Serangan Roda Gila: Alpra, Paranoid, Lari Seratus 

Artikel/OpiniFeatured

Written by:

“Kalau sama elo empat ratus aja,” sahut Gun. 

Bajingan. Kalau sama orang lain berapa kira-kira, lima ratus? Saya meringis. Kalau saja itu berharga dua ratus ribu – dan memang sudah seharusnya, mungkin saya akan berusaha mengelitkannya jadi seratus lima puluh, paling tidak.

Untuk yang terakhir tadi jantung saya sedikit meronta. Bukan apa-apa, bahkan saya sudah punya CD dan kasetnya: cetakan pita tebal kaset bajakan Monalisa lengkap dengan sampul foto mengilat yang membuat Bob Geldof merasa miskin karena berusaha memberangusnya dulu. Saya hanya merasa berdosa saja belum memiliki piringan hitamnya sampai sekarang, bahkan ketika album lainnya sudah lengkap. Meninggalkan Paranoid di urutan belakang adalah termasuk tindakan kurang berbakti, saya tahu itu. Jadi saya coba melakukan penawaran.

“Hmmm,” gumam Gun mengulurnya. Saya membakar rokok. Tingkah tubuh bungkuknya tampak kikuk. Mungkin dia menyadari kalau saya kenal dengan Rendi dan tahu berapa harga sebenarnya sehingga tidak enak jika menjualnya terlalu mahal. Atau sebenarnya dia tidak peduli juga.

Kemudian ada seorang pria bertopi rajut polos persis George Harrison di sampul All Things Must Pass lengkap dengan atribut rambut dan janggut gelandangan. Saya yakin dia terakhir mandi itu tiga hari lalu, tapi anehnya tetap terlihat segar. Saya sudah mengenalnya selama empat tahun.

‘Kebiasaan lama sulit berhenti’, ternyata dia masih mengerti itu, dan menggenggamkan, semili kali dua.

Warna biru muda. Atau ini ungu?

“Biar semangat digging-nya,” lalu dia cabut lagi.

Itu semua terjadi beberapa detik setelah melihat plat The Smiths Meat Is Murder terpajang di rak Kims Varia.  Di muka lapaknya terpampang poster besar wajah Matt Bellamy. Gun sendiri sedang beraksi, menggoda para pelanggannya dengan segala bicara yang dia bisa. Seorang wanita – mungkin istrinya – duduk di sebuah kursi plastik di sebelahnya, mengurus pembukuan siang itu.

Setelah mengecek katalog di rak – hanya sedikit yang menarik hati, perhatian kemudian tertuju pada sebaris – mungkin seratusan – plat yang berdiri di lantai, bersandar pada kaki meja di belakangnya. Yang berada paling depan adalah Rainbow On Stage. Ini dia mungkin barang-barang dari Rendi. Saya segera berjongkok meraihnya, mengurutnya satu per satu sambil cermat menggunakan sedikit kesempatan bodoh di selanya untuk menelan dari kepalan, meluputkannya dari tatapan orang-orang sekitar sini. 

Sementara itu pemandangan di depan bagai taman bermain bagi siapa saja yang ingin menenggak dari kepalan seperti tadi di tahun 70an. Telapak saya mulai berkeringat. Menjamahnya satu per satu hingga yang paling belakang. Semuanya cetakan pertama: tiga album awal Cream, Ummagumma dan Meddle Pink Floyd, Buffalo Springfield, Traffic, Surrealistic Pillow Jefferson Airplane, beberapa The Beatles yang langsung saya lewati, James Gang, Status Quo, Blue Cheer Vincebus Eruptum, Soft Parade – L.A Woman The Doors, Lucifer’s Friend, Sweet Smoke, Yardbirds, Van Halen, serta, Paranoid Black Sabbath.

Saya pun hanya mampu menanggapinya dengan cengiran, mengernyitkan sebatang kretek yang terjepit diantara gigi. Asapnya membumbung perih ke mata, seperih empat lembar seratus ribu yang harus dikeluarkan untuk mendengarkan “Planet Caravan” sambil merokok bunga di kamar.

Tapi saya menerimanya, Gun. Germo tetap germo, saya mengerti itu. Tidak ada maksud apa-apa.

***

Record Fair adalah suaka bagi para pecandu rekaman fisik. Ada banyak jantung yang berdebar di dalamnya. Dan apa yang terjadi ketika saya berkeliling adalah suatu pemandangan yang sangat menggairahkan. Sejauh mata memandang orang sedang mengurut deret demi deret album di hadapannya – berdiri, jongkok, duduk, menungging, apapun, terserah. Meluapkan rasa cinta, memburu nafsunya ke dalam lautan kebutaan fisik – pun jika alasannya supaya tidak ketinggalan jaman, saya tidak peduli. Ini sebuah kultur, tetap harus dirayakan. Meskipun sedihnya memang sedangkal itu.

Saya pun memutuskan untuk mengecek setiap lapak yang ada. Tahun ini terdaftar 90, itu tidak terlalu banyak. Lagipula doping yang baik bekerja secara lambat. Tidak langsung terasa hingga akhirnya menyadari tubuh ini ingin terus bergerak dan melangkah ringan.

Sempat mampir ke wilayah Bandung, Cihapit Skool of Rock yang banyak menjual kaset. Kemudian membelalak kaget ketika melihat seorang pedagang dari Malang menjual plat God Bless album pertama dengan sampul replika seharga tiga juta. Juga AKA Shake Me berkondisi sama: satu juta. Semoga Tuhan memberkati berhala-berhala ini dan mengutuki pedagangnya.

Selanjutnya menyapa Peter Walondouw, pemuda shoegaze salah satu pemilik Anoa Records yang tengah menjaga sendiri lapaknya. Isi mejanya tentu saja para roster labelnya. Terdapat rilisan kaset RSD mereka, album Live indie-pop Jakarta, The Sweaters yang direkam dari konser Esplanade-nya di tahun 2008. Juga beberapa kopi terakhir kompilasi Holy Noise yang berisi nama-nama dream-pop/shoegaze menyayat seperti Ajie Gergaji, Mellon Yellow, Black Mustang, Elemental Gaze, Treasure Hiding, Damascus dan lain-lain.

Terlepas shoegaze adalah pilihan tersier dan dream-pop memiliki resiko besar kencing manis, saya menyukai label ini. Terutama karena mereka selalu menyertakan liner notes dalam setiap rilisannya. Saya suka budaya itu, menggabungkan literatur dengan musik. Opini atau deskripsi yang lebih dipercaya dibanding berita web karbitan yang menjamur sekarang.

Untuk Holy Noise mereka meminta vokalis Seringai Arian13. Sementara Barefood oleh gitaris Teenage Deathstar Alvin Yunata. Black Mustang oleh gitaris The Brandals Tony Dwi Setiadji. The Sweater oleh penulis-pengamat kancah lokal Felix Daas, dan Andri Lemes bekas penyanyi Rumahsakit yang telah ikut-ikutan mengharamkan musik menulis kalimat ini untuk LP Undone dari Seaside: “Bagai.. Sarah selingkuh dengan Creation”, persetubuhan dua label rekaman yang sekaligus menjelaskan reputasi Anoa.

Dan, mungkin hanya mereka yang melakukannya di pesta berhala Record Store Day ini: praktek digital download. Jadi bagi yang ingin punya Mp3 Sullen-nya Barefood di telepon genggam, Anoa menjual kode unduh dengan harga hanya lima belas ribu perak.

Tapi saya malah tertarik pada kaset Vol. 1 The Sastro rilisan Kenanga Records di tahun 2005 yang ikut dijual di sana. Tampaknya itu simpanan pribadi Ritchie Ned Hansel, gitaris band itu yang juga satu diantara dua sekutu Peter dalam menjalankan label ini. Album itu sendiri juga rencananya akan dirilis dalam bentuk piringan hitam via Majemuk Records sekaligus merayakan usia satu dekadenya tahun ini.

“Tujuh puluh lima ribu, nih Pete?” tanya saya.

Ditanggapi sambil menyengir. “Iya, Io, gua dapat mandat langsung dari Ritchie soalnya, dia bilang segitu harganya.”

Sial, terpaksa saya pergi meninggalkannya.

  • Bersambung

Tulisan ini adalah rangkaian tulisan bersambung yang dirilis dalam rangka menyambut Record Store Day 2016. Ditulis dengan inspirasi akan pengalaman Dr.Marto di Record Store Day Jakarta tahun 2015 tahun kemarin.

Klik di tautan ini untuk membaca seluruh serinya.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

%d bloggers like this: