Satu Perjamuan Terakhir: Bisnis hitam anak haram ibukota ditelanjangi vodka

Artikel/Opini

Written by:

Satu Perjamuan Terakhir: Bisnis hitam anak haram ibukota ditelanjangi vodka Brang Breng Brong
pt.02

Empat hari setelah Record Store Day saya duduk satu meja makan bersama Tarigan di sebuah restoran Jepang di tengah kawasan Kemang. Sore itu dia, mengenakan topi pet seperti biasa dan sepasang celana – kaos warna coklat bertuliskan ‘Kentucky Derby Is Decadent and Depraved’, baru saja selesai melakukan soundcheck sebagai penyanyi latar untuk gig Tika and the Dissident di Thursday Noise nanti malam, yang membuat meja ini juga dipenuhi oleh sejumlah musisi; di sebelah saya gitaris Iga Massardi, tepat di depannya sang biduanita Kartika Jahja, dan berderet ke sampingnya pemain drum serta organ yang sekarang saya lupa nama-namanya.

Tarigan memesan semangkuk sup jamur dan dua tangkap mantou polos yang dicocolnya bersama susu kental manis. Tidak ada daging, hanya telur dan sepiring kecil nasi putih. Minumnya, satu teko teh tawar hangat. Dia mengaku sedang selektif terhadap makanannya, “lagi pengen jalanin hidup zen kayak Buddha,” candanya.

Seusai menandaskan santapan kami berdua berpisah dengan rombongan Dissident menuju Monka Magic di mana Tarigan telah memiliki janji cash on delivery dengan seorang penjual online untuk dua plat Indonesia, Benyamin S Brang Breng Brong dan Ge & Ge Vol. 2. Seratus ribu saja sekeping.

Di sana, di halaman belakang lahan parkir Monka Magic, tempat beberapa tahun lalu tiga anak tertangkap karena mengisap ganja di dalam mobil sudah berkumpul para kawan baik, diantaranya Fadli Aat dan Peter Walandouw yang tengah bertukar cerita tentang album-album yang mereka dapatkan di RSD kemarin.

“Gua cuma beli donat The Damned, New Rose yang 25th anniversary. Dua ratus ribu lengkap sama kuretan tanda tangan personelnya,” kata Aat.

“Captain Sensible!” sahut saya.

Perbincangan terus bergulir sambil menunggu jadwal naik panggung Tarigan tepat pada pukul delapan. Kami membahas berjamurannya perusahaan rekaman spesialis reissued ketika Peter memberi bocoran bahwa Anoa Records akan berencana merilis ulang sebuah album lawas dalam waktu dekat ini.

“Ya sah-sah aja, sih tapi nggak seru kalau kebanyakan album yang dirilis itu yang dulu-dulu lagi. Harusnya kita mendokumentasikan apa yang terjadi di era sekarang. Menandai jaman, biar nggak mandek dan jadi bego. Walaupun,”

kata Tarigan lagi,

“kayak lo ngerilis, misalnya Sastro atau berhasil tembusin JKT:SKRG, pasti jaminan untung. Apalagi lo kasih embel-embel limited.”

“The Jonis, sih bisa laku keras,”

selah saya.

Lalu alur topik mengarah ke sebuah debat seru yang ditimbulkan oleh satu artikel berwacana ofensif yang dipublikasi oleh situs Jakarta Beat. Isinya menggado-gado antara tren politik dan tren rilisan fisik; mengkritisi pelaksanaan Record Store Day sebagai budaya prematur di Indonesia yang ditunggangi oleh (lagi-lagi) kapitalisme, yang jelas berlawanan dengan semangat otentik RSD itu sendiri. Judulnya begitu pretensius hingga, jujur membuat perut agak mual: “Record Store Day, Jokowi & Hipster Wannabe; Mencari ‘Kenyataan’ Di Balik Rilisan Fisik”. Ditulis oleh dua orang, Pry S dan Nosa Normanda antara Bandung dan DC.

“Belum baca gue,” kata Tarigan.

Aat memberikan artikel itu melalui ponselnya. “Yah, orang-orang elitis intelektual lagi ngoceh. Lo baca aja dari kalimat pembukanya. Atau karena gua bego kali, ya… batu Sisyphus itu apaan, sih?” cetus saya.

Kening Tarigan mengerut. Belum juga habis dibaca, mungkin karena bosan dia sudah angkat suara. “Editorial mereka, kan memang penulis politik yang suka musik. Visi mereka menggabungkan itu, jadi wacananya pun seputar dua hal itu.”

“Nah, maksud gua,” kata Tarigan lagi, menaruh sejenak layar berita tadi, “kadang-kadang hal yang kecil diberi kemasan yang besar. Sebenarnya sama aja kayak gosip, cuma jubahnya itu wacana. Kayak kalimat pertamanya yang lo bilang tadi itu, ngapain kayak gitu aja diomongin?”

“Intinya, si penulis keberatan atau mungkin ketakutan kalau produk mainstream yang masuk ke RSD tahun ini merusak semua semangat berdikarinya,” kata saya.

“Nggak usah dibahas yang kayak gitu. Lo mau tau yang paling penting apa?” tanya Tarigan.

“Nggak.”

“Bangke, lo. Pada dasarnya, tuh lo kenal sama semua pedagang dari ujung ke ujung. Ini tentang silaturahmi-nya, brur.”

“Buat gua,” sambung saya lagi, “Record Store Day nggak penting. Toh, juga harga-harganya nggak jadi murah. Tai kucing. Malah jadi tambah mahal karena kita dimanfaatin momentum. Anak-anak yang belanja di sana dituduh hipster, ikut-ikutan. Emang bener. Gua hipster, terus kenapa? Tapi hipster miskin,” saya tertawa. “Yang penting gimana caranya tren plat ini bisa cepet selesai. Biar harga normal lagi. Besok ada Casette Store Day, jadi mahal pula itu harga kaset. Babi. Jadi nggak usah sok ngomongin soal nilai rilisan fisik kalau masih uang yang dijadiin tolak ukur. Mending balik lagi dengerin mp3 biar orang katro nggak makin banyak, karena bisnisnya juga makin sialan gila-gilaan.”

Aat yang notabene manajer Monka Magic hanya tertawa kosong mendengar ocehan saya tadi. Kemudian di tengah batang kretek entah yang kesekian ketika akhirnya kami beranjak menuju 365 Ecobar untuk menyaksikan gig, saya jadi teringat, apa kabar Jalan Surabaya – tempat semua tetek bengek bisnis piringan hitam di Jakarta ini dimulai – di tengah hingar bingar yang membahana, Record Store Day dan tren omong kosongnya yang menyesatkan. Bahwa satu kios langganan saya di sana yang sudah turun temurun sejak tahun 1966 milik seorang pria bernama Dayat baru saja gulung tikar karena tergerus zaman dan terlalu menutup diri dalam sekam purba; mengacuhkan generasi global dengan tetap mencari dan menjual barang dari tangan ke tangan. 

Apa artinya Record Store Day ini baginya?

Tidak ada, selain pengkultusan sia-sia yang membuatnya harus mengucapkan, ‘selamat datang hari kiamat’.

Lalu siapa yang bersalah?

Pun tidak ada, kecuali diri kita.

TAMAT

Tulisan ini adalah rangkaian tulisan bersambung yang dirilis dalam rangka menyambut Record Store Day 2016. Ditulis dengan inspirasi akan pengalaman Dr.Marto di Record Store Day Jakarta tahun 2015 tahun kemarin.

Klik di tautan ini untuk membaca seluruh serinya.

Versi yang lebih lengkap akan dirilis dalam format novel di Record Store Day 2016

Leave a Reply

Your email address will not be published.

%d bloggers like this: