Author: robonggo

  • “Sugar” Debut Mini Album Dari Skandal

    “Sugar” Debut Mini Album Dari Skandal

    Skandal adalah kuartet alternative pop/indie rock asal Yogyakarta yang terbentuk sejak 2011. Terdiri dari Yogha Prasiddhamukti (vokal, tamborin), Rheza Ibrahim (gitar), Robertus Febrian Valentino (gitar, vokal) dan Argha Mahendra (drum) yang resmi mengeluarkan EP bertitel Sugar. Rilisan ini menyusul “Superfine” single perkenalan EP tersebut. Dirilis dan didistribusikan oleh Yellow Records dalam format cakram padat dan nantinya akan dibuatkan format kaset oleh label Winona Tapes pada caturwulan pertama tahun ini.

    Menurut rilisan pers yang kami terima bahwa Sugar adalah mini album yang berisi lima lagu dengan total durasi sekitar 18 menit. Lagu-lagunya merupakan kombinasi materi lama dan yang relatif baru dari sejumlah lagu yang berhasil ditulis oleh Skandal dalam kurun waktu 6 tahun terakhir. Debut mini album ini menyuguhkan arah kreasi musikal mereka yang mengambil pengaruh dan mengeksplorasi estetika, sentimentalitas, kelugasan, kenaifan, melodi, dan hook dari musik dan lirik yang pernah dihasilkan oleh para punggawa pop alternatif, power pop, slack rock, dan indie rock Amerika dan Britania dua dekade silam. Untuk urusan artwork pada sampul dan inside sleeve mini album ini, pengerjaannya dilakukan sendiri oleh gitaris dan vokalis Skandal, Robertus Febrian Valentino dengan ciri khas doodling-nya.

    EP Sugar song list:

    1. Sugar
    2. Superfine
    3. Stay Slay Slack
    4. Stuck & Stranded
    5. Sidewalk Song

    Atau info lebih lanjut silakan simak lewat beberapa akun resmi milik Skandal berikut:

    Twitter: twitter.com/skandalrockband

    Facebook: facebook.com/skandal.id

    Instagram: instagram.com/skandalrockband

    Soundcloud: soundcloud.com/skandalrockband

    Youtube: youtube.com/skandalofficial0274

    Bandcamp: skandalrockband.bandcamp.com

    Skandal - Sugar EP (eFlyer Promo)

  • Figura Renata Merilis EP ‘Live Concert’

    Figura Renata Merilis EP ‘Live Concert’

    Bagi kalian yang belum tahu siapa Figura Renata, mereka adalah duo Pop asal Semarang yang sempat kita bahas di Aliansi Musik bulan Mei. Dengan format akustik Deviasita Putri (vokal) dan Bima Sinatrya (gitar & vokal) memberikan suguhan pop minimalis. Single perdana mereka ‘Elegi’ mendapat tanggapan positif dari beberapa pelaku musik setempat dan sudah mengudara di stasiun radio di Semarang pada bulan Mei lalu.

    Akhir Desember lalu, tepatnya 30 Desember 2016, Figura Renata merilis EP yang diberi tajuk Live Concert dalam format kaset. Berisi empat track Tragedy, Sekala, Gersang, Elegi dengan tehnik rekam berbeda. Side A direkam dalam format Live Perform, Side B dalam format demo version. Penggarapan artwork dipercayakan oleh Azis Wicaksono yang diproduksi secara terbatas sebanyak tujuh puluh kopi. “Album mini ini adalah pengenalan lebih dalam kami agar teman-teman lebih tahu bagaimana kami perform dan beberapa lagu yang akan ada di album penuh kami” tutur Bima.

     

     

  • Warpaint Mengunjungi Indonesia Untuk Pertama Kalinya

    Warpaint Mengunjungi Indonesia Untuk Pertama Kalinya

    Setelah tujuh tahun menunggu untuk mampir ke Indonesia akhirnya ada kabar baik bahwa Warpaint akan menyambangi Jakarta pada 17 Februari 2017 di Parkir Selatan Senayan. Emily Kokal, Theresa Wayman, Jenny Lee Lindberg, dan Stella Mozgawa ini menunjuk Jakarta sebagai garis start menuju Australia dan Jepang dalam tur mempromosikan album terbarunya ‘Heads Up’. Patut dibanggakan juga bahwa Indonesia sebagai satu-satunya negara Asia Tenggara yang berkesempatan menggelar konser Warpaint.

    Kita pun dibuat bertanya-tanya, akan digarap oleh promotor siapa nantinya konser Warpaint di Jakarta? Wire It Up adalah promotor konser baru yang akan menggelar konser perdananya. Meski begitu, mereka diisi oleh nama-nama yang telah berpengalaman di bidangnya sejak tahunan sebelumnya. “Warpaint adalah salah satu band indie rock Amerika Serikat yang beranggotakan para perempuan yang jadi role model banyak anak muda di seluruh dunia,” ujar Sandri, direktur Wire It Up. “Selain musikalitas yang bagus, penampilan mereka secara live juga banyak memberikan kejutan yang membuat para penonton menyukai mereka,” lanjutnya.

    Karena terlalu antusiasnya minat terhadap konser ini penjualan tiket early bird langsung dinyatakan habis dalam hitungan jam. Sesi kedua presale tickets juga digandrungi banyak orang yang dibandrol seharga Rp 550.000 yang bisa dilihat di www.wireitupid.com atau www.tiketgue.com. Nantinya konser akan dibuka oleh KimoKal, Trou, dan Diocreatura. Ketiga band tersebut dirasa cocok untuk membuka Warpaint dengan gaya musik yang dibawakan.

    Warpaint seperti yang sudah diketahui pernah diisi oleh John Frusciante (mantan gitaris Red Hot Chilli Peppers) pada departemen drum di debut mini album ‘Exquisite Corpse’ dirilis pada 2008. Dan melahirkan beberapa album yang mempengaruhi generasi musik era sekarang.

    Warpaint Heads Up! Tour 2017 (1)

    For more info:

    Instagram: @wireitup.id

    Email: info@wireitupid.com

    Contact: 081214281003

  • Review : Senyawa Konser Tanah Air

    Review : Senyawa Konser Tanah Air

    Dari siang grup-grup chat pertemanan musik saya tidak habis memunculkan notifikasinya. Mereka semua memiliki rasa penasaran yang sama, suguhan apa saja yang akan diberikan Senyawa di konser bertajuk “Tanah Air”? Belum lagi chat personal dari kerabat-kerabat terdekat tentang pemilihan tempat duduk. Ada yang takut kehabisan ataupun dapat namun takut tak sesuai keinginan. Berangkat dari timur Jakarta menggunakan Transjakarta di sore hari menuju Gedung Kesenian Jakarta (GKJ) bukanlah hal mudah yang bisa ditempuh. Baik jarak dan waktu harus melewati beberapa titik kemacetan sedangkan opening gate’nya saja jam 7 malam.

    Adalah Rully Shabara Herman dengan tehnik vokal murni yang beragam frekuensi melebur secara dinamis bersama instrumen-instrumen swadaya ciptaan Wukir Suryadi menjadi satu kesatuan bernama Senyawa. Hasilnya pelbagai musik eksperimental yang modern, intens, dan sangat primal! Ini bukan kali pertama saya menyaksikan mereka, pernah di ruang terbuka seperti pelataran luar Taman Ismail Marzuki. Pernah juga ruang kecil tertutup seperti di Tokove, Kemang (yang kini berganti menjadi Borneo Beerhouse). Sejak 2011, Senyawa banyak tampil di berbagai festival besar Internasional. Dan konser malam itu, tanggal 22 Desember 2016, merupakan pertunjukan kepulangan mereka. Yang kalau boleh mengutip perkataan Kristi Monfries selaku creative producer konser ini sebagai “persembahan dari Senyawa terhadap negara yang selalu menjadi panduan bagi perjalanan musik mereka dan sumber bagi segala yang telah mereka capai selama tujuh tahun terakhir ini”. Gong dipukul penanda pertunjukan akan dimulai. Acara yang terbilang tepat waktu memang sudah menjadi ciri khas Adi Adriandi (show director) di pertunjukan-pertunjukan manapun yang pernah ia buat. Dia pun juga sempat mewanti-wanti apabila bawa earplug sebaiknya digunakan. Tapi malam itu saya tidak membawanya. Dua kuping telanjang saya pun sudah dirasa cukup siap menikmati konser ini, sambil diiringi lagu anak-anak mengademkan sejenak sebelum digempur habis-habisan.

    Dibuka oleh Patrick Hartono yang duduk diatas meja dan perangkatnya mengkombinasikan visual art dengan bebunyian liar nan intens pendukung visual. Sehabis sesi Hartono selesai, Wok The Rock mengiringi kita untuk menyambut Senyawa. Bertengger layar besar sewaktu tirai utama terbuka. Seketika lampu menyorot dari belakang Rully dan Wukir membentuk siluet raksasa. Lampu dimainkan sesuai ritme suara Rully dan instrumen bambuwukir gubahan Sugeng Utomo. Kalau suasananya syahdu lampu memanjakan mata, namun apabila suasana murka penuh kegeraman lampu akan berwarna kontras. Layar sebesar itu tidak hanya disia-siakan untuk permainan lampu saja, kadang diselingi video-video tentang alam sekitar. Layaknya seperti video Vincent Moon ‘Calling New Gods’ di Yogyakarta, sewaktu “Kereta Tak Berhenti Lama” kembali Senyawa mengajak kita sama-sama seolah masuk ke dalam gerbong kereta api. Ditambahi gimmick beberapa tukang jajanan makanan/minuman instan melewati para penonton. Layar terangkat ke atas dan kita pun akhirnya melihat rupa mereka dibalut tarikan suara Rully memekakan telinga. Menyudahi sesi pertama tanpa cacat cela.

    Kita pun sudah tahu bahwa Rully dan Wukir banyak diulas media luar negeri seperti The Quietus salah satunya. Mengisi berbagai festival international bergengsi yang diisi nama-nama besar seperti Bon Iver, Death Grips, hingga Swans. Tapi kalau boleh saya jujur, pengalaman malam itu di GKJ mungkin tidak bisa didapatkan dimanapun. Ditambah, akan membuat menyesal bagi siapapun yang melewatkannya.

    “Yuk masuk yuk. Nonton ben-benan lagi” ujar Adi Adriandi atau yang akrab dipanggil mas Gufi itu memberi arahan penonton untuk segera masuk karena sesi kedua akan dimulai. Pencahayaan sengaja dibuat gelap. Suara Rully memecah kesunyian sambil berjalan menuju panggung. Diatas panggung sudah terdapat instrumen berbentuk bajak modifikasi Wukir yang diberi nama ‘Garu’. Soal kualitas suara tidak usah diragukan lagi. ‘Garu’ menghasilkan suara yang unik seperti suara cello baik digunakan secara disayat, dipetik ataupun dipukul. Alat ini sebelumnya sudah ditampilkan di Lockstock #2 di Jogja. Tak ketinggalan ‘Suthil’ juga ikut dibawa. Instrumen dari spatula yang ditambahkan senar mempunyai karakter suara yang kering. Kalau boleh saya ibaratkan seperti sound gitar black metal era Burzum dan Mayhem awal. Merdunya duo ini saat menunjukan kebolehanya meng-cover salah satu tembang dari Semenanjung Balkan berlatarkan penggalan sinetron Indonesia ditumpuk footage video demo 4 November kemarin.  Klimaksnya pas ‘Tadulako’ dengan nada repetitif dimainkan oleh Wukir sampai jatuh dan kejang. Hingga di samping saya mengira dia kesurupan. Padahal hanya sekedar aksi panggung.

    Standing applause dari seluruh penonton dengan tampang puas bukti bahwa konser ini sukses digelar. Terima kasih juga ditujukan untuk G Production dan tim dibalik layar konser Tanah Air yang tak habis-habisnya memunculkan decap kagum penonton dari awal sampai akhir pertunjukan. Atas kinerja mereka, 2016 ditutup oleh konser fenomenal yang tidak bisa dilupakan bagi siapapun yang hadir malam itu.

  • Interview : Rio Rahmawan (Morganostic)

    Interview : Rio Rahmawan (Morganostic)

    Rio Rahmawan (Morganostic) adalah salah satu finalis Go Ahead Challenge 2016. Bersama rekan satu band yang berpersonilkan Reza Felayati (gitar), Riza Balafif (bass), Mistar (synth), Laukhy Hidayat (gitar), dan Bunz Agsetya (drum) menyuguhkan Modern Progressive Metal ke ranah musik lokal. Memang terbilang baru saat mendengar genre musik yang dibawakan. Tapi apalah gunanya melabelkan genre musik apabila materi biasa aja. Rio adalah perwakilan dari Surabaya yang sudah mengagas band ini sedari tahun 2009. Karena faktor jarak, menghambat proses beredarnya Morganostic di Surabaya. Di kesempatan kali ini, kami berhasil “menculik” dia (Rio) sehabis turun panggung di malam penganugerahan Artwarding Night beberapa pekan lalu. Berbicara Surabaya dan Morganostic yang selengkapnya bisa kalian baca di bawah ini;

    Mainin Modern Progressive Metal nggak bikin pusing diri kalian sendiri tuh? Kan katanya musik ribet.

    Iya, kita rasanya ngejebak diri sendiri gitu ya? Hahaha cuman kita emang cocoknya di situ. Kita tuh banyak ide, entah kenapa ketemunya di musik itu. Selera masing-masing personil pun beragam, ada yang suka hardcore dan punk. Sebenernya kita nggak menggolongkan. Cuman pas kita rilis ‘To Conceive’ dibilang sama temen-temen media musik kayak kita dibilangnya masuk ke djent. Tapi menurut kita sendiri mungkin lebih mengarah ke metalcore.

    Menurut Rio kenapa Surabaya tahun-tahun terakhir band rocknya banyak yang tidur panjang?

    Mungkin karna scene’nya kali ya. Kita baru ngebangun lagi, kayak regenerasi band-band baru. Kalo mau ditarik ke era 90’an sepertinya musisi-musisi era itu lost contact dengan generasi yang sekarang. Media-media lokal sana juga mulai merintis juga, contohnya Ronascent. Mungkin mulai lagi dari nol. Dan masuk fase regenerasi pas tahun 2005’an. Mungkin. Atau awal-awal 2000 lah.

    Lost contact dalam artian apa nih?

    Mungkin menghilang untuk istirahat. Kayak kemarin kita lihat Jamrud kembali lagi ke panggung. Jadi kita kayak buat lingkaran baru aja. Tapi kita tetep respect sama mereka yang berjasa era itu. Kalo ada kesempatan ngobrol mungkin bisa dimanfaatkan sebaik-baiknya.

    Dan, Morganostic sendiri udah punya rilisan gak sih dari tahun 2009?

    Selama tujuh tahun kita gak ada rilisan. Hahaha. Sebenernya kita itu band kamar. Suka produktif bikin lagu gitu. Kita pernah ngeluarin beberapa demo dan single. Cuman, kita buang. Dan kita nyebarinnya ke temen-temen aja.

    Sejauh Morganostic berkarya pernah mengalami bongkar pasang personil?

    Iya ada. Gitaris sama drummer kita pernah ganti di tahun 2014.

    Jadi, selama tujuh tahun ini kalian ngapain aja? Bakalan merilis sesuatu nggak sih kedepannya?

    Mungkin yang disesalkan adalah kita kebanyakan di studio saja. Dari situ kita mulai belajar untuk percaya diri ngeluarin sesuatu. Dan udah merasa klop dengan personil yang sekarang. Dan di tahun 2016 kita sudah merasa siap dan segera merilis EP berisikan lima lagu. Pengen ngeliat antusiasnya di Surabaya atau di Indonesia sekalipun. Kalo dapet apresiasi bagus bakalan keluarin album.

    Dan di EP ini kalian akan banyak membahas isu-isu apa nih?

    Temanya “Paradoks”. Jadi, sudut pandang yang berbeda dalam memandang suatu objek. Secara garis besar objeknya peperangan. Konflik internasional terkini. Konflik Israel salah satunya. Jaman dulu kita bahas juga seperti Nazi. Terus di Indonesia kita ulas tentang  Sumber Daya Alamnya. Ini karena gue ngambil kuliah di pertambangan, terus gue tahu bendera perusahaan-perusahaan oil gas di Indonesia ini banyak dari negara-negara asing. Sedangkan bangsa sendiri sedikit sekali. Padahal kita tuh negara yang kaya. Diusir aja tuh perusahaan-perusahaan asing yang menjarah sumber daya alam kita. Contoh Rusia yang ngebor kilang minyak sampai 12 km jadi kaya. Itu baru dari minyak. Lah di Indonesia banyak banget bukan dari minyak aja.

    Merasa kesulitan nggak mencari informasi untuk memproduksi rilisan di Surabaya?

    Kayak gitu-gitu sih nggak. Mungkin pilihannya sedikit. Dan kebetulan EP ini segera rilis bulan Desember. Kita mixing & mastering nggak di sini. Di Russia. Jadi cuman ribet ngantri ke percetakannya aja.

    Beralih ke elo sebagai finalis GAC. Bisa ungkapin gak perasaannya ke pilih jadi salah satu finalis ajang ini?

    Kaget sih, soalnya masih banyak band-band di luar sana yang mempunyai rilisan dan lebih mumpuni.

    Apa sih respon pendengar SBY tentang Morganostic sewaktu keterimanya di kompetisi ini?

    Mereka support sih. Bantu promosi juga.

    Kasih rekomendasi lima band Surabaya dari Rio Morganostic?

    The Flinstone, Hey, Mom!, Silampukau, Fraud, terakhir Crucial Conflict yang baru ngeluarin album.

     

    MORE INFO MORGANOSTIC:

    http://twitter.com/morganostic

    http://soundcloud.com/morganostic

    http://morganostic.tumblr.com

    http://reverbnation.com/morganostic