Tag: ruangrupa

  • Jalan jalan ke Holy Market di Gudang Sarinah

    Jalan jalan ke Holy Market di Gudang Sarinah

    Selain gizi dari makanan dan supplemen untuk tubuh kita, jiwa kita pun perlu asupan kebudayaan dan seni yang cukup. Asupan tersebut bisa kita dapatkan di Holy Market, sebagai salah satu pageleran pasar seni alternatif yang menyediakan berbagai produk yang tidak terpikirkan atau akan dijalankan oleh manusia biasa-biasa saja.

    Siapa sangka, sebuah booth yang menawarkan jasa untuk mendengarkan curhat yang kemudian diberikan playlist yang sesuai dengan tema curhat itu akan sukses?

    Rupanya selain asupan visual, kita juga haus akan bentuk seni yang memberikan pengalaman baru. Seperti membayar seseorang yang murah senyum untuk menuliskan puisi untuk kita menggunakan mesin tik tua.

    Berikut adalah beberapa foto yang diabadikan dari Holy Market kemarin.

    Indra Ameng
    Indra Ameng
    Arie Dagienkz
    Arie Dagienkz
    Saleh Husein
    Saleh Husein
    Mayatschism draw John Navid
    Mayatschism draw John Navid
    Agam x Omuniuum
    Agam x Omuniuum
    ralmond farly, fany mamonto
    Ralmond yang sedang berbahagia dengan Fani
    erwin windu pranata
    Ewign
    Onx & Kopi Ruang Seketika
    Iit dan Mas Tri
    Iit dan Mas Tri
    Morrgth & Mayatschism
    Morrgth & Mayatschism
    Gilang Gombloh
    Gilang Gombloh
    Tandunz & Rio Farabi
    Tandunz & Rio Farabi
    Pameran Seni
    Karaoke
    Karaoke
    Nastasha Abigail & DImas Ario
    Nastasha Abigail & DImas Ario
    Henry Foundation
    Henry Foundation
    Adit Insomnia
    Adit Insomnia
    Reza Asung
    Reza Asung
    Margalo
    Margalo
    The Popo
    Ayudilamar
    Nasta Sutarjo

    Alex & John

    Ken "Jirapah" Jenie & Merdi "Diskoria" Leonardo
    Ken “Jirapah” Jenie & Merdi “Diskoria” Leonardo

  • Catatan Kecil RRRec Fest in The Valley 2015

    Catatan Kecil RRRec Fest in The Valley 2015

    Memang telat rasanya saya melaporkan RRRec fest in The Valley 2015 yang baru saya tulis sekarang, karena acara yang berlangsung tiga hari dua malam ini telah lewat seminggu kemarin. Tetapi ada baiknya kalian membaca catatan kecil dari pengalaman saya yang didapatkan selama disana. Kembali diadakan di Tanakita Camping Ground, Sukabumi dengan berbagai suguhan menarik yang bukan hanya dari program musiknya saja. Workshop, diskusi, residensi seniman, screening film hingga program anak bagi mereka yang membawa ‘buah hati’ di tanah perkemahan, disediakan hasil inisiasi kolaborasi The Secret Agents (Indra Ameng dan Keke Tumbuan) bersama Pasangan Baru (Nastasha Abigail dan Dimas Ario). Selama tiga hari itu saya bertemu pelaku/penggiat industri kreatif dari berbagai kota dan negara, serasa festival ini bukan sekedar ajang musik tahunan tapi juga menjadi wadah tukar ide, berbagi ilmu untuk mereka yang ingin terjun langsung di bidang ini sambil menyaksikan musisi-musisi bertalenta. Terbagi tiga tempat sebagai titik temu acara yang sedang berlangsung yang jarak dan medannya lumayan untuk mengencangkan betis kaki kalian.

    IMG-20150925-WA0061

    Photo : John Navid

    Hari pertama dibuka oleh workshop “Kiat Membuat Festival” yang berhasil memberangkatkan delapan peserta yang telah lolos seleksi ke Tanakita untuk menambah pengetahuan di bidang teknik manajemen dalam mengerjakan festival/acara musik. Serta selama disana mereka juga bisa observasi secara langsung, dipandu oleh tiga pemateri Indra Ameng (Jkt), Anitha Silvia (Sby), dan Indra Menus (Yk) yang memang handal memprakarsai acara musik independen di kotanya masing-masing. Sehabis ba’da maghrib, di Rumamerah dibuka pameran hasil residensi seniman kerjasama Lifepatch (sebuah organisasi dari Yogyakarta yang fokus bereksperimen teknologi dengan alam), Rofi dan Hasrul yang melibatkan warga sekitar Tanakita. Mereka mengembangkan teknologi, sumber daya alam dan manusia. Terbukti hasilnya berupa smoothies mangga dan beberapa instalasi dengan material dari hutan.

    #RRRinTheValley hasil dari residensi seniman lifepatch, Muhammad Fatchurofi, dan Moch. Hasrul Indrabakti

    A video posted by RRRec Fest (@rrrec_fest) on

    Berpindah ke Panggung Petromak yang malam itu dilingkupi suasana sendu sesaat, Bin Idris (nama panggung dari proyek solo vokalis Sigmun, Haikal Azizi) menjamu telinga kalian dengan permainan gitar yang syahdu dan ganas campur aduk dalam selimut eksperimental di aransemen tiap lagunya. Tak lupa, ia juga membawakan lagu-lagu andalannya seperti “Rebahan”. Dilanjut duo avant-pop asal Jepang, Tenniscoats, yang meng-cover lagu “Doa Ibu” milik Titiek Puspa. Terlihat vokalis yang gugup karena berusaha belajar instan bahasa Indonesia. Tapi, hal itu disambut positif oleh penonton. Bahkan Saya (vokal), akhirnya turun dan berinteraksi secara dekat sambil mengelilingi mereka. Beranjak ke Gang Senggol, disana sudah ada dj sniff (JPN) bereksperimentasi lewat musik chillwave/down-tempo seakan menjaga tensi sehabis panggung sebelumnya. Namun hal itu tidak berangsur lama ketika W Music DJ Set (Jkt) mengambil alih turntable beramunisikan rentetan lagu obsecure dari berbagai belahan negara mengajak badan berjoget sana-sini mengikuti beat yang ada. Keliaran di Gang Senggol itu terhenti hingga subuh tiba. IMG-20150925-WA0077

    Photo : John Navid

    Karena tadi malam istirahat terlalu larut, akhirnya saya melewatkan kegiatan Senam Kesegaran Jasmani bersama RURU Radio dan langsung mengikuti diskusi “Toleransi, Masih Perlu Nggak Sih?” diisi oleh pembicara M. Nuzul Wibawa dan Mirwan Andan dimoderatori oleh Irma Hidayana. Membahas gejala-gejala lunturnya semangat dan sikap toleran dari ruang publik. Cara merespon, mendorong orang lebih toleran, dan apa akibatnya kalau toleransi dibiarkan mati? Dan penanggapnya dua seniman, Amenkcoy (Bdg) dan Popo (Bks) yang dimana karya mereka berdua terdapat unsur toleransi terhadap sesama. Dibahas secara mendetail di diskusi ini. Diskusi tersebut dibarengi kegiatan anak bersama RuRu Kids dengan SEKALA berwisata alam menyusuri sekitaran Tanakita.  Tak kalah menarik di diskusi kedua, jaringan musik Asia Tenggara bersama Takuro Mizuta Lippit a.k.a dj sniff (JPN), Kok Siew-Wai (MYS), Ardy Chambers (Mks), dan David Karto (Jkt) dengan moderator Felix Dass (Jkt) melihat persamaan dan perbedaan di antara festival dan kancah musik di Asia berdasarkan konteks dengan situasi di wilayahnya masing-masing. IMG-20150926-WA0018

    Photo : John Navid

    Oia, saya lupa bilang yang menjadi menarik festival tahun ini berkesempatan mengajak, dan ajang reuni, komplotan berbahaya Ensemble ASIA. Salah duanya Bin Idris dan dj sniff (selaku co-director) yang sudah bermain di hari sebelumnya. Lainnya, seperti Kok Siew-Wai terkenal sebagai vokalis improvisasi yang mengekplorasi bunyi-bunyian tersembunyi atau tak dikenal dalam suara manusia. Dan membawakan dalam berbagai cara berbeda di panggung Lembah di hari kedua. Sehabis itu Yui-Saowakhon Muangkruan (THA) celloist yang gaya permainannya sangat ekspresif. Menurutnya gayanya adalah respon atas lingkungan social disekitar dia. “Salah satu energi baru Indie-Rock Ibukota” begitulah deskripsi yang booklet sampaikan untuk Polka Wars. Formasi live mereka cukup solid sore itu. Materi-materi di album Axis Mundi bersinerji di alam terbuka. Setelah itu disambut Jogja Noise Bombing membisingkan seluruh lembah. Bermain secara bergilir Hendra Adytiawan – Indra Menus – Andreas Siagian – Mindblastworks saling unjuk kebolehan masing-masing.  Balik ke panggung besar, Efek Rumah Kaca sudah bersiap sepertinya. Banyak yang mengambil tempat duduk lebih dekat panggung untuk melihatnya. Terlihat anak dari Cholil Mahmud (vokal/gitar) setia mendampingi sang ayah di atas panggung hingga selesai. Mengulang momen di Pasar Bisa Dikonserkan (konser tunggal mereka yang digelar di Bandung) ERK kembali mengajak Bin Idris di “Debu-Debu Berterbangan”. Dan menutupnya dengan “Desember” seakan mereka tahu cuaca Tanakita saat itu gloomy namun lebih bersahabat. Gelap pun tiba, panggung di area lembah pun dari kejauhan seperti sebuah mata menyala layaknya mata Sauron di film Lord of The Ring. Kita menyaksikan dia atau dia menyaksikan kita? Salah satu desain panggung terbaik yang pernah saya lihat. “Ini lama-lama jadi Bin Idris Fest nih” ujar Haikal Azizi/Bin Idris ke saya sebelum mempersiapkan diri dengan Sigmun. Unit psychedelic-blues berat yang dalam waktu dekat ini merilis album penuh berjudul Crimson Eyes. Lagi-lagi tampil memukau di hadapan penonton. Pun mencoba memperkenalkan single terbaru “Ozymandias” yang lumayan catchy. “The Long Haul” menjadi lagu pamungkas bergemuruh seisi Tanakita. IMG_20150926_185857 Pemandangan, trio folk slebor asal Bandung menghangatkan kembali panggung Petromak. Walaupun seringkali bermain salah tidak mengurangi apresiasi penonton baris depan, malahan di lagu “Bocah Pikun” ada yang melakukan joget shuffle. Jauh-jauh dari Surabaya, Silampukau bercerita lewat lirik yang realis penuh kenangan bentuk curahan hati kedua personilnya. Hal timpang pun terjadi saat Silampukau menyudahi curhatannya. Yang tadi dibuat sendu oleh kedua penampil sebelumnya, saat Orkes Madun Pengantar Minum Racun (OM PMR) naik keatas panggung dibuat berantakan seadanya oleh mereka. Diluar memiliki lirik-lirik jenius, kemampuan kelompok dangdut legendaris ini juga mengacak-ngacak lirik lagu band lain lebih jenaka. Belum lagi tingkah mereka yang konyol. Bahkan lagu paling terkenalnya, “Judul-Judulan”, dimainkan dua kali sebagai lagu penutup karena merasa kurang puas. Berpindah ke Gang Senggol, dimana oomleoberkaraoke sudah siap dengan proyektor raksasanya. Tembang era apapun disediakan oomleo tergantung pesanan sambil bergantian ke M.M.S (Mar, Mela, dan Sari) memutar koleksi piringan hitam yang mereka miliki hingga subuh pun tiba kembali.

    Bincang minggu pagi dimulai dengan pembahasan “Perubahan Iklim dan Gaya Hidup” bersama Kurniawan Sabar selaku Manager Kampanye WALHI, komikus terkenal Azer, dan Andreas Siagian (founder dari lifepatch) berbicara tentang dampak perubahan iklim, krisis lingkingan hidup, dan bagaimana solusinya bersama organisasi lingkungan hidup seperti WALHI bersama moderator Saleh Husein. Sehabis itu dilanjutkan “Lirik-Lirikan” sebuah diskusi mendalami lirik sebagai identitas musisinya. Adapun pembicaranya kelas berat semua, Cholil Mahmud (Efek Rumah Kaca), Jimi Multhazam (The Upstairs, Morfem, Bequiet), Harlan Boer (C’mon Lenon) dimoderatori Keke Tumbuan. Jimbot musisi multi-instrumentalis yang mengeksperimentasi musik budaya Pasundan diberi singasana ditengah panggung utama (Panggung Lembah). Tapi, ternyata dia tidak sendiri, sebagai salah satu anggota komplotan Ensemble Asia memadukan kebolehan masing-masing. Menjadi pertunjukan berkesan buat saya pribadi. Musik yang mereka suguhkan susah dipahami namun hanya bisa dirasakan. Berlebihan? Kalian bisa mencobanya kalau berkesempatan menyaksikan mereka. Stars and Rabbit didaulat menjadi penutup RRRec Fest in The Valley 2015. Musik mereka representatif menggambarkan aura Tanakita hari itu. Sungkan rasanya mau beranjak dari rerumputan ini dan bergegas mempersiapkan barang untuk mengingat bahwa esok realita memanggil serta mengakhiri catatan kecil ini.

     

  • RRRECFEST In The Valley day 02

    RRRECFEST In The Valley day 02

    Ide yang sangat brilian membawa band-band asoi dari berbagai daerah di Indonesia dan mengundang musisi-musisi dan seniman asoi dari Malaysia, Singapura dan Singapura lalu membuatkan panggung di lembah yang sejuk.

    Perjalanan memakan waktu enam jam karena infrastruktur kota Sukabumi yang ngaco, jalan sekecil itu dilintasi entah berapa banyak bis dan truk. Jalur yang jika lancar-lancar saja hanya memakan waktu tiga jam. Namun tidak mengapa, semua itu terbayar lunas dengan sajian kesenian dan diskusi yang memuaskan dahaga akan bentuk kesenian kontemporer yang otentik dan bagus.

    Bis kami akhirnya tiba di venue, dan tidak lama kemudian sudah disambut dengan sajian musik ringan dari Tetangga Pak Gesang yang menemani makan siang kami semua. Duo pendongeng dengan musik folk ber-ukulele dan kazoo ini dengan solid membuat saya kembali bersemangat setelah tertekan didalam bis selama enam jam perjalanan.

    Dilanjutkan kemudian kita turun ke lembah untuk Backwood Sun yang semakin solid, lalu Bangku Taman yang konsisten keren namun sayangnya terpotong jeda karena hujan. Saya sendiri ngos-ngosan menanjak lembah untuk mengambil jas hujan hanya untuk kemudian merelakan sisa show Bangku Taman karena tidak mampu bangkit dari matras ditenda.

    Setelah beristirahat sekejap setelah hujan reda, saya turun kembali ke lembah untuk menyaksikan duo Ari Reda, dua orang yang sebenarnya sudah lama berkarya namun baru kali ini saya menyaksikan bagaimana indahnya puisi dimusikalisasi dengan sederhana. Auranya seoertinya menyaksikan Simon and Garfunkel, suasana lembah membuat pertunjukan sore itu semakin khusyuk.

    Dilanjutkan Ramayana Soul dengan sitar dan kegundahan seksualnya. Kemudian Pandai Besi yang hampir ga pernah mengecewakan untuk kemudian melanjutkan malam dengan menyaksikan kembali mistisnya Rabu.

    Cukup mengagumkan dengan konsistensi mereka tetap menyalakan kemenyan walau ditengah lembah. Malam semakin dingin, untung saja teman-teman dari Kuala Lumpur membagi beberapa teguk Jägermeister.

    Malam dilanjutkan oleh Jirapah, Matajiwa dan pertunjukkan super intim dari Pure Saturday. Sayangnya saya terjebak hujan dipuncak bukit dan tidak bisa turun untuk menyaksikan mereka. Untungnya ada David, Acum dan Ari Dagink yang menghibur dilokasi tersebut dengan diskusi dan nyanyian-nyanyian merdu.

    Kemudian saya menutup hari pertama dengan sesi karaoke intim bersama.

    …bersambung

    indra_ameng_01

    seroja

    diskusi_aneh

    jah_ipul

    kontras

    Tetangga Pak Gesang
    Tetangga Pak Gesang

    arie_dagienkz

    tetangga_pak_gesang-02

    pameran_poster

    ario_sapi

    Bandros
    Bandros
    Backwood Sun
    Backwood Sun
    The Popo & Azer
    The Popo & Azer
    Ruru Shop in the Valley
    Ruru Shop in the Valley

    yungxslaw-margalo

    rrrecfest-in-the-valley

    rrrecfest_in_the_valley-ili-john_navid

    liyana-abigail-felix-dimas

    ari_reda-01

    ari_reda-02

    reda-liyana_fizi-ari

    ari_reda-03

    ramayana_soul-01

    tenda_pengakuan_dosa

    marian

    kilam-david-marikeke

    pandai_besi-rrrecfest-01

    Rabu
    Rabu

    wahyu_acum-david_tarigan

    henry_foundation-arie_dagienkz