniawan (gitar)
    Ivon Destian (vokal)
    Bimo Kamil (drum/tabla)

    Lagu Baru Ramayana Soul Berjudul Taj Mahal
    Ramayana Soul
  • Gema di Awan 

    Gema di Awan 

    Talun Awan kembali menyelenggarakan pertunjukkan dengan kolaborator mereka: Monica Hapsari, Angga dan Ivon Destian. Dua nama terakhir adalah ikon dari band Ramayana Soul, sementara Monica Hapsari yang kali ini tampil sendiri dikenal sebagai seniman dan vokalis dari beberapa band.

    Di even ini semua penampil diberi siraman visual dari Psycho Biji, seorang seniman visual bergerak yang menggunakan teknik-teknik manual. Malam itu ia menggunakan Over Head Projector, air dah pigmen warna.

    Malam itu tanggal 25 Februari 2018, keramaian ini berlokasi di Coffeewar. Sebuah kedai kopi yang sedang aktif menampilkan berbagai musisi berbakat untuk dinikmati sambil ngopi malam-malam.

    Seperti apa kira-kira penampilan mereka? Silahkan diperiksa video-video berikut.


    Monica Hapsari


    Talun Awan


    Talun Awan feat. Angga & Ivon Destian


    Talun Awan feat. Monica Hapsari

    Ramayana Soul (Angga dan Ivon Destian)
    ERL & Ivon Destian
    Monica Hapsari
    Monica Hapsari
    Talun Awan
    Talun Awan
    Talun Awan
    Talun Awan
    Talun Awan
    Talun Awan
    Ramayana Soul (Angga dan Ivon Destian)
    ERL & Ivon Destian
    Monica Hapsari
    Monica Hapsari
    YD Sumule & Reda Gaudiamo
    YD Sumule & Reda Gaudiamo
  • Rrrec Fest at the Museum

    Rrrec Fest at the Museum

    Dalam rangka hari museum internasional, Rrrec Fest mengadakan rangkaian event yang di Museum Nasional (Museum Gajah). Workshop, Pameran dan tentu saja musik.

    Museum Nasional ini berada didalam gedung bersejarah dan berisikan berbagai artefak peninggalan jaman purba. Termasuk didalamnya ada beberapa fosil manusia purba dari daerah Timur Indonesia. Keadaan ini menambah kusyu kegiatan di area auditorium, dengan sedikit sentuhan mistis yang khas.

    Walaupun sekedar lampu yang bisa nyala sendiri, mixer yang bisa naek turun sendiri, cukup memberikan pengalaman baru dalam pertunjukan musik.

    Oiya, disini Bottlesmoker dan White Shoes & the Couples Company mempertunjukkan lagu-lagu baru yang rencana akan dirilis di album terbaru mereka nanti.

    Diskoria
    Diskoria
    Merdi & Aat
    Diskoria
    Bottlesmoker
    Bottlesmoker
    White Shoes and the Couples Company
    White Shoes and the Couples Company
    Ramayana Soul
    Ramayana Soul
    Ramayana Soul
    Ramayana Soul
  • Noise Whore Live Vol 002 : Membangkitkan Tidur Panjang The Porno & AGGI

    Noise Whore Live Vol 002 : Membangkitkan Tidur Panjang The Porno & AGGI

    Walau akhir pekan banyak menggoda dengan pilihan acaranya di tanggal 30 April – 1 Mei 2016, tapi di kedua hari tersebut saya memantapkan langkah ke Mondo Cafe, Fatmawati. Acara yang digelar kolektifan Noise Whore mempunyai daya tarik lebih kuat. Baik dari pemilihan tanggal hingga mengkurasi band yang mengisi line-up. Mereka membangunkan tidur panjang AGGI dan The Porno di hari sabtu. Mengajak Ramayana Soul untuk membakarkan dupanya kembali di hari minggu.

    Sebelum masuk, di depan parkiran melihat sekumpulan anak-anak dengan logat Jawa Timur salah satunya menegur saya. Dia Windrata Faizal vokalis dari unit post-punk/darwave Surabaya bernama Cotswolds. Mereka bermain di hari pertama bersama nama-nama baru Soft Blood, Peonies, dan Mutombo. Dan memberi tahu bahwa acara ‘ngaret’ karena sempat kena kendala teknis tempat. Tapi, sayangnya saya pun melewatkan aksi Soft Blood dan melihat Peonies sudah siap dengan kostum Doraemon. Diisi oleh salah satu pemuka indie pop lokal bernama Jodi Setiawan (yang dulunya memiliki band bernama Jodi In The Morning Glory Parade) memainkan dream-pop yang kental dalam struktur musiknya. Mengendapkan unsur Wild Nothing era Gemini. Dilanjuti gerombolan gelombang gelap asal kota Sambal Bu Rudy, Cotswolds, tampil kurang maksimal karena masalah teknis sound. Mereka juga membawakan materi baru seperti “Only In Shadow” dan “Marra”. The Porno melanjutkan tongkat estafet penampil. Berbalut seragam hitam-hitam memang sudah menjadi ciri khas mereka. Bisa dibilang inilah salah satu target yang berhasil ditembus Argia Adhidhanendra selaku founder Noisewhore untuk membawa mereka ke acara Noise Whore Vol-002.

