Category: festival

  • Review : Soundrenaline 2016 “Louder Than Never”

    Review : Soundrenaline 2016 “Louder Than Never”

    Memasuki episode keempat belas, kini Soundrenaline 2016 semakin banyak menyuguhkan kejutan-kejutan dari berbagai ranah kreatif. Dari musik, seni rupa, fashion, hingga film. Sebut saja salah satunya band Efek Rumah Kaca (ERK) yang didatangkan dengan formasi lengkap. Ya, mereka mengembalikan Cholil Mahmud yang sedang mengemban ilmu di Amerika Serikat ke posisinya di departmen vokal. Bisa dibilang  tahun ini banyak nama-nama baru  diberikan ruang berkreasi di festival bertaraf internasional seperti Soundrenaline. Tahun sekarang Sampoerna A Mild pun masih mempercayakan KILAU Indonesia sebagai promotornya. Mengambil tempat di Garuda Wisnu Kencana (GWK), Bali.  Diselengarakan pada tanggal 3-4 September mengusung tema besar “Louder Than Ever”. Banyak pula mengajak band-band rock berkualitas dari tanah air. Dengan didukung tiga panggung gigantis, daya sound maha dashyat, serta permainan tata lampu memanjakan mata. Berikut catatan langsung pengalaman kami selama di Soundrenaline 2016.

    Hari Pertama: Gempuran Musisi-Musisi Gelombang Baru Indonesia

    Mungkin, hal pertama kali saya merasa tertantang meliput event ini adalah sewaktu melihat daftar para penampil. Dimana setelah dilihat, lebih banyak didominasi oleh musisi gelombang baru. Juga banyaknya local heroes dari Bali yang diberi wadah beraksi di sini. Ini merupakan kesempatan yang langka menjadi saksi atas penampilan mereka. Bukan perihal panggung kecil atau besar, gigs kecil atau besar. Tapi saya diberi kesempatan melihat kemampuan mereka di depan ratusan mata penonton. Ataupun tekanan mental yang mereka rasakan, begitu pula yang saya rasakan, meningkat dari sebelumnya. Sesampai  di GWK, waktu setempat menunjukan jam empat sore, yang dimana seluruh stage akan bermain serentak. Menjajal panggung satu ke panggung lain menjadi agenda utama. Hingar bingar pun terdengar di A Stage yang dimana Morganostic, unit metal core yang berdomisili di Surabaya, sedang membredel habis telinga penonton. Mungkin juga menggetarkan dinding-dinding GWK. Beralih ke sebelah, ada Mom Called Killer salah satu local act asal Denpasar ini tampil sangar saat membawakan ‘Noisia’ di Louder Than Ever (LTE) Stage. Terdengar dari panggung lainnya, di bawah ratusan anak tangga sana ada salah satu band kebanggaan Pekanbaru yaitu Jimjack di Go A Head Stage. Genderang drum bertalu memacu semangat untuk headbang sesaat.

    Terik sinar matahari yang kurang ajar menganjurkan untuk meringsek masuk dan duduk santai ke Amphitheater Stage. Dilihat dari kejauhan ternyata band instrumental rock Bandung, Ellipsis sedang mengkooptasi panggung tersebut dengan formasi bertiga. Menurut informasi dari Aulia Ramadhan (gitar) bahwa formasi Ellipsis sekarang adalah dadakan untuk Soundrenaline 2016, dikarenakan salah satu additional player mereka berhalangan hadir. Dilanjut Poison Nova (Cirebon) yang  kental musik atmosferik khas Norwegian Black Metal. Ditengah aksinya, Arian 13 (vokalis Seringai) diundang naik keatas dan bersama-sama membawakan ‘Meir’ milik Kvelertak. Mau beranjak ke tempat lain lagi, apa daya kursi sudah memanjakan badan. Lagipula kami penasaran Zat Kimia, band alternative rock asal Bali yang sedang banyak direkomendasikan. Ekspetasi saya pun dipatahkan begitu saja ketika tiga lagu sudah dibawakan. Nyatanya musik nuansa 2000’an awal menyelimuti mereka. Tidak heran ketika dikulik lebih dalam, vokalisnya (Ian Joshua Stevenson) merupakan dari band Kaimsasikun. Jika kalian pernah dengar single mereka berjudul “Pria Dijajah Wanita” dia salah satunya.”Candu Baru” lagu yang menyinggung tentang perkembangan dunia maya pun masih nyangkut di kepala sampai sekarang. Sialan memang! Ku jadi candu.

    Ketika senja datang saya berniat menengok ke LTE Stage sebentar. Dari kejauhan komplotan grunge Bali bernama Navicula sedang membawakan “Mafia Hukum”. Sontak semua penonton menyanyikan bait demi bait dengan membara! Melihat rundown acara, nama Kimokal sepertinya menarik.  Duo trip hop yang dibantu dua personil tambahan itu sedang menghipnotis penonton. Dilanjut unit post-rock Under The Big Bright Yellow Sun (UTBBYS) mengambil alih panggung. Deruan nada-nada depresif yang dimainkan secara instrumental menjadi bumbu utamanya. Ini bukan kali pertama saya melihat aksi mereka. Hanya melihat perubahan pada posisi drum  mereka yang memang jempolan bukan main. Tak heran jika lagu terakhir mereka, ‘Threshold’, diberikan standing applause satu Ampitheater Stage.

    Sesudah itu, derap langkah saya percepat. Memang terdengar terburu-buru karena mengejar penampilan Isyana Sarasvati. Alhasil saya hanya mendapatkan remah-remah  dara jelita tersebut membawakan lagu-lagu hits dari Queen yang dimainkan secara medley dengan aransemen dia sendiri. Dilanjut The Upstairs memberi suguhan baru. Tampil begitu enerjik. Mungkin panggung yang nyentrik dikerjakan langsung oleh teman-teman Grafis Huru-Hara merupakan faktor penyemangatnya. Dengan bucket hat merah, Jimi Multhazam cs membawa tembang-tembang yang membalikan memorabilia masa SMA saya. Salah duanya ‘Modern Bob’ dan ‘Dansa Akhir Pekan’. Tenaga maksimal diberi habis-habisan diatas panggung. Sambil menyelipkan sediki celotehan khas Jimi  perihal penampil sebelumnya. Sewaktu ‘Matraman’ dipilih sebagai lagu pamungkas, terlihat dua seniman (Farid Stevy dan Ican Harem) memecah kemonotonan baris depan dengan melakukan crowd surfing. Berikutnya ada Soundrenaline Project. Sebuah kolaborasi musik gubahan Nikita Dompas yang dipilih sebagai music director khusus proyek ini. Dimana Nikita banyak mengaransemen ulang lagu-lagu pilihannya dan dinyanyikan secara bergantian oleh Kikan Namara, Marcello Tihatoe, Andy /rif, Kallula (Kimokal), dan Ratih Suryahutamy (Neonomora). Seperti ‘Dahulu’ dari The Groove sampai ‘Sendu Melagu’ kepunyaan Barasuara. Berpindah ke Ampitheater Stage terlihat massa sudah mengerubungi di baris pertama saat Goodnight Electric bermain. Spesialnya panggung ini adalah tidak ada batasan antara penonton dan penampil. Ketika penonton sudah tidak terkontrol, banyak orang yang naik ke pelataran panggung. Penjaga pun sudah kewalahan menertibkan. Menggila! Tak heran jika banyak melihat pemandangan musisi lain, seperti Farri Icksan dari The SIGIT, ikut bersenang-senang bersama. “Kayak acara sendiri nih!” ujar Felix Dass diantara kerumunan orang. ‘Am I Robot’ pun menandakan perjumpaan itu berakhir.

    Walau banyak melewatkan aksi dari nama-nama besar seperti NTRL, J-Rocks, hingga Simple Plan. Tidak menyurutkan rasa penasaran  terhadap kejutan apalagi yang saya dapatkan besoknya.

    erk

     

    Hari Kedua: Kembali ke Zona 2000an

    Matahari masih terlihat menyombongkan sinarnya di hari kedua Soundrenaline 2016. Masih dengan jam dan tempat yang sama di Garuda Wisnu Kencana. Tapi semua itu tidak membuat unit psychedelic-rock asal Bali ini menurunkan tensinya. Malah sebaliknya, Rollfast membakar semangat para penonton yang sudah sedari tadi menunggu penampilannya. Pria-pria gondrong ini didaulat menjadi pembuka di A Stage. Bagaimana tidak ‘membakar’ melihatnya? Keliaran Arya Triandana sang pembetot bass, gebukan drum menggebu-gebu Ayrton Maurits Willem, hingga aksi banting gitar dari Bayu Krisna tidak luput dari pandangan saya. Di sisi kanan Gungwah Brahmantia terlihat kalem seperti biasanya, dengan komando di tangan Agha Praditya. Meluncur ke bawah, Go A Head Stage, ternyata komplotan rock-ngebut asal ibukota bernama Piston ini sudah siap menggilas telinga pendengar. Nomor-nomor seperti “Hakim Tak Berpalu”, “Kembali Ke Titik Nol” tidak lewat mereka bawakan. Balik ke atas, Kelompok Penerbang Roket mengambil posisi masing-masing. Sontak baris depan dibuat tumpah ruah tak beraturan dengan mini-circle pit. Setelah kuping digerus habis-habisan dengan musik keras, beralih ke Amphitheater Stage melihat reunian singkat dari Base Jam. Banyak tembang-tembang 90an yang mereka bawakan. Tak heran banyak yang berkaraoke ria di sana. Sehabis itu The Adams tampil membalikan memori saya kembali ke masa kejayaan Aksara Records. Dibantu oleh Pandu Fuzztoni (Morfem, The Porno) dan Tercitra Winitya (L’alphalpha).

    Keharuan tercipta saat Adrian Yunan membuka panggung Efek Rumah Kaca dengan “Sebelah Mata” berlatarkan warna haru biru. Memecah pertanyaan keberadaanya di panggung, Cholil Mahmud pun masuk di lagu berikutnya diikuti sang istri tercinta Irma Hidayana. Paduan suara massal pun terjadi ketika “Pasar Bisa Diciptakan” berkumandang. Ketika banyak yang request “Di Udara”,  Cholil pun bercanda “Jangan lagu itulah, itu lagu politik nanti kalian terprovokasi. Mendingan kita menyanyikan lagu tentang alam. Semoga alamnya Bali semakin bagus. Semakin cantik. Oke, inilah ‘Di Udara’”. Memang sedikit menyerempet isu Reklamasi Teluk Benoa yang sedang banyak diperbincangkan tapi dengan cara ‘mulus’. Elephant Kind menjadi nama menarik untuk dilihat selanjutnya. Dengan formasi terkininya, melantunkan “Oh Well” yang membuat satu area Amphitheater Stage berdansa mengikuti beat drum. Di LTE Stage, terdapat /rif berkostumkan a la musisi-musisi glam rock. Tentu masih dengan lagu-lagu andalannya. Menjadi nilai plus adalah penampilan selanjutnya, terdapat Lolot, grup rock cita rasa Pulau Dewata. Lirik-lirik mereka menggunakan asli Bali. Mungkin banyak yang kurang paham, tapi mereka berempat memang sudah menjadi bintang rock ditempatnya. Barasuara mengambil tongkat estafet panggung itu. Aksi mereka memang selalu ditunggu-tunggu khalayak luas. Begitu pun malam itu, mereka menumpahkan totalitas tanpa batas di tiap-tiap lagunya. Serigala Militia pun mempersiapkan taringnya sehabis Iga Massardi cs menyudahkan penampilan. Walau tidak semasif seperti panggung-panggung sebelumnya, circle pit pun tetap terlaksana saat Seringai membawakan “Akselerasi Maksimum”. Di tengah-tengah daftar lagunya, “Program Party Seringai” menampilkan visual dari seniman video ternama, Fluxcup. Seruan “Individu, Individu Merdeka!” dari penonton mengawali raungan gitar “Mengadili Persepsi”. Ditutup dengan kepalan meninju ke udara saat “Dilarang Di Bandung” dibawakan.

    Melewatkan The Temper Trap bukan perkara besar untuk disayangkan. Bloc Party merupakan salah satu nama yang sengaja didatangkan ke Soundrenaline 2016 berdasarkan masifnya permintaan di goaheadpeople.com. Paska hiatus dua tahun, ditambah ditinggal Matt Tong bersama Gordon Moakes, tidak membuat Kele Okereke putus asa. Bersama formasi baru, salah satu band indie-rock kebanggaan Inggris ini banyak mempromosikan materi-materi dari album kelima mereka, Hymns. “Banquet”, “Octopus”, “Helicopter” sampai “Ratchet” memuaskan saya untuk bernyanyi bersama. Diselingi pemandangan gebyar kembang api dari panggung sebelah. “This Modern Love” dipilih menjadi penutup penampilannya. Keriuhan itu pun selesai di hari kedua. Dan sekali lagi Soundrenaline 2016 berhasil membuktikan dirinya sebagai festival musik terbesar di Indonesia. Bukan hanya sekedar menyelenggarakan festival musik yang layak, tapi juga membuka ruang untuk musisi-musisi baru yang perlu banyak disorot ataupun diwadahi bagi penikmat musik luas.

  • St. Jerome’s Laneway Festival Singapore : Masih Menjadi Festival Musik ‘Gacoan’ Asia Tenggara

    St. Jerome’s Laneway Festival Singapore : Masih Menjadi Festival Musik ‘Gacoan’ Asia Tenggara

    Terlepas dari konser-konser yang membludak di awal tahun, festival musik menjadi sebuah keharusan masuk bucket list kalian. Ini untuk mereka yang haus menyaksikan berbagai macam band dalam satu acara.Kita pun akhir Januari kemarin akhirnya diberi kesempatan kembali meliput festival reguler tiap tahun St. Jerome’s Laneway Festival di Singapore. Lokasinya pun tidak berubah, sama seperti tahun kemarin yang mengambil tempat di tanah lapang hamparan dedaunan The Meadow, Garden By The Bay. Dan siang terik itu tim Deathrockstar menjadi saksi antusiasme penonton yang sangat mengapresiasi para penampil di keempat stage tersebut.

    Crowd-1

    Setelah Tobias Jesso Jr menyatakan gagal bergabung di Laneway Festival Singapore 2016, lalu mengganti posisinya dengan The 1975, DIIV juga mengumumkan kebatalannya lima jam sebelum acara berlangsung. Sebelum pernyataan resmi keluar, kabar ini memang sudah tersiar terlebih dahulu di kalangan tertentu yang tadinya kita anggap sebagai ‘kabar miring’ saja. Maklum band shoegaze gacoan Captured Track ini memang salah satu nama paling ditunggu. Tapi toh kekecewaan tidak berangsur lama dan terbayar tuntas dengan jajaran nama lainnya.

    Crowd-2

    Dua panggung maha megah langsung menyambut kedatangan para penonton. Riot !n Magenta (Singapore) didaulat sebagai penampil pembuka lalu dilanjut Cheat (Filipina) menghentak Garden Stage. Benar kata kerabat saya soal musik gelombang baru di Asia Tenggara yang sedang bergairah-gairahnya, terbukti di kedua band pertama tersebut. Menengok ke Bay Stage, Violent Soho dibawah arahan James Tidswell (gitar/vokal) sudah bersiap menggilas telinga! Pilihan lagu pemacu moshing pun dibawakan dari “Covered In Chrome, “Dope Calypso”, hingga“Like Soda”. Gerombolan muda asal negeri kangguru itu pun berhasil mencairkan suasana dengan amunisi yang ada. Dan entah mengapa band ini mengingatkan Box Car Racer tanpa Travis Barker.

    thundercat-drs-2

    Pergantian band pun masih berlanjut. Panasnya sinar matahari yang menghisap ubun-ubun masih menolak menurunkan suhunya. Namun Thundercat menyulap suasana, meminjam perkataan orang disamping saya, menjadi ‘chill’ sewaktu Stephen Bruner bersama kedua additional player-nya. Permainan jazz fusion menjadi bumbu utama sepanjang  penampilan. Adapula perwakilan paguyuban Odd Future (R.I.P) yaitu The Internet menjadi pengisi selanjutnya. Memilih “Get Away” sebagai pemantik euforia yang ampuh mendompleng goyang bahu semi-pelan. Berganti sesuai rundown, band lokal bernama Cashew Chemists mendapat apresiasi meriah untuk mereka yang pertama kali melihat pertunjukannya. Sesudah itu kami pun akhirnya bertolak ke Cloud Stage. Dari kejauhan kami sudah dijamu suara indah dari Shamir. Menjadi pengalaman yang memorable kalau kita menemukan band unik dan perdana menyasikannya di suatu acara. Ini bisa menjadi bahan obrolan sepulang nanti lalu mengulik internet nama band tersebut sesampainya dirumah. Persekutuan DJ yang menamakan diri mereka Syndicate juga masih mengalun di White Room diiringi tatanan visual memanjakan mata. Kembali ke Garden Stage, Battles berhasil membuat decap kagum atas permainan mahirnya. Terutama sang drummer,  John Stanier, yang harus memukul cymbal dengan tinggi yang tidak wajar dengan ketukan-ketukan janggal. Tapi, di tiga lagu awal pertunjukan kita dibuat kurang nyaman karena kesalahan teknis yang mengharuskan gitar Ian Williams tanpa suara. Berkat kru yang sigap permasalahan tersebut dipungkas tuntas. Kita pun masih bisa mendengar “The Yabba” dan materi-materi album perdananya, Mirrored.

    METZ-drs-1

    Sedari Intriguant menyelesaikan set-nya, tim kami sudah mengambil posisi menunggu METZ di Cloud Stage. Sebuah prioritas yang berani merelakan The 1975 yang terdengar enerjik berbalut teriakan remaja putri. Tapi penantian kita tidak sia-sia. Raungan gitar yang noisy nan self-destructive menggempur tanpa ampun! Badan bertubrukan saat “Wasted”, “Eraser” hingga single terbarunya “Acetate” dibawakan. Pria-wanita, tua-muda, apapun itu jenisnya bercampur keringat di mosh-pit. Sayangnya crowd surfing sebagai tindakan yang tidak dibolehkan disini. Tapi persetanlah! Kita pun sudah puas oleh suguhan band noise rock asal Ottawa ini. Tidur-tiduran dirumput sambil ditemani deretan lagu yang dimainkan Beach House pilihan tepat setelah ‘berolah raga’ sebelumnya. Toh malam sudah memanggil dan langitnya sudah bersahabat dalam gelap.

    chvrces-drs-2

    Penampilan Claire Boucher a.k.a Grimes dibuka oleh salah satu penari latarnya dengan setting panggung yang sangat konseptual. Kali ini dia banyak membawakan nomor dari album terbarunya, Art Angels, yang sangat upbeat daripada album sebelumya. Dia sedikit membuka memori ketika pembuatan video klip ‘Realiti’ mengambil tempat shooting di Garden Bay sesudah lagu tersebut dimainkan. Claire pun berkolaborasi bersama Aristophanes, rapper asal Taiwan, saat “Scream” dikumandangkan. Seolah tidak mau menurunkan tensinya, giliran Chvrces mengambil alih tongkat estafetnya dengan hujan synth-pop mengguyur kuping kita. Lauren Mayberry itu menjadi fokus utama visual para lelaki dengan melihat dia loncat kesana-kemari penuh semangat. Walaupun ini kali keduanya mereka menjejaki panggung Laneway Festival di Singapore, porsi album The Bones of What You Believe dengan Every Open Eye dibagi rata. Ditambah gemerlap lampu titantron gigantis menjadi nilai plus. Purity Ring dan Flume menjadi pilihan yang sulit untuk mengakhiri hari ini. Tapi apa daya langkah kaki mengarah ke duo trip hop tersebut. Stamina pun sudah 30% menyaksikan mereka sambil bertanya ke teman disamping “Kira-kira line up Laneway Festival Singapore tahun depan siapa aja ya?”. Karena mereka kembali menunjukan kesuksesan setiap tahunnya dengan deretan band yang patut ditanyakan dan tentunya masih menjadi festival musik gacoan di Asia Tenggara.

    thundercat-drs-3

    the-internet-drs-3

    the-internet-drs-4

    cashew-chemist-drs-6

    battles-drs-2

    battles-drs-1

    intigruant-drs

    METZ-drs-2

    grimes-drs-1

    grimes-drs-2

    grimes-drs-3

    chvrces-drs-1

    Teks + Foto : Robby Wahyudi Onggo (@robonggo)

  • FUN FEST 2016 : In Conjuction with ‘Lanes Is Oil, Dream Is Pry’ Tour

    FUN FEST 2016 : In Conjuction with ‘Lanes Is Oil, Dream Is Pry’ Tour

    FUN FEST 2016 merupakan gelaran mikro festival senang-senang yang perdana diadakan dibawah garapan Yulio dan Emma untuk mendukung rangkaian tur band rock dari Bali, Rollfast di Jakarta. Dan selain ibukota, mereka akan menyambangi Bandung yang masuk dalam promosi album pertamanya ‘Lanes Oil, Dream Is Pry’.

    Adapun nantinya FUN FEST 2016 akan digelar di Borneo Beerhouse yang berlokasi di Ruko Belle Point, Kemang pada hari Jum’at, 22 Januari 2015 hanya mengocek Rp 75.000 untuk minuman pembuka. Mengajak beberapa kerabat yang sudah tidak asing namanya seperti Kelompok Penerbang Roket, Piston, Crayola Eyes, dan KIEF.

     

  • Catatan Kecil RRRec Fest in The Valley 2015

    Catatan Kecil RRRec Fest in The Valley 2015

    Memang telat rasanya saya melaporkan RRRec fest in The Valley 2015 yang baru saya tulis sekarang, karena acara yang berlangsung tiga hari dua malam ini telah lewat seminggu kemarin. Tetapi ada baiknya kalian membaca catatan kecil dari pengalaman saya yang didapatkan selama disana. Kembali diadakan di Tanakita Camping Ground, Sukabumi dengan berbagai suguhan menarik yang bukan hanya dari program musiknya saja. Workshop, diskusi, residensi seniman, screening film hingga program anak bagi mereka yang membawa ‘buah hati’ di tanah perkemahan, disediakan hasil inisiasi kolaborasi The Secret Agents (Indra Ameng dan Keke Tumbuan) bersama Pasangan Baru (Nastasha Abigail dan Dimas Ario). Selama tiga hari itu saya bertemu pelaku/penggiat industri kreatif dari berbagai kota dan negara, serasa festival ini bukan sekedar ajang musik tahunan tapi juga menjadi wadah tukar ide, berbagi ilmu untuk mereka yang ingin terjun langsung di bidang ini sambil menyaksikan musisi-musisi bertalenta. Terbagi tiga tempat sebagai titik temu acara yang sedang berlangsung yang jarak dan medannya lumayan untuk mengencangkan betis kaki kalian.

    IMG-20150925-WA0061

    Photo : John Navid

    Hari pertama dibuka oleh workshop “Kiat Membuat Festival” yang berhasil memberangkatkan delapan peserta yang telah lolos seleksi ke Tanakita untuk menambah pengetahuan di bidang teknik manajemen dalam mengerjakan festival/acara musik. Serta selama disana mereka juga bisa observasi secara langsung, dipandu oleh tiga pemateri Indra Ameng (Jkt), Anitha Silvia (Sby), dan Indra Menus (Yk) yang memang handal memprakarsai acara musik independen di kotanya masing-masing. Sehabis ba’da maghrib, di Rumamerah dibuka pameran hasil residensi seniman kerjasama Lifepatch (sebuah organisasi dari Yogyakarta yang fokus bereksperimen teknologi dengan alam), Rofi dan Hasrul yang melibatkan warga sekitar Tanakita. Mereka mengembangkan teknologi, sumber daya alam dan manusia. Terbukti hasilnya berupa smoothies mangga dan beberapa instalasi dengan material dari hutan.

    #RRRinTheValley hasil dari residensi seniman lifepatch, Muhammad Fatchurofi, dan Moch. Hasrul Indrabakti

    A video posted by RRRec Fest (@rrrec_fest) on

    Berpindah ke Panggung Petromak yang malam itu dilingkupi suasana sendu sesaat, Bin Idris (nama panggung dari proyek solo vokalis Sigmun, Haikal Azizi) menjamu telinga kalian dengan permainan gitar yang syahdu dan ganas campur aduk dalam selimut eksperimental di aransemen tiap lagunya. Tak lupa, ia juga membawakan lagu-lagu andalannya seperti “Rebahan”. Dilanjut duo avant-pop asal Jepang, Tenniscoats, yang meng-cover lagu “Doa Ibu” milik Titiek Puspa. Terlihat vokalis yang gugup karena berusaha belajar instan bahasa Indonesia. Tapi, hal itu disambut positif oleh penonton. Bahkan Saya (vokal), akhirnya turun dan berinteraksi secara dekat sambil mengelilingi mereka. Beranjak ke Gang Senggol, disana sudah ada dj sniff (JPN) bereksperimentasi lewat musik chillwave/down-tempo seakan menjaga tensi sehabis panggung sebelumnya. Namun hal itu tidak berangsur lama ketika W Music DJ Set (Jkt) mengambil alih turntable beramunisikan rentetan lagu obsecure dari berbagai belahan negara mengajak badan berjoget sana-sini mengikuti beat yang ada. Keliaran di Gang Senggol itu terhenti hingga subuh tiba. IMG-20150925-WA0077

    Photo : John Navid

    Karena tadi malam istirahat terlalu larut, akhirnya saya melewatkan kegiatan Senam Kesegaran Jasmani bersama RURU Radio dan langsung mengikuti diskusi “Toleransi, Masih Perlu Nggak Sih?” diisi oleh pembicara M. Nuzul Wibawa dan Mirwan Andan dimoderatori oleh Irma Hidayana. Membahas gejala-gejala lunturnya semangat dan sikap toleran dari ruang publik. Cara merespon, mendorong orang lebih toleran, dan apa akibatnya kalau toleransi dibiarkan mati? Dan penanggapnya dua seniman, Amenkcoy (Bdg) dan Popo (Bks) yang dimana karya mereka berdua terdapat unsur toleransi terhadap sesama. Dibahas secara mendetail di diskusi ini. Diskusi tersebut dibarengi kegiatan anak bersama RuRu Kids dengan SEKALA berwisata alam menyusuri sekitaran Tanakita.  Tak kalah menarik di diskusi kedua, jaringan musik Asia Tenggara bersama Takuro Mizuta Lippit a.k.a dj sniff (JPN), Kok Siew-Wai (MYS), Ardy Chambers (Mks), dan David Karto (Jkt) dengan moderator Felix Dass (Jkt) melihat persamaan dan perbedaan di antara festival dan kancah musik di Asia berdasarkan konteks dengan situasi di wilayahnya masing-masing. IMG-20150926-WA0018

    Photo : John Navid

    Oia, saya lupa bilang yang menjadi menarik festival tahun ini berkesempatan mengajak, dan ajang reuni, komplotan berbahaya Ensemble ASIA. Salah duanya Bin Idris dan dj sniff (selaku co-director) yang sudah bermain di hari sebelumnya. Lainnya, seperti Kok Siew-Wai terkenal sebagai vokalis improvisasi yang mengekplorasi bunyi-bunyian tersembunyi atau tak dikenal dalam suara manusia. Dan membawakan dalam berbagai cara berbeda di panggung Lembah di hari kedua. Sehabis itu Yui-Saowakhon Muangkruan (THA) celloist yang gaya permainannya sangat ekspresif. Menurutnya gayanya adalah respon atas lingkungan social disekitar dia. “Salah satu energi baru Indie-Rock Ibukota” begitulah deskripsi yang booklet sampaikan untuk Polka Wars. Formasi live mereka cukup solid sore itu. Materi-materi di album Axis Mundi bersinerji di alam terbuka. Setelah itu disambut Jogja Noise Bombing membisingkan seluruh lembah. Bermain secara bergilir Hendra Adytiawan – Indra Menus – Andreas Siagian – Mindblastworks saling unjuk kebolehan masing-masing.  Balik ke panggung besar, Efek Rumah Kaca sudah bersiap sepertinya. Banyak yang mengambil tempat duduk lebih dekat panggung untuk melihatnya. Terlihat anak dari Cholil Mahmud (vokal/gitar) setia mendampingi sang ayah di atas panggung hingga selesai. Mengulang momen di Pasar Bisa Dikonserkan (konser tunggal mereka yang digelar di Bandung) ERK kembali mengajak Bin Idris di “Debu-Debu Berterbangan”. Dan menutupnya dengan “Desember” seakan mereka tahu cuaca Tanakita saat itu gloomy namun lebih bersahabat. Gelap pun tiba, panggung di area lembah pun dari kejauhan seperti sebuah mata menyala layaknya mata Sauron di film Lord of The Ring. Kita menyaksikan dia atau dia menyaksikan kita? Salah satu desain panggung terbaik yang pernah saya lihat. “Ini lama-lama jadi Bin Idris Fest nih” ujar Haikal Azizi/Bin Idris ke saya sebelum mempersiapkan diri dengan Sigmun. Unit psychedelic-blues berat yang dalam waktu dekat ini merilis album penuh berjudul Crimson Eyes. Lagi-lagi tampil memukau di hadapan penonton. Pun mencoba memperkenalkan single terbaru “Ozymandias” yang lumayan catchy. “The Long Haul” menjadi lagu pamungkas bergemuruh seisi Tanakita. IMG_20150926_185857 Pemandangan, trio folk slebor asal Bandung menghangatkan kembali panggung Petromak. Walaupun seringkali bermain salah tidak mengurangi apresiasi penonton baris depan, malahan di lagu “Bocah Pikun” ada yang melakukan joget shuffle. Jauh-jauh dari Surabaya, Silampukau bercerita lewat lirik yang realis penuh kenangan bentuk curahan hati kedua personilnya. Hal timpang pun terjadi saat Silampukau menyudahi curhatannya. Yang tadi dibuat sendu oleh kedua penampil sebelumnya, saat Orkes Madun Pengantar Minum Racun (OM PMR) naik keatas panggung dibuat berantakan seadanya oleh mereka. Diluar memiliki lirik-lirik jenius, kemampuan kelompok dangdut legendaris ini juga mengacak-ngacak lirik lagu band lain lebih jenaka. Belum lagi tingkah mereka yang konyol. Bahkan lagu paling terkenalnya, “Judul-Judulan”, dimainkan dua kali sebagai lagu penutup karena merasa kurang puas. Berpindah ke Gang Senggol, dimana oomleoberkaraoke sudah siap dengan proyektor raksasanya. Tembang era apapun disediakan oomleo tergantung pesanan sambil bergantian ke M.M.S (Mar, Mela, dan Sari) memutar koleksi piringan hitam yang mereka miliki hingga subuh pun tiba kembali.

    Bincang minggu pagi dimulai dengan pembahasan “Perubahan Iklim dan Gaya Hidup” bersama Kurniawan Sabar selaku Manager Kampanye WALHI, komikus terkenal Azer, dan Andreas Siagian (founder dari lifepatch) berbicara tentang dampak perubahan iklim, krisis lingkingan hidup, dan bagaimana solusinya bersama organisasi lingkungan hidup seperti WALHI bersama moderator Saleh Husein. Sehabis itu dilanjutkan “Lirik-Lirikan” sebuah diskusi mendalami lirik sebagai identitas musisinya. Adapun pembicaranya kelas berat semua, Cholil Mahmud (Efek Rumah Kaca), Jimi Multhazam (The Upstairs, Morfem, Bequiet), Harlan Boer (C’mon Lenon) dimoderatori Keke Tumbuan. Jimbot musisi multi-instrumentalis yang mengeksperimentasi musik budaya Pasundan diberi singasana ditengah panggung utama (Panggung Lembah). Tapi, ternyata dia tidak sendiri, sebagai salah satu anggota komplotan Ensemble Asia memadukan kebolehan masing-masing. Menjadi pertunjukan berkesan buat saya pribadi. Musik yang mereka suguhkan susah dipahami namun hanya bisa dirasakan. Berlebihan? Kalian bisa mencobanya kalau berkesempatan menyaksikan mereka. Stars and Rabbit didaulat menjadi penutup RRRec Fest in The Valley 2015. Musik mereka representatif menggambarkan aura Tanakita hari itu. Sungkan rasanya mau beranjak dari rerumputan ini dan bergegas mempersiapkan barang untuk mengingat bahwa esok realita memanggil serta mengakhiri catatan kecil ini.

     

  • Soundrenaline 2015, hari ke-2

    Soundrenaline 2015, hari ke-2

    Soundrenaline hari kedua, seperti diambil dari kamera milik Anugerah Suseno. 🙂

    Lala Karmela
    Lala Karmela
    Lala Karmela
    Lala Karmela
    Masih Lala Karmela
    Masih Lala Karmela
    Ini juga Lala Karmela
    Ini juga Lala Karmela
    Kalau ini Rico Mocca
    Kalau ini Rico Mocca
    Ini Arina Mocca
    Ini Arina Mocca
    Kalau ini Arina lagi main flute.
    Kalau ini Arina lagi main flute.
    Ini Toma namanya.
    Ini Toma namanya.
    Ini DJ
    Ini DJ
    Kalau ini DJ Selfie
    Kalau ini DJ Selfie
    Ricky dari WSATCC
    Ricky dari WSATCC
    Sari Sartje
    Sari Sartje
    Rio yang Farabi
    Rio yang Farabi
    Mela
    Mela
    ini kayaknya Maliq and D'essentials
    ini kayaknya Maliq and D’essentials
    Ga tau deh lagi nunjuk apa, mungkin masa depan yang cerah.
    Ga tau deh lagi nunjuk apa, mungkin masa depan yang cerah.
    Kata Tulus, iya kayaknya bener demikian.
    Kata Tulus, iya kayaknya bener demikian.
    Afeksi sesama musisi. Nidji kalau ga salah.
    Afeksi sesama musisi. Nidji kalau ga salah.
    Penyanyi muda berbakat
    Penyanyi muda berbakat
    Yang juga penari muda berbakat
    Yang juga penari muda berbakat
    Ya gitu deh,  Kata Candil
    Ya gitu deh,
    Kata Candil
    Biar asoi, begini bro gayanya.
    Biar asoi, begini bro gayanya.
    Lu semua kalah asoi, gue bisa angkat kaki satu.
    Lu semua kalah asoi, gue bisa angkat kaki satu.
    Ya keleus, lu Kung Fu apa nyanyi deh.  Kata Bimbim Slank
    Ya keleus, lu Kung Fu apa nyanyi deh.
    Kata Bimbim Slank
    Wolfmother
    Wolfmother
    daghhh,
    daghhh,