Tahun ini di Jakarta (Selatan) diselenggarakan 3 pagelaran dengan nama Record Store Day dan satu namanya Rekod Skoy Day namun inti dari acara-acara tadi itu mirip-mirip lah; merayakan hobby koleksi rilisan fisik.
Tag: Record Store Day
-

Record Store Day Indonesia 2018 day 1.
Tahun ini di Jakarta ada beberapa lokasi peringatan Record Store Day, semuanya di daerah Jakarta Selatan. Saya memilih untuk datang ke yang diselenggarakan di Kuningan City karena lebih mudah akses dan informasinya lebih mudah didapat. Selain itu saya baru tahu ada kegiatan serupa di lokasi lain hanya beberapa waktu sebelum saya berangkat.
Sayang juga kalau informasinya jadi mencar-mencar. Karena ada beberapa rilisan yang saya cari, tidak jelas itu rilisan akan berada di RSD yang mana. Ya udah, nasib.
Berhubung saya sudah berada di Kuningan City, maka disinilah terjadi perpindahan saldo dari dompet saya ke dompet pedagang musik. Walau rada keki karena tidak ada kejelasan lokasi penjualan beberapa rilisan yang diincar, tetap saja tas saya penuh belanjaan yang bisa dikasih tagar #jajanrock
Semoga tahun depan, para penyelenggara bisa berkolaborasi dan saling dukung. Karena semuanya tetap demi musik dan tampaknya menarik keliling kota berburu rilisan khusus.

rumahsakit 
rumahsakit dan Maria dari Klarinet/Stereomantic 
Anida Sabrina 
mantra 
Lagi nyari piringan hitam 
Dua Sejoli dan hasil kolaborasi mereka. 
Records 

Record Store Day Indonesia 


Monkey Boots 
-

Mocca Rilis Kaset ‘LIMA’ Eksklusif di Record Store Day 2018
Hari ini Mocca merilis kaset-kaset eksklusif.
-
Record Store Day Surabaya 2018
-

Inspeksi Pecandu Miskin dan Berserinya Senyum Para Germo pt.02
Ketika akhirnya inspeksi malam itu selesai kami sedang duduk-duduk menikmati sisa anggur di emperan depan gedung dan memergoki Zu, pemilik Musikamar, sebuah kios di Blok M Square sedang mendorong satu troli berisi plat. Rendi mencegatnya. Serentak kami mengaduk isi boksnya, dan sekilas menemukan diantaranya, Suede Dogman Star, Blur Parklife, Mew yang bersampul matador dan Daydream Nation-nya Sonic Youth.
“Masih banyak lagi di mobil, belum pada diangkutin,” kata Zu sebelum akhirnya dia pergi.
“Suede kira-kira dijual berapa tuh, ya?” tanya saya pada anak-anak.
“Paling tiga setengahan,” jawab Rendi.
“Bisa lebih mungkin,” kata Tarigan. “Tapi mahal emang plat nineties sekarang.”
“Semua plat, mah kayak tai sekarang,” balas saya tertawa. “Mahal!”
“Ya mau gimana dong?” Tarigan membuka tangannya tanda pasrah. “Barang yang beredar di sini hampir semuanya import… belum kena ongkos shipping, terus di Bea Cukai dipalak lagi”.Lagian kalau lo lihat dari jaman dulu, piringan hitam emang udah termasuk barang istimewa di sini. Nggak semua orang bisa beli plat.
Di Indo, orang-orang berduit doang yang bisa menikmati. Sisanya cuma dengerin musik dari RRI atau bocoran radio BBC.
Turntable-nya aja pasti udah mahal banget. Memang bukan untuk konsumsi massal.”
“Sekarang juga plat masuknya pajak barang mewah kalau lo order di atas beberapa ratus dolar. Padahal dulu kita sempet punya pabrik buat bikin plat,” kata Rendi.
“Iya, bego dijual ke negara lain,” timpa saya.
“Itu juga mungkin salah satu cara supaya harga plat di sini jadi lebih murah. Bikin manufaktur. Jadi nggak harus keluar negeri terus. Tapi susah banget, sih pasti, harus cari investor yang tajir berat, konglomerat mafia gitu. Bikin proyek cuci uang, jual senjata bikin pabrik plat.”
Kami bertiga tertawa. “Dan,” sahut saya lagi, “moral pedagangnya kalau buat plat-plat second… Parah-parahan sekarang harganya. Jadi ngerusak hype-nya sendiri. Apalagi plat Indonesia!”
“Itu juga susah, tuh ngurusin moral… sama aja kayak bikin pabrik plat.”
Ya begitulah.Yang kemudian tersisa dari RSD besok hanyalah seorang pecandu pas-pasan yang setiap hari ereksi dan berharap kalau hidup masih bisa memberikannya kebaikan. Semoga budaya konsumsi piringan hitam yang begitu dibesar-besarkan ini bisa memberinya pilihan-pilihan terbaik, masuk akal dengan dosis candu seperlunya. Kalau pun jika nantinya buruk, berarti dia kurang beruntung, atau masih terlalu bodoh. Kasihan.
Lalu berapa uang yang saya punya?
Menyedihkan.– bersambung –
oleh Dr. Marto
Tulisan ini adalah rangkaian tulisan bersambung yang dirilis dalam rangka menyambut Record Store Day 2016.
Ditulis dengan inspirasi akan pengalaman Dr.Marto di Record Store Day Jakarta tahun 2015 tahun kemarin.


