Tag: studiorama

  • Ornaments

    Ornaments

    Untuk pertama kalinya kolektif musik asal Jakarta, Studiorama, sukses menggelar festival perdananya Ornaments. Mengambil tempat di Kuningan City Ballroom, hari jumat kemarin. Malam itu gelaran dibagi dua, stage utama dinamakan Ruang Stage sedangkan bila mau berajojing ria bisa di Raung Stage yang diisi oleh deretan disjoki handal.

    Adapun pengisi acaranya dari dalam dan luar negeri. Seperti These New Puritans, project saudara kembar Inggris yang namanya sempat besar di era 2008 dengan album keduanya ‘Hidden’. Trio jazz-hop, BADBADNOTGOOD asal Kanada yang penampilan kemarin lumayan menghipnotis pelan-pelan dan rasanya enggan untuk beranjak dari tempat. Dan King Gizzard and The Lizard Wizard yang untuk pertama kalinya membawakan setlist terbarunya untuk SEA Tour yang membuat penonton tak kuat tahan diri untuk membuat circle pit skala kecil di tengah. Tapi, yang membuat tambah menggila justru penampilan Gabber Modus Operandi (Bali).Untuk pertama kalinya juga melihat duet Ican Harem dan Kasymin yang bersinergi maksimal walau di awal set mereka, sound sempat tidak begitu ‘nendang’. Alhasil sewaktu mengacak-ngacak lagu sakral milik Homicide – Puritan mereka seolah ‘balas dendam’ dengan menggeber Gabber tanpa ampun! Deretan DJ dari Asia Timur seperti Tsuzing, Hyph11e, Scintii, dan Meuko! Meuko! juga menjadi sorotan utama di festival ini. Dan musisi-musisi kebanggan dalam negeri, mereka punya BAP, Jacatra Audio Sistema, Horse Planet Police Department, dan False Natural.

    Keberagaman line-up Ornaments menjadi bukti konsistensi Studiorama dalam menawarkan sesuatu yang berbeda tanpa pandang bulu terhadap jenis-jenis musik yang ada; filosofi yang sudah mereka pegang teguh sejak debut Studiorama Live #1 delapan tahun silam. “Kami selalu ingin memberikan pengalaman menonton konser yang menyegarkan, dari penggemar musik untuk penggemar musik, tanpa menganakemaskan suatu jenis musik tertentu” ungkap pihak Studiorama.

    Words & Photos by Robonggo

  • Slide Away • 27 April • Rossi Musik Fatmawati

    Slide Away • 27 April • Rossi Musik Fatmawati

    Indische Party, Westjamnation, Sigmun Bakal Meriahkan Gelaran ‘Slide Away’

    Menampilkan pula Karon N Roll, Becca & de Tuan’s, dan Electric Cadillac

    (more…)

  • Fazerdaze Jakarta Tour • Rossi Music • 21 Oktober 2017

    Fazerdaze Jakarta Tour • Rossi Music • 21 Oktober 2017

    Hujan baru saja reda saat saya mencapai Rossi Music, sebuah venue musik yang nyelip diantara ruko-ruko tua di Selatan Jakarta. Saat akhirnya mendapatkan gelang tanda masuk dan naik menuju tempat pertunjukan, saya berpapasan dengan para personel Sharesprings.

    Dasar kagak jodoh, saya belum pernah berhasil menyaksikan mereka sejak bertahun-tahun lalu mengenal musik band ini dari seorang teman bekas pengusaha label independent yang sekarang mengharamkan musik. Namun demikian, saya masih merasa beruntung karena Grrrl Gang belum memulai set mereka.

    Saya sendiri baru mengenal Fazerdaze dan Grrrl Gang beberapa menit setelah dikirimkan materi poster acara oleh Reno Nismara. Sejak saat itu saya cukup bersemangat menanti datangnya hari ini, dimana hangatnya distorsi yang kotor dan mengawang-ngawang akan saya alami secara live.

    Tidak berapa lama, Grrrl Gang tampil dan pengunjung mulai hanyut dalam lapisan-lapisan suara yang dihasilkan band ini. Sambil sesekali diantara jeda waktu, sang vokalis melontarkan lawakan-lawakan yang patut dihargai.

    Selain membawakan single-single yang sudah cukup dikenal, mereka juga memperkenalkan single baru “Just A Game”.

    Setelah Grrrl Gang, tibalah saatnya Fazerdaze naik panggung. Saya sudah tidak ingat urutan lagunya, tapi tentu single kesayangan fans seperti “Lucky Girl” dibawakan. Seluruh gedung turut bernyanyi dan membuat Amelia Murray semakin bersemangat, saking semangatnya tau tau dia lompat ke penonton, untung ada yang menangkap.

    Akhirnya set ditutup dengan single “Little Uneasy”, dan acara dilanjutkan dengan sesi tanda tanga.

    Grrrl Gang Download
    Grrrl Gang bersiap-siap

    Grrrl Gang download
    Grrrl Gang

    Fazerdaze download
    Grrrl Gang

    Fazerdaze download
    Kendra Ahimsa

    Fazerdaze download
    Ario Sapi dkk

    Fazerdaze download
    Ezra dan Aleks

    Fazerdaze download
    Kolibri Records

    Fazerdaze download
    Zaky Arifin dan Istri

    Fazerdaze download
    Juragan Anggur Merah

    Fazerdaze download
    Fazerdaze in action

    Fazerdaze download
    Fazerdaze

    Fazerdaze download
    Amelia Murray berfoto bersama fans

    Fazerdaze download
    Xandega

    Fazerdaze download
    Sawi Future Collective

    Fazerdaze download
    Bandar AO

  • KOMPILASI MUSIK ELEKTRONIK DENTUM DANSA BAWAH TANAH

    KOMPILASI MUSIK ELEKTRONIK DENTUM DANSA BAWAH TANAH

    Dentum Dansa bawah Tanah adalah sebuah proyek yang berawal dari inisiatif Pepaya Records untuk mendokumentasikan musik elektronik arus pinggir kota Jakarta pertengahan 2010’an. Kurasi unit musik dalam proyek ini didasarkan pada keterwakilan komunitas serta keaktifan masing-masing unit musik pada keriaan di jam malam Ibu kota. Proyek ini akan berujung pada beragam output/produk. Produk yang dalam waktu dekat ini akan dirilis adalah album musik.

    Dalam perkembangannya, Pepaya Records berkolaborasi dengan Studiorama yang merupakan kolektif kesenian arus pinggir (sidestream) dengan landasan visi yang sama, yaitu menjadi jembatan bagi unit musik atau unit kesenian baru dan berkualitas untuk mendapatkan sorotan yang cukup dari masyarakat. Proyek Dentum Dansa Bawah Tanah juga melibatkan banyak kolektif independen lainnya, seperti Bluesville yang dikenal sebagai label fashion pria yang cutting-edge sekaligus terinspirasi oleh kebudayaan tradisional Indonesia

    Album kompilasi Dentum Dansa Bawah Tanah akan dirilis bertepatan dengan gelaran hari kaset sedunia (Cassete Store Day) Indonesia pada tanggal 8 Oktober 2016. Album tersebut rencananya akan dicetak secara terbatas dalam bentuk kaset. Sampul albumnya dikerjakan oleh kolaborasi Moses Sihombing (fotografer) dan Ratta Bill (desainer grafis). Album tersebut juga akan menyertakan digital download code serta liner notes yang ditulis oleh Merdi Simanjuntak (DJ, pengarsip musik, dan music director) dan Dipha Barus (DJ, produser, musisi grup Agrikulture). Adapun materi musik dalam album tersebut telah dipublikasikan teaser-nya melalui kanal instagram Studiorama dan Whiteboard Journal.

    Judul album kompilasi Dentum Dansa Bawah Tanah berasal dari artikel berjudul “Geliat Dentum Dansa Bawah Tanah” yang ditulis oleh salah satu eksponen Pepaya Records sebagai naskah retrospektif tahun 2014 untuk webzine Jakartabeat. Dalam artikel tersebut disoroti tentang pelebaran sensibilitas kancah musik independen Kota Jakarta; dimana animo pengunjung gig independen terhadap musik elektronik semakin meningkat. Di sisi lain, perkembangan musik bergenre punk, post punk, hardcore, psychedelic rock, indie rock, dan atau indie pop yang telah dirayakan dalam tingkat yang sangat memadai sejak awal 2000’an hingga mendapatkan apresiasi dari media arus Utama kini cenderung mengalami stagnansi. Apresiasi kepada musik elektronik bawah tanah (arus pinggir) tersebutlah yang hendak dirangkum dan dipublikasikan melalui album kompilasi ini.  Lebih jauh lagi, materi musik dalam kompilasi dipercaya dapat memberi angin segar di tengah kondisi populer (siaran televisi, radio, majalah, dan lain-lain) yang saat ini disuguhi seluk beluk electronic dance music arus utama tanpa henti.

    Terdapat 14 unit musik dalam kompilasi Dansa Dentum Bawah Tanah, sebagian besar merupakan DJ/Produser yang berkiprah di scene musik elektronik bawah tanah (underground) kota Jakarta. Unit-unit musik tersebut adalah: REI, Basement House, Harvy Abdurachman, Django, whoosah, Android 18, Duck Dive, Swarsaktya, Future Collective, Maverick & Moustapha Spliff, Sattle, Sunmantra, Baldi, dan John van der Mijl. Pepaya Records memandang keempatbelas unit musik tersebut memiliki potensi untuk merepresentasikan era baru musik elektronik bawah tanah yang relevan dengan situasi saat ini.

    Proyek mengumpulkan materi musik tersebut telah dimulai oleh Pepaya Records sejak akhir tahun 2015, sehingga sebagian besar lagu yang terkumpul adalah lagu-lagu yang direkam dalam kurun waktu 2 tahun belakangan. Beberapa unit musik khusus memproduksi lagu untuk disertakan dalam kompilasi Dentum Dansa Bawah Tanah, misalnya REI, Maverick & Moustapha Spliff, Future Collective, Django dan whoosah. Sisanya telah merekam lagu masing-masing namun belum pernah merilisnya, kecuali single “Silver Ray” milik Sunmantra yang telah dirilis oleh label Sinjitos Records pada tahun 2015, namun hanya dalam bentuk digital saja.

    Rencananya, proyek Dentum Dansa Bawah Tanah juga akan diselenggarakan dalam bentuk showcase, perilisan produk/output bentuk lain, dan penayangan video clip pada akhir tahun 2016 melalui kerjasama dengan entitas-entitas independen lainnya.

    Beberapa sutradara yang terlibat dalam pembuatan video clip lagu-lagu tersebut antara lain adalah Anggun Priambodo, Edwin (Babibuta Film), Adythia Utama, dan Dana Putra (Gundala Pictures).

     

     

     

  • Studiorama Returnal 2015 : Suguhan Vada Vada dari Duo The Garden

    Studiorama Returnal 2015 : Suguhan Vada Vada dari Duo The Garden

    Acara garapan Studiorama makin kesini terlihat makin menjanjikan seturut kinerja mereka. Berhasil kembali menyelenggarakan Studiorama Returnal mengajak duo garage punk asal California, The Garden, dengan dua penampil pembuka Low Pink dan Pijar. Dan memilih 365 Ecobar sebagai venue perhelatan malam itu (09/10/15).

    DSCF6674

    Busuknya arus lalu lintas selatan Jakarta di jumat malam sangat terlihat jelas di jalanan-jalanan besar hingga akses menuju venue tak bisa terhindarkan. Hasilnya saya hanya mendapat satu lagu terakhir dari Low Pink sebagai pembuka pertama. Band psychedelic pop yang sejak setahun terbentuk ini, memang beri nafas baru tapi belum dapat sorotan banyak. Sedikit ada unsur Unknown Mortal Orchestra era awal dalam musik mereka. Dilanjut Pijar band Indie Rock/Alternative Dance asal Jakarta yang mengingatkan kembali perkembangan musik pertengahan tahun 2000 di ranah Britania­­. Biasanya sering diulas NME. Ditambah lirik norak perihal muda belia dan berbahaya dalam bercinta merupakan bumbu utama.  Menjadi unik ketika sang vokalis terlihat maksa mau menonjolkan kesan ‘nakal’ tapi tidak secara total. Lantas hanya remah-remah ‘kegaringan’ yang didapat.

    DSCF6841

    Dua pria warga asing itu akhirnya memasuki pelataran panggung setelah Pijar menyudahi penampilannya. Baru check line saja, baris pertama penonton sudah dikerubuni gadis-gadis belia dengan teriakan histeris memanggil saudara kembar Wyatt Shears (vocal, bass) dan Fletcher Shears (drum). Maklum, Shears bersaudara ini memiliki wajah rupawan. Tak heran jika menjadi daya tarik para gadis dan pernah juga diajak Hedi Slimane sebagai model Saint Lauren di tahun 2013. ‘Crystal Clear’ menjadi lagu pembuka diambil dari track album terkini mereka “Haha”. Ya, kunjungan mereka ke Jakarta sekaligus mempromosikan album terakhirnya tersebut dibawah naungan Burger Records.  Komposisi bassline yang enerjik dengan pukulan-pukulan kompleks dan tidak memiliki batasan genre berhasil menciptakan mosh pit kecil-kecilan di tengah crowd. Mereka melabelkan sendiri musik mereka dengan sebutan ‘Vada Vada’. “Vada Vada: An idea that represents pure creative expression, that disregards all previously made genres and ideals.” ujar Wyatt Shears. Ada pula aksi Fletcher mengambil sejenak posisi vokal diiringi sampling DnB mengajak penonton berjingkrakan bersama. Nomor-nomor pamungkas dari album yang mentenarkan mereka, The Life And Times Of A Paperclip, tak luput dibawakan. Ditutup dengan ‘We Be Grindin’ sebagai lagu jitu menghabiskan stamina. Senyum puas dan keringat menjadi saksi jelas bahwa perhelatan malam itu sukses terlaksana. Kita pun masih menunggu kejutan-kejutan dari Studiorama selanjutnya dalam agenda  mereka.

    DSCF7740

    Photo by: Ezra Natalia