Tag: rsd2016

  • Satu Perjamuan Terakhir: Bisnis hitam anak haram ibukota ditelanjangi vodka

    Satu Perjamuan Terakhir: Bisnis hitam anak haram ibukota ditelanjangi vodka

    Satu Perjamuan Terakhir: Bisnis hitam anak haram ibukota ditelanjangi vodka Brang Breng Brong
    pt.02

    Empat hari setelah Record Store Day saya duduk satu meja makan bersama Tarigan di sebuah restoran Jepang di tengah kawasan Kemang. Sore itu dia, mengenakan topi pet seperti biasa dan sepasang celana – kaos warna coklat bertuliskan ‘Kentucky Derby Is Decadent and Depraved’, baru saja selesai melakukan soundcheck sebagai penyanyi latar untuk gig Tika and the Dissident di Thursday Noise nanti malam, yang membuat meja ini juga dipenuhi oleh sejumlah musisi; di sebelah saya gitaris Iga Massardi, tepat di depannya sang biduanita Kartika Jahja, dan berderet ke sampingnya pemain drum serta organ yang sekarang saya lupa nama-namanya.

    Tarigan memesan semangkuk sup jamur dan dua tangkap mantou polos yang dicocolnya bersama susu kental manis. Tidak ada daging, hanya telur dan sepiring kecil nasi putih. Minumnya, satu teko teh tawar hangat. Dia mengaku sedang selektif terhadap makanannya, “lagi pengen jalanin hidup zen kayak Buddha,” candanya.

    Seusai menandaskan santapan kami berdua berpisah dengan rombongan Dissident menuju Monka Magic di mana Tarigan telah memiliki janji cash on delivery dengan seorang penjual online untuk dua plat Indonesia, Benyamin S Brang Breng Brong dan Ge & Ge Vol. 2. Seratus ribu saja sekeping.

    Di sana, di halaman belakang lahan parkir Monka Magic, tempat beberapa tahun lalu tiga anak tertangkap karena mengisap ganja di dalam mobil sudah berkumpul para kawan baik, diantaranya Fadli Aat dan Peter Walandouw yang tengah bertukar cerita tentang album-album yang mereka dapatkan di RSD kemarin.

    “Gua cuma beli donat The Damned, New Rose yang 25th anniversary. Dua ratus ribu lengkap sama kuretan tanda tangan personelnya,” kata Aat.

    “Captain Sensible!” sahut saya.

    Perbincangan terus bergulir sambil menunggu jadwal naik panggung Tarigan tepat pada pukul delapan. Kami membahas berjamurannya perusahaan rekaman spesialis reissued ketika Peter memberi bocoran bahwa Anoa Records akan berencana merilis ulang sebuah album lawas dalam waktu dekat ini.

    “Ya sah-sah aja, sih tapi nggak seru kalau kebanyakan album yang dirilis itu yang dulu-dulu lagi. Harusnya kita mendokumentasikan apa yang terjadi di era sekarang. Menandai jaman, biar nggak mandek dan jadi bego. Walaupun,”

    kata Tarigan lagi,

    “kayak lo ngerilis, misalnya Sastro atau berhasil tembusin JKT:SKRG, pasti jaminan untung. Apalagi lo kasih embel-embel limited.”

    “The Jonis, sih bisa laku keras,”

    selah saya.

    Lalu alur topik mengarah ke sebuah debat seru yang ditimbulkan oleh satu artikel berwacana ofensif yang dipublikasi oleh situs Jakarta Beat. Isinya menggado-gado antara tren politik dan tren rilisan fisik; mengkritisi pelaksanaan Record Store Day sebagai budaya prematur di Indonesia yang ditunggangi oleh (lagi-lagi) kapitalisme, yang jelas berlawanan dengan semangat otentik RSD itu sendiri. Judulnya begitu pretensius hingga, jujur membuat perut agak mual: “Record Store Day, Jokowi & Hipster Wannabe; Mencari ‘Kenyataan’ Di Balik Rilisan Fisik”. Ditulis oleh dua orang, Pry S dan Nosa Normanda antara Bandung dan DC.

    “Belum baca gue,” kata Tarigan.

    Aat memberikan artikel itu melalui ponselnya. “Yah, orang-orang elitis intelektual lagi ngoceh. Lo baca aja dari kalimat pembukanya. Atau karena gua bego kali, ya… batu Sisyphus itu apaan, sih?” cetus saya.

    Kening Tarigan mengerut. Belum juga habis dibaca, mungkin karena bosan dia sudah angkat suara. “Editorial mereka, kan memang penulis politik yang suka musik. Visi mereka menggabungkan itu, jadi wacananya pun seputar dua hal itu.”

    “Nah, maksud gua,” kata Tarigan lagi, menaruh sejenak layar berita tadi, “kadang-kadang hal yang kecil diberi kemasan yang besar. Sebenarnya sama aja kayak gosip, cuma jubahnya itu wacana. Kayak kalimat pertamanya yang lo bilang tadi itu, ngapain kayak gitu aja diomongin?”

    “Intinya, si penulis keberatan atau mungkin ketakutan kalau produk mainstream yang masuk ke RSD tahun ini merusak semua semangat berdikarinya,” kata saya.

    “Nggak usah dibahas yang kayak gitu. Lo mau tau yang paling penting apa?” tanya Tarigan.

    “Nggak.”

    “Bangke, lo. Pada dasarnya, tuh lo kenal sama semua pedagang dari ujung ke ujung. Ini tentang silaturahmi-nya, brur.”

    “Buat gua,” sambung saya lagi, “Record Store Day nggak penting. Toh, juga harga-harganya nggak jadi murah. Tai kucing. Malah jadi tambah mahal karena kita dimanfaatin momentum. Anak-anak yang belanja di sana dituduh hipster, ikut-ikutan. Emang bener. Gua hipster, terus kenapa? Tapi hipster miskin,” saya tertawa. “Yang penting gimana caranya tren plat ini bisa cepet selesai. Biar harga normal lagi. Besok ada Casette Store Day, jadi mahal pula itu harga kaset. Babi. Jadi nggak usah sok ngomongin soal nilai rilisan fisik kalau masih uang yang dijadiin tolak ukur. Mending balik lagi dengerin mp3 biar orang katro nggak makin banyak, karena bisnisnya juga makin sialan gila-gilaan.”

    Aat yang notabene manajer Monka Magic hanya tertawa kosong mendengar ocehan saya tadi. Kemudian di tengah batang kretek entah yang kesekian ketika akhirnya kami beranjak menuju 365 Ecobar untuk menyaksikan gig, saya jadi teringat, apa kabar Jalan Surabaya – tempat semua tetek bengek bisnis piringan hitam di Jakarta ini dimulai – di tengah hingar bingar yang membahana, Record Store Day dan tren omong kosongnya yang menyesatkan. Bahwa satu kios langganan saya di sana yang sudah turun temurun sejak tahun 1966 milik seorang pria bernama Dayat baru saja gulung tikar karena tergerus zaman dan terlalu menutup diri dalam sekam purba; mengacuhkan generasi global dengan tetap mencari dan menjual barang dari tangan ke tangan. 

    Apa artinya Record Store Day ini baginya?

    Tidak ada, selain pengkultusan sia-sia yang membuatnya harus mengucapkan, ‘selamat datang hari kiamat’.

    Lalu siapa yang bersalah?

    Pun tidak ada, kecuali diri kita.

    TAMAT

    Tulisan ini adalah rangkaian tulisan bersambung yang dirilis dalam rangka menyambut Record Store Day 2016. Ditulis dengan inspirasi akan pengalaman Dr.Marto di Record Store Day Jakarta tahun 2015 tahun kemarin.

    Klik di tautan ini untuk membaca seluruh serinya.

    Versi yang lebih lengkap akan dirilis dalam format novel di Record Store Day 2016

  • Satu Perjamuan Terakhir: Bisnis hitam anak haram ibukota ditelanjangi vodka pt.01

    Satu Perjamuan Terakhir: Bisnis hitam anak haram ibukota ditelanjangi vodka pt.01

    Satu Perjamuan Terakhir: Bisnis hitam anak haram ibukota ditelanjangi vodka Brang Breng Brong
    pt.01

    Ricky Virgiana, berkemeja cerah lengan pendek yang digulung mampir ke Gerah Anjing. Menopang dagunya di ujung boks ketika bersemangat – bahkan keringat panggungnya pun belum mengering – bercerita tentang Australia. White Shoes baru saja pulang dari tur seminggu di sana. Dari riangnya cerita Ricky tampaknya band itu begitu menikmati waktunya. Tarigan yang menggubrisnya.

    Bagi mereka obrolan ini tentu saja menerbitkan banyak ingatan. Tarigan pernah menjabat gitaris pengganti Saleh Hussein ketika mereka menyeberangi Amerika tujuh tahun silam. Jelas tawa dua orang ini berseru-seru. Sayang, saya yang tiba di TKP dalam keadaan setengah akut tidak dapat menangkap lalu lintas pembicaraan mereka dengan cerah, terlalu lelah untuk menimbrung, apalagi memaksakan ingatan untuk menceritakannya lagi di sini sekarang. Hanya ada satu yang berhasil muncul, itupun samar dan penuh asas praduga tentang Ricky yang menemukan beberapa piringan hitam Indonesia ketika berpesta di rumah seorang warga lokal.

    Sampai saat ini geliat bisnis sudah jauh mereda. Lapak-lapak sedang membereskan dirinya. Tapi dasar pemadat, mereka yang penasaran masih saja terus berjongkok mengurut puing album-album terakhir yang terhiraukan. Seperti tidak ingin berhenti merayakan festival tahunan kebutaan fisik ini.

    Saat itu batang hidung Rendi tidak kelihatan. Saya sempat mengkhawatirkannya sudah tak kuasa diri, joprak, merunduk, seperti biasa menyembahi tempat pembuangan air besar di kamar mandi. Kenapa tidak, itu adalah tempat terakhir yang paling aman untuk bersembunyi dari keramaian, rakus alkohol dan limbung mencari perlindungan dinding porselen sambil mengutuki diri sendiri, meludahi genangan air dengan mual muntah kuning yang memelintir asam lambung menuju kepala.

    Sejujurnya, saat ini saya yang sebenarnya memiliki tendensi ke arah sana. Lumayan pening karena pengaruh anggur mulai deras bergejolak. Nikotin yang biasanya cukup ampuh menahan kadar keseimbangan mulai tak berkutik. Tarikannya malah membuat semakin resah. Tidak pula ada air putih di meja ini. Tapi saya tahu muntah terlalu tolol jika dilakukan di sini.

    Tahan, bajingan.

    Saya mencoba menenangkan temperatur dengan iseng memasang satu plat Sublime Frequencies-nya Tarigan, dari Korea Utara, Radio Pyongyang: Commie Funk and Agit Pop from the Hermit Kingdom. Tapi makin tidak karuan karena ketukannya terlalu cepat, kosmik-baroque korean yang ketika vokalnya muncul membuat saya tiba-tiba langsung  mengangkat lagi jarum turntable dari piringnya. Ini kurang tepat. Memutuskan menggantinya dengan “White Rabbit”, Jefferson Airplane saja.

    ‘One pills makes you larger… and one pills make you small… And if you go chasing rabbit… And you know you’re going to fall. Go asked Alice, when she’s ten feet tall…’   

    Sedikit teredam. Tidak lama kemudian Rendi muncul. Mukanya cerah. Lima album tergantung di genggamannya. Dari Monka Magic, lagi banting harga, katanya, sekarang seratus lima puluh ribuan. Sial. Saya putuskan menyerah, RSD sudah selesai buat saya, dan lebih memilih bergabung dengan Dr. Yes di belakang meja Trash Shop yang hampir selesai diringkasi.

    “Di sini aja apa eksekusinya?”

    Sang dokter tertawa, “Nggak sekalian di depan Mabes?”

    Dia membuka Russian Standards. Ini sungguh penutupan yang sempurna. Bersama dua kawan lagi yang merapat, kami duduk melingkar, memutar vodka bening itu demi menetralisir racun jamu murahan seharian tadi. Operan sampai, sekokop tiga teguk langsung. Hangatnya merendam lambung. Membuat benak sejenak pergi dari perbincangan tengah, memikirkan hasil galian selama dua hari yang tersimpan di dalam tas ini.

    …Judas Priest, Doors, Velvet Underground, United Smokers, Deep Purple (sial.), The Cramps, Sastro, Morfem, Sirati Dharma, (huh.) Gagak Rimang Stoned, Antah Berantah, Rolling Stones album pertama, first pressed…

    Rasanya masih kurang puas. Tapi dengan lima ratus ribu, ya hanya segitu kemampuan dan keberuntungan terbanyak yang layak didapat. Dalam keadaan terpelintir seperti saat itu saya tidak mau memikirkan apa saja yang sudah terjual. Pun sudah terlalu malas untuk cari tahu seberapa besar keuntungannya. Nanti saja. Tapi pasti, saya seyakin itu, tidak akan sampai rugi modal. Jelas.

    Tiga putaran Rusia kemudian…

    “Eh, gondrong!” suara teriak menyentak dari arah Gerah Anjing, “lo mau nggak, nih? Coba sini dulu.”

    Itu Tarigan. Kalau menyangkut dirinya ini pasti persoalan piringan hitam. Bukan narkotika. Atau wanita. Persentasi negatifnya, di usianya yang sekarang ini, sudah sangat, sangat minim, walaupun dia mengaku masih sesekali minum. Membuat saya yang tengah menurunkan tensi diri tidak perlu berpikir dua kali untuk lekas menghampirinya.