    1462686663509

    Kolektif ini telah lama dibentuk dia bersama teman-teman sejawatnya. Bermula dari zine sekolah lalu berpindah ke media internet berupa tumblr. “Gue terpengaruh sama perkembangan zine era 2010’an, zaman Heyfolks masih di Mayestik dan kami lebih banyak membahas soal musik. Sempat mau bahas film tapi terlalu lepas dari pakemnya” ujar Arghi pria gondrong berkacamata sekelibat mengingatkan saya dengan Xandega, bassis Polka Wars. Noise Whore Live ini kali kedua yang mereka gelar. Sebelumnya pernah mengundang deretan nama seperti Bedchamber, Low Pink, hingga TaRRkam.

    Seusai The Porno, melihat gitaris handal seperti Pandu Fuzztoni tidak berpindah tempat malahan meduduki kursi drum menjadi pertanyaan besar buat saya. Ditambah Peter Andrian Walandouw (Damascus) dan Alvi Ifthikhar turut gabung bersama beliau. “Ini Mutombo nih??? Yah, dia lagi… dia lagi….” sontak teriakan penonton sehabis lagu pertama dibawakan. Memang, Mutombo memperkenalkan ke publik dunia maya lewat bandcamp hanya menggunakan moniker seperti Budi, Anto, Joko, dan bikin penasaran siapa otak dibalik band ini? Dijawab sudah di malam itu. Anti-klimaks pun terjadi sewaktu membawakan lagu terakhir dan gitar milik Peter tidak nyala total, mengambil keputusan untuk menyudahi penampilannya. Setelah ulasan ini dikabarkan Mutombo menyatakan bubar dari jagat musik sampai waktu tidak ditentukan. Sehabis itu ada AGGI yang langsung mengkooptasi panggung. Terakhir melihat mereka di Mondo Cafe yang waktu itu masih berlokasi di Kemang. Masih tetap terdengar manis walau menjadi penampil terakhir.

    1462686607865

    Argia mengaku bahwa dalam proses mengkurasi band dia serahkan kepada teman-temannya juga. Sewaktu ditanya apa kalian merugi atau tidak? Dia tidak terlalu perduli akan situasi itu, nyatanya ini acara tanpa sponsor dan seratus persen dikerjakan berdasarkan passion dari mereka masing-masing.

    Kalau hari pertama lebih sering disuguhkan nuansa dream-pop sampai indie rock 90’an, di hari kedua raungan distorsi hampir mendominasi penuh ke dinding telinga kalian. Dibuka oleh grup anyar bernama Bising Kota yang memiliki nuansa seperti Heinrich Manuver, dengan Erlangga Ishanders (atau akrab dipanggil Angga) dari Ramayana Soul sebagai penggebuk drum pengganti. Lalu ada Feast selalu tampil tidak mengecewakan tiap saya lihat penampilannya. Piston pun melanjutkan alur acara ini. Sangat senang melihat Yulio Abdul Syafik telah kembali mebetot bass semenjak masa penyembuhan patah lengannya. “Hakim Tak Berpalu” pun menyulut keriuhan kecil seketika. Seusai mereka, para personil r e k a h sudah terlihat mengambil posisi masing-masing. Ini merupakan Ritus ketiga milik mereka. Penampilan yang didramatisasi oleh sang vokalisnya menjadi nilai plus. Bagaimana tidak terlalu drama? Ketika melihat lirik-lirik dingin dimuntahkan bercampur aksi Faiz Alfaressi (vokal) beraksi menaiki tangga hingga keluar ke balkon. Seperti saya bilang diatas, Ramayana Soul kembali membakar dupanya petanda dibukanya pintu Dimensi Dejavu. Karena factor sound kurang memuaskan, tapi totalitas yang mereka kerahkan perlu diapresiasi. Noise Whore Vol 002 ditutup oleh seklompok muda menamakan diri mereka Circarama. Walau terbilang muda mereka menunjukan kesolidan antar personil.

    “Gue sih pengen mengajak Pestolaer reunian” pungkas Argi ketika ditanya siapa yang ingin (atau cita-cita) diundang untuk Noise Whore Live. Konon kolektifan ini juga mempersiapkan sesuatu yang spesial untuk volume selanjutnya. Penasaran? Ditunggu saja Noise Whore Vol 003.

    Photos: Damar Anjar

  • Pop Up Gigs feat Future Collective, Polka Wars, & Ramayana Soul

    Pop Up Gigs feat Future Collective, Polka Wars, & Ramayana Soul

    popup-gigs-8-des

    Pop Up Gigs feat Future Collective, Polka Wars, & Ramayana Soul
    @Paviliun 28.