Category: events

  • FUN FEST 2016 : In Conjuction with ‘Lanes Is Oil, Dream Is Pry’ Tour

    FUN FEST 2016 : In Conjuction with ‘Lanes Is Oil, Dream Is Pry’ Tour

    FUN FEST 2016 merupakan gelaran mikro festival senang-senang yang perdana diadakan dibawah garapan Yulio dan Emma untuk mendukung rangkaian tur band rock dari Bali, Rollfast di Jakarta. Dan selain ibukota, mereka akan menyambangi Bandung yang masuk dalam promosi album pertamanya ‘Lanes Oil, Dream Is Pry’.

    Adapun nantinya FUN FEST 2016 akan digelar di Borneo Beerhouse yang berlokasi di Ruko Belle Point, Kemang pada hari Jum’at, 22 Januari 2015 hanya mengocek Rp 75.000 untuk minuman pembuka. Mengajak beberapa kerabat yang sudah tidak asing namanya seperti Kelompok Penerbang Roket, Piston, Crayola Eyes, dan KIEF.

     

  • Review : Neon Indian Live In Jakarta

    Review : Neon Indian Live In Jakarta

    “Menurut lu, di Amerika acara atau konser outdoor percaya pawang hujan gak ya?” tanya teman saya sewaktu hujan besar mengguyur daerah Ampera lalu berhenti seketika sebelum konser Neon Indian mulai. Memang cukup bingung menanggapi fenomena percaya atau nggak percaya pawang hujan, tapi yang saya yakin memang malam itu 24/11/15 alam mendukung acara yang digelar Prasvana di Rolling Stone Café.

    IMG_4168

    Ketika tim kami tiba, Future Collective sedang beraksi dengan formasi tambahan dari Wing Narrada (MVRCK) dan Binsar (Marsh Kids) menciptakan komposisi-komposisi megah. Sound futuristic retroism mendominasi permainan hasil olahan Tida Wilson bersama Sawi Lieu. Ya, mereka berdua adalah otak kiri dan kanan dalam grup ini. Suasana seolah sejenak berubah menjadi masa depan saat “South Subversive Rhythm” dibawakan. Materi-materi baru pun ikut dimainkan yang konon akan segera rilis dalam bentuk album kedua nantinya – album pertama mereka “Ensemble Instrumental de Contemporaine” sudah ludes terjual. Secara keseluruhan, Future Collective memukau penonton walaupun suara yang keluar dari amplifire kurang maksimal.

    neon indian drs

    Giliran Alan Palomo cs mengkooptasi panggung, membelakangi backdrop raksasa dengan desain nyentrik besutan  Kendra Ahimsa. Neon Indian pertama kali namanya dikenal semenjak masuk ke ranah chillwave lewat album ‘Psychic Chasms’ dan ‘Era Extraña’, tapi karena konser ini masih dalam rangkaian promo album terbarunya, VEGA INTL. Night School, pria berpenampilan flamboyan itu menyulap Rolling Stone Café menjadi arena disco 80an bernuansa tropikal. Dia pun memberi bocoran saat membawakan “Slumlord” buat kalian yang mempunyai pertanyaan, siapa orang yang dibalik helm merah pada video klip lagu tersebut? Yaitu adiknya sendiri, Jorge Palomo, pembetot bass Neon Indian. “Polish Girl” dan “News from the Sun” dibayar lunas menjadi dua tembang encore sebagai penutup. Kepuasan penonton tidak berhenti sampai disitu, Alan beserta personil lainnya membuka dengan senang hati untuk sesi foto bersama  fansnya.

    Photo by: Bramaditya Dimas Andika

     

     

  • HURUHARA Vol 1: Menampilkan grup rock and roll Kelompok Penerbang Roket dan unit punk rock ugal-ugalan asal Jakarta, Black Teeth.

    HURUHARA Vol 1: Menampilkan grup rock and roll Kelompok Penerbang Roket dan unit punk rock ugal-ugalan asal Jakarta, Black Teeth.

    Label rekaman independen asal Jakarta Berita Angkasa Records, merencanakan menggelar showcase pada 10 Desember mendatang di Camden Bar, Cikini, Jakarta. Bertajuk Huruhara Vol. 1, edisi perdana showcase yang didukung oleh Quiksilver tersebut akan menampilkan grup rock and roll roster mereka, Kelompok Penerbang Roket, dan unit punk rock ugal-ugalan asal Jakarta, Black Teeth.

    Huruhara rencananya akan diselenggarakan oleh Berita Angkasa Records secara berkala dengan mengundang satu band berdistorsi tinggi setiap edisinya untuk menemani Kelompok Penerbang Roket. Kedua band tersebut nantinya akan bertukar lagu untuk dibawakan ulang dengan gaya yang dimiliki setiap band.

    Rizma Arizky selaku pendiri Berita Angkasa Records menceritakan: “Ide awalnya diselenggarakannya ‘Huruhara’ adalah menjadi suatu medium Kelompok Penerbang Roket untuk memperluas jangkauan karya mereka, bertemu dengan pendengar, dan musisi-musisi hebat lainnya.”

    Kelompok Penerbang Roket yang diisi oleh Rey Marshall (gitar/vokal), I Gusti Viki Vikranta (drum/vokal), dan John Paul Patton (bass/vokal) mengungkapkan bahwa Huruhara Vol. 1 akan menjadi sejarah karena untuk pertama kalinya lagu mereka dibawakan ulang oleh band independen lain. Showcase tersebut juga menandai untuk pertama kalinya band yang sudah merilis dua album penuh–Teriakan Bocah dan album penghormatan untuk Panbers, Haai–membawakan lagu milik band lain yang mereka segani

    “Black Teeth itu band ‘nggak jelas’, tapi mereka punya attitude! Jarang band rock sekarang punya attitude,” kelakar singkat Rey.

    Sedangkan Black Teeth yang diperkuat oleh vokalis Satriyo, gitaris Coki Bollemeyer, bassist Jerry Killmore dan drummer Eno Gitara mengaku sudah tidak sabar untuk tampil di Huruhara Vol. 1 dan berbagi “kerusuhan” dengan Kelompok Penerbang Roket. Band yang sudah merilis album debutnya pada 2014 lalu ini juga sudah mempersiapkan hal spesial untuk Huruhara Vol. 1.

    “Kami di ‘Huruhara’ bakal cover satu lagu dari Kelompok Penerbang Roket. Terus rencananya Black Teeth juga bakal bawain materi baru untuk pertama kalinya. Eh nggak deng, Ini bakal jadi gig terakhir Black Teeth. Eh materi baru atau gig terakhir ya? Hmmm… Penasaran? Makanya datang biar nggak nyesel!,” seloroh Satriyo.

    Huruhara Vol. 1 rencananya juga menjadi ajang pemutaran film skateboard milik DC Shoes yang bertajuk De La Calle/Da Rua. Selain membahas talena-talena skater asal Amerika Latin yang sering terlewatkan, film tersebut juga menampilkan skateboarder ternama DC Shoes seperti Wes Kremer, Evan Smith, dan Felipe Gustavo.

    Lawless YouTube Squad yang terdiri dari dynamic duo Arian13 dan Sammy juga bakal turut meramaikan dan menghidupkan lantai dansa Huruhara Vol. 1. Untuk menghadiri dan menikmati showcase ini, calon penonton tidak diwajibkan untuk membayar biaya tiket masuk alias gratis.

    [POSTER] Huruhara Vol.1

  • Sigmun Menggelar Showcase ‘In The Wake of the Crimson Eyes’

    Sigmun Menggelar Showcase ‘In The Wake of the Crimson Eyes’

    Akhirnya setelah digantung selama empat tahun, diiming-imingi janji palsu yang kerap diulang setiap tahunnya, Sigmun memberikan bukti penantian panjang dengan melepas debut album penuhnya pada 15 November lalu. Seribu keping tersebar begitu saja di seluruh daerah-daerah Indonesia. Sempat beberapa hari setelah album itu rilis, seluruh linimasa social media dipenuhi orang-orang mendengarkan Sigmun, tanggapan mereka pun beragam dan kebanyakan positif. Redaksi kami pun sempat mengulas terlebih dahulu sembari selebrasi pelepasan album Crimson Eyes, bisa kalian baca selengkapnya disini. “Crimson Eyes adalah sebuah perjalanan sureal, magis, dan hampir relijius, yang, jujur, ingin saya saksikan dan inderakan secara langsung. Sangat pantas menurut saya apabila Sigmun mengadakan suatu acara yang dikhususkan untuk melarutkan para pendengarnya kedalam alam bawah sadar mereka.” pungkas Anindito Ariwandono selaku manager Sigmun.

    Tapi, sebagai bentuk syukur rasanya kurang sah kalau belum melakukan showcase bekerja sama dengan Orange Cliff Records (label rekaman Sigmun) dan Suaka Suar Collective, In the Wake of the Crimson Eyes merupakan gelaran showcase perdana Sigmun dalam rangka menyambut debut album penuh mereka. Akan diadakan pada tanggal 12 Desember 2015 di Auditorium IFI Bandung, Sigmun, untuk pertama kalinya, akan membawakan rangkaian materi-materi baru dari album debut mereka secara live dan terkurasikan secara visual berdasarkan apa yang terpaparkan di dalam Crimson Eyes. Sigmun akan bermain selama kurang lebih dua jam, dimana selain membawakan materi-materi baru dalam gelaran ini, merekapun akan membawa pendengar-pendengar lama mereka untuk bernostalgia dengan materi-materi mereka yang terdahulu. Bertepatan dengan showcase ini pun, disamping beberapa merchandise t-shirt dan lainnya yang terbatas, Sigmun dengan Orange Cliff Records akan merilis ulang Crimson Eyes dalam format double cassette tape yang hanya akan tersedia di venue. Tiket yang dibanderol dengan harga 75 ribu rupiah ini sudah termasuk poster yang akan dibagikan saat registrasi di venue. Informasi mengenai prosedur pembelian tiket bisa diperoleh melalui akun-akun jejaring sosial Sigmun.

    Untuk informasi lebih lanjut:
    Twitter : @sigmuns
    Instagram : @sigmun_
    www.facebook.com/sigmuns

     

    IN THE WAKE OF THE CRIMSON EYES

    ITWOTCE Poster

  • Studiorama Returnal 2015 : Suguhan Vada Vada dari Duo The Garden

    Studiorama Returnal 2015 : Suguhan Vada Vada dari Duo The Garden

    Acara garapan Studiorama makin kesini terlihat makin menjanjikan seturut kinerja mereka. Berhasil kembali menyelenggarakan Studiorama Returnal mengajak duo garage punk asal California, The Garden, dengan dua penampil pembuka Low Pink dan Pijar. Dan memilih 365 Ecobar sebagai venue perhelatan malam itu (09/10/15).

    DSCF6674

    Busuknya arus lalu lintas selatan Jakarta di jumat malam sangat terlihat jelas di jalanan-jalanan besar hingga akses menuju venue tak bisa terhindarkan. Hasilnya saya hanya mendapat satu lagu terakhir dari Low Pink sebagai pembuka pertama. Band psychedelic pop yang sejak setahun terbentuk ini, memang beri nafas baru tapi belum dapat sorotan banyak. Sedikit ada unsur Unknown Mortal Orchestra era awal dalam musik mereka. Dilanjut Pijar band Indie Rock/Alternative Dance asal Jakarta yang mengingatkan kembali perkembangan musik pertengahan tahun 2000 di ranah Britania­­. Biasanya sering diulas NME. Ditambah lirik norak perihal muda belia dan berbahaya dalam bercinta merupakan bumbu utama.  Menjadi unik ketika sang vokalis terlihat maksa mau menonjolkan kesan ‘nakal’ tapi tidak secara total. Lantas hanya remah-remah ‘kegaringan’ yang didapat.

    DSCF6841

    Dua pria warga asing itu akhirnya memasuki pelataran panggung setelah Pijar menyudahi penampilannya. Baru check line saja, baris pertama penonton sudah dikerubuni gadis-gadis belia dengan teriakan histeris memanggil saudara kembar Wyatt Shears (vocal, bass) dan Fletcher Shears (drum). Maklum, Shears bersaudara ini memiliki wajah rupawan. Tak heran jika menjadi daya tarik para gadis dan pernah juga diajak Hedi Slimane sebagai model Saint Lauren di tahun 2013. ‘Crystal Clear’ menjadi lagu pembuka diambil dari track album terkini mereka “Haha”. Ya, kunjungan mereka ke Jakarta sekaligus mempromosikan album terakhirnya tersebut dibawah naungan Burger Records.  Komposisi bassline yang enerjik dengan pukulan-pukulan kompleks dan tidak memiliki batasan genre berhasil menciptakan mosh pit kecil-kecilan di tengah crowd. Mereka melabelkan sendiri musik mereka dengan sebutan ‘Vada Vada’. “Vada Vada: An idea that represents pure creative expression, that disregards all previously made genres and ideals.” ujar Wyatt Shears. Ada pula aksi Fletcher mengambil sejenak posisi vokal diiringi sampling DnB mengajak penonton berjingkrakan bersama. Nomor-nomor pamungkas dari album yang mentenarkan mereka, The Life And Times Of A Paperclip, tak luput dibawakan. Ditutup dengan ‘We Be Grindin’ sebagai lagu jitu menghabiskan stamina. Senyum puas dan keringat menjadi saksi jelas bahwa perhelatan malam itu sukses terlaksana. Kita pun masih menunggu kejutan-kejutan dari Studiorama selanjutnya dalam agenda  mereka.

    DSCF7740

    Photo by: Ezra Natalia