    Meskipun tidak punya minat untuk beli plat lagi, tapi saya tahu itu pasti barang-barang menarik. Akan ada keajaiban di sana. Ternyata benar, itu kumpulan donat setelah saya tengok. Titipan Johny Buram, katanya. Ada sekitar 10-15 biji rapi dengan sampulnya masing-masing. Nama-namanya tidak terlalu banyak yang kenal, paling tidak oleh saya, tapi dari bentukannya, ini pasti pop-psyche 60an; pria-pria dengan warna liak-liuk menjalar di jaket mereka.

    Saya mengambil Frijid Pink, ada gubah ulang “House of the Rising Sun” di sana, Tarigan menyarani The Move yang berisi “I Can Hear Grass Grow” dan “Wave the Flag and Stop the Train” di sisi sebelahnya. Satu, dua puluh lima ribu, saya sikat dua-duanya, dan sebuah donat lagi tanpa petunjuk: tidak ada nama perusahaan rekaman, judul atau nomor seri. Apalagi saya, bahkan Tarigan pun Rendi yang ikut mengerubung juga tidak pernah mendengar nama itu sekalipun.

    Nitro Jade Pump, berbunyi begitu saja, ditulis dengan spidol terang di tengahnya. Keping sebaliknya bercetak dua huruf kapital NA. Platnya warna kuning, muncul di urutan paling buntut. Seperti kejutan kiriman krispi tahi kuda di tengah hari bulan puasa. Menimbulkan keraguan tapi pada akhirnya, ya tetap disikat. Apa jadinya nanti urusan belakangan.

    “Feeling gue, sih ini DJ housemix dari Eropa. Nggak mungkin classic rock kalau lihat namanya.”

    “Tai, lo. Tapi bisa jadi, sih. Atau industrial Jerman sejenis KMFDM atau Die Krupps.”

    “Kayaknya, test press,” kata Rendi.

    “Bangsat.”

    Juga dihargai dua puluh lima ribu. Jelas saya sikat. Ketika dia diputar, bahkan sampai sekarang ketika sudah empat gelas kopi habis ditenggak untuk menerjemahkannya di cerita ini, saya masih tidak mengerti apa yang sedang mereka mainkan. Hening tapi berkeringat. Dingin tapi dentumnya mendesir. Ingin terus bergerak. Berderam dan menderam. Konstan Apel hijau, atau LV coklat. Degup jantung membuas aligator. Yang pasti ini akan membuat penggemar berat Phil Collins semaput kalau mereka mendengarkannya.

    Perolehan terakhir yang baik. Musiknya tidak penting, tapi paling tidak ini mampu membuat kalian berpikir untuk tidak mempercayai semua yang dari kemarin saya ceritakan di sini – itupun jika kalian cukup sabar untuk membacanya hingga ke bagian ini.

    Selesai sudah dengan piringan hitam hari ini. Tuntas. Kembali ke vodka dan telan segala tetek bengek zinah fisik ini masuk lambung; Record Store Day, kepanjangan, kemiskinan, kelancangan, keindahan, kebingungan, obat-obatan, oceh serabutan, tidak bertanggung jawab, dan semua yang kalian sebut itu melanggar kepatutan; untuk menyerahkannya kembali ke dalam cerita. Murni cerita. Hiburan bebas. Jangan terlalu serius. Tak perlu terlalu diambil kesah, serahkan saja dia dengan tugasnya.

    Tak lama kemudian Berry bergabung setelah lapak dagangannya dirapikan. Dia duduk di salah satu kursi lipat dengan tato-tato yang tertutupi long sleeve putih. Putarannya tepat jatuh di gilirannya ketika dia datang. Dr. Yes menyodorinya botolnya. Sebenarnya saya mengacuhkan bagian ini, terus acuh, sampai mendengar Berry menolaknya dengan santai dan halus.

    “Udah lewat gua buat yang beginian,” tangannya mengibar seperti bendera pada botolnya.

    Saya yang berada di sebelahnya yang kejatuhan operan itu, dengan senang hati menerimanya. Meneguknya sekali saja kali ini lalu spontan menoleh ke arah Berry yang tiba-tiba bersuara, “Lo nggak lihat kaos gua?” ujarnya dengan senyum.

    Oh, ya… dada telanjang Ray Cappo dalam kepalan mikrofon, Youth of Today – Break Down The Walls… Dia Straight Edge.

    Ok, baiklah.

    Bersambung.

    Tulisan ini adalah rangkaian tulisan bersambung yang dirilis dalam rangka menyambut Record Store Day 2016. Ditulis dengan inspirasi akan pengalaman Dr.Marto di Record Store Day Jakarta tahun 2015 tahun kemarin.

    Klik di tautan ini untuk membaca seluruh serinya.

  • Serangan Roda Gila: Alpra, Paranoid, Lari Seratus 

    Serangan Roda Gila: Alpra, Paranoid, Lari Seratus 

    “Kalau sama elo empat ratus aja,” sahut Gun. 

    Bajingan. Kalau sama orang lain berapa kira-kira, lima ratus? Saya meringis. Kalau saja itu berharga dua ratus ribu – dan memang sudah seharusnya, mungkin saya akan berusaha mengelitkannya jadi seratus lima puluh, paling tidak.

    Untuk yang terakhir tadi jantung saya sedikit meronta. Bukan apa-apa, bahkan saya sudah punya CD dan kasetnya: cetakan pita tebal kaset bajakan Monalisa lengkap dengan sampul foto mengilat yang membuat Bob Geldof merasa miskin karena berusaha memberangusnya dulu. Saya hanya merasa berdosa saja belum memiliki piringan hitamnya sampai sekarang, bahkan ketika album lainnya sudah lengkap. Meninggalkan Paranoid di urutan belakang adalah termasuk tindakan kurang berbakti, saya tahu itu. Jadi saya coba melakukan penawaran.

    “Hmmm,” gumam Gun mengulurnya. Saya membakar rokok. Tingkah tubuh bungkuknya tampak kikuk. Mungkin dia menyadari kalau saya kenal dengan Rendi dan tahu berapa harga sebenarnya sehingga tidak enak jika menjualnya terlalu mahal. Atau sebenarnya dia tidak peduli juga.

    Kemudian ada seorang pria bertopi rajut polos persis George Harrison di sampul All Things Must Pass lengkap dengan atribut rambut dan janggut gelandangan. Saya yakin dia terakhir mandi itu tiga hari lalu, tapi anehnya tetap terlihat segar. Saya sudah mengenalnya selama empat tahun.

    ‘Kebiasaan lama sulit berhenti’, ternyata dia masih mengerti itu, dan menggenggamkan, semili kali dua.

    Warna biru muda. Atau ini ungu?

    “Biar semangat digging-nya,” lalu dia cabut lagi.

    Itu semua terjadi beberapa detik setelah melihat plat The Smiths Meat Is Murder terpajang di rak Kims Varia.  Di muka lapaknya terpampang poster besar wajah Matt Bellamy. Gun sendiri sedang beraksi, menggoda para pelanggannya dengan segala bicara yang dia bisa. Seorang wanita – mungkin istrinya – duduk di sebuah kursi plastik di sebelahnya, mengurus pembukuan siang itu.

    Setelah mengecek katalog di rak – hanya sedikit yang menarik hati, perhatian kemudian tertuju pada sebaris – mungkin seratusan – plat yang berdiri di lantai, bersandar pada kaki meja di belakangnya. Yang berada paling depan adalah Rainbow On Stage. Ini dia mungkin barang-barang dari Rendi. Saya segera berjongkok meraihnya, mengurutnya satu per satu sambil cermat menggunakan sedikit kesempatan bodoh di selanya untuk menelan dari kepalan, meluputkannya dari tatapan orang-orang sekitar sini. 

    Sementara itu pemandangan di depan bagai taman bermain bagi siapa saja yang ingin menenggak dari kepalan seperti tadi di tahun 70an. Telapak saya mulai berkeringat. Menjamahnya satu per satu hingga yang paling belakang. Semuanya cetakan pertama: tiga album awal Cream, Ummagumma dan Meddle Pink Floyd, Buffalo Springfield, Traffic, Surrealistic Pillow Jefferson Airplane, beberapa The Beatles yang langsung saya lewati, James Gang, Status Quo, Blue Cheer Vincebus Eruptum, Soft Parade – L.A Woman The Doors, Lucifer’s Friend, Sweet Smoke, Yardbirds, Van Halen, serta, Paranoid Black Sabbath.

    Saya pun hanya mampu menanggapinya dengan cengiran, mengernyitkan sebatang kretek yang terjepit diantara gigi. Asapnya membumbung perih ke mata, seperih empat lembar seratus ribu yang harus dikeluarkan untuk mendengarkan “Planet Caravan” sambil merokok bunga di kamar.

    Tapi saya menerimanya, Gun. Germo tetap germo, saya mengerti itu. Tidak ada maksud apa-apa.

    ***

    Record Fair adalah suaka bagi para pecandu rekaman fisik. Ada banyak jantung yang berdebar di dalamnya. Dan apa yang terjadi ketika saya berkeliling adalah suatu pemandangan yang sangat menggairahkan. Sejauh mata memandang orang sedang mengurut deret demi deret album di hadapannya – berdiri, jongkok, duduk, menungging, apapun, terserah. Meluapkan rasa cinta, memburu nafsunya ke dalam lautan kebutaan fisik – pun jika alasannya supaya tidak ketinggalan jaman, saya tidak peduli. Ini sebuah kultur, tetap harus dirayakan. Meskipun sedihnya memang sedangkal itu.

    Saya pun memutuskan untuk mengecek setiap lapak yang ada. Tahun ini terdaftar 90, itu tidak terlalu banyak. Lagipula doping yang baik bekerja secara lambat. Tidak langsung terasa hingga akhirnya menyadari tubuh ini ingin terus bergerak dan melangkah ringan.

    Sempat mampir ke wilayah Bandung, Cihapit Skool of Rock yang banyak menjual kaset. Kemudian membelalak kaget ketika melihat seorang pedagang dari Malang menjual plat God Bless album pertama dengan sampul replika seharga tiga juta. Juga AKA Shake Me berkondisi sama: satu juta. Semoga Tuhan memberkati berhala-berhala ini dan mengutuki pedagangnya.

    Selanjutnya menyapa Peter Walondouw, pemuda shoegaze salah satu pemilik Anoa Records yang tengah menjaga sendiri lapaknya. Isi mejanya tentu saja para roster labelnya. Terdapat rilisan kaset RSD mereka, album Live indie-pop Jakarta, The Sweaters yang direkam dari konser Esplanade-nya di tahun 2008. Juga beberapa kopi terakhir kompilasi Holy Noise yang berisi nama-nama dream-pop/shoegaze menyayat seperti Ajie Gergaji, Mellon Yellow, Black Mustang, Elemental Gaze, Treasure Hiding, Damascus dan lain-lain.

    Terlepas shoegaze adalah pilihan tersier dan dream-pop memiliki resiko besar kencing manis, saya menyukai label ini. Terutama karena mereka selalu menyertakan liner notes dalam setiap rilisannya. Saya suka budaya itu, menggabungkan literatur dengan musik. Opini atau deskripsi yang lebih dipercaya dibanding berita web karbitan yang menjamur sekarang.

    Untuk Holy Noise mereka meminta vokalis Seringai Arian13. Sementara Barefood oleh gitaris Teenage Deathstar Alvin Yunata. Black Mustang oleh gitaris The Brandals Tony Dwi Setiadji. The Sweater oleh penulis-pengamat kancah lokal Felix Daas, dan Andri Lemes bekas penyanyi Rumahsakit yang telah ikut-ikutan mengharamkan musik menulis kalimat ini untuk LP Undone dari Seaside: “Bagai.. Sarah selingkuh dengan Creation”, persetubuhan dua label rekaman yang sekaligus menjelaskan reputasi Anoa.

    Dan, mungkin hanya mereka yang melakukannya di pesta berhala Record Store Day ini: praktek digital download. Jadi bagi yang ingin punya Mp3 Sullen-nya Barefood di telepon genggam, Anoa menjual kode unduh dengan harga hanya lima belas ribu perak.

    Tapi saya malah tertarik pada kaset Vol. 1 The Sastro rilisan Kenanga Records di tahun 2005 yang ikut dijual di sana. Tampaknya itu simpanan pribadi Ritchie Ned Hansel, gitaris band itu yang juga satu diantara dua sekutu Peter dalam menjalankan label ini. Album itu sendiri juga rencananya akan dirilis dalam bentuk piringan hitam via Majemuk Records sekaligus merayakan usia satu dekadenya tahun ini.

    “Tujuh puluh lima ribu, nih Pete?” tanya saya.

    Ditanggapi sambil menyengir. “Iya, Io, gua dapat mandat langsung dari Ritchie soalnya, dia bilang segitu harganya.”

    Sial, terpaksa saya pergi meninggalkannya.

    • Bersambung

    Tulisan ini adalah rangkaian tulisan bersambung yang dirilis dalam rangka menyambut Record Store Day 2016. Ditulis dengan inspirasi akan pengalaman Dr.Marto di Record Store Day Jakarta tahun 2015 tahun kemarin.

    Klik di tautan ini untuk membaca seluruh serinya.

  • Terlalu Punk Untuk Pemberhalaan pt.02

    Terlalu Punk Untuk Pemberhalaan pt.02

    ‘punk harus murah!’

