Author: robonggo

  • Theo Nugraha – Seratus Ribu Guest Mix #5

    Theo Nugraha – Seratus Ribu Guest Mix #5

    Theo Nugraha (Samarinda, Indonesia) telah menjadi bagian aktif dari skena eksperimental Indonesia sejak 2013. Diskografinya mendekati 200 rilis dan termasuk karya solo, album split, kolaborasi, remix, dan kompilasi. Dia baru-baru ini berpartisipasi dalam Soemardja Sound Art Project, dikurasi oleh Bob Edrian, di Bandung, dan dimasukkan dalam kompilasi ”Pekak! Indonesian Noise 1995 – 2015: 20 Tahun Musik Eksperimental dari Indonesia.”

    Untuk mix ini, Theo Nugraha berfokus pada kota Samarinda (Kalimantan Timur, Indonesia) untuk
    menunjukkan lima tahun terakhir dari adegan eksperimen kecil, namun vital. Mix tersebut mencakup trek dari Sarana, Jeritan, Astrojo, Sarcapathy, Jeliwan Tok Hudoq, Theo sendiri, dan banyak lagi.

    https://www.theonugraha.com 
    https://theonugraha.bandcamp.com

    . . . . . . . .

    Ini adalah mix pertama dalam seri kedua dari 4 mix-mix yang dikurasi oleh label Bandung, Seratus RIbu. Dalam beberapa minggu depan, label juga akan merilis mix-mix dari Inferior Damage (Jaya Sempurna dari Detention, Palembang), Shaze (pemilik label Within Electric, Kuala Lumpur), dan Dangerdope (Banda Aceh)

  • Exclusive Stream : Guest Mix 2 with Xin Lie

    Exclusive Stream : Guest Mix 2 with Xin Lie

    Arti di balik Xin Lie berasal dari kata “Xin” (Bahasa Tiongkok untuk “mohon” atau “hati”) dan “Lie” (Bahasa Inggris untuk “berbohong”), jadi artinya adalah “Mohon Berbohong” atau “Hati yang berbohong”. Nama itu sekaligus menjadi akronim Sinlay atau Sindanglaya, daerah di Bandung di mana Xin Lie berasal. Lelaki di balik Xin Lie adalah Odi (aka Diannov Pamungkas), seorang fotografer, pemilik record label, dan musisi punk. Dia mulai datang ke acara-acara techno untuk mendokumentasikannya, namun lama-lama tertarik menjadi DJ dan membuat musik elektronik. Walaupun dia sudah lama menjadi bagian dari skena hardcore punk, perjalanan dia di musik elektronik baru satu tahun. Dedikasi, eksplorasi berbagai subgenre dan software bajakan (ingat, dia anak punk), memunculkan proyek Xin Lie.

    Xin Lie juga bagian dari roster Club Sick Sick Sick, bersama AFK, Atonal, Bagvs, Judas, dan Unknown Suspekt. Club666 adalah beberapa hal menjadi satu: pesta, kolektif, dan record label. Tidak ada benang merah khusus yang menghubungkan Club Sick Sick Sick, kecuali kumpulan records yang tidak ada ujungnya; dari Napalm Death, Kraftwerk, Doom, Tragedy, DJ Hell, Josh Wink sampai Laura Branigan. Mungkin yang mendefinisikan Club666 adalah humor. Mereka mengkonsumsi dan meresapi semua style di sekitar mereka dan menggunakannya untuk membuat sesuatu yang baru dan segar. Punk tanpa galak.

    Ketika sedang tidak menDJ di berbagai tempat di Bandung seperti Klub Racun, Substore BDG, Chinook Cafe, etc. sebagai Diannov atau Xin Lie, Pamungkas mempunyai dan mengelola D’Kolektif records. Label tersebut sudah merilis album dari DIIV (NYC), Kimokal (Jakarta), Kiasmos (Iceland) dan beberapa lainnya. Dia adalah founding member Disabled dan basis tur untuk Keras Kepala. Ini adalah mix pertama di bawah nama Xin Lie.

    Guest Mix pertama dari Seratus Ribu ini menampilkan empat selektor favorit Bandung: MV, Haxanized, XIN LIE, dan Madrotter. Bekerja sama dengan seniman-seniman tersebut. Bukan hanya selektor yang baik, namun ada juga seniman visual, aktivis, pemilik record label, para showbooker, penyair, pengarsip, dan banyak lagi. Setiap seniman tersebut mendedikasikan karya mereka bukan hanya untuk komunitas musik Bandung, namun untuk siapa saja.

    Mixes ini akan dirilis sekali seminggu untuk 4 bulan, dimulai 26 Juni 2018 dengan Madrotter. Karya visual untuk series tersebut adalah karya tak terjudul David Louis Cintron dari Cleveland. Karya tersebut dibagi 4 bagian, satu untuk setiap mix. Ada juga kaos terbatas yang akan dicetak seiring dengan series tersebut.

    100.000 (aka Seratus Ribu aka 100_Ribu) adalah record label berbasis Bandung yang didirikan pada Januari 2017 oleh James Russell Fritsch, asli Baltimore yang berada di Bandung. Fritsch telah mengelola beberapa record label dari tahun 2004, termasuk Public Guilt, Implied Sound, dan Araca Recs. Pada tahun 2017, Seratus Ribu telah merilis album fisik dari Aluk Todolo (Paris), Potro Joyo (Malang), Ala Muerte (New York), Diehoarse (Jogja), Third Culture Kings (Copenhargen), dan Coffee Faith (Jogja). Rilisan kaset yang akan datang di 2018 termasuk Borther Wolf Sister Moon (Bandung), Jeff Carey (Baltimore), Sarana (Samarinda), To Die (Jogja), Sudarshan Chandra Kumar (Kuala Lumpur), Anggarayesta (Bandung), ), :>PI)I(NYGT^T$E$W#@! (New York), dan lain-lain.

    Streaming selengkapnya di bawah ini:

    Tracklist:

    1. Kllo – Making Distractions (Ghostly International, 2017)
    2. One of the scene selected from Stanley Kubrick’s masterpiece “A Clockwork Orange” back in 1971
    3. Applescal – Overseas (Atomnation, 2017)
    4. Axefield – Walk Under The Falls (Atomnation, 2017)
    5. Christopher Cold Hands – False God(?) (Self-digital-release, 2018)
    6. Rayka – Axid Budda (Self-digital-release, 2018)
    7. The Knife – We Share Our Mother’s Health – Trentemoeller remix (Audiomatique Recordings, 2007)
    8. Christopher Cold Hands – 80 (Never Talk) (Self-digital-release, 2018)
    9. Broken English Club – Carrion (Long Island Electrical Systems, 2017)
    10. Trentemoeller – Rykketid (Poker Flat Recordings, 2006)
    11. Randomer – Rye (Long Island Electrical Systems, 2017)
    12. Trentemoeller – Polar Shift (Poker Flat Recordings, 2006)
    13. Christopher Cold Hands – Everyone All The Time (Self-digital-release, 2018)
    14. Randomer & Hodge – Second Freeze (Dnuos Ytivil, 2016)
    15. Tessela – Nancy’s Pantry (R&S Records, 2013)
  • Exclusive Stream : Guest Mix 1 with Madrotter

    Exclusive Stream : Guest Mix 1 with Madrotter

    Madrotter (aka Henk Den Toom Jr.) adalah peminat musik dan pemburu vinyl berkebangsaan Belanda yang berdomisili di Jawa Barat sejak tahun 1996. Dia soso di balik Madrotter Treasure Hunt, arsip musik online gratis yang dia temukan selama mengkoleksi dan riset bertahun-tahun. Di arsip tersebut dia meng-host ribuan kaset dan vinyl yang telah terdigitalisasi Situs tersebut sudah dikunjungi lebih dari 3 juta kali.

    Bermusik sejak tahun 1978, Den Toom Jr. bermula dari menjadi drummer sebuah band punk sebelum terjun ke dunia hip hop eksperimental pada tahun 1986. Dari akhir abad 90an dan seterusnya, Madrotter telah menjadi bagian penting dari skena hip-hop Bandung, memproduksi track-track untuk beberapa MC underground terbesar di Indonesia. Salah satu track yang cukup kontroversial membuat seorang MC ternama bersembunyi dari sebuah organisasi masyarakat. Track-track dia yang terbaru masuk dalam album terbaru One10% dari Kuala Lumpur. Pada akhir 2017, Madrotter membuka acara Karinding Attack Bandung di Rotterdam’s Pantropical Night dengan DJ set berisi Jaipong, musik dari tarian Sunda tradisional di Jawa Barat. Mix ini menampilkan beberapa track Jaipong favorit Madrotter dari 18+ tahun eksplorasi.

    Guest Mix pertama dari Seratus Ribu ini menampilkan empat selektor favorit Bandung: MV, Haxanized, XIN LIE, dan Madrotter. Bekerja sama dengan seniman-seniman tersebut. Bukan hanya selektor yang baik, namun ada juga seniman visual, aktivis, pemilik record label, para showbooker, penyair, pengarsip, dan banyak lagi. Setiap seniman tersebut mendedikasikan karya mereka bukan hanya untuk komunitas musik Bandung, namun untuk siapa saja.

    Mixes ini akan dirilis sekali seminggu untuk 4 bulan, dimulai 26 Juni 2018 dengan Madrotter. Karya visual untuk series tersebut adalah karya tak terjudul David Louis Cintron dari Cleveland. Karya tersebut dibagi 4 bagian, satu untuk setiap mix. Ada juga kaos terbatas yang akan dicetak seiring dengan series tersebut.

    100.000 (aka Seratus Ribu aka 100_Ribu) adalah record label berbasis Bandung yang didirikan pada Januari 2017 oleh James Russell Fritsch, asli Baltimore yang berada di Bandung. Fritsch telah mengelola beberapa record label dari tahun 2004, termasuk Public Guilt, Implied Sound, dan Araca Recs. Pada tahun 2017, Seratus Ribu telah merilis album fisik dari Aluk Todolo (Paris), Potro Joyo (Malang), Ala Muerte (New York), Diehoarse (Jogja), Third Culture Kings (Copenhargen), dan Coffee Faith (Jogja). Rilisan kaset yang akan datang di 2018 termasuk Borther Wolf Sister Moon (Bandung), Jeff Carey (Baltimore), Sarana (Samarinda), To Die (Jogja), Sudarshan Chandra Kumar (Kuala Lumpur), Anggarayesta (Bandung), ), :>PI)I(NYGT^T$E$W#@! (New York), dan lain-lain.

    Streaming selengkapnya di bawah ini:

    Tracklist

    1. Umay Mutiara – Randa Ngora
    2. Euis Nani Garweni – Rancanan
    3. Iyar Wiyarsih –Kidung Marender
    4. Nani Yuningsih – Papacangan
    5. Ciung – Senggot
    6. Ijah Khadijah – Kidung Panimang
    7. H. Idjah Hadidjah – Mahoni
    8. Itih S. – Kiser Saedah
    9. Tating Sariningsih – Mentas Jaipong ’82 (live recording with the Karawang Group)
    10. Yayah Ratnasari – Cinta Ugat Egot
    11. Ciung – Talak Tilu
    12. Cicih Cangkurileung – Ekek Paeh
    13. Cucu Setiawati – Angle
    14. Aseng Suwarsih – Kiser Saedah

    Instagram : @henktoom

    Website / Blog : http://madrotter-treasure-hunt.blogspot.co.id

  • Sewaktu Protomartyr Menyambangi Jakarta

    Sewaktu Protomartyr Menyambangi Jakarta

    Detroit tidak habisnya melahirkan band-band hebat, dari MC5 hingga The White Stripes merupakan jaminan mutu akan hasilnya. Protomartyr merupakan salah satu nama besarnya yang lahir di tahun 2010 keatas. Seperti mengawinkan Wire dengan Iceage berceloteh lirik-lirik puitis a la Nick Cave. Tentunya bukan diskusi berbobot tentang puisi senja. Unit kebanggaan Detroit ini pun diboyong oleh Winona Tapes dan 630 Recordings yang merupakan juga rangkaian tur ASIA mereka.

    Setelah Malaysia, destinasi Protomartyr selanjutnya adalah Jakarta yang sengaja dipilih sebagai penutup tur di Rossi Music Fatmawati. Sebagian banyak penonton berpakaian kemeja masuk ke dalam, bukan karena seolah-olah ini malam ‘post punk’ tapi memang hari dan jam yang ditentukan merupakan hari Kamis (21/6) dan waktu pulang kantor. Crayola Eyes didaulat sebagai pembuka pertama. Hey, apa kabar mereka? (1) setelah merilis split 7” bersama Bin Idris mereka makin mempertajam formasinya dengan Bayu dari band Napolleon di formasi gitar yang terdengar cukup intens di tatanan musik Crayola. Perubahan itu bisa didengar dari lagu terakhir “Baby May” yang terdengar lebih bagus ketimbang penampilan-penampilan sebelumnya. Reno Nismara selaku vokalis terlihat lebih dingin dari biasanya. Tidak banyak cakap, langsung pada tujuan, dan menghabiskan set malam itu dengan klimaks. Walau sering beberapa kali kerabat melempar sahutan canda “Sawiii sawiii” untuk Sawi Lieu di posisi keyboard.

    The Porno dengan formasi bertiga merupakan kejutan besar. Hey, apa kabar mereka? (2) kini personil yang tersisa ada Yanu (Bass), Ami (Gitar/Vokal) dan menambah Wing Narada (vokal/synth). Walaupun terlihat minimalis dengan format trio, tak mengurangi kagum penonton. Seperti antusiasnya di belakang saya yang berujar “Nah! Ini baru post punk!”, yang dalam hati saya merespon “uopooooo!”.  Tinggalkan angan kalian akan mendengar materi-materi Subliminal dibawakan malam itu. Nyatanya banyak nomor-nomor baru seperti single terbaru mereka “The Moon” yang rilis di bawah bendera Heaven Punks. Tapi terlebih dari semua itu, mereka membawakan “Pale Spectre” dari The Wake dengan cukup baik dengan instrumen seadanya. A+ untuk The Porno.

    Menggunakan jas, snapback (yang akhirnya dilepas), sambil menenteng bir kaleng Joe Casey berceloteh panjang lewat lirik-liriknya. Bercerita tentang kuda, kaktus yang mekar di malam hari, sampai krisis air di Flint, Michigan dan masih seputar Detroit-sentris kota asal Protomartyr. Stok bir di atas panggung tak kunjung habis. Hampir seluruh materi Relatives of Descent ia bawakan. Tak urung banyak penonton yang menikmatinya dengan penuh seksama sambil angguk-angguk kecil. Dan lagi-lagi ada yang berkomentar “liriknya berintelek banget!”. Siyaaap. Tapi yang tahu pasti di luar lirik yang katanya “intelek” mereka masuk daftar kategori band favorit saya. Sebagai encore…

     

    Eh gak ada encore, mereka menuntaskan dengan sempurna lewat lagu “Half Sister”.

    Winona Tapes dan 630 Recordings lagi-lagi menjadi dua nama penyelenggara yang sukses mendatangkan band luar negeri dengan kurasi ciamik. Mungkin ke depannya bisa mengundang Parquet Courts? Mungkin.

    Photo : Haviz Maulana

  • ST. JEROME’S LANEWAY FESTIVAL’18

    ST. JEROME’S LANEWAY FESTIVAL’18

    Setelah mengeluarkan nama-nama internasional, minggu kemarin St. Jerome’s Laneway Festival Singapore kembali mengumumkan tahap kedua line up selanjutnya. Termasuk juga telah memilih penampil dari ASIA pilihan mereka. Diantaranya alextbh,Amateur Takes Control, Obedient Wives Club, HEALS, MAS1A, THELIONCITYBOY, Tim De Cotta dan The Ransom Collective.Tiket official sudah tersedia di www.apactix.com atau juga bisa ke www.kiostix.com. Semakin banyak teman yang kalian ajak tentunya semakin meringankan beban kalian untuk mengocek rupiah untuk melihat penampilan-penampilan di bawah ini: