Tag: Showcase

  • Sigmun Menggelar Showcase Di Jakarta “Into The Inner Sanctum”

    Sigmun Menggelar Showcase Di Jakarta “Into The Inner Sanctum”

    Sejak tanggal 19 Februari 2016, Sigmun melaksanakan tur resmi untuk mempromosikan album debut mereka, Crimson Eyes. Bertajuk sesuai dengan nama album mereka, tur yang dinamakan Crimson Eyes Tour ini dilaksanakan di 8 kota-kota besar di Jawa, Bali, dan Sulawesi.

    Rekan-rekan satu label Sigmun, yaitu Somnium, dan Kaveman juga ikut mendukung Crimson Eyes Tour dengan membuka penampilan Sigmun di kota-kota seperti Malang, Surabaya, Denpasar, dan Makassar.

    Selain tur tersebut, sebelumnya kuartet ini juga sukses melaksanakan showcase yang juga merupakan syukuran diluncurkannya album debut mereka di Bandung tahun lalu. Sebagai penutup tur dan sambungan dari showcase tersebut, Sigmun akan menggelar showcase Into The Inner Sanctum, pada 25 Maret depan di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

    Bekerjasama dengan Stoned Class, showcase ini punya dua kategori tiket, yakni VVIP dan VIP. Untuk kelas VIP, tiket dijual seharga Rp. 125.000 dengan bonus poster. Sedangkan tiket VVIP dipatok seharga Rp. 250.000, dengan bonus merchandise spesial dari showcase ini.

    Catatan lain yang harus diingat, tiket VVIP dijual sangat terbatas. Hanya 20 orang pemesan pertama yang bisa duduk di kategori ini. Tiket VVIP hanya bisa didapatkan dengan mengirim email ke stonedclass.pro@gmail.com.

    Sedangkan untuk kelas VIP, tiket bisa didapatkan di DEEPROCK MUSIC (Blok M Square, basement floor blok B no 211, Jakarta) (08161699336) atau Omuniuum (Jl. Ciumbuleuit 151 B lt.2, Bandung) (087821836088 / 022-2038279). Bisa juga dengan mengirim email ke stonedclass.pro@gmail.com.

    Tiket mulai dijual pada tanggal 1 Maret 2016 dan sangat terbatas.

  • Sigmun Menggelar Showcase ‘In The Wake of the Crimson Eyes’

    Sigmun Menggelar Showcase ‘In The Wake of the Crimson Eyes’

    Akhirnya setelah digantung selama empat tahun, diiming-imingi janji palsu yang kerap diulang setiap tahunnya, Sigmun memberikan bukti penantian panjang dengan melepas debut album penuhnya pada 15 November lalu. Seribu keping tersebar begitu saja di seluruh daerah-daerah Indonesia. Sempat beberapa hari setelah album itu rilis, seluruh linimasa social media dipenuhi orang-orang mendengarkan Sigmun, tanggapan mereka pun beragam dan kebanyakan positif. Redaksi kami pun sempat mengulas terlebih dahulu sembari selebrasi pelepasan album Crimson Eyes, bisa kalian baca selengkapnya disini. “Crimson Eyes adalah sebuah perjalanan sureal, magis, dan hampir relijius, yang, jujur, ingin saya saksikan dan inderakan secara langsung. Sangat pantas menurut saya apabila Sigmun mengadakan suatu acara yang dikhususkan untuk melarutkan para pendengarnya kedalam alam bawah sadar mereka.” pungkas Anindito Ariwandono selaku manager Sigmun.

    Tapi, sebagai bentuk syukur rasanya kurang sah kalau belum melakukan showcase bekerja sama dengan Orange Cliff Records (label rekaman Sigmun) dan Suaka Suar Collective, In the Wake of the Crimson Eyes merupakan gelaran showcase perdana Sigmun dalam rangka menyambut debut album penuh mereka. Akan diadakan pada tanggal 12 Desember 2015 di Auditorium IFI Bandung, Sigmun, untuk pertama kalinya, akan membawakan rangkaian materi-materi baru dari album debut mereka secara live dan terkurasikan secara visual berdasarkan apa yang terpaparkan di dalam Crimson Eyes. Sigmun akan bermain selama kurang lebih dua jam, dimana selain membawakan materi-materi baru dalam gelaran ini, merekapun akan membawa pendengar-pendengar lama mereka untuk bernostalgia dengan materi-materi mereka yang terdahulu. Bertepatan dengan showcase ini pun, disamping beberapa merchandise t-shirt dan lainnya yang terbatas, Sigmun dengan Orange Cliff Records akan merilis ulang Crimson Eyes dalam format double cassette tape yang hanya akan tersedia di venue. Tiket yang dibanderol dengan harga 75 ribu rupiah ini sudah termasuk poster yang akan dibagikan saat registrasi di venue. Informasi mengenai prosedur pembelian tiket bisa diperoleh melalui akun-akun jejaring sosial Sigmun.

    Untuk informasi lebih lanjut:
    Twitter : @sigmuns
    Instagram : @sigmun_
    www.facebook.com/sigmuns

     

    IN THE WAKE OF THE CRIMSON EYES

    ITWOTCE Poster

  • Ulasan Malam Instrumental Rock Dari Ellipsis

    Ulasan Malam Instrumental Rock Dari Ellipsis

    Kuartet instrumental rock basis Bandung, Elipsis yang baru saja merilis debut mini album mereka yang bertajuk “Adversities” akhirnya menggelar showcase di Salian Art (Minggu, 20/09/2015).

    Showcase ini dimulai sejak sore menjelang malam dengan penampilan pertama dari Neat, band dengan genre funk rock asal Bandung itu mencoba memperkenalkan tiga lagu mereka dan tingkah sang vokalis kadang melakukan gesture menyihir saat solo-gitar mengalun. Ditutup dengan lagu fenomenal dari Dewa 19 yaitu “Cukup Siti Nurbaya”. Suasana semakin ramai dipadati orang-orang ketika band bergenre psychedelic-rock / stoner rock asal Bandung, Kaitzr mulai naik ke panggung dan membawakan dua lagu dari EP mereka yang bertajuk “Myth and Deceit” yang masing-masing lagunya memiliki durasi lumayan panjang. Mengatur emosi kita sesuai irama yang dihasilkannya. “Fire In The Sun” single terbaru mereka yang belum rilis, ikut dimainkan juga malam itu. Semacam tidak direncanakan, semua pengisi band malam itu berkostum rapih layaknya mau ke prom nite, seperti Heals, band asli Bandung yang menghibur para penikmat musik malam itu dengan single perdana mereka “Void”. Mereka salah satu band yang paling banyak dibicarakan saat ini. Mengembalikan memorabilia untuk kalian penikmat alternative-rock/Nu Gaze. Maka tak heran kalau malam itu Heals menutup penampilannya dengan lagu milik My Bloody Valentine yang serentak membuat beberapa orang ikut juga bersenandung.

    IMG_3020 copy

    Akhirnya malam itu ditutup dengan penampilan yang ciamik dan menghipnotis oleh Elipsis yang bermain dengan permainan yang harmonis ritmis dan sedikit mengingatkan pendengar malam itu pada musik-musik yang diusung oleh band seperti Toe, Lite, dan the Mars Volta. Melodi-melodi emosional dikombinasikan dengan tempo yang kompleks merupakan fondasi utama aransemen musik Ellipsis. Sayangnya salah satu gitaris mereka, Elmar tidak dapat hadir karena sedang mengemban ilmu di Australia. Hampir semua nomor di Adversities dibawakan hasil rilisan label independen, Orange Cliff Records. “Tigris” menjadi lagu terakhir yang ampuh hingga memberikan standing applause oleh seluruh penonton dibumbui aksi turun panggung satu-satu hanya menyisakan Aulia Ramahan bersama gitarnya. Setidaknya showcase dari band yang terbentuk ketika masih menjadi anggota sebuah organisasi seni kampus ini dapat menciptakan sebuah reuni kecil-kecilan di akhir acara.

    Photo : Glory Mardika

    Teks : Raufina Zahra

  • Sajama Club 2015 Hobgoblin Showcase : Bangunnya Sajama Kids dari Tidur Panjang

    Sajama Club 2015 Hobgoblin Showcase : Bangunnya Sajama Kids dari Tidur Panjang

    Sajama Kids adalah sebutan untuk penggemar Sajama Cut (SC), unit indie-rock asal Jakarta, yang sering membuat acara reguler bernama Sajama Club sewaktu album ‘Manimal’ lepas dipasaran. Tapi seiring waktu, acara itu tenggelam bersama Sajama Cut yang sibuk mengumpulkan materi untuk ‘Hobgoblin’. Dan tepat seminggu kemarin mereka bangun dari tidur lelapnya. Bisa dibilang SC adalah band yang masih menjaga tali silahturahmi kepada penggemarnya-baik yang loyal ataupun biasa saja-sampai sekarang, dan Sajama Club 2015 adalah bentuk dedikasi untuk mereka sekaligus merayakan kelahiran album keempat.

    Mengambil tempat di 365 Ecobar, Kemang, dengan biaya masuk dua puluh lima ribu untuk first drink charge kalian disuguhkan berbagai pengalaman menarik. Bagaimana tidak menarik? Begitu masuk kita langsung dihadang untuk menggunting kertas bertuliskan ‘SAJAMA’ sebagai bahan mural kolase secara langsung dari Ika Vantiani seorang seniman yang cukup dikenal karya-karyanya. Menurut Ika, mural kolase yang dikerjakan ini adalah pengalaman pertamanya menggunakan media besar dan tampil secara langsung dihadapan penonton. Khusus malam itu Nanaba Records juga berpartisipasi dengan merilis kaset terbatas ‘Ghost Eyes’ berisikan materi-materi Sajama Cut yang dibawakan ulang oleh musisi-musisi berbakat, sebut saja salah satunya Bottlesmoker. Adapula lapak Disorder Zine dengan edisi spesial mewawancarai masing-masing personil secara mendalam tentang keberadaan Sajama Cut sampai sekarang. Dan Strange Fruit mengawali hajatan malam itu. Kwartet noise-pop asal Jakarta ini makin terlihat matang dengan formasi terbarunya. Dibalut asap tebal yang hampir menganggu pemandangan penonton membawakan hampir semua lagu yang terdapat di ‘The Dolphin Leap’ hasil rilisan Leeds Records.

    IMG_8081

    Tim Sajama Cut pun terlihat mengambil posisi sehabis Strange Fruit menyudahi permainannya. Seakan mereka dikejar waktu (atau mau memberikan penampilan maksimal?) bergegas mengatur semuanya. Personil band pun mempersiapkan mental dibelakang panggung. Maklum, rasa nervous akan selalu ada bagi mereka yang absen terlalu lama dari panggung skena (bahasa Indonesia-nya scene katanya~) acara lokal.

    “Bloodsport” didaulat sebagai lagu pembuka, diikuti “The German Abstract”. Ada tiga wajah baru di formasi live Sajama Cut yang membantu malam itu. Yudhis Tira (gitar), Andry Ruay (drum), dan fotografer senior sekaligus keyboardis favorit semua band Muhammad Asranur (keyboard). “Fallen Japanese” sebuah single yang meledak di tahun 2003-2005 diaransemen ulang menjadi lebih bergemuruh nan nikmat. Di sela-sela pergantian lagu, Marcel Thee (vokal) banyak mengucapkan terima kasih untuk mereka yang terlibat malam itu. Diselingi lelucon-lelucon khas Marcel. Hujan melodi dari Dion Panlima Reza (gitar) pun mengguyur sewaktu “Fatamorgana” dibawakan. Tidak mau kalah, betotan penuh skill juga ditunjukan Randy Apriza Akbar (Bass). Membuat kita hampir tercengang saat mereka balik ke album Apologia membawakan “Nostalgia Laknat”. Cikal bakal Sajama Cut yang keras campuran grunge dibawakan di malam itu. Marcel pun naik keatas kursi penuh semangat menyanyikan bait demi bait lirik-lirik penuh emosional. Spontan penonton barisan depan berantakan dibuatnya. Merasa kurang panas, “Less Afraid” dipilih menjadi lagu pamungkas sekaligus terakhir. Hans Citra Patria (keyboard, perkusi) memukul penuh semangat bagian drum Andri Ruay selayaknya genderang perang. Saat memasuki reff sontak penonton mengambil alih mic bernyanyi dan crowd surfing bersama. Terlihat Marcel jalan ditengah-tengah pembatas bar dan panggung. Sungguh totalitas yang mereka tunjukan minggu kemarin. Oia, ada yang memiliki pin spesial dari Sajama Kids? Konon itu merupakan akses untuk Sajama Club episode selanjutnya dan tidak ada lagi tidur yang panjang buat Sajama Kids.

    IMG_8104

    Photo by : Bramaditya Dimas Andika

  • #SAJAMACLUB : Sajama Cut Gelar Showcase Peluncuran Album Hobgoblin

    #SAJAMACLUB : Sajama Cut Gelar Showcase Peluncuran Album Hobgoblin

    Sebuah penantian panjang untuk hasil yang maksimal karena setelah dirilis pada bulan Juni silam, Hobgoblin yang merupakan album ke-empat dari band kawakan asal Jakarta Sajama Cut akan mempersembahkan #SAJAMACLUB dalam bentuk konser pada 17 September 2015 di Eco Bar 365, Kemang, Jakarta Selatan.

    Konon katanya di konser ini, 100 fans pertama yang pada Juli lalu mem-preorder album ke-4 Sajama Cut, Hobgoblin, menjadi undangan khusus yang akan mendapatkan pin keanggotaan Sajama Kids (sebutan fans Sajama Cut) yang dapat memberikan akses khusus ke acara-acara spesial Sajama Cut. Seratus Sajama Kids tersebut juga akan mendapatkan kesempatan untuk menjadi orang-orang pertama yang dapat membeli merchandise ekslusif, yang termasuk kaset mixtape Ghost Eyes, yang berisikan demo, outtakes, versi cover dan remix dari album Hobgoblin. Tiket untuk umum dijual seharga Rp.25.000 (First Drink Charge).

    Konser ini juga merupakan panggung pertama Sajama Cut sejak tahun 2014 dan merupakan hasil kerjasama dari label Elevation Records, Prasvana, dan Pop Up Demajors. Hype akan formasi terbaru Sajama Cut memang sudah lama membuat fans-fans Sajama Cut yang disebut Sajama Kids, gatal melihat bagaimana bedanya tampilan mereka nanti.

    Perwakilan Prasvana mengatakan bahwa “Kami selalu ingin mendukung scene musik independent khususnya Indonesia, and we have always been fans of Sajama Cut.”

    Taufiqrahman dari The Jakarta Post, yang juga kepala dari label Elevation Records, memuji Sajama Cut dengan mengatakan, “Sebagai label yang merilis album mereka, kami sangat excited untuk melihat bagaimana album kompleks seperti Hobgoblin akan terdengar di panggung.”

    Dibantu oleh band noise-pop Strange Fruit sebagai opening act, konser ini juga akan menampilkan seniman kolase Ika Vantiani yang akan memperagakan pengerjaan sebuah kolase secara live sambil diiringi oleh musik dari Sajama Cut. Bentuk kolaborasi ini merupakan lanjutan dari kolaborasi-kolaborasi yang lain—dalam bentuk ilustrasi maupun puisi—yang dikemas dalam bentuk buku dan dirilis berbarengan dengan album Hobgoblin. Majalah online Disorder pun telah menyiapkan sebuah artikel mendalam tentang Sajama Cut dalam rangka menyambut acara ini.

    Founder kita Eric Wirjanata mengatakan, “Gue sempat lihat sesi latihan Sajama Cut untuk formasi Hobgoblin ini, tampak terlihat kalau personel-personelnya sekarang lebih dapat kimia bermusiknya dibanding biasanya. Gue rasa manggungnya perlu ditunggu banget.”

    Menjawab pertanyaan mengapa konser ini digelar tiga bulan setelah album rilis, vokalis serta penulis lagu Marcel Thee berujar, “Materi baru ini cukup menantang untuk dibawa live, dan kita ingin memastikan bahwa eksekusi-nya sesuai dengan materi yang didengar orang di album, atau bahkan lebih menampol lagiFormasi live Sajama Cut terbaru ini – dengan asistensi maut dari Asra di keyboard, Yudhis Tira di gitar kedua, dan Andri Ruay di drum – adalah yang terbaik yang pernah ada dalam sejarah band ini. Gue yakin Sajama Kids akan setuju, karena show ini sepenuhnya untuk mereka.”

    Hobgoblin sendiri tentunya telah menjadi album yang mendapatkan banyak pujian dari tokoh-tokok influential di skena musik Indonesia.

    Reno Nismara dari Rolling Stone mengatakan, “Empat album dalam rentang waktu tiga belas tahun memang bukanlah statistik yang memukau. Namun dalam kasus Sajama Cut, setiap albumnya memamerkan lonjakan-lonjakan musikal yang berarti. Atas sebab itulah pentas musik ini menjadi penting: dalam satu malam menampilkan segala ragam musik yang pernah diciptakan Marcel Thee dkk. sekaligus mengilustrasikan pendewasaan mereka dalam format konser; dari ‘Apologia’ sampai ‘Hobgoblin’.”

    Sedangkan Rudolf Dethu (pemerhati musik dan sosial, manajer Leonardo, ex-manajer Superman Is Dead) mengatakan, “Album Sajama Cut yang paling baru ini bak sebuah perayaan kesenduan dan kepucatan secara elegan. Pop intelek dan brilian. I heart Sajama Cut!”

     

    SC_A3Hires