    Mendengar ocehan Yongki tentang ‘punk harus murah!’ dan ancaman aduannya ke Berry membuat saya penasaran dengan apa yang dijajakan Trash Shop yang terletak hanya sepelemparan batu, tepat di belakang kanan lapak kami. Ketika didatangi ternyata Berry sedang kedatangan seorang penggemar Antiseptic yang mampir untuk menyapa.

    “Salut, Bang! Album Best of-nya bagus banget, saya suka.”

    Yang ditingkahi Berry lewat senyuman. Menit selanjutnya dua ratus lima puluh ribu sudah mengalir ke kantongnya ketika LP Stryper In God We Trust ditebus oleh seorang pembeli tanpa banyak tawar. Di boksnya sendiri saya lihat Total Chaos, The Adicts, The Varukers, The Cramps sedang berdiri saling sandar, dan satu yang paling mencolok mata, A.M.Q.A – Mutants Cats From Hell. Rata-rata harganya dua setengah sampai tiga ratus lima puluh ribu rupiah. Taksiran saya: kalau ditawar paling mentok turun lima puluh ribu.

    Mungkin saya yang terlalu ‘punk’ alias kere kalau masih menganggap itu terlalu mahal.

    Berikutnya mampir di Jim Gorjy yang mejanya didominasi CD. Tidak ada plat. Mungkin sedikit kaset. Malah banyak buku yang sebagian besarnya literatur rock & roll. Ada No Regrets memoir Ace Frehley, kumpulan wawancara The Stone Roses – War And Peace, Pete Doherty: On The Edge dan sepaket The Rolling Stones, biografi The Wild Life and Mad Genius of Jagger sampai buku besar foto mereka, 50 x 20.

    Gorjy sedang terlibat bincang santai tapi menjurus dengan seorang pemuda tanggung yang sedang mencari rilisan Indonesia di lapaknya. Dia menyapa dengan dagunya ketika menyadari saya datang, tidak menghentikan bicaranya:

    “Nggak ada kalau Indonesia. Lagian gua nggak suka juga sama musik Indonesia,” selorohnya.

    Pemuda tadi tersenyum kikuk tapi juga kelihatan malas ambil pusing. Dia ada di sini untuk beli musik bukan diskusi dengan orang yang mungkin akan meladeninya hingga sore hari dan melebar kesana kemari. Melihat lawannya tidak menanggapi dan lebih asyik mencari lebih lanjut nama-nama barat di depannya, Gorjy meneruskan lagi kalimat yang sekiranya tanggung tadi. “Buat gua,” katanya, “mereka itu nggak orisinil. Gimana ya… semacam followers gitu, lah. Ikut-ikutan doang.” Matanya melirik ke arah saya.  Saya menyapanya balik pun dengan gerakan dagu.

    Ini dia nada kritis penggemar musik: penghakiman mana yang bagus dan yang buruk. Saya sudah cukup akrab dengan hal macam itu, dan sejujurnya inilah tipe manusia kesukaan saya. Selalu menilai sepihak berdasarkan hatinya; apapun alasannya. Subjektif. Terutama untuk menyeleksi apa musik yang dia asup. Persoalannya hanya suka atau tidak suka dan cocok atau tidak cocok. Itu saja. Snob? Bisa jadi, tapi kita tetap tidak bisa menyalahkan atau membencinya atas apa yang telah dia rasakan. Karena menurut saya, kesopanan basa basi hanya akan menuntun kita menuju kebodohan, sedangkan subjektivitas adalah setitik nilai kejujuran. Itulah yang diperlukan oleh jaman kemunduran seperti sekarang ini. Lagipula siapa lagi yang seharusnya menilai musik kalau bukan pendengarnya sendiri.   

    Saat itu Marsh Kids sedang mengayun dari atas panggung.

    Nah, yang ini Beatles versi tenggak downer kalau mengikuti cetusan Gorjy barusan. Mereka tengah membawakan “I Saw The Light”-nya si gigi Chicklet, Todd Rundgren. Drummer mereka menyukai pukulan ganjil, sangat Ringo Starr.

    Pemuda musik lokal tadi pun tidak lama menyingkir. “Terima kasih, Bang,” katanya ramah.

    “Iya. Kalau nggak ada yang cocok, nggak beli juga nggak apa-apa. Kita bisa ngobrol-ngobrol,” balas Gorjy tidak kalah ramah.

    Saya yang sudah selesai menyisir rak bagian kanan sekarang bergeser ke tengah. Barangnya benar-benar bersih dari Indonesia, bahkan kaset-kasetnya pun. Kebanyakan katalognya adalah alt-rock, walaupun sebenarnya cukup beragam juga. Saya lihat hari itu dia menjual dari Sponge, Rocket Science, Toadies, Mansun, Reef, sampai Millencolin, Buck-O-Nine, Pride & Glory, Phish dan lebih banyak lagi yang saya tidak kenal.

    “Lo bener-bener nggak jual Indonesia, ya?” saya mengangkat Sixsteen Stone, Bush.

    “Bukannya apa-apa… gua emang nggak suka musik Indonesia.”

    “Masa, sih. Band-band independen kayak, yang gede-gede, deh.. The Sigit gitu, atau Seringai, misalnya,” kata saya. “Tapi kalau lo ngomong mereka followers, ya iya sih. Sulit juga. Kalau nggak, Gesang pasti udah punya rumah di Pondok Indah.”

    Dia tertawa. “Sebenernya karena nggak ada yang bener-bener gua suka banget, sih. Sigit, gua mending dengerin Datsuns sekalian. Atau kayak Arian, deh. Puppen gua suka, tapi dia itu nggak bisa nyanyi. Suaranya nggak jelas, kayak kumur-kumur gitu.”

    “Ya memang dia bukan penyanyi. Tapi liriknya, kan keren. Sigit juga album terakhirnya nggak gitu-gitu banget,” kata saya setelah tertawa.

    “Iya. Tapi tetep aja nggak enak didenger.” Saya tertawa lagi, dan mencoba mencari perbandingan yang lain.

    “Kalau Plastik?”

    “Nah, kalau Plastik gua suka. Mungkin karena grunge kali, ya. Tapi band Potlot lainnya, kayak Flowers gitu, nggak suka. Slank juga. Kenapa ya..” dia mencari alasan, “mungkin karena liriknya kayak orang curhat kali, ya.”

    “Itu jujur namanya. Nggak pakai banyak metafora.”

    “Tapi Dewa 19 gua suka, sebelum Ari Lasso diganti, ya. Pandawa Lima itu salah satu album lokal paling keren menurut gua. Dari segi komposisi maupun lirik. Terobosan. Sama kayak Swami juga. Siapa coba musisi luar yang musiknya kayak mereka gitu?” katanya lagi.

    “Itu masa-masanya Ahmad Dhani jadi jenius. Gua setuju. Walaupun album satu sama dua kayak dengerin Firehouse juga, sih, White Lion…” lanjut saya, “ya dibanding yang sekarang, parah banget. Jelek-jelek lagunya dia. Nggak ada yang penting. Banci tampil pula.” Saya tertawa. “Nggak tahu terlalu jenius, nggak tahu panik ngerasa udah nggak bisa bikin lagu bagus lagi. Jadinya lebih sering cari perhatian, agak mirip Farhat Abbas gitu, kali ya.”

    Saya mengambil Relationship of Command, album terakhir At The Drive-In yang berdiri menyamping di boks. Tidak jauh dari situ terdapat juga The (International) Noise Conspiracy, lupa album yang mana. Harganya seratus lima puluh ribu yang sukses menimbulkan, kalau kata lagu Benny Panbers, Bimbang dan Ragu. Beli atau tidak. Atau minimal kasih penawaran saja dulu. Saya perkirakan mungkin bisa kurang jadi seratus ribu.

    Sementara itu Gorjy masih menimpali kasus Ahmad Dhani tadi dengan contoh lain: Gabriel Bimo Sulaksono. Dia bilang kalau Bimo adalah otak sesungguhnya dari Netral, yang ketika akhirnya hengkang berarti juga memberi andil besar terhadap perubahan musik Netral jadi seperti sekarang ini. “Kayak Blink 182 – apalagi drummer-nya,” katanya. Kalau itu yang dimaksudkan, saya sepenuhnya mengerti.

    “Dan Bimo sekarang juga bikin lagu yang jeleknya sama kayak Ahmad Dhani,” timpal saya sambil membuka sampul berwajah kuda Troya kuning At The Drive-In itu. Produsernya Ross Robinson.

    Tawaran seratus ribu saya ternyata diterima. Tapi inilah sebuah kebimbangan: saya tidak jadi membeli salah satunya. ‘Nggak beli juga nggak apa-apa, yang penting kita bisa ngobrol’ – saya ingat kata-katanya tadi itu, dan segera permisi cabut ke tiga deret lapak di seberang Gorjy.

    Itu adalah para dedengkot Blok M Square. Dari ujung, Kucluk Music Corner, Twins Music dan D’Jaduls. Di belakang mereka ada Warung Musik milik Agus WM, bos Majemuk Records. Saya akan mengurutnya satu per satu. Yang pertama adalah Ridwan, di mana saya berjongkok dan melihat, sesuai nama tokonya: album-album jaman dulu.

    Lalu iseng memulai dari bagian Indonesia, tapi kemudian tidak butuh waktu lama untuk tersesat. Hanya sedikit yang saya kenal dari setumpuk kompilasi keroncong, orkes melayu dan instrumentalia; hanya beberapa nama saja yang pernah dengar dan lihat tidak sengaja, Dara Puspita A Go-Go, Alfian, C’Blues, Sam Saimun, Ernie Djohan, dan Kus Bersaudara yang kalau tidak salah ingat dijual satu juta rupiah.

    Musik-musik Indonesia era itu, 50’ sampai 80’ kecuali beberapa kelompok rock dan penyanyi balada-nya memang belum mampu sepenuhnya menarik hati saya. Musiknya tanggung, sealbum hanya satu atau dua lagu yang masuk selera. Selebihnya cengeng; pesanan cukong label. Ditambah lagi dengan harganya yang ikutan naik akhir-akhir ini, membuat saya kembali menangguhkan penggaliannya. A Go-Go tadi diberi harga empat ratus oleh Ridwan. Selebihnya paling murah mungkin seratus ribu.

    Saya baru merasa agak aman di wilayah barat. Nama-namanya lebih akrab. Astrud Gilberto, Wilson Picket, The Hollies, Sam Cooke, Billy Joel, Chicago, Budgie, Badfinger, Thin Lizzy. Harganya? Paling murah dua ratus. Juga terdapat satu kotak berisi urutan album Beatles dan Stones sealed re-issued yang diletakkan di atas kursi di sebelah seksi kaset dan CD: empat ratus ribu sebiji pukul rata.

    Bergeser ke kiri adalah Twins Music yang dikelola oleh si kembar Anda-Andi. Salah satu toko rekaman yang masih bertahan dari era piringan hitam bisa didapat dengan uang tiga puluh ribu perak, bahkan untuk album Clash, Ramones atau Joy Division. Itupun sudah mahal waktu itu, kata Tarigan.

    Dari sekian banyak plat di sana saya hanya mengangkat dua, Government Issue – tidak sempat tanya harganya, dan segera kehilangan minat begitu tahu Magical Mystery Tour di tangan saya ini dihargai empat ratus ribu. Cetakan pertama memang, Capitol Records 1967, tapi tetap saja mahal. Saya sedang tidak berminat dengan barang-barang mahal. Apalagi booklet di tengah gatefold-nya sudah hilang. Tanpa itu kita tidak bisa menyebutnya berkondisi mulus. Menawar saja segan.

    Album Beatles yang dihargai di atas tiga ratus ribu sebenarnya menyiarkan sinyal buruk. Saya langsung ingat Kims Varia. Bagaimana nasib LP rock 70an dari Rendi? Dan kalau Gun telah menjualnya balik dengan harga sama seperti Magical Mystery Tour tadi, celaka sudah, saya tidak akan mampu bersaing dengan oom-oom classic rock dan para hipster itu di sini. Sontak segera cabut kesana dan terpaksa tunda dulu tengok-tengok ke Kucluk dan WM. Kita lihat seberapa besar naluri ambil untung yang terjadi di bazaar ini.

    Sebelum beranjak saya sempat melirik ladang ganja Peter Tosh menghampar di sampul kebun Legalize It. Andi membandrol dengan tiga jari ketika saya mencoba memetik pucuknya – itu harga setengah garisnya di sini, dulu. Sempat terbersit pikiran untuk membelinya dan memaketkannya ke Istana agar Joko Widodo bisa mendengar keindahan seperti itu bukanlah ancaman bagi keselamatan negara, pun jika dibandingkan dengan ganjaran tiang penjaranya. Ah, tapi dia hanya boneka, tidak bisa banyak berbuat apa-apa, sudahlah, hanya menulis ini saja yang bisa saya lakukan sekarang. 

    ‘Every man got to legalize it, and don’t criticize it… It’s good for the flu, a good for asthma… Good for tuberculosis, even umara composis… And I will advertise it..’

    Saya langsung ingat Jose Mujica. Ingat juga Anang Iskandar, dan segenap rantai babi cokelat yang siap setiap saat memeras kita kapan saja.

    • Bersambung

    Tulisan ini adalah rangkaian tulisan bersambung yang dirilis dalam rangka menyambut Record Store Day 2016. Ditulis dengan inspirasi akan pengalaman Dr.Marto di Record Store Day Jakarta tahun 2015 tahun kemarin.

    Klik di tautan ini untuk membaca seluruh serinya.

  • Terlalu Punk Untuk Pemberhalaan pt.01

    Terlalu Punk Untuk Pemberhalaan pt.01

    Dijual cepat: Seratus Ribu – Tiga Plat; Classic Rock Lima Puluh Ribu.

    Besoknya, tidak perlu menunggu lama bagi Rendi untuk tersenyum di hari pertama RSD. Bahkan sebelum tepat pukul dua belas siang ketika saya baru datang dengan menenteng satu tas berisi piringan hitam siap lego, dia sudah menuai pundi-pundi awalnya: sebelas juta rupiah langsung masuk rekeningnya saat itu juga. Dalam sekali transaksi! Kumis tipisnya merekah, sebatang Surya Pro kembali diselipkan ke bibir, kali ini dengan penuh gaya.
    Sementara itu Gun, si pria bungkuk dari Blok M kemarin terlihat sedang menggotongi sendiri, atau lebih tepatnya memborongi tumpukan plat dari meja lapak kami. Perlu dua kali bolak-balik baginya untuk menyelesaikan angkutannya. Yang terakhir, sebelum cabut dia menyalami Rendi: Deal, tuntas! Terlihat juga senyum riang di wajah Tarigan dan Paz menyertai kepergian Gun kembali ke lapaknya. Kims Varia berada di lorong kedua di belakang kami.
    “Darimana aja lo baru dateng, kita semua udah mulai dari tadi, nih. Lo lihat, tuh Rendi,” Tarigan yang menyambut. “Coba sini gua periksa dulu lo bawa plat apa aja.”
    “Sampahan.”
    “Udah sini kita lihat dulu,” sambung Rendi semangat.
    “Bokul apaan aja, tuh tadi si Gun?” saya mengangkat tas ke atas meja yang langsung dikerubungi tangan-tangan Tarigan dan Rendi, juga Paz yang ikutan di belakang.
    “Yang gampang dijual lagi aja sama dia. Rock 70an. Lebih dari lima puluh plat kali, tuh. Gila itu dia dagangnya, berani banget.”
    “Bangsat, selera gua semua pasti itu.”
    “Ya lo lama, sih datengnya. Kalau ke lo, mah gua jual pego – satu,” kata Rendi.
    RSD sudah dimulai dua jam sebelum saya datang. Yang tahun ini adalah yang ketiga sekaligus yang terbesar sejak pertama kali diadakan di toko buku Aksara. Tidak saja di Jakarta, tahun ini demamnya juga menyebar ke delapan kota lainnya di Indonesia. Solo, Malang, Palembang, Jogja, Makassar, Bandung, Palu, Samarinda. Dan berbeda dengan semangat yang terjadi di barat sana, RSD di sini diadakan dengan menjunjung tinggi asas guyub khas orang kita. Toko-toko rekaman kecil yang jadi maksud acara ini, dikumpulkan dalam satu ruangan, dan bukannya menyelenggarakan sendiri di tempat masing-masing.
    Itu jelas menguntungkan bagi kultur pemalas bangsa ini, terutama juga para pedagang internet dan ribuan konsumen yang tidak perlu repot-repot menghampiri toko-toko tersebut satu per satu. Sehingga lebih tepat untuk menyebutnya sebagai sebuah bazaar dibanding mencaplok kultur Record Store Day itu sendiri. Tapi itu tidak penting, apa dan bagaimana seharusnya RSD diselenggarakan, atau siapa kapital – tahun ini Sampoerna dengan program racun nikotin Go Ahead People – dibelakangnya.
    Saya pribadi tidak peduli dengan itu, dan lebih suka mencari tahu apa yang sudah Tarigan dapatkan dalam dua jam ini. Ternyata dia bertindak cepat. Tarigan mengaku taksiran Body Count yang kemarin ternyata membuatnya sulit tidur semalaman.
    “Jadi,” katanya sambil membenarkan letak topi pet-nya, “tadi akhirnya pas sampai sini langsung gue samperin, tuh Berry. Masih ada. Tiga ratus, kan, gue tawar dua setengah, dia mau. Ya gue bungkus.” Senyumnya sumringah siap pamer, “Kalau lo lihat sekarang di Discogs,” dia menarik album itu keluar dari tas dan menghirup mesra sampulnya, “ini harga pasarannya 100 Euro.”

    “Wangi kalau barang sealed, lebih wangi dari meki.”

    Itulah yang disebut kecerdasan membaca medan. Tarigan selanjutnya mengorek katalog Indonesia di lapak D’jaduls, milik pedagang Blok M Square bernama Ridwan, dan menawarinya Green Green Grass, album ketiga Dara Puspita dari tahun 1967 sebagai amunisi barter. “Gue punya tiga biji, tuh Green Green Grass. Macem-macem kondisinya, dari yang udah jelek sampai yang mulus banget,” katanya.
    Bagi Ridwan sendiri Dara Puspita adalah barang potensial, mudah dijual juga berharga tinggi, mungkin bisa mencapai empat sampai lima ratus ribu, apalagi dalam momentum RSD seperti ini. Tapi Ridwan, seperti kata Tarigan, tampak kurang tertarik. Di sana juga kemudian dia jatuh hati pada dua plat Indonesia tanpa sampul yang sekarang berada di timangannya: SSB dan Ogle Eyes, band-nya Micky Jaguar, sang vokalis peminum darah kelinci dari timur Jawa.
    “Terus lo bawa apa aja hari ini?” tanya saya.
    “Dikit doang, paling plat-plat Sublime Frequencies yang gue udah bosen. Gue biasa tukeran plat sama Alan, dan sekarang gue jualin empat ratus ribuan. No hard feeling.”
    Sublime Frequencies adalah label rekaman dari Seattle, AS yang menggali harta karun musik negara dunia ketiga, mengompilasinya untuk kemudian dijual secara terbatas. Kebanyakan musiknya berasal dari Asia Tenggara, Timur Tengah, Afrika dan tempat-tempat minor lainnya di mana musik dianggap sebagai bentuk pemujaan terhadap keindahan roh spiritual.
    Secara nilai, plat-plat itu tentu saja sangat berharga. Pemiliknya tak lain adalah sahabat lama Tarigan, Alan Bishop – pria plontos penyanyi Sun City Girls yang sudah berkali-kali datang menyambangi negara ini demi mewujudkan obsesinya terhadap musik Indonesia, terutama semua yang dihasilkan klan Koeswoyo. Bahkan khusus untuk RSD tahun ini Bishop sengaja melepas album penghormatannya terhadap warisan Koes Plus itu dengan nama Koes Barat, band bentukannya yang dinaungi Sub Pop Records.
    Seketika juga Tarigan menceritakan kalau dia ikut menemani Bishop sewaktu menemui Yon Koeswoyo untuk minta izin, dan juga pula dimintai saran dalam proses rekamannya. “Itu emang ngehe si Alan,” kata Tarigan, “waktu rekaman vokal, gue ditelepon, dan dia bilang kalau kesulitan melafalkan bahasa Indonesia, kan nyanyinya tetap pakai lirik aslinya, tuh. Ya gue nggak bisa buat apa-apa. Jadi kalau nanti lo dengerin, itu ada beberapa kata yang emang asal-asalan diucapinnya sama Alan. Aneh banget kedengerennya.”
    Saat itu, pas tengah hari, bisnis sudah menggeliat. Meskipun belum begitu ramai dikunjungi tapi antrian rilisan resmi Record Store Day sudah mengular hingga ke depan lapak kami. Tampaknya itu yang didahulukan. Ada empat puluh lima artis yang mengeluarkan rilisan pada dua hari ini, baik itu re-issued, album baru, EP, LP, single, boxset maupun kompilasi. Mereka tidak mau kehabisan karena semuanya hanya dirilis terbatas – paling banyak mungkin tiga ratus kopi dalam bentuk yang beragam dari kaset, CD, 7’, 12’ dan DVD.
    Sebelum mulai berkeliling, segera pajang dulu apa yang telah saya bawa sebagai germo amatiran: lebih dari lima puluh plat untuk dijual, dengan harga murah tentu saja. Mungkin ini yang terendah dibanding germo lainnya. Dan atas saran Rendi saya membuka boks paketan ‘seratus ribu – tiga plat’, serta dengan inisiatif sendiri mengobral classic rock pada kisaran lima puluh sampai seratus lima puluh ribu rupiah. Kata Rendi itu gila, tapi pasti cepat laku, ini RSD, ada banyak anak-anak yang baru mulai mengoleksi piringan hitam, “dan mereka,” sebutnya lagi, “akan beli apa saja.”
    Rendi sendiri banyak menjual punk dan hardcore hari itu. “Itu lo yakin mau jual Jethro Tull seratus lima puluh, Io?” tanyanya. “Iya, lah. Gua nggak terlalu suka album yang ini. Lagian gua kesel sekarang plat-plat 70an mahal. Nggak apa-apa biar sekalian ngerusak pasaran harga,” kata saya,

    “ini Uriah Heep sama Allman Brothers aja gua jual gocapan.”
    “Coba liat Jethro yang mana?” sambar Tarigan.
    “Passion Play, album konsepnya. Terlalu beyond musiknya buat gua, opera banget. Nggak kuat. Tapi mulus, masih ada booklet-nya lagi di dalam. Ya mentok-mentok ditawar cepe, lah.”
    “Parah, murah banget itu. Lo jual tiga ratus juga masih laku sama oom-oom classic rock.”
    Saya mengerti kalau pakai hitungan dagang, Jethro Tull itu sebuah kerugian dan kebodohan. Tapi saya juga ingin orang tahu bahwa kita tidak perlu mengeluarkan ratusan ribu untuk nama-nama seperti tadi. Kemudian daftar obral classic rock lima puluh ribuan saya berikutnya adalah: Vanilla Fudge Renaissance, Deep Purple In Rock, Blue Cheer Outsideinside, Wisbone Ash There’s The Rub, Doctor Hook and The Medicine Show, Jefferson Airplane Early Flight, Nazareth Razamanaz, Roger Waters The Wall Live In Berlin, Dr. John Desitively Bonnaroo dan Twisted Sisters Come Out and Play.
    “Yang Captain Beyond jangan gocapan. Coba lo jual dua ratus, deh,” usul Rendi.

    Setuju.

    Selebihnya, seperti saya bilang tadi, hanya sampahan yang sedang coba dibersihkan, diantaranya: Burt Bacharach, The Poppy Family, Tommy Garret, Carl Douglas, Suzi Quatro, Adam Ants, Billy Vaughn, Nick Lowe, Bee Gees, The New Seekers, Kajagoogoo, Pat Boone, beberapa kompilasi soul serta sejumlah plat bugil tanpa sampul seperti Graham Nash, Nancy Sinatra, James Last, Steppenwolf, Grandfunk Railroad, dan juga album Indonesia yang tidak masuk selera yang dulu saya beli seharga sepuluh ribuan: Favourite’s Group, The Steps, Bimbo dan Band 4 Nada.

    Semuanya berkisar antara lima sampai dua puluh lima ribu rupiah, yang akan lebih bijak jika saya golongkan ‘seratus ribu – tiga plat’.

    Begitu semuanya beres dan saya siap berkeliling, lapak tiba-tiba didatangi oleh seorang tambun berkacamata. Perangainya keras tapi juga ramah. Kaosnya hitam, Sublime dan tanpa basa basi langsung menyergap satu boks piringan hitam di hadapan Rendi. Jemarinya bergerak secepat deru jantungnya ketika melihat guliran nama-nama di dalamnya. Sebatang Marlboro putih yang belum tersulut menggantung dari bibirnya.
    “Mana, katanya banyak punk di sini?” sentaknya macam preman minta setoran. “Punk harus murah! Awas kalau nggak, gua bilangin Berry,” serunya lagi.
    Yongki Perdana, pemilik dua toko rekaman Quickening dan Option sedang lapar. Butuh dikenyangkan hardcore/punk secepatnya, yang berarti dia sudah berada di tempat yang tepat, dan dengan cekatan segera memisahkan plat-plat yang diinginkan.
    “Ini berapa, nih?” tangannya berhenti sebentar. Matanya meminta jawaban Rendi.
    “Tiga setengah.”
    “Ah, mahal,” balasnya. Kemudian Doom, Black Flag Damaged, Misfits Walk Among Us, D.O.A, Streetlight Manifesto, Pennywise, Murphy’s Law dilewatkan. Dia berhenti lagi ketika menghadapi Brain Drain The Ramones.
    “Nah, yang itu dua setengah aja,” sigap Rendi.
    “Gua mau kalau gitu,” dipisahkan dan kembali tangannya menjamah. Telunjuknya terus mengurut hingga ke belakang boks hingga beberapa detik kemudian berhasil menjaring satu tangkapan lagi: Plastic Surgery Disasters, Dead Kennedys.
    “Sama dua setengah, kan?” tanyanya.
    “Ambil,” balas Rendi.
    Yongki girang. Saya yang kemudian miris melihat yang barusan tadi. Kecolongan lagi. Dan itu murah, belum lagi harganya pasti masih bisa digoyang. Misalkan saja: dua setengah dari Rendi tadi saya nego jadi dua ratus, lalu tawari dia dua plat Indonesia untuk dibarter, kurangnya mungkin tinggal seratus ribu lagi, yang jelas akan saya kontankan langsung, dengan senang hati menggiring Jello Biafra masuk kandang.

    • Bersambung

    Tulisan ini adalah rangkaian tulisan bersambung yang dirilis dalam rangka menyambut Record Store Day 2016. Ditulis dengan inspirasi akan pengalaman Dr.Marto di Record Store Day Jakarta tahun 2015 tahun kemarin.

    Klik di tautan ini untuk membaca seluruh serinya.