Catatan Kecil RRRec Fest in The Valley 2015

eventsFeaturedfestivalReviews

Written by:

Memang telat rasanya saya melaporkan RRRec fest in The Valley 2015 yang baru saya tulis sekarang, karena acara yang berlangsung tiga hari dua malam ini telah lewat seminggu kemarin. Tetapi ada baiknya kalian membaca catatan kecil dari pengalaman saya yang didapatkan selama disana. Kembali diadakan di Tanakita Camping Ground, Sukabumi dengan berbagai suguhan menarik yang bukan hanya dari program musiknya saja. Workshop, diskusi, residensi seniman, screening film hingga program anak bagi mereka yang membawa ‘buah hati’ di tanah perkemahan, disediakan hasil inisiasi kolaborasi The Secret Agents (Indra Ameng dan Keke Tumbuan) bersama Pasangan Baru (Nastasha Abigail dan Dimas Ario). Selama tiga hari itu saya bertemu pelaku/penggiat industri kreatif dari berbagai kota dan negara, serasa festival ini bukan sekedar ajang musik tahunan tapi juga menjadi wadah tukar ide, berbagi ilmu untuk mereka yang ingin terjun langsung di bidang ini sambil menyaksikan musisi-musisi bertalenta. Terbagi tiga tempat sebagai titik temu acara yang sedang berlangsung yang jarak dan medannya lumayan untuk mengencangkan betis kaki kalian.

IMG-20150925-WA0061

Photo : John Navid

Hari pertama dibuka oleh workshop “Kiat Membuat Festival” yang berhasil memberangkatkan delapan peserta yang telah lolos seleksi ke Tanakita untuk menambah pengetahuan di bidang teknik manajemen dalam mengerjakan festival/acara musik. Serta selama disana mereka juga bisa observasi secara langsung, dipandu oleh tiga pemateri Indra Ameng (Jkt), Anitha Silvia (Sby), dan Indra Menus (Yk) yang memang handal memprakarsai acara musik independen di kotanya masing-masing. Sehabis ba’da maghrib, di Rumamerah dibuka pameran hasil residensi seniman kerjasama Lifepatch (sebuah organisasi dari Yogyakarta yang fokus bereksperimen teknologi dengan alam), Rofi dan Hasrul yang melibatkan warga sekitar Tanakita. Mereka mengembangkan teknologi, sumber daya alam dan manusia. Terbukti hasilnya berupa smoothies mangga dan beberapa instalasi dengan material dari hutan.

#RRRinTheValley hasil dari residensi seniman lifepatch, Muhammad Fatchurofi, dan Moch. Hasrul Indrabakti

A video posted by RRRec Fest (@rrrec_fest) on

Berpindah ke Panggung Petromak yang malam itu dilingkupi suasana sendu sesaat, Bin Idris (nama panggung dari proyek solo vokalis Sigmun, Haikal Azizi) menjamu telinga kalian dengan permainan gitar yang syahdu dan ganas campur aduk dalam selimut eksperimental di aransemen tiap lagunya. Tak lupa, ia juga membawakan lagu-lagu andalannya seperti “Rebahan”. Dilanjut duo avant-pop asal Jepang, Tenniscoats, yang meng-cover lagu “Doa Ibu” milik Titiek Puspa. Terlihat vokalis yang gugup karena berusaha belajar instan bahasa Indonesia. Tapi, hal itu disambut positif oleh penonton. Bahkan Saya (vokal), akhirnya turun dan berinteraksi secara dekat sambil mengelilingi mereka. Beranjak ke Gang Senggol, disana sudah ada dj sniff (JPN) bereksperimentasi lewat musik chillwave/down-tempo seakan menjaga tensi sehabis panggung sebelumnya. Namun hal itu tidak berangsur lama ketika W Music DJ Set (Jkt) mengambil alih turntable beramunisikan rentetan lagu obsecure dari berbagai belahan negara mengajak badan berjoget sana-sini mengikuti beat yang ada. Keliaran di Gang Senggol itu terhenti hingga subuh tiba. IMG-20150925-WA0077

Photo : John Navid

Karena tadi malam istirahat terlalu larut, akhirnya saya melewatkan kegiatan Senam Kesegaran Jasmani bersama RURU Radio dan langsung mengikuti diskusi “Toleransi, Masih Perlu Nggak Sih?” diisi oleh pembicara M. Nuzul Wibawa dan Mirwan Andan dimoderatori oleh Irma Hidayana. Membahas gejala-gejala lunturnya semangat dan sikap toleran dari ruang publik. Cara merespon, mendorong orang lebih toleran, dan apa akibatnya kalau toleransi dibiarkan mati? Dan penanggapnya dua seniman, Amenkcoy (Bdg) dan Popo (Bks) yang dimana karya mereka berdua terdapat unsur toleransi terhadap sesama. Dibahas secara mendetail di diskusi ini. Diskusi tersebut dibarengi kegiatan anak bersama RuRu Kids dengan SEKALA berwisata alam menyusuri sekitaran Tanakita.  Tak kalah menarik di diskusi kedua, jaringan musik Asia Tenggara bersama Takuro Mizuta Lippit a.k.a dj sniff (JPN), Kok Siew-Wai (MYS), Ardy Chambers (Mks), dan David Karto (Jkt) dengan moderator Felix Dass (Jkt) melihat persamaan dan perbedaan di antara festival dan kancah musik di Asia berdasarkan konteks dengan situasi di wilayahnya masing-masing. IMG-20150926-WA0018

Photo : John Navid

Oia, saya lupa bilang yang menjadi menarik festival tahun ini berkesempatan mengajak, dan ajang reuni, komplotan berbahaya Ensemble ASIA. Salah duanya Bin Idris dan dj sniff (selaku co-director) yang sudah bermain di hari sebelumnya. Lainnya, seperti Kok Siew-Wai terkenal sebagai vokalis improvisasi yang mengekplorasi bunyi-bunyian tersembunyi atau tak dikenal dalam suara manusia. Dan membawakan dalam berbagai cara berbeda di panggung Lembah di hari kedua. Sehabis itu Yui-Saowakhon Muangkruan (THA) celloist yang gaya permainannya sangat ekspresif. Menurutnya gayanya adalah respon atas lingkungan social disekitar dia. “Salah satu energi baru Indie-Rock Ibukota” begitulah deskripsi yang booklet sampaikan untuk Polka Wars. Formasi live mereka cukup solid sore itu. Materi-materi di album Axis Mundi bersinerji di alam terbuka. Setelah itu disambut Jogja Noise Bombing membisingkan seluruh lembah. Bermain secara bergilir Hendra Adytiawan – Indra Menus – Andreas Siagian – Mindblastworks saling unjuk kebolehan masing-masing.  Balik ke panggung besar, Efek Rumah Kaca sudah bersiap sepertinya. Banyak yang mengambil tempat duduk lebih dekat panggung untuk melihatnya. Terlihat anak dari Cholil Mahmud (vokal/gitar) setia mendampingi sang ayah di atas panggung hingga selesai. Mengulang momen di Pasar Bisa Dikonserkan (konser tunggal mereka yang digelar di Bandung) ERK kembali mengajak Bin Idris di “Debu-Debu Berterbangan”. Dan menutupnya dengan “Desember” seakan mereka tahu cuaca Tanakita saat itu gloomy namun lebih bersahabat. Gelap pun tiba, panggung di area lembah pun dari kejauhan seperti sebuah mata menyala layaknya mata Sauron di film Lord of The Ring. Kita menyaksikan dia atau dia menyaksikan kita? Salah satu desain panggung terbaik yang pernah saya lihat. “Ini lama-lama jadi Bin Idris Fest nih” ujar Haikal Azizi/Bin Idris ke saya sebelum mempersiapkan diri dengan Sigmun. Unit psychedelic-blues berat yang dalam waktu dekat ini merilis album penuh berjudul Crimson Eyes. Lagi-lagi tampil memukau di hadapan penonton. Pun mencoba memperkenalkan single terbaru “Ozymandias” yang lumayan catchy. “The Long Haul” menjadi lagu pamungkas bergemuruh seisi Tanakita. IMG_20150926_185857 Pemandangan, trio folk slebor asal Bandung menghangatkan kembali panggung Petromak. Walaupun seringkali bermain salah tidak mengurangi apresiasi penonton baris depan, malahan di lagu “Bocah Pikun” ada yang melakukan joget shuffle. Jauh-jauh dari Surabaya, Silampukau bercerita lewat lirik yang realis penuh kenangan bentuk curahan hati kedua personilnya. Hal timpang pun terjadi saat Silampukau menyudahi curhatannya. Yang tadi dibuat sendu oleh kedua penampil sebelumnya, saat Orkes Madun Pengantar Minum Racun (OM PMR) naik keatas panggung dibuat berantakan seadanya oleh mereka. Diluar memiliki lirik-lirik jenius, kemampuan kelompok dangdut legendaris ini juga mengacak-ngacak lirik lagu band lain lebih jenaka. Belum lagi tingkah mereka yang konyol. Bahkan lagu paling terkenalnya, “Judul-Judulan”, dimainkan dua kali sebagai lagu penutup karena merasa kurang puas. Berpindah ke Gang Senggol, dimana oomleoberkaraoke sudah siap dengan proyektor raksasanya. Tembang era apapun disediakan oomleo tergantung pesanan sambil bergantian ke M.M.S (Mar, Mela, dan Sari) memutar koleksi piringan hitam yang mereka miliki hingga subuh pun tiba kembali.

Bincang minggu pagi dimulai dengan pembahasan “Perubahan Iklim dan Gaya Hidup” bersama Kurniawan Sabar selaku Manager Kampanye WALHI, komikus terkenal Azer, dan Andreas Siagian (founder dari lifepatch) berbicara tentang dampak perubahan iklim, krisis lingkingan hidup, dan bagaimana solusinya bersama organisasi lingkungan hidup seperti WALHI bersama moderator Saleh Husein. Sehabis itu dilanjutkan “Lirik-Lirikan” sebuah diskusi mendalami lirik sebagai identitas musisinya. Adapun pembicaranya kelas berat semua, Cholil Mahmud (Efek Rumah Kaca), Jimi Multhazam (The Upstairs, Morfem, Bequiet), Harlan Boer (C’mon Lenon) dimoderatori Keke Tumbuan. Jimbot musisi multi-instrumentalis yang mengeksperimentasi musik budaya Pasundan diberi singasana ditengah panggung utama (Panggung Lembah). Tapi, ternyata dia tidak sendiri, sebagai salah satu anggota komplotan Ensemble Asia memadukan kebolehan masing-masing. Menjadi pertunjukan berkesan buat saya pribadi. Musik yang mereka suguhkan susah dipahami namun hanya bisa dirasakan. Berlebihan? Kalian bisa mencobanya kalau berkesempatan menyaksikan mereka. Stars and Rabbit didaulat menjadi penutup RRRec Fest in The Valley 2015. Musik mereka representatif menggambarkan aura Tanakita hari itu. Sungkan rasanya mau beranjak dari rerumputan ini dan bergegas mempersiapkan barang untuk mengingat bahwa esok realita memanggil serta mengakhiri catatan kecil ini.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.

%d bloggers like this: