Terlalu Punk Untuk Pemberhalaan pt.01

Artikel/Opini

Written by:

Dijual cepat: Seratus Ribu – Tiga Plat; Classic Rock Lima Puluh Ribu.

Besoknya, tidak perlu menunggu lama bagi Rendi untuk tersenyum di hari pertama RSD. Bahkan sebelum tepat pukul dua belas siang ketika saya baru datang dengan menenteng satu tas berisi piringan hitam siap lego, dia sudah menuai pundi-pundi awalnya: sebelas juta rupiah langsung masuk rekeningnya saat itu juga. Dalam sekali transaksi! Kumis tipisnya merekah, sebatang Surya Pro kembali diselipkan ke bibir, kali ini dengan penuh gaya.
Sementara itu Gun, si pria bungkuk dari Blok M kemarin terlihat sedang menggotongi sendiri, atau lebih tepatnya memborongi tumpukan plat dari meja lapak kami. Perlu dua kali bolak-balik baginya untuk menyelesaikan angkutannya. Yang terakhir, sebelum cabut dia menyalami Rendi: Deal, tuntas! Terlihat juga senyum riang di wajah Tarigan dan Paz menyertai kepergian Gun kembali ke lapaknya. Kims Varia berada di lorong kedua di belakang kami.
“Darimana aja lo baru dateng, kita semua udah mulai dari tadi, nih. Lo lihat, tuh Rendi,” Tarigan yang menyambut. “Coba sini gua periksa dulu lo bawa plat apa aja.”
“Sampahan.”
“Udah sini kita lihat dulu,” sambung Rendi semangat.
“Bokul apaan aja, tuh tadi si Gun?” saya mengangkat tas ke atas meja yang langsung dikerubungi tangan-tangan Tarigan dan Rendi, juga Paz yang ikutan di belakang.
“Yang gampang dijual lagi aja sama dia. Rock 70an. Lebih dari lima puluh plat kali, tuh. Gila itu dia dagangnya, berani banget.”
“Bangsat, selera gua semua pasti itu.”
“Ya lo lama, sih datengnya. Kalau ke lo, mah gua jual pego – satu,” kata Rendi.
RSD sudah dimulai dua jam sebelum saya datang. Yang tahun ini adalah yang ketiga sekaligus yang terbesar sejak pertama kali diadakan di toko buku Aksara. Tidak saja di Jakarta, tahun ini demamnya juga menyebar ke delapan kota lainnya di Indonesia. Solo, Malang, Palembang, Jogja, Makassar, Bandung, Palu, Samarinda. Dan berbeda dengan semangat yang terjadi di barat sana, RSD di sini diadakan dengan menjunjung tinggi asas guyub khas orang kita. Toko-toko rekaman kecil yang jadi maksud acara ini, dikumpulkan dalam satu ruangan, dan bukannya menyelenggarakan sendiri di tempat masing-masing.
Itu jelas menguntungkan bagi kultur pemalas bangsa ini, terutama juga para pedagang internet dan ribuan konsumen yang tidak perlu repot-repot menghampiri toko-toko tersebut satu per satu. Sehingga lebih tepat untuk menyebutnya sebagai sebuah bazaar dibanding mencaplok kultur Record Store Day itu sendiri. Tapi itu tidak penting, apa dan bagaimana seharusnya RSD diselenggarakan, atau siapa kapital – tahun ini Sampoerna dengan program racun nikotin Go Ahead People – dibelakangnya.
Saya pribadi tidak peduli dengan itu, dan lebih suka mencari tahu apa yang sudah Tarigan dapatkan dalam dua jam ini. Ternyata dia bertindak cepat. Tarigan mengaku taksiran Body Count yang kemarin ternyata membuatnya sulit tidur semalaman.
“Jadi,” katanya sambil membenarkan letak topi pet-nya, “tadi akhirnya pas sampai sini langsung gue samperin, tuh Berry. Masih ada. Tiga ratus, kan, gue tawar dua setengah, dia mau. Ya gue bungkus.” Senyumnya sumringah siap pamer, “Kalau lo lihat sekarang di Discogs,” dia menarik album itu keluar dari tas dan menghirup mesra sampulnya, “ini harga pasarannya 100 Euro.”

“Wangi kalau barang sealed, lebih wangi dari meki.”

Itulah yang disebut kecerdasan membaca medan. Tarigan selanjutnya mengorek katalog Indonesia di lapak D’jaduls, milik pedagang Blok M Square bernama Ridwan, dan menawarinya Green Green Grass, album ketiga Dara Puspita dari tahun 1967 sebagai amunisi barter. “Gue punya tiga biji, tuh Green Green Grass. Macem-macem kondisinya, dari yang udah jelek sampai yang mulus banget,” katanya.
Bagi Ridwan sendiri Dara Puspita adalah barang potensial, mudah dijual juga berharga tinggi, mungkin bisa mencapai empat sampai lima ratus ribu, apalagi dalam momentum RSD seperti ini. Tapi Ridwan, seperti kata Tarigan, tampak kurang tertarik. Di sana juga kemudian dia jatuh hati pada dua plat Indonesia tanpa sampul yang sekarang berada di timangannya: SSB dan Ogle Eyes, band-nya Micky Jaguar, sang vokalis peminum darah kelinci dari timur Jawa.
“Terus lo bawa apa aja hari ini?” tanya saya.
“Dikit doang, paling plat-plat Sublime Frequencies yang gue udah bosen. Gue biasa tukeran plat sama Alan, dan sekarang gue jualin empat ratus ribuan. No hard feeling.”
Sublime Frequencies adalah label rekaman dari Seattle, AS yang menggali harta karun musik negara dunia ketiga, mengompilasinya untuk kemudian dijual secara terbatas. Kebanyakan musiknya berasal dari Asia Tenggara, Timur Tengah, Afrika dan tempat-tempat minor lainnya di mana musik dianggap sebagai bentuk pemujaan terhadap keindahan roh spiritual.
Secara nilai, plat-plat itu tentu saja sangat berharga. Pemiliknya tak lain adalah sahabat lama Tarigan, Alan Bishop – pria plontos penyanyi Sun City Girls yang sudah berkali-kali datang menyambangi negara ini demi mewujudkan obsesinya terhadap musik Indonesia, terutama semua yang dihasilkan klan Koeswoyo. Bahkan khusus untuk RSD tahun ini Bishop sengaja melepas album penghormatannya terhadap warisan Koes Plus itu dengan nama Koes Barat, band bentukannya yang dinaungi Sub Pop Records.
Seketika juga Tarigan menceritakan kalau dia ikut menemani Bishop sewaktu menemui Yon Koeswoyo untuk minta izin, dan juga pula dimintai saran dalam proses rekamannya. “Itu emang ngehe si Alan,” kata Tarigan, “waktu rekaman vokal, gue ditelepon, dan dia bilang kalau kesulitan melafalkan bahasa Indonesia, kan nyanyinya tetap pakai lirik aslinya, tuh. Ya gue nggak bisa buat apa-apa. Jadi kalau nanti lo dengerin, itu ada beberapa kata yang emang asal-asalan diucapinnya sama Alan. Aneh banget kedengerennya.”
Saat itu, pas tengah hari, bisnis sudah menggeliat. Meskipun belum begitu ramai dikunjungi tapi antrian rilisan resmi Record Store Day sudah mengular hingga ke depan lapak kami. Tampaknya itu yang didahulukan. Ada empat puluh lima artis yang mengeluarkan rilisan pada dua hari ini, baik itu re-issued, album baru, EP, LP, single, boxset maupun kompilasi. Mereka tidak mau kehabisan karena semuanya hanya dirilis terbatas – paling banyak mungkin tiga ratus kopi dalam bentuk yang beragam dari kaset, CD, 7’, 12’ dan DVD.
Sebelum mulai berkeliling, segera pajang dulu apa yang telah saya bawa sebagai germo amatiran: lebih dari lima puluh plat untuk dijual, dengan harga murah tentu saja. Mungkin ini yang terendah dibanding germo lainnya. Dan atas saran Rendi saya membuka boks paketan ‘seratus ribu – tiga plat’, serta dengan inisiatif sendiri mengobral classic rock pada kisaran lima puluh sampai seratus lima puluh ribu rupiah. Kata Rendi itu gila, tapi pasti cepat laku, ini RSD, ada banyak anak-anak yang baru mulai mengoleksi piringan hitam, “dan mereka,” sebutnya lagi, “akan beli apa saja.”
Rendi sendiri banyak menjual punk dan hardcore hari itu. “Itu lo yakin mau jual Jethro Tull seratus lima puluh, Io?” tanyanya. “Iya, lah. Gua nggak terlalu suka album yang ini. Lagian gua kesel sekarang plat-plat 70an mahal. Nggak apa-apa biar sekalian ngerusak pasaran harga,” kata saya,

“ini Uriah Heep sama Allman Brothers aja gua jual gocapan.”
“Coba liat Jethro yang mana?” sambar Tarigan.
“Passion Play, album konsepnya. Terlalu beyond musiknya buat gua, opera banget. Nggak kuat. Tapi mulus, masih ada booklet-nya lagi di dalam. Ya mentok-mentok ditawar cepe, lah.”
“Parah, murah banget itu. Lo jual tiga ratus juga masih laku sama oom-oom classic rock.”
Saya mengerti kalau pakai hitungan dagang, Jethro Tull itu sebuah kerugian dan kebodohan. Tapi saya juga ingin orang tahu bahwa kita tidak perlu mengeluarkan ratusan ribu untuk nama-nama seperti tadi. Kemudian daftar obral classic rock lima puluh ribuan saya berikutnya adalah: Vanilla Fudge Renaissance, Deep Purple In Rock, Blue Cheer Outsideinside, Wisbone Ash There’s The Rub, Doctor Hook and The Medicine Show, Jefferson Airplane Early Flight, Nazareth Razamanaz, Roger Waters The Wall Live In Berlin, Dr. John Desitively Bonnaroo dan Twisted Sisters Come Out and Play.
“Yang Captain Beyond jangan gocapan. Coba lo jual dua ratus, deh,” usul Rendi.

Setuju.

Selebihnya, seperti saya bilang tadi, hanya sampahan yang sedang coba dibersihkan, diantaranya: Burt Bacharach, The Poppy Family, Tommy Garret, Carl Douglas, Suzi Quatro, Adam Ants, Billy Vaughn, Nick Lowe, Bee Gees, The New Seekers, Kajagoogoo, Pat Boone, beberapa kompilasi soul serta sejumlah plat bugil tanpa sampul seperti Graham Nash, Nancy Sinatra, James Last, Steppenwolf, Grandfunk Railroad, dan juga album Indonesia yang tidak masuk selera yang dulu saya beli seharga sepuluh ribuan: Favourite’s Group, The Steps, Bimbo dan Band 4 Nada.

Semuanya berkisar antara lima sampai dua puluh lima ribu rupiah, yang akan lebih bijak jika saya golongkan ‘seratus ribu – tiga plat’.

Begitu semuanya beres dan saya siap berkeliling, lapak tiba-tiba didatangi oleh seorang tambun berkacamata. Perangainya keras tapi juga ramah. Kaosnya hitam, Sublime dan tanpa basa basi langsung menyergap satu boks piringan hitam di hadapan Rendi. Jemarinya bergerak secepat deru jantungnya ketika melihat guliran nama-nama di dalamnya. Sebatang Marlboro putih yang belum tersulut menggantung dari bibirnya.
“Mana, katanya banyak punk di sini?” sentaknya macam preman minta setoran. “Punk harus murah! Awas kalau nggak, gua bilangin Berry,” serunya lagi.
Yongki Perdana, pemilik dua toko rekaman Quickening dan Option sedang lapar. Butuh dikenyangkan hardcore/punk secepatnya, yang berarti dia sudah berada di tempat yang tepat, dan dengan cekatan segera memisahkan plat-plat yang diinginkan.
“Ini berapa, nih?” tangannya berhenti sebentar. Matanya meminta jawaban Rendi.
“Tiga setengah.”
“Ah, mahal,” balasnya. Kemudian Doom, Black Flag Damaged, Misfits Walk Among Us, D.O.A, Streetlight Manifesto, Pennywise, Murphy’s Law dilewatkan. Dia berhenti lagi ketika menghadapi Brain Drain The Ramones.
“Nah, yang itu dua setengah aja,” sigap Rendi.
“Gua mau kalau gitu,” dipisahkan dan kembali tangannya menjamah. Telunjuknya terus mengurut hingga ke belakang boks hingga beberapa detik kemudian berhasil menjaring satu tangkapan lagi: Plastic Surgery Disasters, Dead Kennedys.
“Sama dua setengah, kan?” tanyanya.
“Ambil,” balas Rendi.
Yongki girang. Saya yang kemudian miris melihat yang barusan tadi. Kecolongan lagi. Dan itu murah, belum lagi harganya pasti masih bisa digoyang. Misalkan saja: dua setengah dari Rendi tadi saya nego jadi dua ratus, lalu tawari dia dua plat Indonesia untuk dibarter, kurangnya mungkin tinggal seratus ribu lagi, yang jelas akan saya kontankan langsung, dengan senang hati menggiring Jello Biafra masuk kandang.

  • Bersambung

Tulisan ini adalah rangkaian tulisan bersambung yang dirilis dalam rangka menyambut Record Store Day 2016. Ditulis dengan inspirasi akan pengalaman Dr.Marto di Record Store Day Jakarta tahun 2015 tahun kemarin.

Klik di tautan ini untuk membaca seluruh serinya.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

%d bloggers like this: