Author: robonggo

  • Video: Whitenoir – Sub District

    Video: Whitenoir – Sub District

    Usai merilis single debut dan track kedua dalam format video-lyric, Whitenoir kembali dengan sebuah music video (MV) baru. MV Sub-District ini pun dirilis roster Pop Flesh Records tersebut menjelang kehadiran extended plays pertama mereka, Feed Me, yang akan segera diretas dalam waktu dekat.

    Kali ini Whitenoir bekerja sama dengan salah satu media ternama yang berbasis di bekasi dan Jakarta yaitu Holytunes, Holytunes yang memiliki konten yang menarik, menjadi banyak media untuk band indie dan juga bersifat sangat supportive menjadi pertimbangan utama whitenoir dalam menggandeng Holytunes, dalam perilisanya whitenoir menyerahkan MV sepenuhnya untuk diunggah di kanal youtube Holytunes.

    Untuk penggarapannya, Whitenoir pun mempercayakan seluruh proses pada Levicor Production. PH Lokal ini dipilih Whitenoir mengingat Levicor Production mampu merepresentasikan track Sun/Shine milik unit emotive hardcore sekota, Shewn, secara visual dengan apik.

    “Sub-District bercerita tentang sarcasm bagaimana seorang individu memberikan duka cita dan simpati kepada sempitnya cara pandang seseorang dalam menyetujui sesuatu dan bagaimana seseorang dapat mudah sekali mengacak kebenaran demi kepentingan orang tersebut. Namun pada dasarnya kami membebaskan pendengar untuk merepresentasikan tentang apa isi lagu ini

    menurut versi mereka masing-masing. Dengan banyak pertimbangan, kami memilih Sub-District sebagai track pertama untuk dirilis sebagai track pembuka untuk EP perdana kami,” jelas Ekki.

    MV Sub-District sendiri dirilis via channel YouTube Holytunes hari ini. Selain itu, Whitenoir juga tengah bersiap melakukan radio tour di Surabaya-Malang dalam rangka mempromosikan musik sekaligus EP perdananya yang akan dirilis pada 22 April. Untuk menyimak music video Sub-District, silahkan mengunjungi tautan di bawah ini:

  • Review : Spirit Of The Things Concert From Scaller

    Review : Spirit Of The Things Concert From Scaller

    Seperti bermain mesin waktu saya berkenalan dengan Scaller setahun yang lalu di acara konser Stars kuintet indie pop asal Kanada. Pada malam itu di tanggal 12 Februari 2016 Scaller tampil menjadi band pembuka konser. Genap sudah setahun, di venue yang sama pula Soehanna Hall The Energy Building SCBD pada tanggal 23 Februari 2017 Scaller menggelar konser “Spirit of The Things” sebagai bentuk dari perayaan album penuh perdana mereka yang bertajuk “Senses”.

    Kali ini Scaller bukan tampil sebagai band pembuka konser, panggung memang sepenuhnya milik mereka. Gerbang Soehanna Hall dibuka jam 19.00 terlihat penonton sudah memadati area dan mengantri untuk menukarkan tiket online yang mereka beli ke dalam bentuk wristband. Tepat pukul 19.30 panggung menyala dan muncul aksi pembuka dari Anomalyst. Di sela-sela penampilannya Ario yang merupakan front man dari Anomalyst menyampaikan bahwa Ia sudah lama mengikuti perkembangan Scaller dan merasa sangat senang bisa menjadi bagian dari perayaan album “Senses”. Semua penonton menikmati penampilan yang disuguhkan oleh kuintet rock asal Jakarta yang umurnya masih sangat muda ini.

    Scaller naik ke atas panggung sekitar pukul 20.30 tanpa bicara, satu persatu personel menempati posisinya. Lagu dimainkan secara acak diambil dari kantung album “Senses”. Kalau saya tidak salah mengingat nomor pertama yang dimainkan adalah “Flair”, Gerald Situmorang juga ikut mengisi gitar akustik di lagu ini yang membuat nuansa lagu menjadi semakin kaya. Stella juga sempat bermain organ piano solo dan Ia menceritakan lagu yang dibawakannya tidak masuk di kantung album “Senses”.

    “Spirit of The Things Concert” merupakan tajuk yang tepat untuk pesta perilisan album “Senses” dari Scaller. Karena sesuai dengan tajuknya pada malam itu kami sebagai penonton benar-benar merasakan pembagian suatu energi yang sangat baik dari si penampilnya.

    Penulis: Intan Zariska Daniyanti

    Foto: Nizam Aulia

     

     

     

  • Dua Album Pertama Dirilis Ulang Sajama Cut

    Dua Album Pertama Dirilis Ulang Sajama Cut

    Dua album awal dari Sajama Cut, Apologia dan The Osaka Journals, dirilis ulang oleh label Kebun Suara pada akhir Februari 2017 ini. Dua album yang memiliki karakteristik cukup berbeda ini dirilis bersamaan, karena menurut Marcel Thee sang vokalis, Apologia dan The Osaka Journals hakikatnya adalah sebuah kesatuan.

    “Meskipun masing-masing memiliki presentasi yang berbeda, tekstur emosional dan nilai historisnya bagi gue merangkum era Sajama Cut yang spesifik dan sama,” ucapnya.

    Apologia, debut album Sajama Cut, dilepas pada 2001 silam. Hingga kini, Sajama Cut masih sering mendapat pertanyaan seputar Apologia dan harga kasetnya meroket tinggi. “Apologia dibuat tanpa audiens sama sekali. Kita hanya ingin menuangkan kecintaan kita pada musik-musik yang kita dengarkan pada zaman itu, pada khususnya Norwegian Black Metal seperti dua album pertama Burzum dan Emperor, serta musik-musik Industrial seperti Cabaret Voltaire, Coil, dan Einstürzende Neubauten,” papar Marcel.

    Sementara The Osaka Journals adalah album kedua Sajama Cut yang dirilis tahun 2005 lalu. Album ini dirilis oleh Universal Music Indonesia, dan dirilis ulang dalam format vinyl dan kaset pada 2013.

    The Osaka Journals adalah refleksi langsung dari itu semua. Kita berhenti menggunakan distorsi, bernyanyi dalam bahasa Inggris, dan mulai memasukkan banyak sekali elemen musik country dan folk seperti Hank Williams, Son Volt, Whiskeytown,” ujarnya.

    Album yang berisi lagu seperti Fallen Japanese dan Fin ini juga mendapat tanggapan positif baik dari media maupun pemerhati scene musik lokal. “Mendengarkan album ini membuat saya bangga dan senang. Bukti bahwa band lokal dapat menghasilkan sesuatu yang berbeda dengan band-band indie pop/rock lokal pada umumnya,” ucap Arian 13, vokalis Seringai.

    Menurut Marcel, kontradiksi kedua album ini dilakukan dengan sangat sengaja. Dari awal, ia ingin Sajama Cut menjadi wadah artistik yang dapat bermutasi tanpa menanggalkan lapisan emosional dan melodi yang menjadi karakter mereka.

    Apologia dan The Osaka Journals kini sudah bisa didapatkan lewat mail order dengan harga RP 60.000 per kepingnya. Sajama Cut juga menyediakan family pack: paket dua CD “Family Pack” dengan harga yang lebih murah, hanya Rp. 100.000. Untuk merayakan reissue ini, Sajama Cut juga memberi bonus track lagu Mari Bunuh Diri dari Apologia yang direkam ulang.

     

    Tracklist Apologia:

    1. Momentum Dimana Terluka
    2. Romantika Haram
    3. Nostalgia Laknat
    4. Murtadnya Diriku
    5. Lagu Dosa
    6. Imaculata
    7. Analogi Sayat
    8. Terdampar
    9. Elegi
    10. Berjalan Diatas Gelas Kaca
    11. Pecah Belah
    12. IY
    13. Mari Bunuh Diri
    14. Satu Sloki Untuk Masa Depan

     

    Tracklist The Osaka Journals

    1. Season Finale
    2. Fallen Japanese
    3. Alibi
    4. Scarllet(Paramour)
    5. It Was Kyoto, Where I Died
    6. Take Care, Inamorata
    7. Idol Semen
    8. Lagu Tema
    9. Nemesis/Murder
    10. Fin
    11. Less Afraid
  • Review : Laneway Festival 2017

    Review : Laneway Festival 2017

    Laneway Festival Singapura kembali digelar, dan Deathrockstar hadir untuk meliputnya. Untuk pertama kalinya, band asal ibu pertiwi pun turut diundang untuk tampil pada pagelaran musik yang memang selalu dipenuhi dengan penonton-penonton asal Indonesia. Dua buah band – Bottlesmoker dan Stars and Rabbit – tampil memukau, meskipun keduanya harus rela menjadi band pembuka di panggung mereka masing-masing. Stars and Rabbit tampil di stage utama yang megah di hadapan crowd yang masih santai, namun cukup banyak dan apresiatif. Sedangkan duo elektronik Bottlesmoker tampil di panggung tertutup yang diberkahi pendingin ruangan dan sound system yang memenuhi akustik ruangan. Meskipun penonton siang hari belum begitu banyak, Angkuy dan Nobie tetap memainkan set mereka dengan enerjik, ditemani visual yang menarik dan menambahkan club music yang sesuai.

    Band-band dan penampil lain yang memukau, termasuk band psych-rock asal Australia, King Gizzard & The Lizard Wizard, serta grup dansa Jagwar Ma. Set-set mereka yang penuh vibrasi berhasil membuat penonton terus berjoged ria meskipun hujan terus-menerus turun. Penampil stand out yang lain adalah grup indie rock veteran dari Singapura, Astreal. Grup yang berdiri tahun 1992 ini memainkan salah satu set terbaik di Laneway kali ini, mempresentasikan shoegaze rock yang terasa siap untuk panggung utama yang mereka singgahi.
    Teks: Marcel Thee
    Photo: Cliff Yeo, Lionel Boon, Nor Asyraf
  • Video: Darling James – Indonesia Cigarattes

    Video: Darling James – Indonesia Cigarattes

    James O’Brien pernah jumpa secara personal dengan saya di daerah Fatmawati,  bersama Japs Shadiq (vokalis Indische Party) menghabiskan santai sore dengan melahap mie ayam sambil melihat konstruksi pembangunan besar-besaran. Kedatangannya kali ini dalam proses pembuatan video klip “Indonesian Cigarattes” untuk band yang ia prakarsai bernama Darling James dan memilih Japs sebagai sutradaranya. “Setelah mencari-cari referensi video musik Indonesia, saya tertarik dengan video-video milik Indische Party. Setelah beberapa percakapan via Facebook dan email, ternyata sutradaranya adalah sang vokalisnya sendiri, Japs Shadiq,” terang O’Brien.

    Melalui perspektif O’Brien yang berpetualang seorang diri, video musik ini menggambarkan perjalanan di hiruk pikuk Jakarta; melewati sisi kumuh, gemerlap megapolitan, hingga rupa-rupa wajah masyarakatnya.Ya seperti penggalan kejadian di awal paragraf pertama. Ada pula adegan kontras dari sosok wanita di tengah hutan yang menggambarkan kontemplasi dari lirik lagu Darling James yang mengambang. Daripada kebanyakan penasaran bisa langsung saksikan videonya di bawah: